
Alzena Asahy seorang wanita bercadar yang kini ada di dalam mobil bersama Keluarga barunya hanya terdiam seribu bahasa. Ia agak gugup memikirkan bagaimana kondisinya nanti di rumah sang mertua. Mungkinkah keluarga barunya itu akan menerima dia dengan baik atau tidak disana.
Meski ada sedikit ke khawatiran yang bergelayut di dasar hati, Alzena akan berusaha untuk berkhusnuzhon pada Athar dan keluarganya itu.
Dibalik keheningan di dalam mobil yang masih menyasati jalanan yang berliku. Abah Dullah yang menangkap gurat kegelisahan di pelipis menantunya itu tersenyum kecil lalu membuka suara dengan mengajak berbicara, "Nak, Ibu Athar sangat tidak sabar menunggu kedatanganmu di rumah. Semoga kamu betah ya tinggal bersama kami!"
"InsyaAllah Bah, maaf jika nanti Zena akan merepotkan keluarga Abah ke depannya," jawab Zena sesopan mungkin.
"Kamu jangan bicara begitu Zen, sejak Athar menikahimu kemaren itu, sama saja kamu sudah menjadi anak Abah dan ketiga Ibu Athar. Jadi tidak akan ada yang namanya merepotkan. Anggap saja rumah sendiri. Benar begitu kan, athar?" Seringai Abah Dullah, beralih kearah Athar yang malah sibuk sendiri bermain ponsel.
"Ha, iya Bah. Itu benar, kamu gak perlu takut aku sakitin Zen. Sebab aku tidak pernah memukul cewek sholihah seperti kamu, hehehe...."
Athar sebenarnya takut Abah marah hingga pertanyaan beliau tadi sedikit membuat Athar menjadi terkejut hingga akhirnya menimpali dengan asal saja.
Abah Dullah menatap dingin kearah Athar yang sebenarnya tidak suka melihat Athar sibuk seorang diri sehingga tidak memperdulikan keberadaan Zena yang sejak tadi menjadi bingung berada disampingnya, "Berhenti bermain-main, Thar. Mulai sekarang kamu harus lebih mendahulukan Zena ketimbang teman-teman sesatmu itu. Mereka hanya akan membawa dampak buruk pada rumah tanggamu nantinya!" Tukas Abah dengan tegas.
Athar hanya tersenyum miring, menoleh kearah Zena yang tertunduk takut di sampingnya. Athar sangat berharap Ia tidak akan menjadi bulan-bulanan Abah Dullah terus menerus karena tidak bisa bebas pergi akibat menikahi Zena yang sangat membosankan dalam berpenampilan itu menurutnya.
__ADS_1
Padahal Athar memimpikan punya istri yang cantik, seksi dan pandai dalam berpenampilan hingga mampu menarik perhatiannya agar tetap betah berada di rumah. Tapi apa daya, Alzena begitu tertutup. Bahkan Athar hanya di suguhi bola matanya saja setiap hari.
Hem, Kenapa aku harus menikah dengan dia? Rasanya aneh saja memiliki istri yang tidak menggoda sama sekali...
Athar kembali sibuk memainkan ponselnya setelah Abah tak lagi mengajak bicara karena mobil mereka sudah masuk ke dalam gang yang sedikit lagi tiba di rumah Abah Dullah.
Sesampainya disana mereka semua segera turun, bahkan Athar hendak melenggang masuk seorang diri tanpa mengajak Zena untuk ikut dan sikap itu tentu saja membuat Abah Dullah menjadi sangat marah melihatnya.
"Athar! Bawa istrimu, atau jangan masuk sekalian!" Teriak Abah Dullah dengan suara lantang hingga mampu menahan kaki Athar yang sudah dekat di depan pintu untuk berhenti.
Meski malas, Athar terpaksa berbalik badan dan kembali menggandeng lengan Zena agar jalan beriringan dengannya.
Dia sudah menyerahkan urusan Athar dan Zena pada Bunda Alika. Karena Abah Dullah percaya Athar cukup patuh pada wanita yang melahirkannya ketimbang dia.
"Ayo kita berangkat, hari sudah siang!"
"Baik Bah!"
__ADS_1
Athar dan Zena sudah sampai ke dalam ruang utama. Rupanya kehadiran mereka memang sudah di tunggu-tunggu oleh Keluarga Athar termasuk kedua saudaranya Alan dan Ardhan yang sudah menikah berbarengan dengan mereka kemaren. Ada Dinda dan Mayra juga tentunya.
"Assalamualaikum...!" Sapa Alzena pada mereka semua.
"Wa'allaikum sallam, Alhamdulilah akhirnya yang di nanti sejak tadi sampai juga. Ayo sini duduk nak!" Hatur Bunda Alika yang langsung di sambut ciuman tangan oleh Alzena. Tak lupa Ia lakukan juga kepada yang lainnya kecuali Alan dan Ardhan.
"Maaf ya Bang, bukan mahrom!"
Alan dan Ardhan tidak mempermasalahkannya. Mereka sangat menghormati apa yang sudah menjadi kebiasaan Adik ipar mereka itu.
"Ayo sini Thar, cerita dong sama kami. Bagaimana unboxingmu semalam ha?" Tanya Alan yang menarik bahu Athar untuk duduk di dekat mereka.
"Aih, apaan sih kepo amat? Itu rahasia umum, eh salah maksudnya rahasia dalam rumah tangga," elak Athar agak sinis.
"Idih, pelit amat lo Thar. Gitu aja pakek dirahasiain. Semua orang yang udah menikah juga udah pada tahu kok kalau malam pertama itu enaknya ngapain, iyakan Dhan?" Alan berbalik menggoda Ardhan yang paling beruntung diantara mereka.
Sedang Alan harus sabar menunggu Mayra selesai datang bulan lebih dulu. Rencananya malam ini adalah bagian Alan untuk melakukannya.
__ADS_1
Athar tergelak akan kekepoan wajah keduanya. Mana mungkin dia mau bilang kalau dia ragu menyentuh Zena karena jujur saja perasaan cintanya pada Zena masih belum ada saat ini.
Zena sendiri hanya tersenyum malu diantara mereka. Ia tahu Athar tidak mungkin mau menerima dirinya sebagai istri semudah itu. Sebab mereka menikah bukan karena cinta melainkan terjadi karena sebuah perjodohan semata.