Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 45 Diperiksa


__ADS_3

Sekitar setengah jam lamanya, Athar belum juga menyerah untuk menyadarkan Alzena yang tetap tak kunjung bangun dari pingsannya.


"Zen, bangun Zen tolong jangan pingsan seperti ini. Aku tidak mau sedikit pun terjadi apa-apa dengan kamu!"


Athar terus memanggil nama wanita itu tanpa henti sampai akhirnya Abah dan Bunda Alika datang bersama seorang Dokter.


"Assalamualaikum...!"


"Wa'allaikum sallam, Abah, Bunda...!" Athar bergegas menyalami keduanya.


"Mana yang harus di periksa ya?" Tanya Dokter Lilis ingin tahu.


"Itu Dok, dia aku tidurkan di kamar!" Tunjuk Athar ke arah salah satu pintu.


Mereka semua buru-buru masuk dan memeriksakan kondisi Alzena dengan sangat detail, "Wah, darahnya rendah sekali Pak, bagaimana kalau kita infus saja secepatnya!" Dokter Lilis berupaya menyarankan yang terbaik.


"AstaughfiruLLahaladzim, ya udah di infus aja Dok. Kalau kelamaan takutnya malah terjadi apa-apa lagi!" Sahut Bunda Alika cemas.


"Baik Bu!"

__ADS_1


Dokter Lilis pun segera memasangkan botol infus secepatnya karena Alzena harus segera sadar dari kondisinya saat ini.


"Apa yang membuat menantu saya begitu Dok?" Abah Dullah dan Bunda Alika memantik wajah perempuan yang kini telah mereka lihat dengan mata terbuka lebar.


Athar memang sengaja melepas cadarnya tadi karena dalam keadaan pingsan tentu cadar itu akan mengganggu Alzena saat menarik nafas.


"Gak papa Pak, sepertinya menantu Bapak dan Ibu hanya kelelahan saja. Atau bisa jadi dia sedang mengidam ya. Tapi untuk memastikan dugaan saya. Alangkah baiknya setelah bangun nanti dia segera melakukan tes kehamilan lebih dulu. Tapi jika hasilnya negatif, sebaiknya bawa saja kerumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan!"


"Aduh, kenapa ucapan Dokter jadi mengkhawatirkan ya!" Sahut Athar yang jadi bingung sendiri.


"Bukan apa-apa Mas, ini hanya saran saya saja. Tapi jika di lihat dari kondisinya, saya yakin Mbaknya ini hanya kelelahan saja, dan itu tentu akan sangat membahayakan jika dia benar-benar tengah menghadapi trisemester pertama kehamilan?"


"Aamiin...!"


Setelah beberapa menit berselang, Athar langsung melebarkan senyumnya kala melihat Zena sudah mulai sadarkan diri.


"Mas, Abah, Umi, apa yang telah terjadi sama Zena ya? Kok kalian ada disini?"Tanyanya sembari memegangi kepala yang masih berdenyut sakit.


"Tadi kamu pingsan, Zen. Makannya sekarang kamu harus di infus lebih dulu!" Jawab Athar yang segera mendekat dan meninggikan bantal di kepala Alzena agar merasa lebih nyaman.

__ADS_1


"Oh iya aku ingat tadi, kepalaku terasa sakit dan seperti berputar-putar!"


"Ya udah ini obatnya resepnya Obat dan Alat tes kehamilannya segera di cari ya," ujar Dokter Lilis tersebut menyela sambil menyerahkan kopelan kertas yang di tulisanya.


"Baik Dok, hati-hati di jalan!"


"Iya Pak, Bu makasih. Mungkin saya akan kembali besok pagi. Soalnya ada kerjaan di puskesmas!"


"Baik Dom, kami tahu Dokter sangat sibuk!" Jawab Bunda Alika yang langsung mengantar Dokter Lilis ke depan teras.


"Mas, aku sakit apa ya?" Tanya Alzena tak mengerti.


"Gak ada Sayang, nanti kita cek semuanya ya!"


Athar duduk di tepi ranjang sambil memijat pelan kepala Sang istri. Berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit yang di rasakan Zena saat ini.


"Makasih ya Mas, maaf kalau Zena malah merepotkan. O ya Abah kesini sama siapa Mas?" Tanya Alzena, setelah melihat Abah Dullah duduk di ujung sofa.


"Sama Bunda, Sayang. Bagaimana kondisimu sekarang ha, apa sudah mendingan?" Sahut Bunda Alika yang kembali muncul dan menghampiri mantu kesayangannya itu.

__ADS_1


__ADS_2