
Selang beberapa waktu kemudian, setelah Dokter Lilis dan saudara-saudaranya berpamitan. Kini yang masih tertinggal adalah keluarga Paman Ardi dan kedua orang tua Athar.
"Bibi...!" Asyifa sangat senang bisa kesana lagi dan bertemu perempuan baik itu. Bibi Marwah sangat baik padanya saat dia setiap kali datang menemui Alzena.
"Eh, Syifa. Kok lama datangnya? Padahal Zena dah nungguin kamu dari tadi lo!"
"O ya? Maaf Bi tadi angkotnya lama. Makannya Asyifa telat ke sininya!"
"Oh karena itu, Bibi pikir gak jadi kesini tadi!"
"Eh ini siapa ya? Kok Bunda baru lihat?" Sahut Bunda Alika yang baru muncul dari dapur selepas membereskan perabotan yang kotor.
"Oh iya, kenalin Bun. Saya Asyifa sahabat Zena, O ya gimana kondisi Zena sekarang, apa dia sudah baikan?" Asyifa ingin buru-buru ketemu dan melihat sendiri.
"Masuk aja tu ke kamar!" Titah Bunda Alika kemudian.
"Emang dia gak tidur Bun? Nanti Syifa ganggu lagi?"
"Enggak Kok, masih asyik ngobrol sama suaminya di dalam!"
"Oh ya udah, Asyifa kesana bentar ya."
"Iya, iya masuk aja langsung!"
Sesampainya diambang pintu, Asyifa segera mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikum sallam, dorong aja pintunya!" Sahut Zena dari dalam. Ia tahu persis siapa pemilik suara di balik pintu tersebut.
"Hei Zen...!"
__ADS_1
"Hai Syif, ayo kesini!"
Kebetulan saat itu Athar masih mandi jadi Asyifa tidak melihatnya.
"Kata Bunda ada suami kamu lo disini? Kemana orangnya?"
"Sedang mandi sebentar, O ya gimana rencana kamu. Maaf ya Syif, aku jadi gak bisa nganter kamu ke kantor polisi sekarang!" Alzena merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya.
"Udah Zen, gak usah pikirin itu. Yang Penting kamu sehat aja dulu!" Asyifa mengerti saat ini kondisi memang tidak memungkinkan.
"Siapa Sayang?" Tanya Athar yang sudah memakai pakaian seadanya sambil mengeringkan rambut dengan handuk muncul dari kamar mandi.
"Eh... ini Mas sahabat Zena, kenalin namanya Asyifa!"
Gadis itu pun tersenyum dan ingin menyapa, tapi saat Ia menoleh betapa terkejutnya Asyifa kalau yang menjadi suami Alzena adalah Athar salah satu anggota genk Anak berandalan.
"Di- dia suami kamu Zen?" Tanya Asyifa tak percaya.
"Iya Syif, bukannya kamu udah lihat ya pas aku nikah?" Alzena menatap penuh keheranan.
"Enggak Syif, aku gak terlalu ngeliat kala itu," Ujar Asyifa yang tiba-tiba menangis saat mengetahui kalau salah satu yang menghamilinya adalah Suami Alzena.
Athar yang tidak mengerti ucapan Asyifa pun mengerutkan dahinya, "Malam itu? Maksudmu?"
"Jangan berlagak begook Thar, bukankah kamu, Farid dan kawan-kawan bejatmu itu yang udah memperkossa aku beramai-ramai hingga sekarang aku harus menanggung aibnya!" Ujar Asyifa lagi kembali menegaskan hingga Zena, Bunda dan Bibi terkejut bukan main.
"Apa maksudnya ini Thar? Benar yang di katakan Asyifa kalau kamu sudah memperkossanya?" Jengah Bibi Marwah dengan tatapan sangat kecewa.
Athar yang merasa tidak melakukan tuduhan Asyifa pun menggeleng, "Enggak Bi, kapan Athar melakukan? Orang Athar gak pernah ketemu sama dia," sangkal Athar yang merasa tidak melakukan tuduhan Alzena.
"Jangan bohong Thar, aku tahu kamu menjadi salah satu dari mereka. Pokoknya aku gak mau tahu, kalian harus bertanggung atas kehamilan aku sekarang juga!" Desak Asyifa lagi tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Alzena yang tidak menyangka dengan hal itu tak mampu untuk membendung air matanya. Ia tidak percaya jika suaminya sudah berbuat hina dengan sahabatnya sendiri.
Bunda Alika yang sangat marah langsung menghampiri putranya itu dan melayangkan tamparan ke pipi Athar.
Plak!
__ADS_1
"Dasar bajjinngan, tega sekali kamu melakukan ini nak? Bunda tidak pernah ngajarin kamu untuk menjadi pecundang, tapi kenapa kamu nekat ngelakuin hal gila ini sama anak gadis," Marah Bunda Alika.
"Tapi Athar tidak melakukannya Bunda, bahkan Athar gak kenal sama dia!" Tunjuk Athar pada Asyifa.
"Jangan ngeles, Nak. Bunda sangat kecewa dengan kamu. Ini benar-benar aib yang tidak bisa dianggap enteng," bantah Bunda Alika lagi.
Athar terus menggelengkan kepalanya, lalu menatap tajam pada Asyifa dengan rahang mengerat, "Dasar perempuan gak tahu diri, bagaimana mungkin kamu mengkambing hitamkan aku sebagai pelakunya. Kau pikir siapa kamu? Cantik aja enggak!" Culas Athar sedikit membentak. Mana mungkin Ia terima saja dengan tuduhan bejat itu.
"Mas Athar...!" Alzena tidak terima suaminya mengatai Asyifa seperti itu karena Ia tahu betul Asyifa adalah perempuan baik-baik.
"Tapi aku gak ngelakuinnya Zen!" Timpal Athar yang berbalik menatap Zena lalu kembali melihat Asyifa. "Kenapa kamu gak minta tanggung jawab saja sama Farid jika dia yang melakukannya?" Tukas Athar lagi tak bisa mengendalikan emosinya.
"Udahlah Thar, aku gak mau tahu. Pokoknya aku mau salah satu diantara kalian harus menikahi aku secepatnya atau aku akan melaporkan kalian ke polisi!"
Selesai mengatakan hal itu, Asyifa meninggalkan rumah Alzena tanpa mau berpamitan sedikit pun. Rasa sakit hatinya atas perlakukan Suami Alzena dan kawan-kawan sudah tidak pantas untuk di toleransi lagi.
Athar yang merasa tersudut menjadi sangat kesal, Ia langsung menghubungi Farid untuk memastikan siapa pelaku sebenarnya. Tapi Athar jadi makin bingung saat tak ada satu pun dari ponsel mereka yang aktif.
"Biadaaap! Kemana mereka, kenapa tidak ada yang bisa di hubungi!" Gerutu Athar dengan nafas naik turun.
"Mas...?" Alzena tak kalah sakitnya mendengar ucapan Asyifa tadi jika benar Athar telah mengkhianati pernikahan mereka.
"Apa yang dikatakan Asyifa itu memang benar atau enggak, Mas? Kalau kamu juga ikut terlibat dalam pemerkosssaan yang menimpa Asyifa?"
Bibi dan Bunda Alika terduduk lemas, rasanya mereka lemah untuk mendengar pengakuan Athar pada mereka.
"Mana mungkin Zen, aku tidak pernah memperkossa siapa pun. Jadi mana mungkin aku menghamilinya!" Sentak Athar kemudian.
"Jangan bohong Mas, kasihan Asyifa. Dia hanya hidup bersama Ibu yang sedang sakit-sakitan. Lantas bagaimana cara dia mengurus anak itu nanti?" Desak Alzena lagi berharap Athar mau bertanggung jawab.
"Ya mana aku tahu, tapi yang pasti aku gak ikut-ikutan soal itu!"
Athar segera pergi keluar untuk mencari Farid dan kawan-kawan untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya tidak Ia ketahui. Apa penyebab Farid sampai melakukan hal serendah itu pada seorang perempuan sedangkan Athar tidak pernah mengajak mereka menggoda wanita sampai berlebihan.
Tapi sesampainya di markas, tempat itu sudah berantakan. Tidak ada satupun teman Athar yang stay di tempat. Dengan terpaksa, Athar mencari mereka kerumah-rumah dan betapa mengagetkannya saat Athar tahu kalau mereka sudah pergi keluar kota kemaren.
"Ya Allah, apa-apaan ini? Berani sekali mereka melarikan diri setelah berbuat hina pada seorang perempuan secara beramai-ramai!" Gerutu Athar seorang diri.
__ADS_1
Tak dapat menemukan mereka, Athar pulang kembali kerumah. Tapi baru saja masuk hantaman telak dari Abah Dullah berhasil menyisakan rasa sakit di pipi Athar.
"Dasar anak berandalan, apa yang kamu lakukan ha? Kapan Abah mengajarimu berbuat hal sehina itu?"