
"Mas... !"
Zena sedikit memberontak karena kesulitan bernafas.
"Ssst, diam lah. Aku mau kita relaksasi lagi malam ini. Supaya kamu cepat hamil," tukas Athar lagi.
"Hamil?"
"Iya dong, emangnya kenapa?"
"Gak papa Mas, emang kita udah siap buat ngurusnya nanti?" Zena menatap netra bening milik suaminya itu untuk menanyakan kesiapan Athar.
"Tentu saja, bukankah setelah menikah itu yang di cari?" Athar malah mencubit hidung bangir Zena dengan gemas.
"Mengurus anak gak semudah kelihatannya Mas, sebab Zena pernah denger kalau punya anak itu harus kuat sabar dan menahan ngantuk?"
"Udah biasa," timpal Athar yang malah menindih tubuh Zena.
"Mas...?"
"Sst... jangan banyak omong deh. Mending kamu berdoa saja semoga cepet jadi!"
Melihat keinginan Athar yang begitu besar, Zena pun pasrah untuk mengikuti permainan ganas suaminya itu hingga Athar menyerah dan berhenti dengan sendirinya.
__ADS_1
"Ah, masih kurang sebenarnya? Tapi aku kasihan melihat kamu sudah meringis sejak tadi!" Athar mengecup bibir Zena untuk terakhir Kalinya saat perempuan itu tersenyum manis ke arahnya.
"Kan bisa sambung lagi besok Mas, soalnya terasa sakit sekarang!"
"Iya aku tahu, ya udah cuci sana gih. Aku pengen peluk lebih lama tanpa harus menunggu lama!"
"Iya Mas, tunggu bentar ya!"
Meski memerintah, Athar sebenarnya ikut menguntit dari belakang karena Ia juga harus membersihkan miliknya sendiri.
Setelah terasa bersih, keduanya kembali berbaring sambil berpelukan. Perasaan bahagia itu sungguh tidak bisa Zena singkirkan. Ia senang melihat Athar puas dengan pelayanannya yang jujur saja Zena masih belum mahir melakukannya.
"Kamu hebat tadi!" Bisik Athar lagi sambil menenggelamkan kepalanya di tengkuk Zena.
***
Keesokan harinya, Asyifa yang baru bangun dari tidur merasa ada yang tidak beres dengannya. Entah kenapa Ia merasa sangat mual hingga memaksanya untuk segera pergi ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Sang Ibu yang masih memasak di dapur jadi merasa khawatir. Perempuan yang kurang sehat raganya itu langsung memijat tengkuk Asyifa.
"Kamu kenapa nak, ada yang salah di makan ya semalam?"
"Gak ada sih Bu, Syifa cuma makan yang Kita masak aja kemaren!"
__ADS_1
"Ya udah kamu tiduran aja lagi, nanti selesai masak Ibu kerokin!"
"Iya Bu!"
Asyifa terpaksa kembali ke kamar karena untuk berdiri saja rasanya sangat pusing hingga hal itu membuatnya tidak tahan untuk berdiri terlalu lama.
Sesaat Asyifa teringat hal buruk yang pernah menimpanya. Ia merasa heran kenapa sejak kejadian itu, Asyifa tidak pernah lagi mengalami yang namanya datang bulan.
"Ya Allah, jangan-jangan Syifa_?"
Perempuan itu replek duduk dan memegangi perutnya yang masih nampak biasa saja. Ia tiba-tiba takut apa yang terjadi sekarang ini bisa jadi karena ada sesuatu yang telah hidup di dalam rahimnya.
"Ya Allah, jangan sampai ya Allah. Syifa takut banget kalau sampai itu benerin. Pokoknya aku harus cek hari ini juga untuk memastikan apakah aku memang benar-benar mengalami apa yang aku khawatirkan atau cuma masuk angin doang!"
Syifa yang masih merasa keliyengan akhirnya nekat bangkit dan bersiap untuk pergi hingga Sang Ibu muncul membawa minyak aromaterapi dan uang logam di tangannya.
"Loh, kamu mau kemana Syifa? Bukannya kamu sedang sakit sekarang? Biar Ibu kerokin dulu sebentar?"
"Gak usah Bu, Syifa buru-buru soalnya. Jadi Ibu tenang aja ya, Syifa baik-baik aja kok?"
"Kamu yakin nak?"
"Iya Bu, kalau gitu Syifa pergi dulu ya sebentar!"
__ADS_1
Gadis itu segera mencium tangan sang Ibu dan segera pergi meninggalkannya dalam ke khawatirkan dengan kondisi kesehatannya.