
"Maafkan Paman Zen, kamu boleh marah sama Paman karena sudah membuatmu menikah dengan berandalan yang tidak memperdulikan masa depanmu!" Suara yang sempat terhenti itu berlanjut lagi.
Paman Ardy sampai menangis, menyesali kebodohannya. Ia sama sekali tidak akan rela melihat Zena menderita di dalam pernikahannya.
"Enggak Paman, ini bukan salah Paman dan Bibi kok. Tapi ini takdir dari Allah. Jadi Zena harus terima apa pun keputusan Allah. O ya untuk ikut Paman dan Bibi pulang, mohon maafkan Alzena karena apa pun yang di lakukan suami Alzena. Bukankah Alzena harus tetap patuh padanya!"
Begitu sabarnya Alzena dalam menghadap situasi membuat Bunda Alika jadi semakin berat melepas kan Alzena. Ia berharap tidak ada perceraian antara Athar dan Zena meski masalah telah menyulitkan pernikahan yang baru seumur jagung itu.
"Zena...!"
Bunda Alika sangat terharu dan langsung menghampiri Alzena dari sisi lainnya hanya untuk memeluk perempuan hebat yang sudah bersedia menjadi menantunya itu.
"Maafkan Athar, nak. Bunda sama sekali tidak menyangka kalau Athar sampai tega melakukan hal itu padamu. Tapi apapun kesalahan Athar, tolong jangan berhenti untuk menjadi menantu Bunda nak, karena kamu sudah menjadi serpihan dari satu bongkahan nyawa bagi Bunda sejak kamu masuk ke dalam keluarga kami!"
Alzena tersenyum sembari mengusap air mata yang mengalir di sebagian wajah Bunda Alika, " Bunda tenang aja ya, meski Mas Athar harus menikah lagi. Alzena yakin kalau Alzena bakal siap kok untuk merelakan hal itu!"
"Apa...?"
Mendengar hal itu hati Bunda Alika sangat miris. Jangan sampai Alzena mengalami duka yang selama ini telah Ia sembunyikan dengan sangat epik karena harus rela di madu dan tinggal dalam satu atap bersama para istri Abah yang lain.
"Aku yakin aku bisa hebat seperti Bunda kan, nyatanya Bunda dan Abah tetap bisa bersama sampai sekarang!"
__ADS_1
Alzena tetap menghadirkan senyum pada kedua mertuanya itu untuk menunjukkan kalau dia tidaklah lemah menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan hatinya hari ini.
"SubhanaLLah, begitu mulia hatimu nak. Tapi apa pun itu, Bunda tetap berharap kalau pernikahan kalian berdua akan baik-baik saja dari adanya masalah!"
"InsyaAllah Bun, aku akan pasrahkan hidupku sama Allah. Karena hanya dia yang mengetahui semuanya!"
"Aamiin, Aamiin ya Robal alamin. InsyaAllah, akan ada jalan nak!"
Keputusan Alzena membuat Paman dan Bibi sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Sebagai orang tua pengganti tentu mereka sangat berharap kalau pernikahan Athar dan Zena segera mendapatkan solusinya.
***
Athar terus mengendari mobilnya menyusuri perkomplekkan untuk mencari informasi kemana sebenarnya Farid dan kawan-kawan pergi hingga Athar tidak mengetahuinya.
Gara-gara kesalahan semua rekan-rekannya, Ia jadi harus terkena dampak dari kebiadaapan mereka.
Baru saja beberapa meter dari tempatnya tadi, Athar malah di kejutkan oleh kedatangan Nicko dan para anak-anak yang lain.
"Ya ampun, mau apa lagi mereka. Sepertinya mereka harus di beri pelajaran agar berhenti berbuat ulah!"
Athar segera keluar dari mobilnya dan langsung menatap awas pada Nicko dan yang lainnya. Kali ini Athar tidak akan melarikan diri karena sudah saatnya Ia harus mengakhiri pertikaian gila di antara mereka.
__ADS_1
"Hahaha... Ternyata aku baru tahu ya Thar, kalau teman-temanmu itu semuanya pecundang. Masak mereka lari sih gara-gara gak mau tanggung jawab!" Ledek Nicho dengan tampang penuh kepuasan.
Athar menatap dengan tenang, "Dari mana kalian tahu?"
"Ya dari mana ajalah, orang kami ini kan pintar. Dasar berandalan cemen!" Maki Nicho lagi meremehkan.
"Bangsat, beraninya kalian menghinaku seperti itu!"
Athar pun menyerang mereka hingga satu lawan enam orang pun terjadi.
"Ayo kita habisi dia, supaya dia tahu kalau kita itu gak bisa dianggap enteng!" Ujar Nicho yang terus membantu teman-temannya menyerang Athar dengan berbagai sisi.
Bag!
Bug!
Bag!
Bug!
Suara adu pukulan dan tendangan terus terdengar. Sebagai seseorang yang di kenal kuat, Athar membuktikan keahliannya dalam menumbangkan teman-teman Nicho dengan gerakan secepat kilat.
__ADS_1
Wah, kuat juga dia...
Nicho memberi kode pada teman-temannya agar mereka menyerang Athar dari posisi diam-diam saat pemuda itu dalam posisi lengah.