Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 35 Pengalaman Langka


__ADS_3

Usai mengantar para istri pulang, Abah dan ketiga jagoannya langsung bergegas memakai pakaian yang biasa kemudian langsung meluncur ke lokasi kebun kopi dimana ratusan karyawannya sedang memanen buah yang sudah masak dari tangkai pohonnya.


Kedatangan mereka yang beramai-ramai itu langsung di sambut sangat antusias oleh para pekerja di sana.


"Siang Pak Dullah!"


"Siang Dir, gimana hari ini? Apa masih pada semangat?" Tanya Abah Dullah pada seluruh pekerjanya yang ada di dekat beliau.


"Semangat dong Bah, kalau gak semangat mau makan apa kita?" Sahut Ibu-ibu yang nampak masih sibuk memilah buah kopi yang sudah masak.


"Bagus, itu yang saya mau. Ayo semangat lah untuk keluarga di rumah biar kita maju bersama!" Ujar Abah Dullah lagi memotivasi.


"Siap Bah," jawab mereka dengan kompak.


Tak jauh dari salah seorang diantaranya nampak ada dua ibu-ibu saling senggol-senggolan, "Eh Ry, tumben ya ketiga anak Abah ikut ke kebun. Biasanya juga tukang ngacau di kampung?"


"Iya ya, mereka kan manja banget. Masak iya mau panas-panasan?"


"Udah tobat kali, secara kan mereka udah menikah sekarang?"

__ADS_1


"Bisa jadi tu!"


Terik matahari yang hampir sepenggalah membuat ketiganya berpikir ulang untuk ikut terjun kedalamnya. Apa lagi medan yang sedikit menurun pasti akan sangat melelahkan nantinya.


Abah Dullah yang melihat keraguan di diri mereka pun diam-diam menyunggingkan senyum kepuasan, hari ini jagoannya itu akan merasakan penderitaan yang sebelumnya tidak pernah mereka alami.


Dengan semangat yang tak kalah berkobarnya, Abah Dullah langsung menyuruh mereka untuk segera memulai pekerjaan.


"Ayo kalian bertiga ambil keranjang itu dan mulai lah pekerjaan kalian!" Titah Abah Dullah memberi arahan seraya menunjuk kearah keranjang sedang yang ada di gantungan dalam sebuah gubuk yang sengaja di dirikan untuk para pekerja beristirahat.


"Se- sekarang Bah?" Tanya Alan gugup.


"Ya iya dong, emangnya harus nunggu tahun depan. Udah kelamaan ayo mulai aja sekarang. Besok pindah ke kebun teh! Biar kalian bisa pilih mau terjun ke sini apa ke kebun teh!" Tukas Abah Dullah lagi kembali menegaskan.


Pemuda itu pun segera menggaet tas yang di tunjukkan oleh Abah Dullah tadi dan langsung berjalan memetik asal-asalan dengan sangat gesit.


"Eh... Athar gak gitu juga nak, masak yang mentah diambil juga lihat ni punya Bapak!" Pak Khodir menunjukkan hasil petikkan yang ada di keranjangnya kearah pemuda itu.


"Owh... yang udah kuning aja Pak, kirain sama aja!" Jawab Athar sedikit nyengir kearah tetangganya itu.

__ADS_1


"Hehehe... slow aja Thar ini adalah awal yang bagus buat menanamkan jiwa semangatmu mencari nafkah. Karena kewajiban menafkahi istri itu adalah kewajiban bagi seorang suami bukan mertuanya!" Pak Khodir menasehati sembari menepuk-nepuk bahu Athar.


"Iya Pak, saya tahu hal itu," jawab Athar yang kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedang Alan dan Ardhan masih mematung di tempat mereka tadi sambil berbisik-bisik tidak jelas. Entah apa yang mereka perdebatkan hingga membuat Abah Dullah menjadi sangat geram.


"Ya ampun, Kenapa masih bengong disini ha? Katanya mau belajar bekerja kok malah berdiri aja di situ?"


"Panas banget Bah, nanti kulit kita kebakar lagi!" Jawab Ardhan dengan berani.


"Astaga, belagu amat lo Dhan. Kita ini tinggal di kampung bukan di kota. Jadi biasakan lah berteman dengan panas, kotoran maupun semak belukar. Sudah sana kerjakan, jangan cengeng kalau mau di sayang sama istri!" Desak Abah Dullah yang harus melakukan pemaksaan agar keduanya segera menyusul Athar.


"Iya, iya Bah. Kalau Ardhan gak mau biar Alan aja deh!"


Pemuda itu menyerobot keranjang lebih dulu disusul oleh Ardhan yang tak mau kalah dengan aksi saudaranya itu.


"Semangat Yayang Dinda, yang penting entar malam dapet jatah lagi!" Teriak Ardhan tanpa malu.


"Huhu... Dasar penganten anyar. Belum tahu aja kalau udah punya anak ribetnya kayak apa!" Timpal para Ibu-Ibu yang menertawakan kekonyolan Ardhan.

__ADS_1


Mereka yang semula merasa lemes dan capek jadi merasa terhibur dengan kehadiran ketiga jagoan Abah yang mereka kenali memiliki paras yang sangat tampan dari para pemuda yang lain di kampung Batuku Ayum.


Namun sayangnya mereka menjadi biang pembuat onar yang sempat meresahkan warga hingga kini mereka berhasil juga mengukir sejarah indah dengan terjun ke kebun kopi.


__ADS_2