
"Ah gak asyik lo Thar, gitu aja main rahasia-rahasiaan?" Protes Randy pula.
"Biarin lah suka-suka gue, mau tahu aja lo!"
Obrolan mereka terus berbuntut sangat panjang hingga lupa kalau sudah satu jam mereka disana. Jadi mau tidak mau teman-teman Athar harus out dari rumah ketua genk mereka itu.
"Ya udah Thar, happy terus ya. Kami pulang dulu. Jangan lupa makanan gratisnya kalau udah aktif di rumah makanmu nanti!" Ujar Yudi mengingatkan.
"Beres deh, asal kalian bantu cuci piring dan promosiin rumah makan gue biar rame!"
"Kalau itu sih gampang, serahkan aja sama kita-kita, ya gak kawan?" Tukas Farid sembari menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Iya Thar, lo jangan khawatir soal itu. Kita pasti bantu lo kok!"
Athar pun mengantar mereka ke teras rumah sampai kendaraan trail teman-temannya itu meninggalkan halaman rumahnya.
"Siapa Mas?" Sahut Zena yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang punggung Athar.
__ADS_1
"Sohibku lah, emang kenapa? Kamu keberatan dengan kedatangan mereka?"
"Enggaklah Mas, banyak teman itukan bagus. Oh iya masakannya udah siap. Ayo kita makan dulu!" Ajak Zena kemudian yang lebih memilih mengalihkan topik perbincangan mereka.
Athar mengangguk dan berjalan mendahului Zena. Sesampainya di meja makan, Athar terkejut dengan masakan sang istri yang nampaknya memang selalu terlihat lezat.
"Ayo makan Mas, kok cuma dipelototin doang sih?" Zena menarik kursi Athar dan mempersilakan sang suami untuk duduk.
Seperti biasa Zena selalu melayani sang suami bak raja. Ia harus berbakti pada Athar karena dia lah yang akan menuntunnya ke surga.
"Gimana Mas, enak gak rasanya?" Pendapat Athar tentu berguna untuk memotivasi semangat Zena saat memasak.
"Boleh Mas, tapi aku kesananya selesai beres-beres ya Mas!"
"Iya deh, aku setuju kalau itu."
Malam pun berlalu begitu cepat, Kini sepasang pengantin yang baru sebulan lebih menikah itu pun akan pergi untuk tidur. Tentu mereka sudah sholat wajib terlebih dahulu karena itu adalah pokok utamanya.
__ADS_1
Athar yang sudah duduk di tepi ranjang, memperhatikan Zena yang masih duduk di depan cermin sambil melepas semua penutup tubuhnya. Perempuan itu sedikit bersolek lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya sesuai request Athar kala itu.
Sebab apa yang di katakan Athar adalah magnet untuk menjadikan keluarga mereka semakin harmonis. Zena berharap Athar akan selalu meluangkan waktu untuknya jika perempuan itu menuruti keinginan Athar.
"Mas...!"
Athar yang baru saja berbaring terbelalak dengan penampilan Zena yang kian hari semakin seksi saja dalam menggoda hasratnya.
Athar bahkan tidak tahu sejak kapan Zena punya lingerie tipis yang kini sedang di pakainya. Sebab setiap malam Athar hanya melihat Zena memakai baju tidur yang tertutup dari atas sampai bawah.
"Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Athar, yang nampak susah payah meleguk salivanya.
"Dari Bunda Alika tempo hari, katanya biar Mas Athar betah di rumah," jawab Zena dengan tampang polosnya.
"Ya udah kesini kalau gitu!" Athar menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.
Zena pun tersenyum dan mendekat. Tapi bukannya memberi jalan untuk Zena lewat yang ada Athar malah menariknya masuk ke dalam pangkuan.
__ADS_1
"Sering-sering saja begini?" Bisiknya di telinga Zena yang sudah mengkerut lebih dulu.