Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 41 Tidak Mau Bertanggung Jawab


__ADS_3

Sesampainya di apotik, Asyifa yang sebenarnya takut untuk membeli alat tes kehamilan itu terpaksa nekat juga. Ia meminta dua biji sekaligus agar bisa di gunakan jika harus tes ulang.


"Berapa Mbak?" Tanya Asyifa lirih.


"Tiga puluh ribu Mbak, kehamilan anak pertama ya?" Tebak perempuan itu asal.


Asyifa terpaksa mengangguk, karena sesungguhnya Ia memang tak punya alasan untuk menggelengkan kepalanya.


Setelah Asyifa mendapatkannya, gadis itu segera pulang kerumah. Ia melihat sang Ibu sudah beralih menjemur pakaian mereka.


"Udah Bu, biar Syifa aja. Toh Ibu pasti kecapean banget kan?"


"Gak papa Ndok, kamu aja pucat begitu. Sudah sana masuk dan istirahat. Jangan lupa isi dulu perutnya karena kamu belum sarapan!" Ujar Sang Ibu yang tidak pernah bosan mengingatkan putrinya itu.


"Iya Bu, beres. Nanti Syifa bakal makan kok."


Karena ingin secepatnya tahu dari hasil tes kehamilan itu. Asyifa memutuskan ke kamar mandi untuk membuktikannya mumpung sang Ibu masih di luar.


Harap-harap cemas Asyifa menanti hasil dari benda itu, Ia terus berdoa akan ketakutannya tidak akan pernah terjadi. Sebab kalau sampai itu terjadi maka hidupnya akan benar-benar menjadi hancur.


Lima menit sesuai perhitungan, Asyifa segera mengecek benda tersebut, dan betapa terkejutnya Ia kalau hasil nya menunjukkan garis dua yang sangat terang benderang hingga tangis Asyifa menjadi pecah.


Ya Allah, bagaimana ini? Kenapa Syifa sampai hamil? Gimana kalau Ibu sampai tahu? Pasti dia syok banget dengan kejadian ini...

__ADS_1


"Syifa, udah makan belum nak? Kok nasinya masih utuh?" Teriak Sang Ibu dari luar.


"Iya Bu, sebentar. Syifa lagi sakit perut ni," jawab gadis itu berbohong. Sebisa mungkin Ia berharap Sang Ibu tidak perlu mengetahui kehamilannya itu.


"Ya ampun nak, berarti kamu benar-benar masuk angin kan? Pasti karena kamu kecapean kerja terus," ujar sang Ibu lagi sangat kelu.


"Enggak kok Bu, mungkin Syifa makan pedesnya kebanyakan aja kali," jawab Syifa sembari mengigit bibirnya agar jangan sampai tangis itu terdengar oleh wanita yang sangat disayanginya itu.


"Oh ya udah, jangan lama-lama disana ya, Ibu ke warung dulu sebentar!"


"Iya Bu!"


Merasa sudah sepi, Asyifa segera mengusap air matanya dan keluar. Ia duduk di kursi sambil memantik masakan sang Ibu. Bagaimana mungkin Syifa bisa memakannya kalau pikiran Syifa sangat kacau saat ini. Belum lagi, Syifa merasa mual melihat penampakan dari tumis kacang panjang tersebut.


Merasa ada kesempatan untuk pergi lagi, Syifa pun nekat mendatangi markas Athar dan kawan-kawan sambil melemparkan hasil dari tes kehamilannya ke hadapan mereka semua.


"Kalian harus tanggung jawab?" Ujar Syifa tanpa basa-basi.


Farid yang paling menyukai Syifa diantara mereka pun langsung mengambil benda apa yang ada di dalam kantong kresek tersebut.


"Apa ini?" Tanya Farid tak mengerti.


"Jangan pura-pura bodoh deh Rid, kamu pasti tahu kegunaan benda itu," ketus Syifa kemudian.

__ADS_1


"Wah, sepertinya gadis ini minta di manjain lagi sama kita Rid?" Timpal Riky yang langsung menoel pipi Syifa.


"Jangan sentuh-sentuh deh, intinya aku mau salah satu dari kalian harus menikahi aku?" Desak Syifa lagi hingga Ia terpantik dengan Foto Athar yang ada di dinding.


"Kalian berjumlah berapa orang?" Tanya Syifa lagi karena Ia tidak ingat persisnya berapa yang menggagahi Ia malam itu.


"Emang kenapa mau tahu, kami berjumlah 6 orang," jawab Yudi dengan enteng.


"Baguslah, jika diantara kalian tidak mau menikahi aku. Maka terpaksa aku bakal laporin kalian ke polisi?" Ancam Syifa kemudian.


"Waduh, enak saja main lapor. Kami mana tahu siapa Ayah dari anak kamu. Masak iya kami di suruh tanggung jawab. Coba kamu pikir gimana kalau salah satu diantara kami menikahi kamu tapi anak itu bukan anak yang nikahin kamu. Apa kami gak akan rugi nantinya!" Sahut Randy yang tidak terima.


"Ya udah kalau gitu siap-siap aja, kalian di ciduk karena hal ini!"


Syifa merobek beberapa foto mereka dari atas mading untuk di jadikan barang bukti perbuatan mereka.


"Aduh, bagaimana ini Rid? Kan kamu yang ngajakin kita ngeroyok Si Syifa. Masak Iya kami yang nikahin sih?"


"Ya udah kita kabur aja deh dari kampung ini untuk sementara waktu?"


"Wah, masak begitu?"


"Ya mau bagaimana lagi, dari pada kita di penjara, mendingan juga kita kabur lah. Aku juga udah jijik sama Syifa karena kalian ikut ambil bagian," tilas Farid lagi langsung beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2