Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 49 Mengelak


__ADS_3

"Abah...!"


Athar tentu sangat terkejut dengan hal itu. Pasti Abah juga sudah mendengar ceritanya dari Bunda kalau yang di kira menghamili Asyifa salah satunya adalah dia.


"Benar-benar anak tidak tahu, Abah pikir dengan menikahkan kamu dengan Alzena. Sikap burukmu akan berubah Thar, tapi yang ada kau malah semakin menjadi-jadi, dimana otakmu Thar? Apa kau tidak pernah berpikir akan kondisi Alzena sekarang?" Cerca Abah Dullah tanpa ada jeda sedikit pun.


Merasa tidak melakukan tuduhan mereka, Athar tetap akan membela dirinya, "Maaf Bah, tapi Athar tidak pernah melakukan apa yang kalian tuduhkan. Jadi tolong jangan mendesak Athar untuk mengakuinya Bah!"


Plak!


Tamparan dari Abah Dullah kembali berlabuh di pipi Athar untuk yang kedua kalinya. Tak perduli sakit yang pertama tadi masih terasa nanar di sana.


"Jangan ngeles kamu, Abah tahu kalau kamu bukan lah pemuda yang baik. Jadi Abah gak akan semudah itu percaya dengan mulutnya, Athar!"


Sakit hati Athar melihat telunjuk Abah menuding-nuding ke arah wajahnya. Seolah dia adalah laki-laki yang paling hina di dunia.


Bunda, Bibi dan Paman Ardy yang masih duduk di sofa sampai tak berani berkata-kata. Mereka hanya bisa menyimak apa yang Abah lakukan pada putranya.


Jika di tanya siapa yang paling marah disana, seharusnya dia adalah Paman Ardy. Karena akibat kesalahannya menikahkan Alzena dengan berandalan seperti Athar akhirnya malah berujung menyiksa keponakannya sendiri.


Athar memandangi semua yang ada di ruangan itu dan kembali meyakinkan kalau dia tidaklah salah, "Terserah apa kata kalian semua, tapi yang pasti Athar tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan!"


Pemuda itu pun meninggalkan Semua orang di ruangan itu untuk menemui Alzena yang masih saja terisak-isak tanpa henti. Hatinya sangat terpukul saat tahu suaminya telah berkhianat dengan satu-satunya sahabat yang dia punya.


"Jangan Boddoh Zena, ngapain kamu nangisin hal yang tidak seharusnya kamu sesali?" Tukas Athar sangat kesal.


"Aku gak tahu harus apa sekarang Mas, tapi yang pasti aku sakit mengetahui pengkhianatanmu dengan Asyifa!" Timpal Alzena dengan suara tertahan.


"Apa? Jadi kau tetap mengira aku adalah salah satu pelakunya, begitu?" Athar menatap dengan kedua bola mata melotot. Bahkan Ia tidak lagi perduli dengan sakit yang masih berdenyut di pipinya akibat pukulan Abah Dullah.


Alzena balas memandang Athar, "Mas, aku tahu siapa Syifa. Dia adalah perempuan muslimah. Tapi kenapa kalian sampai hati memperkossa dia beramai-ramai. Aku sampai tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya dia saat itu kala kalian menggagahinya secara bergiliran, Mas...!"


Air mata Alzena kian banjir memikirkan hal itu tergambar jelas di benaknya. Bahkan bayangan tentang perlakuan Athar dan kawan-kawan terasa sangat menjijikan untuk di pikirkan sepintas saja.

__ADS_1


"Chieeeh!"


Athar menarik sedikit bibirnya menertawakan kebodohan Alzena. Bagaimana mungkin perempuan itu tidak mempercayainya sama sekali sedang Athar sudah jarang berkumpul dengan kawan-kawan sejak mereka syah menjadi suami istri.


"Terserah kamu lah Zen, tapi yang pasti. Aku bukan pria sebejat itu!"


Athar hendak pergi lagi keluar untuk mencari Farid dan kawan-kawan akan tetapi Zena malah melepas infusnya dan berlari untuk bersimpuh di kaki Athar.


"Mas, mungkin ini sangat menyakitkan buat aku. Tapi Alzena mohon Mas, tolong kamu tanggung jawab sama Asyifa. Kasihan dia. Keadaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang!"


Athar tercengang dengan permohonan Alzena yang sangat tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin Ia di suruh bertanggung jawab dengan hal yang tidak pernah di lakukannya sama sekali.


"Apa maksudnya Zen?" Athar berusaha untuk tetap menjaga kewarasannya.


Alzena sebenarnya berat untuk melakukan hal itu pada Athar. Akan tetapi Ia juga tidak tega jika sampai nantinya Asyifa menderita karena mengurus anak itu seorang diri. Di sisi lain juga, jika tak ada satu pun diantara mereka yang mau menikahi Asyifa. Sudah pasti Athar dan teman-teman akan mendekam di penjara akibat tuduhan pelecehan.


"Tolong kamu mengalah Mas, menikahlah dengan Asyifa. Aku akan berusaha ikhlas harus berbagi suami dengan sahabatku sendiri!"


Athar benar-benar terkejut mendengar ucapan Alzena. Bagaimana mungkin perempuan bercadar itu memintanya melakukan hal gila sedang Ia benci perlakuan Abah yang sudah sengaja memadu Bunda Alika dengan dua perempuan sekali gus.


"Tolong Mas, kasihan Asyifa. Aku ikhlas kamu menikah lagi. Asalkan kamu tidak di penjara gara-gara masalah ini!" Mohon Alzena lagi sambil mendongak dengan tatapan memohon pada Athar.


'"Jangan ngawur Zen, aku tidak akan pernah sudi melakukan hal yang akan membuatku menyesal nantinya!" Athar menatap jauh kedepan tanpa memperdulikan Alzena.


"Tapi Mas, bagaimana Syifa dan bayinya!"


"Itu bukan urusanku Zen!" Bentak Athar lagi hingga Alzena kaget di buatnya.


"AstaughfiruLLahaladzim...!"


Athar berusaha untuk tetap mengendalikan emosinya meski Ia tidak terima dengan permintaan konyol Alzena.


Tak tega melihat istrinya terus menangis, Athar yang tidak mau Alzena kenapa-napa pun segera berjongkok dan menggendong Alzena lagi ke ranjang.

__ADS_1


"Aku akan buktiin kalau aku tidak terlibat Zen!"


Athar kembali keluar rumah dan harus menemukan salah satu temannya untuk mengetahui siapa saja yang sudah berani melakukan hal segila itu tanpa izin darinya.


"Nak, kamu mau kemana lagi nak!" Teriak Bunda Alika yang takut terjadi apa-apa dengan Athar karena telah melewati mereka tanpa mengucapkan sepenggal kalimat apa pun.


"Bagaimana ini Bah, Bunda takut Athar melakukan hal di luar dugaan nanti?"


"Yang pasti, kami sangat kecewa dengan tindakan Athar Bu, bagaimana mungkin Ia merencanakan pelecehan pada seorang gadis sampai hamil seperti itu," jawab Bibi Marwah tak terima.


"Kalau begitu, biar Zena ikut kami saja pulang kerumah untuk sementara waktu. Sebagai pengganti orang tuanya, tentu saja kami harus menjaga agar Alzena dan anaknya baik-baik saja dari beban pikiran," sambung Paman Ardy pula.


"Tidak bisa begitu dong Bu, kami tahu Athar sangat salah dengan hal kejadian ini. Tapi kami juga gak mau kehilangan Menantu dan cucu kami," tolak Bunda Alika tidak setuju.


"Benar Ardy, Alzena adalah menantu kami. Maka kami akan bertanggung jawab untuk hidupnya apa pun yang terjadi!"


Abah Dullah yang biasanya keras berusaha untuk menunjukkan ketenangan. Ia juga tidak mungkin semudah itu membiarkan apa yang di peroleh nya pergi begitu saja.


"Maaf Bah, tapi ini menyangkut masa depan Zena juga. Bagaimana kalau dia malah sering jatuh sakit gara-gara memikirkan kelakukan buruk suaminya dengan satu-satunya sahabat yang dia punya!" Bantah Bibi Marwah lagi.


Perempuan yang sudah tidak ubahnya seperti Ibu bagi Alzena itu pun segera masuk ke kamar. Dia bermaksud untuk membujuk Alzena agar mau ikut pulang kerumah bersama mereka.


Tak ingin hal itu sampai terjadi, yang lain pun ikut menyusul ke dalam dan ingin menyaksikan sendiri apa keputusan Alzena nantinya.


"Zen, dari pada kamu sakit hati dan terluka tinggal bersama suamimu disini. Lebih baik kalian pisah rumah saja dulu. Kamu mau kan, ikut Paman dan Bibi pulang ke rumah," tukas Bibi Marwah kemudian.


"Maksud Bibi?"


Alzena menatap Bibi Marwah dan yang lainnya secara bergiliran.


"Maksud Bibi adalah supaya kamu tidak mengalami kesetressan, karena itu akan berdampak buruk pada bayimu!" Imbuh Paman Ardy pula dengan tatapan tak tega.


Itu semua terjadi memanglah salahnya, andai Paman Ardy tidak memaksa Alzena menikah dengan Athar pasti hal pahit itu tidak akan pernah terjadi pada Alzena.

__ADS_1


__ADS_2