
EMPAT MINGGU KEMUDIAN
Waktu berjalan begitu cepat. Kini Athar, Alan dan Ardhan sudah terbiasa dengan pekerjaan memetik buah kopi dan Pucuk daun teh. Maka dari itu sudah saatnya Abah memberikan pekerjaan yang layak ke pada ketiga anak-anaknya.
Hari itu tepatnya di meja makan, Abah memulai percakapan dengan memberi mereka dua buah kunci mobil dan rumah secara adil.
"Ini apa Bah?" Tanya Athar sedikit mengernyit bingung dengan apa tujuan Abah sebenarnya memberikan itu pada mereka.
Abah melempar senyum kearah mereka semua, lalu mulai menjelaskan apa yang ingin mereka ketahui darinya.
"Yang satu adalah kunci mobil dan satunya lagi adalah kunci rumah. Karena kalian sudah mulai pandai bertanggung jawab dengan istri dan pekerjaan kalian. Maka mulai hari ini kalian harus belajar pula hidup di rumah kalian sendiri dengan modal mobil yang Abah janjikan sebelum menikah dulu. Semua merek dan ukuran rumah yang Abah kasih sama rata. Tidak ada yang Abah beda-bedakan. Jadi kalian tidak perlu merasa iri satu dengan yang lainnya!"
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kami Bah?" Tanya Alan penasaran.
"Kamu dan Mayra akan Abah percaya mengelola kebun Kopi, sedang Ardhan dan Dinda, Abah percayakan mengelola kebun teh?" Tukas Abah sejenak menatap kearah Athar.
"Wah, asyik ni. Yakin aja Bah, semua akan berjalan sukses sesuai kemauan Abah," jawab Ardhan dan Alan sangat senang.
"Lantas bagaimana dengan Athar?" Tanya Mimi Zulfa ingin tahu. Sebab Ia sudah cukup puas dengan kepercayaan Abah pada Alan.
"Em... begini Nak. Abah sebenarnya punya rumah makan yang dekat dengan rumah kalian. Jadi Abah mau kalian yang akan mengurusnya? Tapi maaf rumah makan itu memang belum terlalu ramai. Akan tetapi Abah ingin kalian berdua yang memajukannya dengan usaha kalian sendiri?"
"Loh kok gitu Bah? Kenapa Athar gak di beri kebun juga untuk di kelola?" Tanya Athar tak terima. Wajar saja karena kebun Abah Dullah sangat luas jadi tidak adil rasanya jika Ia hanya di beri sebuah rumah makan sederhana.
Abah Dullah sudah menebak sebelumnya akan reaksi Athar, tapi ini sudah Ia persiapkan matang-matang sebelumnya, "Maaf Thar, Abah tidak bermaksud membeda-bedakan kalian. Tapi percayalah kalau Abah memberikan rumah makan itu dengan tujuan yang indah!"
"Bohong, bilang saja kalau Abah takut Athar tak mampu mengelola kebun kopi atau Teh milik Abah?" Protes Athar lagi.
"Tidak Nak, bukan begitu. Abah yakin kamu akan berjaya dengan rumah makan itu!"
"Terserah saja lah Bah, hari ini juga Athar akan berangkat kesana!"
Pemuda itu pergi dengan perasaan marah sembari menggaet tangan Zena yang terkejut di buatnya. Tapi mau bagaimana lagi. Zena harus patuh pada suaminya.
__ADS_1
"Cepat kemasi barang kita, aku muak berlama-lama di rumah ini!"
"Sabar Mas, tenangkan hatimu dulu. Percayalah kalau maksud Abah sebenarnya sangat lah baik untuk kita!"
"Itu tidak adil Zen, penghasilan kebun kopi dan teh jauh lebih besar dari sekedar rumah makan. Bagaimana mungkin aku terima dengan ketidak adilan yang Abah berikan!" Amuk Athar sembari membuka lemari dan memasukkan seluruh bajunya ke dalam koper.
"Athar, please jangan marah nak. Kenapa kamu bersikap seperti ini?" Sahut Bunda Alika yang rupanya langsung menyusul keduanya ke kamar.
"Aku udah gak perduli lagi Bunda, terserah saja mau Abah apa. Tapi yang pasti Athar tidak akan pernah terima dengan perlakuan Abah!" Jawab Athar dengan suara meninggi.
"Tidak Nak, kamu tidak tahu rencana Abah. Lebih baik kamu minta maaf sama Abah sekarang atau Bunda akan marah sama kamu!" Pinta Bunda Alika penuh harap.
"Apa Bunda? Minta Maaf? Please dong Bunda jangan membuat Athar seperti anak yang mau berhenti nangis setelah Bunda mengancam Athar karena itu tidak akan pernah terjadi!"
Athar kekeh pada pendirian dan buru-buru meminta Zena yang masih bingung untuk segera mengemas pakaiannya.
"Kenapa masih diam disitu ha? Mau ikut atau diam saja di rumah ini?"
Perempuan bercadar itu segera melakukan apa yang di perintahkan Athar sembari memperhatikan Bunda Alika yang masih menangis melihat sikap marah Athar pada aturan Abah.
"Sudah belum?" Tanya Athar yang ternyata hanya akan membawa pakaian seperlunya saja.
"Sudah Mas!"
"Ya sudah ayok!"
Athar berhenti di depan Bunda dan mencium tangan perempuan itu tanpa mengatakan sepatah kata pun, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan sang Ibunda.
Zena yang melihat Bunda Alika bersedih di tempatnya berdiri langsung berhamburan memeluknya, "Bun, Zena dan Mas Athar pergi dulu ya. Maaf jika Mas Athar sudah bersikap seperti itu pada Bunda dan yang lainnya?"
"Iya Nak, tolong bantu Athar menjadi pria yang kuat ya Sayang!"
"InsyaAllah Bunda, suatu saat Mas Athar pasti mengerti apa alasan Bunda dan Abah melakukan hal ini!"
__ADS_1
Mereka pun segera keluar dan berpamitan pada yang lain, sedang Athar tetap pada keegoisannya melewati mereka tanpa menatap sedikit pun.
"Bah, kami pamit dulu ya. Doakan kami bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Serta pandai bersyukur dalam setiap situasi!"
"Iya menantuku, Abah percaya kamu mampu merubah Athar menjadi laki-laki yang hebat!"
"Allahu alam, Apa yang tidak mungkin jika Allah menghendaki semuanya Bah, Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikum sallam!"
Zena mengikuti Athar yang sudah masuk ke mobil lebih dulu, karena hari ini kisah perjalanan rumah tangga mereka yang sebenarnya baru akan di mulai.
"Kenapa lama sekali ha? Rumah ini sudah seperti sampah bagiku?" Jengah Athar pada sang istri yang malah tersenyum menanggapinya.
"Percayalah Mas, memulai dari nol adalah sesuatu yang indah ketimbang langsung naik ke atas akan tetapi tiba-tiba malah jatuh. Karena itu pasti sangat menyakitkan, bukan?"
Mendengar ucapan Zena, Athar terdiam sejenak tanpa melepas tatapan sedikit pun pada sang istri.
Sejak mengenal Zena, Athar memang merasakan perubahan yang signifikan pada dirinya. Bahkan Ia sangat jarang berkumpul lagi dengan Farid dan kawan-kawan karena lelah seharian di kebun.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Athar pun menyalakan mesin mobilnya lalu memutar arah meninggalkan rumah mewah milik Abah Dullah.
Di dalam mobil pun semua terasa sunyi, karena Athar hanya memasang wajah dinginnya pada Zena hingga perempuan itu bingung mau berkata apa.
Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya keduanya sampai juga ke sebuah rumah berlantai dua di mana di samping kiri-kanannya banyak pula rumah para tetangga.
"Wah, tempatnya asyik Mas. Zena pasti betah tinggal disini?"
"Gak usah banyak bicara, sana buka pintunya!" Athar memberikan kunci dari dalam saku celana.
"Biar aku bantu bawa barangnya dulu, Mas!"
"Gak usah biar aku aja!"
__ADS_1