Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 36 Agak Kesel


__ADS_3

Hari itu pekerjaan Athar dan saudara-saudaranya yang sudah seperti sistem kerja paksa akhirnya selesai juga. Wajah mereka nampak lelah, lemas dan menyedihkan. Untuk pertama kalinya hal itu akhirnya dapat mereka rasakan. Bahwa ternyata mencari uang sangatlah berat rasanya.


"Bagaimana? Apa sekarang kalian kapok?" Seringai Abah Dullah pada ketiganya.


Athar yang masih kesulitan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal nampaknya tidak terima dengan anggapan Abah.


"Enggak Dong Bah, enak aja bilang gitu. Besok Athar bakal berangkat lagi. Jadi Abah gak perlu khawatirkan kekuatan kita!"


"Bagus lah kalau begitu, kita buktikan besok."


Abah menepuk-nepuk Bahu Athar lalu beralih menatap kearah dua saudaranya, "Bagaimana dengan kalian?"


"Oh... ya jelas ikut dong Bah, pekerjaan seperti ini mah kecil buat kami, iya kan Dhan!"


"Lah iya dong Bah, masak aku kalah sama mereka berdua. Tubuhnya aja besaran aku ketimbang mereka," sahut Ardhan dengan gaya angkuhnya.


Mendengar antusias adik bontot mereka si Athar, mana mungkin Alan dan Ardhan mau kalah. Ternyata reaksi Athar bagus juga untuk menanamkan jiwa semangat Alan dan Ardhan.


"Wah, hebat. Ini baru jagoan Abah, berarti mulai besok kita berangkat pagi ya!" Sengaja Abah kembali menantang ketiganya untuk mengetahui seberapa sanggup mereka menerima tawaran Abah Dullah.


"Ha, Pagi?" Mereka menganga bersamaan.


"Iya Lah, masak siang. Besok kan gak ada kerjaan. Jadi lebih baik kita berangkat pagi aja!"


Abah Dullah tak mau mendengar apa pun penolakan mereka, hingga langsung mendahului masuk ke mobil di ikuti ketiganya dengan tampang mirip tisu abis selesai di pakai.


Sesampainya di rumah ketiganya langsung di sambut oleh para istri-istri mereka di depan pintu.


"Sayang, pegel banget ni punggung Yayang nanti pijitin ya!" Rengek Ardhan yang tanpa basa-basi langsung bermanja-manja pada Dinda sambil menunjukkan bagian yang terasa sakit.


"Iya, iya, nanti aku pijitin. Ayo kita mandi dulu Yang!"

__ADS_1


Berbeda dengan Mayra yang langsung mengusap keringat Alan dengan telapak tangannya. Tapi Alan tak mungkin mau mengeluh mengingat Mayra perempuan pekerjaan keras.


"Kamu capek juga Lan?"


"Dikit Kok May, gak perlu khawatirkan aku!"


Keduanya juga berlalu masuk menyisakan Athar yang masih membantu sopir Abah mengeluarkan beberapa barang-barang yang ada di bagasi mobil.


"Mang, letakin di gudang aja yang itu!" Titah Athar pada sopir pribadi Abah pada barang-barang berupa Parang dan cangkul.


"Iya Den."


Athar menyunggingkan senyumnya sambil berjalan kearah Zena yang masih menantinya dengan setia.


"Assalamualaikum, istriku!" Sapanya dengan suara yang sangat manis.


Dia harus mampu menempatkan dirinya karena sang Istri adalah perempuan muslimah. Terlepas dari itu Athar sebenarnya tidak tahu apakah ada rasa sukanya pada sosok Alzena. Tapi mulai hari ini, Athar ingin membuktikan pada perempuan bercadar itu kalau dirinya mampu bertanggung jawab atas hidup mereka.


Keduanya pun berjalan beriringan untuk masuk dan tak lama terdengar suara Abah berada di belakang mereka.


"Assalamualaikum...!"


"Wa'allaikum sallam, " jawab ketiga istri Abah bersamaan. Mereka melakukan hal serupa seperti Zena tadi pada Abah Dullah secara bergiliran.


"Mbak yu, malam ini kan jatah aku, jadi biar Abah mandi di kamar aku," ujar Mama Nilam ibunda dari Ardhan.


"Oh ya silakan aja Lam, kamu pasti sudah kebelet kan, hehehe...!" Mimi Zulfa terkekeh dengan ocehannya sendiri. Begitulah mereka sangat akur dalam berbagi satu lelaki.


Mama Nilam segera menuntun Abah ke kamar, hingga berhasil menarik perhatian Athar yang sebenarnya sedih dengan kenyataan itu.


Andai dulu Ia lahir lebih cepat dari seharusnya, pasti kedua perempuan itu tidak akan menjadi penghalang kebersamaan Abah dan Bunda Alika. Begitu juga Alan dan Ardhan yang juga telah merampas sebagian perhatian Abah Dullah kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa Mas?" Tanya Zena yang menangkap kelu di dalam bola mata suaminya.


Athar tidak menjawab dan berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar. Tapi Zena tidak akan membiarkan dia seorang diri.


"Apa ada sesuatu yang Mas pikirkan sekarang?" Zena bertanya sambil memberikan handuk yang Ia gaet dari gantungan.


"Kenapa aku jijik ya melihat Abah berbagi kasih sayang dengan ketiga wanita dalam satu rumah di waktu bersamaan?" Tanya Athar yang butuh penjelasan Alzena.


"Maaf Mas, Zena tidak tahu hal itu. Akan tetapi seorang istri yang ikhlas di poligami sudah pasti balasannya adalah surga yang indah dari Allah," jawab Zena apa adanya.


"Maksudmu? Jadi kau mau juga jika aku melakukan hal itu?" Athar membuat Zena tak mampu lagi untuk bergeming.


"Kenapa diam? Bukan kah di duakan itu rasanya sangat sakit?" Sambung Athar lagi sedikit tersenyum meremehkan ke arah Zena.


"Mas, maaf kan Zena. Tapi aku sama sekali tidak berhak memberikan jawaban lebih banyak. Karena jujur saja, seikhlas-ikhlasnya perempuan sudah pasti Ia sakit saat suaminya memutuskan menikah lagi!"


"Nah, kamu sudah tahu kan apa yang ku pikirkan sekarang. Bunda Alika mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan airmatanya yang mungkin setiap malam telah membasahi bantal tempat tidurnya. Pasti dia hanya bisa menumpahkan rasa sakit yang harus Ia sembunyikan di depan semua orang agar tidak ada yang mengetahui kepedihan yang di rasakannya!"


Pemuda itu meneguk salivanya dengan perasaan getir kearah Zena yang tertunduk bingung di hadapannya. Jujur Zena sendiri tidak tahu mengapa juga Abah menempatkan ke tiga istrinya di rumah yang sama. Sedang setiap malam mereka harus bergilir melakukan hal yang sebenarnya ngilu untuk di bahas.


"Baiklah, kalau begitu jangan pernah kamu punya niat melakukannya Mas, karena aku belum tentu sekuat Bunda Alika jika sampai itu terjadi," tukas Zena kemudian sebisa mungkin tetap melebarkan senyumnya di depan Athar.


Athar menarik sedikit sudut bibirnya tanpa berbicara sepatah kata pun lalu masuk ke dalam kamar mandi begitu saja, meninggalkan AlZena yang mengekor pergerakannya dengan tatapan sendu.


"Ya Allah, semoga saja Mas Athar tidak sampai melakukan hal-hal yang aneh di luar sana hanya karena marah dengan sikap Abah. Tapi sejak pertama aku datang kerumah ini, nampaknya ke tiga Istri Abah tidak mempersalahkan hal apa pun. Bahkan mereka selalu bercengkrama bersama-sama," gumam Alzena seorang diri.


Apa mau di kata juga, toh semuanya sudah berlalu selama hampir 27 tahun. Tapi kenapa Athar baru mempermasalahkan hal itu di depannya.


Ya Allah, kenapa Zena jadi khawatir ya? Semoga saja Mas Athar bisa mengontrol diri saat Abah sedang bermesraan dengan istri-istri yang lain di depan matanya...


Dari pada bingung sendiri, Zena pun memutuskan pergi untuk menyusul Athar ke kamar mandi guna mengambil wudhu karena sebentar lagi Azan maghrib akan segera berkumandang.

__ADS_1


__ADS_2