
"Aduh, gimana sih Lan gitu aja pakek gugup segala sih, kan Mayra istri kamu sekarang?"
Perempuan itu menarik tangan Alan ke pundaknya lalu saling tatap-tatapan lagi seperti sebelumnya, "Ayo mau mulai dari mana?" Tawar Mayra lagi jadi kesel sendiri di buatnya. Ia tidak menyangka Alan yang ternyata sedikit berandalan itu takut untuk memulai menunjukkan kelihaiannya.
Tak ingin melewatkan beberapa malam yang tertunda, Alan pun memberanikan diri mendorong perlahan tubuh Mayra jatuh ke ranjang lalu memulai aksinya.
****
"Hahaha...!" Suara gelak tawa kali ini terdengar dari kamar Ardhan. Siapa sangka keduanya sedang asyik nonton Film sambil pijat-pijatan di sofa.
Tapi ini namanya bukan pijatan biasa melain pijatan yang bikin semua orang bakal candu melakukannya.
"Aduh, aduh, Sayang. Pelan-pelan dong, bengkak ni pasti, dari tadi lo kamu gempur terus! Gagah amat sih dia gak selesai juga!"
"Biar aja, masih betah dia yang!"
"Astaga, lihat itu Yang si Cebol nyungsrep ke jurang!" Tunjuk Dinda lagi kearah layar televisi sedang tubuhnya sudah seperti terserang gempa.
__ADS_1
"Astaga, kok Filmnya lucu banget ya Yang. Tahu gitu kita beli aja CD nya dari kemaren!"
"Iya Yang, bikin sakit perut tauk!"
****
"Bah, apa anak-anak bahagia ya dengan pernikahan mereka? Bunda amati, Athar terlalu dingin dengan istrinya?" Tanya Bunda Alika yang tengah menemani Abah Dullah menyelesaikan pembukuan hasil dari menjual kopi siang tadi.
"Tenang aja Bun, kurasa itu tidak akan lama. Athar tidak akan mau kalah dengan kedua saudaranya buat unboxing!"
"Loh kenapa Bunda jari meragukan hal itu, udah deh percaya sama Abah kalau pilihan Abah itu akan bakal bikin Anak bunda kelepek-kelepek sama Zena nanti!"
"Ih si Abah emang Ayam, kelepek-jelepek?" Protes Bunda sambil memukul pundak Abah.
"Ayo Bun, kita Unboxing juga. Jangan mau kalah sama anak-anak!"
"Aduh si Abah, bukannya kemaren udah ya sama Mami Zulfa!"
__ADS_1
"Beda dong Bun, kalau itu gula tapi kalau punya Bunda Madu!" Ucap Abah Dullah tergelak.
"Terus punya Mamanya Ardhan apaan Bah?" Goda Bunda Alika lagi.
"Susu kental manis," jawab Abah Dullah sembari menarik tubuh Bunda Alika ke ranjang. Bicarain soal anak-anak yang melakukan malam-malam indah mereka. Abah Dullah jadi ikutan kepincut di buatnya.
Setelah 30 menit drama di setiap kamar itu, Athar yang sebenarnya belum melakukan apa-apa membiarkan Zena mengatur nafasnya lebih dulu.
Sepertinya Zena sangat ketakutan hingga Athar ragu untuk melanjutkannya.
"Jika belum siap, kita tunda saja sampai besok. Aku tahu kamu masih ketakutan Zen!" Ucapan Athar membuat Zena jadi merasa bersalah. Sungguh Ia tak ingin mengecewakan suaminya itu.
"Maaf Mas, tolong jangan marah. Zena akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang sholihah tapi tolong kita lakukan pelan-pelan saja!"
Athar mengangguk paham, dan memulai lagi semuanya seperti air mengalir hingga penyatuan mereka akhirnya berhasil juga.
Perasaan itu tercipta begitu indah dan sempurna. Semua keluarga Athar sedang berpesta ria di tempatnya tapi tidak dengan kedua perempuan setengah abad yang hanya bisa manyun menatap langit-langit di atas kamar mereka.
__ADS_1