
Akhirnya hari itu pekerjaan Athar dan Alzena selesai juga. Makanan yang di dapur pun sudah hampir habis jadi sisanya Alzena bungkus buat dua orang karyawan dan satu juru masaknya untuk di bawa pulang.
Sedang ketiganya masih nampak sibuk membereskan bekas-bekas piring dan meja makan yang masih sangat kotor agar besok mereka tidak keteteran. Berbeda dengan Athar yang tengah sibuk menghitung hasil penjualan hari inim
"Makasih ya Pak, berkat kalian hari ini pekerjaan kita bisa berjalan dengan lancar. Jangan lupa ini di bawa pulang buat anak dan istri di rumah!"
Alzena membagikan satu persatu makanan yang telah di persiapkannya tadi dan itu membuat ketiganya merasa sangat senang.
"Makasih ya Pak, Bu, kami tidak menyangka Abah Dullah memiliki anak-anak yang luar biasa baiknya. Pak Dullah memang panutan untuk kami. Karena dia selalu meluangkan waktu untuk membantu kesulitan kami."
"Ya iyalah Abah emang baik, jadi pandai-pandai lah bersyukur dan lebih giat lagi dalam bekerja biar kalian gak ngerugiin kami!" Timpal Athar setengah bernada tegas dan sedikit angkuh.
"Iya Pak, kalau begitu kami permisi dulu!"
Pak Mahmud dan seorang karyawannya pun segera pergi menyisakan salah satu karyawannya yang masih tertunduk takut di hadapan mereka.
"Kok masih disini, gak ikut pulang?" Culas Athar lagi sedikit menatap malas.
"A- anu Pak. Ka- kalau boleh saya mau pinjam uang?"
"Apa? Pinjam uang? Yang bener aja deh kamu ini? Baru juga sehari aku jadi Bos disini udah di palak aja!" Sahut Athar sangat kesal.
Alzena yang melihat Bang Anton jadi gemeteran pun langsung menahan Athar untuk terus memarahinya.
__ADS_1
"Udah Mas, jangan gitu dong. Mungkin Bang Anton bener-bener butuh uang itu untuk keperluan mendesak," bisik Alzena dengan suara lirih.
Athar pun kembali memantik wajah karyawan yang tak berani melihatnya itu, "Buat apa uangnya?" Jengah Athar kemudian.
"Bu- buat berobat anak saya Pak, Sudah tiga hari badannya panas dan muntah terus. Tapi mau berobat gak punya uang," jawab Pak Anton gelagapan.
"Segini cukup?" Athar mengulurkan dua lembar uang merah ke depan Pak Anton. "Jangan banyak-banyak Pak, nanti Pas gajian uang pun tinggal sedikit kan gak lucu. Terus uang belanja bulanan Bapak jadi gak nyampek untuk ke bulan berikutnya. Ujung-ujungnya Bapak bakal ngutang terus deh!" Sambung Athar lagi yang belum memberi peluang Pak Anton untuk menimpali.
"Cu- cukup kok Pak. Yang penting anak saya si Toni bisa di bawa ke bidan buat periksa," jawab Pak Anton yang segera menyambut uang itu.
"Ya udah, semoga anaknya cepat sembuh ya!"
"Iya Pak Syafakallah (Doa kesembuhan yang di peruntukkan untuk anak laki-laki) buat anak Bapak ya, semoga penyakitnya segera diangkat oleh Allah!" Imbuh Alzena pula.
"Wa'allaikum sallam...!"
Setelah Pak Anton tak terlihat lagi, tiba-tiba saja Alzena yang sedang menunggu Athar menutup pintu rumah makan itu mendadak pusing dan hampir tumbang, beruntung saja Athar melihatnya dan langsung menahan tubuh Alzena.
"Kamu kenapa Zen?"
"Pusing Mas, pandangan Zena kayak gelap gitu barusan!" Jawabnya sembari memegangi kepala yang seperti berputar-putar.
"Ya udah deh, ayo kita buru-buru pulang aja. Mungkin kamu kecapean sekarang!"
__ADS_1
Athar segera menuntun Alzena ke mobil lalu membantai jalanan yang jaraknya kira-kira tiga kilo meter jauhnya dari rumah mereka.
Terlalu fokusnya menyetir, Athar sampai tidak sadar kalau ternyata Zena malah sudah pingsan di tempatnya.
"Ya Allah, Zen. Kamu kenapa Zen? Cepet banget sayang, kita udah nyampek rumah ni sekarang?"
Athar yang menjadi sangat panik, berusaha untuk menyadarkan sang istri dengan cara menepuk-nepuk pipi Alzena tapi tetap saja perempuan itu tidak jua mau membuka matanya.
"Ya Allah, bagaimana ini?"
"Athar segera melepas tali pengaman mereka dan buru-buru menggendong Alzena masuk ke dalam rumah. Sesampainya di kamar, barang yang Athar cari tentu adalah aromaterapi yang Ia sengaja hirup kan di hidung perempuan yang sudah Ia lepaskan cadarnya itu.
"Zen, ayo bangun Zen. Jangan bikin aku panik dong ngeliat kamu kayak begini?"
Takut terjadi apa-apa, Athar yang tak berhasil membangunkan Alzena pun memutuskan untuk menelpon Bunda Alika dan memberi tahukan kondisi Alzena sekarang.
"Apa? Kok bisa? Emang seharian ini mantu Abah kerja apaan bocah tengil?" Sahut Abah, terdengar nampak marah.
"Gak ada Bah, cuma ikut ke rumah makan aja seharian!"
"Aduh, bagaimana ini Bah? Ayo kita segera kesana aja sekalian minta Dokter Lilis untuk datang memeriksa!" Ujar Bunda Alika yang tak kalah paniknya pada Abah Dullah.
Mendengar ucapan Sang Istri suara Abah pun kembali melembut, "Ya udah kamu tunggu dulu disana, coba terus bangunin AlZena dengan membaluri tubuhnya dengan Aromaterapy, sebentar lagi Abah dan Bunda kesana!"
__ADS_1
"Iya Abah, Athar tunggu secepatnya!"