Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 26 Bingung


__ADS_3

"Ya iya sih, tapi gak gitu juga kali Dhan. Aku sampai geli lo ngedengernya," celoteh Mayra yang akhirnya turut bersuara untuk menggoda adik iparnya itu. Siapa sangka di balik diamnya Mayra, perempuan itu pandai humor juga.


Gelak tawa terus mewarnai kebersamaan mereka dalam setiap ucapan yang terlontar. Alzena hanya senyum-senyum sendiri mendengarnya karena Ia tidak tahu harus bicara apa. Tentu tak mudah bagi seorang Zena yang memiliki sifat kalem dan lemah lembut untuk bisa berbaur dengan keluarga barunya yang ternyata suka berkata ceplas-ceplos dalam berbicara.


"Ya sudah lebih baik kalian ke kamar saja untuk istirahat. Kasihan pasti lelah kan setelah sibuk mengemas barang-barang untuk masuk kerumah ini!"


Bunda Alika sengaja mengarahkan mereka agar Ia bisa mengobrol banyak dengan menantu batunya Alzena. Selain sopan, Bunda Alika juga tahu betul kalau Alzena adalah wanita sholihah yang di kirim Tuhan untuk mendampingi Athar dan melahirkan calon cucu-cucunya nanti.


Tak butuh waktu lama mereka pun segera membubarkan diri hingga Alzena menjadi orang yang terakhir disana. Bunda Alika yang yakin Alzena tidak tahu seluk beluk rumah itu segera merangkul Alzena menuju ke kamar Athar.


"Ayo ikut Bunda, Sayang!" Ajak Perempuan hampir setengah abad itu dengan lembut. Akan tetapi meski sudah tuan dan berhijab wajahnya masih terlihat muda dan cantik.

__ADS_1


"Makasih Bunda!" jawab Alzena senang. Untuk pertama kalinya Ia memanggil Perempuan di sampingnya itu dengan sebutan Bunda.


Tentu saja Bunda Alika sangat senang akan hal itu. Karena memang itulah yang dia mau. Sejak mulai akad dengan Athar, Alzena memang sudah resmi menjadi anak gadisnya sekarang.


Sesampainya di kamar, Bunda Alika langsung memberi tahukan kalau kamar itu sangat jarang Athar tiduri sehingga tempatnya selalu tampak bersih dan nyaman.


"O ya, kalau tidak pulang. Mas Athar tidur dimana Bun?" Alzena mulai mengakrabkan diri.


Alzena mengangguk paham, tapi perempuan itu masih gagu untuk duduk di dalam kamar baru yang kini sudah menjadi salah satu penghuni di dalam sana.


"Sebenarnya Bunda masih mau mengobrol banyak sama kamu Zen, Tapi sudah saatnya kamu istirahat saja lebih dulu karena Bunda juga ada arisan sebentar lagi!" Ujar Bunda Alika sebelum keluar dari sana.

__ADS_1


"Baik Bun, terima kasih atas segalanya!" Alzena selalu saja merendah, karena baginya tingkah laku adalah yang terpenting.


Alzena baru berani mendaratkan bokongnya di tepi ranjang saat Bunda Alika sudah menutup pintu kamarnya kembali. Sedang bola mata wanita bercadar itu bergerak lihai untuk mengamati setiap sendi tatanan di kamar itu.


"MasyaAllah, kamarnya sangat besar dan mewah. Tapi kenapa Mas Athar jarang pulang kerumah ya? Apa karena Ia enggan bertemu para Ibu dan saudara tirinya. AstaughfiruLLahaladzim, Zena. Apa yang sedang kamu pikirkan sih? Mana mungkin Athar begitu pada keluarganya sedang mereka terlihat sangat akrab tadi."


***


Disebuah lapangan di ujung gang, Randy dan Riki sudah babak bunyak di hajar habis-habisan oleh anak buah dari Nicho. Randy dan Riky sampai berlutut meminta ampun pada Nicho agar mau berhenti dari tindak penganiayaan yang mereka lakukan.


"Ampun Nich, saya minta maaf atas kejadian kemaren. Sungguh kami tidak bermaksud mengobrak-abrik markasmu, karena ku pikir Nilam meninggal karena kamu menyakitinya!" mohon Randy agar masalah tidak semakin kacau.

__ADS_1


__ADS_2