
"Gak Papa kok Bunda, hanya saja Kepala Zena sedikit pusing," jawab Alzena seraya mengembangkan senyumnya.
"Ya udah, kamu istirahat gih. Biar Bunda bikinin teh hangat ya!"
"Eh, jangan Bunda. Gak usah repot-repot ya. Alzena gak papa kok. Nanti biar Alzena bikin sendiri kalau pengen!"
"Lah, mana bisa begitu. Zena kan lagi sakit sekarang!"
"Gak papa Bun, biar Athar aja yang lakuin nanti," tukas Athar menimpali.
"Yakin, kamu bisa?" Bunda Alika menatap tak percaya.
Tak biasanya Athar mau menawarkan dirinya, pasti alasannya hanyalah satu yaitu melihat wajah Alzena yang ayu rupawan rupanya membawa perubahan besar pada diri putra semata wayangnya itu.
"Iya dong Bun, masak bikin teh manis aja gak bisa sih?" Athar terkekeh kecil dengan ucapannya sendiri.
"Baguslah, jika kamu pandai mengurus istrimu Thar, kalau begitu Abah dan Bunda pulang dulu. Sebab Abah dan Mama harus pergi menjenguk Istri Ardhan yang juga sedang sakit sekarang!" Sahut Abah Dullah yang kembali mendekat.
"Sakit apa Bah?" Tanya Alzena balik.
"lagi hamil muda juga," jawab Abah Dullah sembari menoleh ke arah Bunda Alika.
"Ya udah Bah, Bun, hati-hati di jalan ya!"
"Iya Thar, urus saja istrimu dengan Baik!"
Malam itu Keduanya pun berlalu pergi dari rumah mereka. Paling tidak mereka sudah tenang dengan kondisi Alzena yang telah membaik.
***
"Mas mau pipis!" Ujar Alzena lirih.
"Ya udah ayo Mas antar!"
__ADS_1
Pemuda itu menuntun Alzena ke kamar mandi dan menunggunya dengan setia.
Selepas itu, Athar membantu Alzena untuk berbaring kembali, "Mau makan gak?" Tawar Athar kemudian.
"Enggak usah Mas, Zena masih kenyang kok!"
"Ya udah kalau gitu kamu tidur saja lagi!"
Zena menganggukkan kepalanya setuju, begitu pula Athar yang turut berbaring di sampingnya.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul tujuh lewat lima menit, Paman Ardy, Bibi Marwah dan Malik sudah datang berkunjung kesana. Sudah pasti Abah Dullah dan Bunda Alika yang telah mengabari mereka.
"Assalamualaikum...!"
"Wa'allaikum salam, Paman, Bibi!"
Athar menyalami keduanya dengan penuh rasa hormat. Begitu pula pada Malik yang sangat menghormati Athar. Semakin hari kaki Malik semakin membaik. Bahkan pincangnya sudah tidak terlalu kentara seperti dulu.
"Oh iya kebetulan Lik kamu ikut kesini, Abang bisa minta tolong gak, beliin obat ini ke apotik!"
"Oh boleh Bang, biar Malik yang pergi."
"Bisa bawa mobil kan?"
"Iya Bang, Malik kan suka nganter sayuran ke pasar dengan mobil bak!"
"Baguslah kalau gitu, semua mobil kan gak beda jauh, nih kuncinya!"
Athar menyerahkan kunci dari sakunya pada Malik yang langsung berpamitan untuk pergi.
"Zena ada dimana Thar?" Tanya Paman Ardy tidak sabar.
"Oh iya maaf, Athar lupa tadi. Paman dan Bibi langsung aja masuk ke kamar. Soalnya Alzena masih lemes untuk jalan!"
__ADS_1
Ketiganya pun segera menuju ke kamar dan melihat Alzena sudah bangun dari tidurnya.
"Ndok, gimana kabar kamu Sayang?" Bibi Marwah berhamburan memeluk Zena. Selain menjenguk tentu tujuan mereka datang adalah untuk melepas rindu.
"Baik Bi, Zena seneng banget. Akhirnya Paman dan Bibi mau datang buat jenguk Alzena!"
"Iya nak, Bibi panik saat dengar kamu sakit. O ya Bibi bawa bubur kesukaan Zena lo. Kamu makan ya sekarang. Pasti Athar belum masak kan buat sarapan!"
Athar nyengir sembari garuk-garuk kepala, "Pesan dari rumah makan sih Bi, tapi udah setengah jam belum juga datang kesini!"
"Iya Bibi paham Thar, hal tabu rasanya jika lelaki memasak. Itu sebabnya Bibi bawa masakan yang banyak. Kamu sarapan juga gih. Gak semua bubur kok. Ada juga nasi biasa dan lauk pauknya!" Tukas Bibi Marwah.
"Iya Bi, makasih sudah merepotkan Bibi jadinya!"
Ning nong!
Ning Nong!
Bel rumah berbunyi lagi, pasti itu pesanan Athar sudah sampai. Atau malah Abah dan Bunda Alika. Bisa jadi juga Dokter Lilis yang datang.
Tak ingin tamunya lama menunggu, Athar pun segera menuju keluar untuk membuka pintu.
"Pagi Thar, apa kabar saudaraku!" Sapa Ardhan dan Alan bersamaan. Mereka sengaja datang bersama para istri-istri mereka.
"Wah, ternyata kalian, ku kira siapa tadi?"
"Idih, emang kenapa kalau kita yang datang. Kami senang banget lo kalau ternyata istri kita hamilnya barengan lagi," ujar Alan penuh haru.
"Aamiin, semoga saja benar. Ayo masuk saja. Di dalam juga ada Paman dan Bibi kok. Mungkin sebentar lagi Abah dan Bunda yang datang!"
Baru saja mau masuk, tiba-tiba saja Anton anak buah Athar datang mengirimkan makanan yang Athar pesan tadi.
"Pagi Pak, ini makanan yang Bapak pesan tadi."
__ADS_1
"Wah iya, makasih ya. Pastikan kerja yang bener selama aku gak kesana!"
"Iya Pak, kalau begitu saya permisi dulu!"