Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 47 Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Triling!


Triling!


Suara ponsel Alzena, tiba-tiba menggema. Bibi Marwah yang tengah menyuapi Zena segera meraih benda pipih di dekatnya itu.


"Siapa Bi?"


"Temen kamu, Asyifa!"


"Oh iya Zena lupa Bi, hari ini Zena udah janji mau nemenin Asyifa," ujar Alzena kemudian.


"Kemana nak? Kamu kan lagi sakit sekarang?" BiBi Marwah menunjukkan ketidak setujuan atas niat baik Alzena.


Perempuan itu pun terdiam bingung, mana mungkin dia kasih tahu Bibi Marwah kalau sebenarnya Asyifa tengah hamil akibat di perkossa oleh para pemuda secara beramai-ramai.


"Ya udah Bi, suruh aja Asyifa kesini biar dia tahu kondisi Zena sekarang!"


"Nah, itu baru Bibi setuju. Orang kamu aja masih di infus begitu!"


Bibi Marwah pun segera menerima telpon tersebut dan memberi tahukan Asyifa kalau Alzena tengah sakit dan di rawat di rumah.


"Ya Allah, Jadi Zena sakit Bi? Ya udah biar Asyifa kesana aja sekarang!" Timpal gadis itu dari seberang telpon.


"Iya Ndok, kami tunggu kami kesini!"


Selang beberapa waktu berlalu, Malik yang tadi sempat pergi ke apotik pun sudah kembali lalu memberikan obat dan hasil tes kehamilan yang di dapatnya tadi pada Athar.


"Ya udah suruh aja Zena langsung pakek!" Sahut Bunda Alika yang baru datang.


"Iya Bun."


Athar segera masuk ke kamar dan membantu Zena menggunakannya.

__ADS_1


Dokter Lilis juga sudah datang dan ingin membuktikan kalau dugaannya tidaklah salah.


"Mas, kenapa harus sekarang sih? Zena malu di saksiin banyak orang. Gimana kalau Zena ternyata gak hamil?" Tanya perempuan yang kini telah memakai cadarnya kembali itu.Saat ini mereka ada di kamar mandi.


Sudah cukup Abah Dullah dan Bunda Alika yang tahu, jangan sampai saudara iparnya dari Alan dan Ardhan melihat juga.


"Gak papa lah Zen, kalau belum hamil. Berarti kita harus lebih keras lagi dalam berusaha," Tukas Athar seraya melebarkan senyumnya.


Setelah melakukan sesuai peraturan yang tertera dalam alat itu, sekitar lima menit lamanya akhirnya waktu yang menegangkan pun tiba juga.


"Mas, aku gak berani lihat!"


Zena khawatir hasilnya akan membuat kecewa, dan Zena belum sepenuhnya siap dengan hal itu.


"Ya udah deh, biar aku aja!"


Athar segera menghampiri alat kecil tersebut dan melihatnya dengan bola mata berbinar.


MasyaAllah, ini Positif kan? Bener gak sih? Apa aku salah lihat?...


"Sama aja Mas, Zena kan gak pernah pakek sebelumnya," elaknya lagi masih tetap enggan untuk memastikan sendiri.


"Ya udah deh, biar aku tanya Langsung sama Bunda dan Bibi! Ayo aku gendong!"


"Gak usah Mas, Zena kan bisa jalan sendiri."


"Lah, emang kenapa? Biar mereka tahu, kalau aku perhatian dan tanggung jawab sama kamu!"


Athar langsung memapah Zena dan membaringkannya kembali di ranjang.


"Aduh romantisnya, bikin ngiri aja lo Thar," seru Ardhan sembari terbahak-bahak.


"Ngiri aja lo, kan lo bisa lakuin juga ke Dinda," timpal Athar tak mau kalah.

__ADS_1


"Kalau itu sih jelas, tiap malam malah!"


"Bohong banget sih Yang, gendong aku aja gak kuat kok. Gede badan doang," timpal Dinda sedikit kesal.


"Astaga... ketahuan deh belangnya!" Kali ini tukang julit yang satunya ikut menimpali. Siapa lagi kalau bukan si Alan.


"Aduh, pada debat mulu ni anak, mana hasil tesnya, Bunda gak sabar pengen lihat!"


Bunda Alika paling tidak sabar untuk menunggu, karena Ia juga ingin memiliki Cucunya sendiri.


"Oh iya Athar lupa Bun!"


Pemuda itu pun menyerahkan alat tes kehamilan tersebut pada Bunda Alika. Hal itu membuat Bunda tak bisa berkata-kata lagi saat melihatnya.


Bibi Marwah jadi ikutan kepo dan ikut memastikannya sendiri, "Alhamdulilah positif, Sayang!" Ujar Bibi Marwah sangat senang.


"Beneran Bi?" Athar masih belum sepenuhnya percaya. Jika itu benar adanya berarti harapan untuk menjadi seorang Ayah akan segera terwujud pula.


"Iya lah ngapain Bibi BOHONG, orang garis dua begitu!"


Karena tak bisa berkata-kata lagi, Bunda Alika langsung berhamburan memeluk dan mencium kening Zena sebagai bentuk rasa syukurlah karena Zena juga telah mewujudkan harapannya.


"Makasih ya Sayang, akhirnya kamu juga ikut hamil. Bunda seneng banget dengan berita bahagia ini!"


"Iya Bun, makasih banyak sudah sayang sama Zena dan calon anak Zena!"


"Ya jelas dong ndok, kamu dan anak kamu ini adalah anugerah dari Allah!" Bunda Alzena memegang dengan lembut perut datar Alzena.


"Ya udah Dok, tolong periksa lagi menantu saya. Buat pastiin kondisinya!" Titah Abah Dullah kemudian dengan perasaan bahagia.


"Baik Pak!"


Dokter Lilis segera melakukan tugasnya dan alhamdulilah sekali Alzena benar-benar telah membaik.

__ADS_1


"Bagus, darahnya sudah normal ya. Tapi tetap saja jangan lupa Vitaminnya tetap harus di minum karena Wanita hamil mudah sekali mengalami lemas, lesu dan kurang enak badan, Selain itu pastikan harus rajin cek up setiap bulan kerumah sakit agar kita tahu perkembangan janinnya!"


"Iya Dok, kami pasti akan mengingatkan Zena untuk rutin minum obat dan cek up," timpal Bunda Alika penuh haru.


__ADS_2