
Sedikit bentakan dari suaminya membuat Zena tertunduk takut, perempuan itu pun segera pergi untuk membukakan pintu rumah baru idaman mereka.
Hari ini adalah hari yang istimewa, Karena mulai hari ini juga, mereka akan membina keluarga kecil mereka yang baru. Zena sangat berharap kalau pernikahannya dengan Athar kelak akan selalu langgeng dan bahagia selamanya.
Meski dalam hati ada sedikit terselip keraguan pada suaminya. Karena bagaimana juga Athar berusaha baik, akan tetapi tak memungkiri kalau dia masih sering di sebut anak berandalan.
"Mas, rumahnya enak ya? Semoga saja kita bisa menjadi lebih mandiri disini?" Tukas Zena sembari membuka jendela samping rumah mereka yang di sebelahnya ada kolam ikan mini.
Tentu hal itu sengaja di buat supaya bisa menjadi pemandangan yang menyejukkan.
Athar sedikit menyunggingkan senyum lalu meletakkan barang-barang bawaan mereka di sudut pintu, "Ya, semoga saja ya. Soalnya kamu harus sibuk masak dan mengurusnya sendiri nanti!"
Perempuan bercadar itu pun tersenyum sangat manis, "Gak apa Mas, itukan sudah menjadi tugas istri? Justru Zena senang banget bisa punya kesibukan nantinya."
"Baguslah kalau begitu."
__ADS_1
Athar berlalu ke dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas, dahaganya seakan kering karena Ia belum sempat minum di rumah Abah tadi, dan ternyata kulkas itu sudah penuh oleh bahan-bahan untuk memasak. Athar yakin semua itu pasti sudah di persiapkan Bunda dan Abah jauh sebelum mereka datang kesana.
"Wah, rupanya Abah dan Bunda udah membelikan kita bahan makanan, Mas," sahut Zena yang berbinar melihatnya.
"Ya udah kamu masak gih, aku laper banget ni sekarang!" Titah Athar kemudian.
"Oke Mas, mau masak apa?"
"Apa aja deh, jangan lama-lama ya!"
"Iya Mas."
"Woy, Bro. Asyik ni rumah kamu?" Ujar Farid ikut senang.
"Lumayanlah, biar tenang juga gak diawasin Abah," Jawab Athar yang langsung mempersilakan mereka duduk.
__ADS_1
"Thar, akhir-akhir ini kamu jarang banget nongkrong ma kita. Jadi kapan kita hajar tu Si Nicko sama antek-anteknya?" Tanya Randy yang memasang tampang sedihnya karena masih tak terima dengan kematian sang Adik.
"Sabar dulu deh, akhir-akhir ini aku kecapean di kebun. Jadi ya kalau udah sampek rumah langsung tepar di kamar!"
Athar berlalu ke dapur dan melihat Zena masih sibuk memasak. Ada rasa kagum melihat itu akan tetapi Athar tidak banyak bicara dan mengambil satu kardus minuman siap saji untuk di hidangkan pada teman-temannya.
"Minum itu deh, aku lagi gak sempat beli makanan tadi?"
"Gak apa Thar, ini juga udah cukup. Lah tapi istrimu kemana Thar?" Tanya Riky yang turut mengeluarkan suaranya.
"Masak di dapur."
"Oh, o ya ngomong-ngomong istri lo kan pakek cadar Thar, wajahnya bikin kamu kecewa apa gak ha? Cerita dong ke kita, penasaran ni?" Bisik Farid agar Zena tidak mendengar.
Athar jadi teringat sesaat akan ucapan Zena kala itu, kalau hanya dia yang boleh mengetahui wajahnya hingga membuat Athar senyum-senyum sendiri membayangkannya.
__ADS_1
"Ya elah, di tanyain kok malah ketawa-ketiwi sendiri dia?" Kesal Yudi sedikit memberi sindiran.
Athar yang tidak mau bercerita dengan teman-temannya itu melempar Yudi dengan bantal sofa, "Apaan sih Lo? Itu mah Rahasia, cukup gue aja yang tahu?"