
"Mas, ini handuknya!"
Zena dengan cekatan memberikan benda berbahan katun tersebut kepada Athar yang tengah melepas jaket yang di pakaiannya.
Athar menerima benda itu dengan tatapan dingin, namun Alzena tidak perduli sedikit pun dengan sikap Athar, "Aku bikinin air hangatnya dulu ya, Mas?"
"Tidak usah, aku bisa mandi dengan air dingin saja!" Tilas Athar dengan menahan lengan Alzena.
Mau tidak mau Alzena harus patuh, mungkin karena Athar tidak menyukai tindakannya padahal Ia cuma mau berbakti saja terhadap suami.
Perempuan bercadar itu pun beralih kearah almari untuk menyiapkan pakaian ringan buat suaminya. Tidak perduli jika nanti Athar menolak niat baiknya lagi yang terpenting adalah Zena sudah melayani Athar sebaik mungkin.
Sekitar lima belas menit berada di kamar Mandi, Athar pun keluar dari ruangan lembab tersebut dan melihat pakaiannya sudah ada di atas ranjang. Athar yang sebenarnya tidak ingin di perlakukan seperti itu pun tetap memakai pakaian yang di pilih oleh Alzena lalu ke dapur untuk mengajak Alzena makan bersama..
"Sudah makan?" Tanya Athar yang melihat Alzena sedang sibuk mencuci piring seorang diri sisa makanan keluarga Athar.
__ADS_1
"Belum Mas, nanti aja!" Jawab Alzena seraya tersenyum.
"Hentikan itu dan layani aku!" Titah Athar lagi, tak ingin perempuan itu sibuk seorang diri tanpa ada yang membantu pekerjaannya.
"Dikit lagi Mas?"
"Jangan keras kepala deh, kamu bukan pembantu di rumah ini!" Jengah Athar lagi yang langsung berjalan ke arah meja makan.
Mendengar suara Athar yang mulai tampak marah, Alzena pun segera menghentikan pekerjaan dan menyusul ke ruang tengah.
Pemuda itu membiarkan Zena melakukannya, begitu juga Zena yang ikut menikmati makan malam bersama Athar.
"Apa jika aku tidak pulang, kamu akan menahan laparmu?" Tanya Athar di sela-sela kunyahannya.
"Sebenarnya jika Mas hanya pergi di sekitar sini, sudah pasti Zena tungguin. Beda cerita kalau keluar kota dan pulangnya lama Mas," jawab Zena dengan simpel.
__ADS_1
"Bodoh aja kalau kamu juga nungguin, belum tentu juga kan suami setia di perantauan!"
"Wallahu' alam Mas, saya akan percayakan semuanya pada Allah jika itu sampai terjadi!"
Sesaat Athar menatap ke arah Zena dengan tatapan dalam, tapi kemudian berbicara lagi dengan tema yang lain, "Usahakan kalau malam ganti pakaian dengan yang lebih ringan, bukankah kamu punya baju tidur?" Seloroh Athar lagi memantik pakaian Zena yang terselubung dengan sangat rapat.
Alzena mengangguk paham, nanti Ia akan mencoba untuk melakukan itu supaya Athar senang. Toh Zena memang tidak boleh membantah keinginan suaminya karena SUAMI ADALAH RAJA.
"Baguslah, rasanya terlihat sangat aneh. Jika kamu tidur dengan pakaian seperti ini," celoteh Athar lagi.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang berarti sampai keduanya selesai makan. Athar memilih menyendiri diatas balkon sambil menikmati indahnya bulan yang nampak bundar dan temaram karena malam ini tepat tangan 15 february di bulan jawa.
Sedang Zena menyelesaikan mencuci piring, setelah itu pergi ke kamar dan melihat Athar nyantai disana. Hal itu mengingatkannya dengan keinginan Athar yang mau dia memakai baju tidurnya.
Meski gugup dan takut, Alzena pun memeriksa ulang tasnya untuk melihat baju tidur pemberian Bibi Marwah yang sengaja di belikan Bibi Marwah untuknya.
__ADS_1
Masih teringat di benak Alzena tentang nasehat beliau, kalau seorang istri harus pandai berias dan tampil semenarik mungkin di depan suaminya.