Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 51 Meminta Keadilan


__ADS_3

Benar saja tanpa sepengetahuan Athar, dua orang teman Nicho langsung mencekalnya dengan kuat dari belakang hingga Athar kesulitan melepaskan diri.


"Hehehe... habislah kau Athar!"


Nicho tak membiarkan kesempatan Athar lolos, segera meluncurkan pukulan bertubi-tubi ke perut Athar.


"Ahk...!" Athar berteriak kesakitan.


Kebetulan saat ini, Malik baru saja pulang dari mengajar anak-anak mengaji dan tidak sengaja melihat perkelahian diantara mereka.


"AstaughfiruLLahaladzim, itu yang di keroyok siapa ya. Bang Athar bukan sih?"


Malik segera memarkirkan motornya dan mengamati dengan seksama. Setelah Ia yakin itu benar-benar Athar Suami kakak sepupunya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda yang masih tahap remaja itu langsung berlari dan menerjang punggung Nicho hingga terjungkal.


"Malik...!"


Athar yang sudah kesakitan mendapat Angin seger. Ia segera membenturkan kedua teman Nicho yang sudah tak fokus lagi karena kedatangan Malik.


Bruk!


"Aduh...!" Pekik keduanya bersamaan sambil mengusap-usap jidat mereka yang saling menghantam satu dengan yang lainnya hingga ambruk ke tanah.


"AstaughfiruLLahaladzim, bertobatlah Kak. Tidak ada gunanya terus bertengkar karena perbuatan ini sangat di benci oleh Allah!"


Malik berusaha mengingatkan para genk anak motor tersebut supaya berhenti menciptakan permusuhan dengan anak berandalan.


"Alah, banyak bacot lo! Ayo kita habisi saja mereka sekalian!"


Baru juga sebentar berkelahi, tiba-tiba saja mobil polisi datang dan menangkap Nicho dan kawan-kawan karena ada seseorang yang melaporkan kalau anaknya meninggal gara-gara di hajar oleh mereka.


"Berhenti...!"


"Loh kok ada polisi Nich?"


"Waduh, gimana ni?"


Nicho dan kawan-kawan mau melarikan diri, tapi gerakan para polisi itu lebih cepat hingga berhasil menangkap mereka.


"Jangan kabur kalian, Saudara Nicho dan kawan-kawan terpaksa kami tahan atas tuduhan pengeroyokan hingga berujung menghilangnya nyawa seseorang!" Ujar komandan polisi Ys.


"Aduh, gak bisa gitu dong Pak. Namanya anak muda berkelahi itu wajar. Kalau sampai dia meninggal bukan salah kami dong. Tapi memang fisiknya aja yang terlalu lemah," sangkal Nicho yang masih sangat berani untuk membela diri.


"Diam lah, kamu bisa jelaskan nanti saat di kantor polisi!"

__ADS_1


Melihat Nicho dan kawan-kawan telah di ringkus ke kantor polisi. Athar jadi teringat dengan Farid dan teman-temannya pula.


"Lik, boleh Abang minta bantuanmu!"


Athar merangkul Malik ke bawah sebuah pohon untuk duduk. Lalu menceritakan masalah apa yang kini tengah menimpanya.


"Apa Bang, Farid dan teman-teman Abang menghamili Mbak Asyifa? AstaughfiruLLahaladzim, kasihan sekali Mbak Asyifa!"


"Oleh karena itu aku mau kamu membantu Abang mencari dia, karena Abang ikut tertuduh akan ulah mereka!"


"Maksudnya?" Athar menatap tak percaya.


"Iya, Asyifa mengira Abang ikut memperkossa dia. Tapi demi Allah, Abang tidak tahu soal itu. Dan sekarang, Mbak Zena memaksa Abang untuk menikahi Asyifa, bukan kah itu hal yang gila, Lik? Sedang Abang baru saja bahagia dengan pernikahan Abang!" Athar terus meyakinkan Farid untuk percaya kepadanya.


"Tapi Abang gak bohong kan? Aku gak akan ampuni Abang jika Abang terbukti ikut melakukannya?" Sempat kesal juga Malik mendengarnya. Apa bila Athar berbohong hanya untuk membela diri.


"Sumpah, Rid. Dari Abang Bujangan sampai Abang menikah. Tak pernah sekalipun Abang memperkosa gadis. Abang sendiri tidak tahu, kenapa Farid dan teman-teman Abang sampai melakukan hal senekat itu!"


Melihat kesungguhan Athar, perlahan-lahan Malik pun percaya, "Baiklah Bang, jika memang Abang tidak terlibat. Malik akan mencari keberadaan mereka sampai dapat!"


"Makasih, Lik. Hanyalah menemukan mereka jalan satu-satunya untuk membersihkan nama Abang!"


Keduanya pun berpisah, Athar berharap bantuan adik iparnya itu akan memecahkan masapah dirinya untuk membuktikan sebuah kebenaran.


Sedang di rumah kumuh di tengah-tengah kompleks, Asyifa terus saja muntah-muntah. Dari pagi tadi tak ada satu pun nasi yang sudi masuk ke dalam perutnya.


"Ada di kamar Bu," jawan Asyifa yang tak sanggup lagi untuk mengangkat kepalanya karena rasa sakit yang begitu hebat.


Bu Nurul pun segera mencari apa yang di lbutuhkannya. Namun beberapa kali menyingkap bantal dan kasur, Bu Nurul tidak menemukannya, dan hal itu akhirnya menuntunnya untuk merogoh tas mini milik Asyifa.


"Apaan ini?"


Bu Nurul penasaran dengan alat kecil sedikit panjang disana hingga memutuskan untuk melihatnya, dan betapa terkejutnya Bu Nurul saat mengetahui kalau itu adalah alat tes kehamilan yang menunjukkan lambang positif.


"Ya Allah, apa ini?"


Bu Nurul mengurut dada. Ia mulai curiga dengan keanehan yang akhir-akhir ini sering menimpa Asyifa hingga memaksanya untuk menanyakan hal itu secara langsung.


"Asyifa, apa ini nak? Tolong jelaskan sama Ibu sekarang juga!"


Bu Nurul menunjukkan penemuannya itu di depan Asyifa sebagai barang bukti hingga akhirnya tangis Asyifa menjadi pecah.


Perempuan yang terlihat lemah itu langsung berlutut di kaki Sang Ibu sambil memohon ampunan atas kejadian hina yang telah menimpanya.


"Maafin Syifa Bu, Sebenarnya Syifa telah gagal menjaga diri hingga hal buruk itu akhirnya menimpa diri Syifa!"

__ADS_1


"Maksud kamu Apa Syifa? Tega sekali kamu merendahkan dirimu pada lelaki hingga hal ini harus terjadi?" Bentak Bu Nurul sangat marah hingga batuknya menjadi berat.


Uhuk!


Uhuk!


"Maafin aku Bu, Aku di perkossa sama para anak berandalan itu saat pulang dari warung dalam kondisi berantakan kala itu!"


Bu Nurul pun mengingat kembali kebenarannya. Saat itu Asyifa memang sangat kacau akan tetapi tidak mau mengaku kalau dirinya telah hancur sehancur-hancurnya.


"Dasar Badjingan, cepat antar Ibu kerumah mereka. Ibu mau mereka bertanggung jawab atas kejadian ini!" Desak Ibu Nurul yang langsung bersiap-siap.


"Tapi Bu_?"


Asyifa sebenarnya bingung mau bagaimana, pasalnya Ia sudah tak menemukan Farid dan kawan-kawan lagi di kampung itu. Sedang minta Athar bertanggung jawab, Ia tidak tega karena Alzena juga tengah hamil anak mereka.


"Ayo ganti bajumu, Syifa. Kita pergi kerumahnya sekarang juga!"


Bu Nurul telah siap dengan kerudung seadanya dan tas cengklek yang terapit di ketiaknya.


Dengan amat sangat terpaksa, Asyifa mengikuti keinginan Sang Ibu karena dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk melakukan sesuatu yang benar.


Tak ada tempat lain yang di tuju, Asyifa harus membawa Bu Nurul ke rumah Athar berharap anaknya mendapat keadilan.


"Athar...!"


Dor!


Dor!


Dor!


Tanpa sopan santun sedikit pun, Bu Nurul menggedor pintu rumah Athar dengan sangat kasar.


Hingga Orang tua Athar dan keluarga Paman Ardy yang masih ada di rumah itu sangat terkejut di buatnya.


"Coba buka dulu, Bu. Siapa yang datang seperti itu!" Titah Paman Ardy pada sang istri.


"Iya Pak."


Bu Marwah bergegas membuka pintu dan terpantik pada tatapan Bu Nurul yang di penuhi oleh amarah yang sangat besar. Sedang Asyifa hanya tertunduk takut di sampingnya.


"Bu Nurul...!"


"Mana menantumu itu, Bu Marwah. Aku gak mau tahu, dia harus tanggung jawab atas kehidupan Asyifa apa pun alasannya!" Tukas Bu Nurul tanpa mengucapkan salam lebih dulu.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu Bu, biar kita selesaikan ini dengan kepala dingin!"


"Gak usah basa-basi, Mana Athar? Dia harus menikahi Asyifa sekarang juga atau aku akan melaporkan perbuatan mereka ke polisi?" Ancam Bu Nurul kemudian


__ADS_2