
Pagi-pagi sekali Athar yang sudah siap berangkat ke rumah makan pun segera berpamitan dengan sang istri. Ia harus melihat sendiri kondisi rumah makan itu layak untuk menghasilkan uang yang banyak atau tidak.
"Zen, aku berangkat dulu ya. Nanti kalau kamu nyusul, jangan lupa kunci pintunya!"
"Iya Mas, hati-hati ya di jalan!"
Athar mengangguk dan mengecup dahi Zena yang sedikit kaget di buatnya.
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikum sallam...!"
Triling!
Triling!
Setelah Athar pergi, Zena gegas memeriksa siapa yang memanggil ponselnya pagi itu. Bisa jadi datangnya dari Paman dan Bibi. Namun ternyata Zena salah, melainkan Asyifa sahabatnya yang sudah sangat jarang memberi kabar.
"Zen, bisa kita ketemu sekarang. Aku kangen?"
"Oh iya bisa, dateng aja kerumah baruku Syif. Aku lagi beberes ni!"
"Ya udah share lokasinya ya!"
__ADS_1
"Oke deh."
Setelah sampai di rumah Zena, Syifa langsung berhambur memeluk Zena sambil nangis-nangis. Ia bingung harus bercerita pada siapa dalam keadaan sulit seperti ini.
"Apa! kamu hamil Syif? Ibu kamu tahu?" Tanya Zena terkaget-kaget.
"Enggak, aku belum cerita. Rencananya aku mau laporan para berandalan itu ke kantor polisi. Menurutmu bagaimana Zen?"
"Kurasa itu pilihan yang bagus Syif, tapi kamu juga harus mencari cara agar anak kamu tidak terlantar Syif. Jangan sampai nanti anak itu lahir tanpa seorang Ayah,"
Syifa mengangguk, "Kamu benar Zen, tapi siapa orang yang mau menikah sama aku kalau dalam kondisi menyedihkan seperti ini!"
"Iya juga ya! Nanti kita cari cara deh buat ngurangin beban kamu!"
Asyifa kembali menenggelamkan kepalanya di pundak Zena. Dari dulu hanya sahabatnya itu yang paling mengerti dirinya. Asyifa juga percaya seratus persen pada Zena karena rahasianya tidak pernah terbongkar sedikit pun saat di ketahui Alzena.
"Ya udah Syif, besok kamu temuin aja lagi aku kerumah makan. Biar aku temenin kamu ke kantor polisi!"
"Seriusan Zen?" Asyifa tentu sangat senang bisa mendapat support sebesar itu dari zena.
"Iya, ya udah kamu jangan nangis lagi deh, kasihan anak kamu. Aku jadi gak sabar deh bisa cepat hamil juga!"
"Iya Zen, aku akan selalu mendoakan apa pun yang terbaik untuk keluarga kamu supaya langgeng terus ya?"
__ADS_1
"Makasih Syifa!"
***
Asyifa akhirnya berpamitan pulang, sedangkan Zena yang sudah selesai beberes rumah langsung meluncur kerumah makan mereka yang ternyata lumayan ramai pengunjungnya.
"Assalamualaikum, Mas!"
"Wa'allaikum sallam," jawab Athar yang masih sibuk berdiskusi dengan koki di rumah makan itu.
"Alhamdulilah ya Mas, ternyata rame juga yang datang!"
"Iya Zen, Semoga saja kedepannya makin rame lagi!"
Zena pun melihat kondisi tempat masak mereka, disana juga terbilang bersih dan higenis jadi Zena merasa tenang dengan keamanan makanan disana.
"Zen, kalau punya saran tambah menu. Bilang aja sama Bang Mahmud ya?" Tukas Athar lagi.
"Iya Mas, sebenernya Zena punya keinginan agar di rumah makan kita ini menyediakan bubur juga deh. Supaya bisa di makan untuk menu sarapan!"
"Boleh juga tu, kasih aja resep masakan kamu ke Bang Mahmud!"
"Iya Non, saya siap masak apa saja buat rumah makan kita ini. Rasanya suatu anugerah bisa di beri pekerjaan oleh Abah Dullah!"
__ADS_1