Tobatnya Berandal Kampung

Tobatnya Berandal Kampung
Bab 52 Pelajaran Berharga


__ADS_3

Mendengar ada yang ribut-ribut di luar, Alzena yang masih meratapi nasibnya pun memutuskan untuk melihat keadaan yang terjadi. Ia pengen lihat sendiri siapa yang datang marah-marah kerumahnya.


"Bu Nurul...?" Sapa Alzena yang hendak menyalami tangan perempuan itu tapi beliau malah menepisnya.


"Gak usah basa-basi deh, Zen. Mana suamimu?"


Sepertinya Bu Nurul benar-benar sudah tak bisa menunggu lagi. Ia harus mendapatkan keadilan atas derita yang di terima oleh Asyifa.


"Assalamualaikum...!"


Suara Athar terdengar dari ambang pintu. Dari sana Bu Nurul langsung menghampiri dan memukul wajah Athar.


Plak!


"Ah, apa-apaan ni Bu? Kok main pukul seenaknya?" Protes Athar tak terima.


"Apa kamu laki-laki yang bernama Athar itu, ha? Dasar pecundang. Aku gak mau tahu ya, anakku harus mendapat ke adilan atas penderitaannya atau aku akan membuat perhitungan pada kalian!"


"Maaf Bu, jadi Ibu adalah Orang tua dari dia!" Athar menunjuk ke arah Asyifa tanpa perasaan kasihan sama sekali, "Seharusnya Ibu tanya kan sama dia, apa buktinya kalau aku sudah ikut menggagahi Asyifa?" Culas Athar kemudian.


"Malam itu sangat gelap Mas, bagaimana mungkin aku tahu siapa saja yang ada disana. Tapi yang pasti Farid ada dalam kejadian itu," jawab Asyifa kemudian.


"Nah kan? Berarti kamu tidak bisa menuduh aku tanpa bukti, Asyifa. Bahkan seumur-umur aku baru melihat kamu tadi pagi!" Sentak Athar semakin geram.


"Alah, jangan ngeles kamu, Athar. Aku yakin kamu sudah ikut dalam kejadian hina itu. Jadi gak usah cari pembelaan deh, karena aku gak akan terima dengan hal itu!"


Bu Nurul kembali emosi hingga Abah Dullah jadi bingung sendiri dengan pemandangan di depan mereka.


"Tolong Mas, tanggung jawab atas anakku. Karena aku gak akan punya kemampuan untuk mengurusnya seorang diri!"


Asyifa sampai berlutut di kaki Athar, memohon pemuda itu mau berbaik hati menyelamatkan masa depannya.


"Jangan gila kamu, aku tidak mungkin menikahi kamu!" Tolak Athar mentah-mentah sambil mengurai tangan Asyifa yang melingkar di kakinya.


Melihat Asyifa nampak menyedihkan seperti itu, Alzena semakin tidak tega. Hingga Ia ikut-ikutan berlutut agar Athar sudi untuk bertanggung jawab atas anak itu.


"Mas, Zena memohon dengan sangat. Nikahi Asyifa, Mas. Dia adalah sahabatku. Jadi aku gak ingin melihat dia menderita!"


"Tutup mulutmu, Alzena!" Amuk Athar kian tak terbendung. "Apa kamu sudah tidak waras, ha? Menyuruh suamimu untuk menikahi perempuan yang hamil padahal suamimu tidak melakukannya!"


"Mas, tolong jangan berbohong. Zena janji gak akan sakit hati jika kamu menikahi Asyifa!" Mohon Alzena lagi dengan tatapan mengharap.


Athar tersenyum heran pada Alzena, Lalu memantik wajah perempuan bercadar itu dengan perasaan kelu.


"Baiklah jika itu maumu, Zen. Tapi jangan pernah kamu menyesal jika aku terbukti tidak bersalah," ucap Athar kemudian hingga mengejutkan semua orang.


"AstaughfiruLLahaladzim, bagaimana ini Pak?" Bisik Bibi Marwah bingung. Sungguh kejadian buruk rupanya tak bisa untuk di hindari lagi.


Paman Ardy menggeleng, Ia sendiri tidak bisa berkata-kata. Karena hal itu di luar kendali mereka.


"Baiklah, kalau begitu aku mau pernikahan ini segera di langsungkan malam ini juga!" Tukas Bu Nurul tanpa kompromi.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa, Abah Dullah menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan. Sedangkan Alzena terus menghibur Asyifa yang masih menangis di dalam kamar mereka.


"Makasih Zen, maafkan aku sudah merusak kebahagianmu. Tapi aku janji gak akan merebut Mas Athar sepenuhnya darimu!"


"Sama-sama Syifa, aku gak mau kehilangan sahabat sepertimu!"


Karena harus mengumpulkan keluarga terdekat, Bibi Marwah pun menghubungi Malik untuk datang ke rumah Athar nanti malam.


"Apa? Jadi Bang Athar terpaksa menikahi Mbak Asyifa, Bu?"


"Iya nak, kamu datang kesini ya, Ibu tunggu kamu datang!"


"Iya Bu."


***


Saat malam tiba, seluruh keluarga mereka pun mulai berdatangan. Bahkan Alan dan Ardhan juga istri-istri mereka pun juga turut hadir. Sebenarnya mereka sempat syok dengan kabar itu. Akan tetapi mereka tidak bisa membantu Athar.


Sedang Alzena yang terpaksa harus memendam rasa sakit hatinya malah dengan suka rela membantu Asyifa berdandan.


"Kamu terlihat sangat cantik, Asyifa?"


"Makasih Zen."


***


Dibalik keterpaksaan itu, sebenarnya Athar tidak pernah berniat untuk memiliki dua istri. Tapi karena Ia terjebak dalam posisi sulit. Dengan sangat terpaksa Athar harus menyetujui untuk menikah dengan Asyifa.


"Ayo Zen, bawa Asyifa keluar!" Titah Bunda Alika dengan perasaan teriris.


Bagaimana pintarnya Alzena menutupi kesedihan. Bunda Alika tetap tahu betapa hancurnya hati Alzena harus merelakan suaminya menikah lagi saat dia baru saja hamil anak mereka.


Setelah keduanya duduk di depan penghulu, dengan rasa malas Athar menerima uluran tangan orang yang akan menikahkannya malam itu.


"SAYA NIKAHKAN ATHAR BIN DULLAH SARWASIT DENGAN ASYIFA BINTI_."


"STOP!" Cegah Malik yang tiba-tiba menghentikan acara tersebut.


"Malik...?" Sentak mereka tak mengerti.


Selang beberapa waktu sebuah mobil polisi tiba-tiba berhenti di rumah itu. Lalu tanpa di duga-duga, Farid dan kawan-kawan masuk dan berdiri di depan pintu hingga mengalihkan perhatian semua orang.


"Farid...!" Pekik Athar sangat marah. Hingga Ia menyingkap selendang di atas kepalanya lalu menghampiri semua teman-temannya itu sambil melabuhkan pukulan telak kearah mereka semua.


"Brengsek, sekarang beri tahu mereka. Kalau aku tidak ikut dalam pemerkosaan yang menimpa mereka!" Desak Athar kemudian.


"Ma- Maafkan kami Thar, kami khilaf. Sebab aku sangat mencintai Asyifa tapi dia menolakku dengan alasan aku adalah anggota anak berandalan," jawab Farid hingga tak berani menatap Athar.


"Apa? Jadi karena itu kamu merencanakan semuanya Rid?"


"Benar Thar," jawab yang lainnya pula.

__ADS_1


"Jadi, Athar ikut-ikutan memperkosa Asyifa atau enggak, Rid? Jelaskan sama Abah!" sahut Abah Dullah juga ingin kejelasan.


"Enggak Bah, kami bahkan sengaja tidak memberi tahu Athar karena dia pasti menolak ajakanku Bah!"


"Apa...?" Alzena dan Asyifa terkejut bersamaan.


"Jadi Mas Athar tidak salah, Mas?" Tanya Alzena lagi.


Farid mengangguk, "Sekarang, kami telah mendapat karmanya. Jadi kami sudah siap untuk mendekam di penjara!" Tukas Farid kemudian.


Para Polisi yang sudah menunggu mereka sejak tadi pun sudah tidak bisa menunggu lebih lama. Jadi Farid dan kawan-kawan langsung di giring masuk ke dalam mobil.


"Siapa yang sudah melaporkan mereka ke polisi, Lik?" Tanya Paman Ardy penasaran.


"Saya Yah!"


Malik pun menceritakan kebenarannya, kalau dia mengirimkan foto Farid dan kawan-kawan yang di dapatnya dari Athar untuk di sebar pada teman-teman Malik. Beruntungnya salah satu teman Farid adalah orang yang menampung mereka di dalam sebuah kontrakan jadi Malik memutuskan melaporkan Farid dan kawan-kawan ke polisi.


"Makasih Lik, Abang berhutang budi sama kamu!" Athar langsung memeluk sepupu iparnya itu dengan rasa takjub.


Sedangkan Asyifa yang merasa bersalah langsung meminta maaf pada Alzena, karena kesalah pahaman itu, Ia sudah hampir membuat biduk rumah tangga sahabatnya itu menjadi berantakan.


"Maafkan aku Zen, mungkin sudah takdirku untuk menghidupi anak ini sendirian!"


Asyifa langsung mengurai pelukan Alzena lalu menggandeng Ibunya yang sudah tak bisa berkata-kata lagi untuk keluar meninggalkan mereka.


"Mbak...!" Panggil Malik kemudian, hingga langkah mereka terhenti dan berbalik lagi menatap pemuda 18 tahun itu yang telah berdiri di belakang mereka.


"Jika Mbak Asyifa tidak keberatan, Malik bersedia menjadi Ayah dari bayi itu!"


"Apa...?" Semua orang tercengang di buatnya. Terutama Paman Ardy dan Bibi Marwah.


"Nak, kamu serius Nak?" Tanya Bibi Marwah terheran-heran.


"Kehamilan Mbak Asyifa bukan kesalahannya Bu, tapi keadaan yang membuatnya begitu. Jadi aku ingin melakukan ini sebenarnya bukan karena rasa kasihan. Tapi aku sudah menaruh rasa kagum pada Mbak Asyifa terlepas usiaku 3 tahun lebih muda darinya," tukas Malik sembari tersenyum.


"SubhanaLlah, sungguh hebat pemikiranmu Malik. Kau sangat baik dan tulus hingga mau melakukan ini!" Tukas Paman Ardy yang ternyata tidak mempersalahkan hal itu.


"Pahala menyertaimu nak!" Sambungnya lagi menepuk-nepuk pundak Malik.


Paman Ardy pun meminta Pak penghulu untuk menikahkan Asyifa dan Malik di sana. Tapi dengan syariat yang ada, Malik tidak akan pernah menyentuh Asyifa sampai bayi itu lahir dan mereka mengulangi ijak Qobul mereka lagi.


Zena yang hampir kehilangan suaminya saling bertatapan, tak lama kemudian keduanya langsung berpelukan.


"Maafkan Zena, Mas. Karena sudah memaksa Mas Athar melakukan apa yang tidak seharusnya Mas lakukan!"


"Sama-sama, Sayang. Pengalaman berharga ini justru akan semakin memperkokoh pondasi rumah tangga kita untuk saling percaya, jujur dan setia!" Jawab Athar sembari mengusap-usap perut Alzena.


"Iya Mas, Makasih juga sudah berubah menjadi pria hebat setelah menikah dengan Alzena!"


Keduanya kembali berpelukan, hingga keluarga yang melihat jadi ikut bahagia dengan kerukunan keduanya.

__ADS_1


~~~TAMAT~~~


__ADS_2