
Hari itu Dinda jadi mogok makan gara-gara merasa mual terus sejak kemaren. Entah kenapa semua makanan yang enak-enak kini menjadi musuh bebuyutan bagi Dinda.
"Yang, makan dulu yok. Kasihan dedeknya kalau gak di kasih makan."
"Aduh, jauhin Yang. Aku mual banget tauk sama aromanya!"
"Tapi dari kemaren lo, kamu belum makan apa-apa. Gimana kalau kita periksa aja sekarang!"
"Periksa?"
"Iya, supaya kamu di kasih obat dan cepat sembuh!"
"Iya deh Yang gitu aja, aku gak tahan ni mual bareng pusing banget lagi!"
Sedang di rumah Alan, Mayra nampaknya baik-baik saja. Seorang perempuan yang tangguh membuat Mayra jarang sekali meminta bantuan pada Alan dalam hal-hal yang menurutnya bisa Ia kerjakan sendiri.
"Mau aku bantuin masang gas, May!"
"Ga usah Lan, aku biasa kok ngelakuin ini!"
"Ya udah kalau gitu aku angkat galon dulu ya kayaknya udah habis deh!"
"Gak perlu Lan, sudah aku ganti barusan!"
"Oh jadi kamu gak butuh bantuan aku ni?"
__ADS_1
"Apa ya?" Mayra berusaha berpikir keras untuk mencarikan Alan pekerjaan yang mungkin tidak bisa Ia kerjakan.
"Itu Lan, bersihkan WC aja deh, aku mau masak soalnya!"
"Apa? Bersihin WC?" Alan tidak menyangka Mayra memintanya melakukan hal itu.
"Ya elah Lan, emangnya kenapa? Bukannya kamu mau bantuin pekerjaan aku tadi!"
"Oh, iya sih. Oke deh aku kerjain sekarang!"
Apa mau dikata, para berandalan yang dulu suka berbuat onar di berbagai tempat hingga membuat Abah pusing di buatnya kini menjadi suami yang sangat patuh dan manis pada para istri-istri mereka.
Meski agak kesal juga harus membersihkan WC setidaknya ia sudah membuat Mayra senang hingga bisa memuaskannya saat di ranjang.
Sedang Mayra yang masih membuat sambel matah kok mendadak ngiler ingin makan sama mangga muda. Pasti lezat kalau buah itu di cocolin ke sambel.
"Alan, udah selesai belum suamiku?"
"Bentar lagi Yang, emangnya kenapa?"
"Nanti cariin aku mangga muda ya ke tetangga. Kok tiba-tiba aku pengen banget makan itu sekarang!"
"Iya, iya, nanti aku mintain deh, sabar ya!"
Mendengar Alan setuju, senyum Mayra pun jadi terkembang dengan sempurna. Entah kenapa perhatian Alan membuat hatinya terus saja berbunga-bunga.
__ADS_1
"Kamu yakin mau makan sekarang May?" Tanya Alan yang sudah selesai mengerjakan tugasnya.
"Iya Lan, kayaknya seger kalau di makan."
"Ya udah, aku ke sana dulu ya!"
"Oke, suami!"
Alan buru-buru pergi kerumah Pak Murod karena hanya beliau yang punya pohon buah mangga yang masih muda di depan rumahnya.
"Assalamualaikum, tetangga baru!" Sapa Alan sok kenal.
"Siapa ya?" Tanya Pak Murod yang agak kabur penglihatannya.
"Penghuni rumah baru di sebelah Pak, maaf ni pagi-pagi ganggu. Istri saya lagi pengen Mangga Pak, boleh ndak kalau saya mintak?"
"Sepuluh ribu tiga biji," timpal Pak Murod kemudian.
"Waduh, kok malah di suruh beli ya?" Gumam Alan seorang diri.
"Mau kagak, kalau gak mau jangan harap."
Alan belum tahu saja kalau Pak Murod adalah orang paling pelit di kampung itu. Jadi jangan harap bisa mendapatkan apa saja dari sana secara gratis.
"Iya, iya deh Pak. Saya mau," jawab Alan sembari garuk-garuk kepala. Ia pikir tadi Pak Murod gak sepelit itu, tapi ya mau bagaimana lagi jika akhirnya di suruh beli juga.
__ADS_1