Travel Destination

Travel Destination
PENDAMPING? GAK PERLU


__ADS_3

"Aduh tahu tidak, sekarang sudah tanggal 9 Juli!" kata Jaki. Suaranya bernada sedih. "Kawan-kawan semua sudah kembali berada di sekolah hari ini."


"Sayang, sayang!" kata kikuk si burung kakaktua. Kedengarannya sama sedihnya seperti Jaki


"Covid sialan!" tukas Desi. "Mula-mula Dani yang kejangkitan begitu ia pulang untuk berlibur di rumah. Kemudian penyakit itu beralih ke dirimu Dinah yang menulari aku, dan


sekarang kau yang ketularan!"


"Yah yang penting kita semua sekarang sudah tidak dilarang aktifitas ke luar rumah," kata Dinah dari pojok dalam ruangan itu.


"Dokter kita konyol! Keterlaluan, masak kita disuruhnya hijrah untuk mencari suasana lain sebelum kembali ke sekolah.


Bukankah kembali ke sekolah sudah mendapat suasana lain? Padahal aku paling senang bersekolah pada semester ganjil."


"Ya, betul kurasa jika aku diperbolehkan bersekolah sekarang, pasti aku masuk kesebelasan inti," kata Dani sambil mendorong jambulnya ke belakang.


"Wah senang rasanya apabila rambutku ini sudah dipangkas pendek lagi! Rasanya seperti anak perempuan, berambut panjang seperti sekarang ini!"


Selama liburan yang lalu keempat anak itu terserang penyakit covid yang lumayan parahnya. Apalagi Jaki ia sangat menderita selama itu.


Sedang Dinah dirongrong gangguan pada matanya. Sedikit banyak itu merupakan kesalahannya sendiri, karena ia sebetulnya dilarang dokter membaca sambil tiduran selama masih sakit.


Tapi Dinah tidak mematuhi larangan itu. Kini matanya selalu berair dan tidak tahan kena sinar terang. Selalu saja ia terkejap-kejap.


"Kalau kondisimu begini Dinah, berarti Dinah belum boleh membuat pekerjaan sekolah," kata Pak Dokter tadi dengan tegas. "Kau pasti menganggap dirimu lebih tahu ketika kau tak mengacuhkan laranganku itu, ya! Masih untung kalau kau nanti tidak terpaksa memakai kaca mata!"


"Mudah-mudahan saja ibu tidak menyuruh kita ke salah satu rumah penginapan yang menyebalkan di tepi laut," kata Dinah.


"Ibu kan tidak bisa ikut karena mendapat salah satu tugas penting yang harus diselesaikan bulan ini. Mudah-mudahan saja ibu tidak menyewa Pendamping untuk mengantar kita refreshing."


"Apa? Pendamping?? Kalau begitu aku tidak mau ikut!" tukas Dani dengan sikap mencemooh. "Lagi pula, takkan ada Pendamping yang mau tetap tinggal begitu tahu bahwa aku sekarang sedang melatih anak-anak tikus."


Dinah menatap abangnya dengan sebal. Dani selalu membawa-bawa salah satu jenis binatang ke mana saja ia pergi. Ia sangat menyukai binatang. Mereka menurut sekali padanya.

__ADS_1


Dalam hati Desi berpendapat, jika Dani berjumpa dengan seekor harimau yang galak dalam hutan, kalau anak itu mengulurkan tangan pasti harimau akan menjilatinya seperti yang dilakukan anjing.


Sambil menjilat tangan Dani, harimau itu tentu akan mendengkur-dengkur puas seperti kucing. Begitulah pendapat Desi mengenai kepintaran Dani menjinakkan binatang.


"Aku sudah pernah bilang, Dani," tukas Dinah, "aku akan menjerit jika kau sampai berani memperlihatkan salah seekor anak tikus padaku!"


"Baiklah kalau begitu, silakan menjerit!" kata Dani, seolah-olah Dinah tadi menyuruhnya. "He, Centil ke mana lagi kau sekarang?"


Seekor anak tikus muncul dari balik kerah baju hangat yang membungkus tubuh Dani. Ia itulah yang bernama Centil. Kemudian ia mencicit dengan nyaring. Jeritan Dinah yang menyusul nyaris menulikan telinga.


"Kau ini jahat, Dani! Berapa ekor yang ada di balik bajumu itu? Coba kita punya kucing akan kuumpankan tikus-tikus itu semua padanya."


"Tapi kita tidak punya kucing, blee" kata Dani dengan sedikit mengejek. Didorongnya kepala Centil ke bawah, masuk kembali ke balik baju.


"Tiga tikus buta," oceh Kikuk si kakaktua, mengucapkan bagian awal suatu kalimat dengan asal. Burung iseng itu menelengkan kepala, menunggu Centil muncul kembali dari balik baju.


"Salah, Kikuk," kata Jaki. Secara iseng ditariknya buntut burung kakaktua itu. "Bukan tiga tikus buta, tapi seekor anak tikus yang jeli sekali matanya. Eh, Kikuk kenapa kau tidak ikut ketularan penyakit campak?"


Kikuk terkekeh nyaring. Ia merasa senang diajak bicara oleh Jaki. Kepalanya ditundukkan, minta digaruk.


"He, he jangan asal bunyi kalau bicara!" kata Jaki.


Anak anak tertawa. Mereka selalu geli kalau mendengar Kiki mengacaukan susunan kata-kata yang gemar diucapkan olehnya.


Dan kakaktua iseng itu senang membuat orang tertawa. Burung itu mengangkat kepala dan meninggikan jambulnya sambil mengeluarkan bunyi yang kedengarannya mirip mesin pemotong rumput yang terdapat di dalam kebun.


"Sudah! Cukup!" kata Jaki sambil menepuk paruh Kikuk. "Berhenti, Kikuk!"


Tapi Kikuk senang mendengar bunyi yang sedang diperdengarkannya. Ia terbang ke palang tirai. Sambil bertengger di situ, ia terus beraksi Seperti mesin pemotong rumput yang sudah lama tidak diminyaki. Berdecit-decit bunyinya!


Sesaat kemudian kepala Bu Am tersembul dari balik pintu.


"Aduh, Anak-anak!" katanya. "Jangan biarkan Kikuk berisik seperti itu. Aku sedang berbicara dengan seseorang. Burung Kikuk itu sangat mengganggu!"

__ADS_1


"Siapa orang itu, Bu?" kata Dani dengan segera. "Aduh jangan-jangan ibu mencari semacam pendamping untuk menemani kami pergi refreshing!"


"Ya, betul! Dan orang itulah yang sekarang sudah datang," kata Bu Am.


Anak-anak langsung berkeluh kesah.


"Kalian kan tahu sendiri, saat ini aku sedang tidak punya waktu untuk menemani kalian," sambung Bu Am. "Soalnya, aku sudah menerima tugas baru ini, tentu saja dari awal aku sudah tahu bahwa kalian akan lama terkurung dalam rumah karena penyakit covid, dan walaupun kalian sudah membaik tapi masih pada pucat...


"Pucat, pucit! Kami sama sekali tidak pucat!" kata Dani. Ia merasa tersinggung.


"Si Centil pucit," sela Kikuk dengan segera, lalu terkekeh-kekeh. Burung konyol itu senang sekali menggabung-gabungkan kata-kata yang kedengarannya mirip.


Cental Centil… pucat - pucit.


"Tutup mulutmu, Kikuk!"- seru Jaki. Diambilnya sebuah bantal kursi, lalu dilemparkannya ke arah burung kakaktua itu. "Kami kan bisa pergi sendiri tanpa pengantar, Bibi Am! Kami sudah cukup besar bisa mengurus diri kami sendiri."


"Jaki, begitu kalian lepas dari pengawasanku saat liburan, kalian pasti langsung terlibat dalam berbagai petualangan yang menyeramkan," kata Bu Am. "Takkan bisa kulupakan kejadian Tahun yang lalu ketika kalian keliru naik pesawat terbang, lalu lama sekali hilang dalam suatu tempat aneh!"


"Ah, itu kan malah petualangan yang asyik!" seru Dani. "Aku mau saja mengalami petualangan seperti itu lagi. Aku sudah bosan begini lama terkurung karena penyakit Covid. Ayo dong, Bu kami boleh bepergian sendiri, ya? ibu kan baik hati dan tidak sombong!"


"Tidak," kata ibunya. "Kali ini kalian harus pergi ke suatu tempat yang seratus persen aman di tepi laut bersama seorang pendamping yang seratus persen dapat dipercaya. Di sana kalian menikmati perjalanan yang seratus persen terjamin keamanannya!"


"Aman, aman, amun!" jerit Kikuk. Bu Am buru buru menutup telinganya.


"Aduh, burung itu!" keluhnya. "Aku sudah capek mengurus kalian semua, tapi sungguh si Kikuk itu lama-lama bisa membuat aku gila. Senang rasanya jika ia sudah pergi bersama kalian."


"Pasti takkan ada pendamping yang suka pada Kikuk," kata Jaki. "Bibi Am, sudahkah Bibi mengatakan apa-apa pada calon pengasuh yang ada di luar tentang Kikuk?"


"Belum," kata Bu Am. "Kurasa sebaiknya ia kuajak saja masuk untuk memperkenalkannya pada kalian dan juga pada Kikuk."


Sementara Bu Am keluar lagi, anak-anak saling berpandang-pandangan dengan wajah masam.


"Sudah kubayangkan hal ini akan terjadi. Kita bukannya bisa asyik di sana nanti, malah harus termenung-menung ditemani seseorang yang menyebalkan," kata Dinah dengan suram.

__ADS_1


Lalu Keempat anak itu memikirkan bagaimana cara agar pendamping itu tidak membersamai mereka nanti.


...Bersambung…...


__ADS_2