Travel Destination

Travel Destination
Berkemah...


__ADS_3

Sementara Rill mengarahkan perahu motor ke tengah laut.


"Nah kita berangkat!" kata Rill dengan nada puas.


"Janggutku sekarang sudah bisa


kulepaskan, begitu pula kaca mataku. Uh tidak enak rasanya harus memandang dari balik lensa tebal. Dan mantel panjangku sebaiknya kubuka pula sekaligus.


Dani! kau kan tahu caranya mengemudikan perahu Klotok! Tolong pegangkan roda kemudi sebentar sementara


aku melepaskan samaranku ini.


Saat ini rasanya takkan ada orang lain melihat kita. Pegang haluan utara barat laut."


Dengan bangga Dani mengambil alih tugas memegang kemudi. Mesin perahu terdengar mendengung dengan mulus, sementara haluan dengan laju mengiris permukaan air laut yang biru.


Hari itu indah sekali, hampir sehangat hari-hari biasa. Matahari bersinar terang di langit bersih yang dihiasi awan-awan kecil seperti gumpalan-gumpalan kapas.


Ombak kecil-kecil bergerak seperti menari-nari. Ujungnya berkilat-kilat memantulkan sinar matahari.


"Indah sekali!" kata Jaki. Sambil mendengus senang, ia duduk dekat Dani.


"Sungguhsungguh indah sekali!"


"Perasaanku saat ini sangat indah," kata Desi sambil menatap pemandangan yang


membahagiakan itu.


"Itu perasaan yang timbul pada saat awal liburan yang indah menjelang hari-hari cerah dan santai, seolah-olah mempesona."


"Awas kalau kau begitu terus, tahu-tahu kau nanti menjelma jadi penyair," kata Dani yang memegang roda kemudi.


"Saat ini perasaanku memang seperti penyair," kata Desi.


"Aku juga tidak keberatan menjadi penyair nanti kalau sudah besar, walau itu berarti aku harus mengarang syair."


"Tiga tikus buta, mereka lari meraba-raba," oceh Kikuk saat itu. Sesaat semua menyangka burung kakaktua itu ikut berbicara tentang syair dan mengucapkan suatu Kalimat contoh;


Padahal Kikuk mengoceh tentang ketiga tikus putih yang dilihatnya tiba-tiba muncul di bahu Dani.


Ketiga binatang mungil itu duduk di situ dengan rapi, dengan hidung kemerahmerahan terangkat tinggi, mengendus endus bau hawa laut yang asin.


Dinah yang duduk dekat Dani langsung mengumpat-umpat, "Aku sudah berharap agar kau tidak membawa binatang-binatang kecil menjijikkan itu. Mudah-mudahan saja mereka nanti disambar burung camar."


Tapi saat itu bahkan Dinah pun tidak bisa lama-lama merasa jengkel, sementara perahu


klotok mereka meluncur di atas ombak berwarna hijau,


meninggalkan alur buih di belakang


buritan yang nampaknya seperti ekor yang panjang sekali.


Ketika kemudian Rill muncul dari dalam kabin, anak-anak menyapanya dengan gembira.


"Hei, Rill! Wah sekarang Anda kelihatan seperti Rill yang asli lagi!"


"Hore! Dr. Wolly sudah hilang untuk selama-lamanya. Orang konyol aku tidak suka padanya."


"Nah, begitu dong, Rill Anda kelihatan menarik lagi sekarang. Mulut Anda kelihatan kalau tersenyum."


"Jangan diambil, jangan diambil!" oceh Kikuk, karena mendengar anak-anak menyebutkan kata Rill berulang-ulang.


"Diam, Kikuk! Kalau tidak, disambar camar kau nanti!"

__ADS_1


"Ahh begini baru nikmat namanya," kata Rill dengan puas. Diambilnya kendali kemudi dari tangan Dani.


"Wah, jika udara cerah seperti sekarang ini terus-menerus, dengan cepat


kita akan sudah menjadi hitam. Jaki, Dani sebaiknya kalian jangan membuka baju dulu nanti kalian tersengat sinar matahari.”


Dengan segera anak-anak membuka mantel dan jas mereka. Hembusan angin terasa sejuk,


Tapi sinar matahari benar-benar panas sekali. Laut di kejauhan kelihatan biru sekali.


“Nah, Kawan-kawan harap ingat, ini liburan dan bukan petualangan yang menegangkan,” Kata Rill, sementara punggung kemejanya yang putih menggembung ditiup angin.


“Kalian Sudah cukup mengalami petualangan. Kita bersama-sama sudah pernah sekali mengalaminya dan Sekali ini aku ingin berlibur.”


“Betul!” sambut Jaki. “Jadi kita akan berlibur. Petualangan jangan berani-berani Mengganggu liburan kami!”


“Aku juga tidak ingin mengalami petualangan,” kata Desi. “Bagiku, begini saja sudah Merupakan petualangan. Macam ni lah yang paling kusukai bukan petualangan yang Memaksa kita bersembunyi dan merangkak-rangkak dalam terowongan-terowongan rahasia, dan Hidup dalam liang-liang gua.


Aku hanya ingin menikmati hari hari cerah dan santai Bersama teman-teman yang paling kusenangi. Lebih asyik lagi jika Bibi Am juga ada di Sini walau mungkin ia tidak akan bisa betul-betul menikmatinya.”


“Mudah-mudahan keadaannya sekarang sudah agak lumayan,” kata Dinah. “He di mana letak Daratan, ya? Aku tidak melihat apa-apa! Bahkan sebuah pulau saja pun tidak!”


“Besok akan banyak yang dapat kaulihat,” kata Rill. “Tinggal pilih saja mana yang Kau ingin singgahi.”


Sore dan malam itu berlangsung dengan menyenangkan. Mereka minum teh di atas kapal.


Dinah dan Desi yang memasak. Kedua anak perempuan itu juga menemukan roti segar,


Selai arbei, dan sebuah kue coklat yang besar dalam lemari tempat penyimpanan makanan Di kabin.


“Pakai kesempatan ini sebaik-baiknya,” kata Rill. “Mulai sekarang kalian takkan bisa Sering-sering makan roti segar. Kurasa kita nanti takkan menemukan tempat-tempat


Pertanian di pulau-pulau yang akan kita datangi. Tapi aku membawa bekal roti kering Berkaleng-kaleng.


Sedang kue coklat yang sedap ini kalian nikmati saja sampai habis


“Aku tidak peduli,” kata Dinah sambil sibuk mengunyah.


“Kalau aku sedang lapar, masa


Bodoh apa yang kumakan! Dan aku tahu pasti, selama liburan ini aku akan terus-menerus Merasa lapar.”


Saat senja, matahari yang terbenam diiringi sinar kemilau keemasan.


Awan-awan kecil Yang berarak berubah warna menjadi kemerah-merahan. Perahu Klotok mereka meluncur terus,


Mengarungi permukaan laut yang juga kemilau kuning dan merah keemasan.


“Matahari tenggelam dalam laut,” kata Desi kemudian, ketika matahari sudah tidak Nampak lagi.


“Aku memperhatikan bagiannya yang paling akhir lenyap ditelan Horizon.”


“Di mana kita tidur malam ini?” tanya Jaki. “Bukan apa-apa, tapi aku ingin tahu saja.


“Di haluan mestinya ada dua buah tenda,” kata Rill. “Menurut rencanaku, jika kita


Sampai di sebuah pulau yang kelihatannya menyenangkan, kita mendarat lalu berkemah di Situ malam ini.


Bagaimana – setuju atau tidak?” .


“Setuju! Setuju!” seru anak anak. “Yuk, sekarang kita mencari pulau tapi harus yang Betul-betul menyenangkan!”


Tapi saat itu daratan sama sekali tidak kelihatan. Bahkan Batang karang sempit saja pun

__ADS_1


Tidak nampak.


Rill meminta Jaki mengambil alih kendali kemudi sebentar, lalu mempelajari peta yang menunjuk ke tempat yang tertera.


"Arah haluan perahu kita selama ini kemari. Jadi tidak lama lagi mestinya kita akan sampai di dua pulau ini. Pulau yang satu ada penghuninya beberapa orang. Dan kelihatannya di sana juga ada dermaga, walau hanya kecil saja.


Sebaiknya kita ke sana saja dulu malam ini, lalu besok baru berangkat menuju wilayah tak dikenal. Untuk mencari pulau-pulau yang lebih jauh letaknya, rasanya saat ini sudah terlalu petang.


Sebelum sampai di sana, hari pasti sudah gelap."


"Tapi langit masih terang," kata Dani. Ia memandang arlojinya.


"Kalau di rumah, pukul begini pasti sudah mulai remang-remang."


"Semakin jauh kita ke utara, semakin lama pula masa senja," kata Rill. "Tapi jangan tanyakan sebabnya padaku saat ini. Sekarang aku sedang tidak sanggup memberikan ceramah."


"Anda sama sekali tidak perlu menjelaskan, karena kami sudah mempelajarinya semester yang lalu," kata Dani dengan sikap angkuh.


"Keterangannya begini: karena


matahari .... "


"Ampun, ampun," kata Rill pura-pura bingung sambil mengambil alih kendali kemudi lagi.


"Lihatlah seekor tikus putihmu yang melit mengendus-endus ekor Kikuk. Jika kau tidak lekas-lekas menyingkirkannya, ada kemungkinan sebentar lagi terjadi peristiwa berdarah."


Tapi Kikuk takkan mau menyakiti binatang piaraan Dani yang mana pun juga.


Ia sudah cukup puas menggertakkan paruhnya keras-keras dekat telinga Cantil. Tikus putih itu ketakutan, lalu lari terbirit-birit kembali ke Dani, memanjat betisnya, dan menghilang masuk ke dalam celana pendek anak itu.


Lambat-laun air laut sudah tidak biru lagi warnanya, berganti menjadi kelabu kusam kehijauan.


Hembusan angin terasa dingin. Semua cepat-cepat memakai baju hangat.


Kemudian di kejauhan nampak bayangan yang gelap di atas air. Daratan!


"Itulah dia - satu dari kedua pulau yang kita tuju untuk tempat kita tidur malam ini," kata Rill dengan puas.


"Hebat juga keahlianku mengemudi ternyata haluan perahu kita lurus menuju ke sana. Sebentar lagi kita akan sudah sampai."


Memang beberapa saat kemudian perahu klotok itu sudah bergerak menepi, merapat ke sisi sebuah dermaga batu yang sederhana buatannya.


Seorang nelayan yang ada di situ melongo melihat kedatangan mereka.


Dengan ringkas, Rill memberikan penjelasan.


"Ah, kalian mencari burung-burung rupanya," kata nelayan itu dengan logat Madura yang mantap.


"Yah di luar sana banyak yang bisa kalian temui," sambungnya sambil menganggukkan kepala ke arah laut.


"Mau tidur di mana kalian malam ini? Pondok kecilku tidak bisa menampung orang begini banyak."


Desi tidak memahami kata kata orang itu. Tapi yang lain-lain masih mampu menebak-nebak.


"Bawa tenda-tenda kita," kata Rill. "Sebentar lagi akan kita pasang. Nanti kita minta pada istri nelayan ini agar memasakkan makanan untuk kita.


Dengan begitu kita bisa menghemat bekal. Mungkin kita juga bisa memperoleh susu dan mentega."


Ketika hari sudah benar-benar gelap, semuanya sudah selesai makan malam. Mereka masuk ke dalam kedua tenda yang telah dipasang,


lalu berbaring dengan nyaman di atas selimut-selimut yang dihamparkan di atas alas penutup tanah.


Udara segar situ menyebabkan mereka cepat sekali mengantuk. Dinah dan Desi bahkan langsung pulas tanpa

__ADS_1


mengucapkan selamat tidur lagi.


...Bersambung.......


__ADS_2