
Setengah perjalanan sudah dilewati ketika anak-anak bangun keesokan paginya. Mereka Dibangunkan oleh Rill yang menggedor-gedor dinding pemisah.
Dengan cepat mereka Mengganti pakaian tidur dengan busana sehari-hari.
Setelah semua siap, mereka berlima berjalan sambil terhuyung-huyung menuju gerbong Restoran.
Perut mereka sudah keroncongan. Desi merasa ngeri ketika harus Melangkahi bagian yang menghubungkan dua gerbong.
Saat itu dipegangnya tangan Rill Erat-erat.
“Aku selalu takut gerbong-gerbong terpisah dua pada saat aku berada di bagian yang Menghubungkan,” kata Desi.
Rill memahami kecemasan anak itu. Ia sama sekali tidak Tersenyum geli. Padahal yang lain-lain mencemoohkan pikiran Desi yang bukan-bukan Itu.
Kikuk bertingkah lagi ketika mereka semua sedang sarapan. Burung itu melempar-lemparkan
Roti panggang, lalu berteriak-teriak dengan suara serak ketika tidak diperbolehkan
Mengudap selai yang memang hanya sedikit saja disediakan. Ia mendengus dan membersit
Ketika Jaki menyodorkan biji bunga matahari padanya. Para penumpang lainnya tertawa Geli melihat tingkah laku Kikuk.
Reaksi demikian malah menyebabkan tingkahnya semakin Menjadi-jadi.
“Sudah, Kikuk!” tukas Rill dengan jengkel sambil mengetuk paruh burung kakaktua itu.
Kikuk menjerit, lalu menyambar janggut palsu Rill dan disentakkannya keras-keras.
Sebagian dari janggut itu terlepas karenanya. Dari semula Kikuk sudah tidak mengerti,
Apa sebabnya Rill tiba-tiba muncul dengan gumpalan rambut yang keren menutupi dagu dan
Rahangnya. Setelah berhasil mencabut beberapa lembar dari rambut keren itu, Kikuk pindah Ke bawah meja.
Di situ ia sibuk menarik gumpalan itu sehingga terlepas selembar demi
Selembar sambil menggumam dengan lirih pada dirinya sendiri.
“Biarkan saja.” Kata Rill. “Sekarang ia pasti puas, bisa menarik-narik gumpalan
Janggutku sampai terlepas semua.”
Digosok-gosoknya dagunya. “Uhh – sakit juga rasanyaTadi!
__ADS_1
Bagaimana tampangku tidak kelihatan aneh sekarang?”
“Aih, jadi jelek kelihatan bedanya,” kata Jaki menenangkan. “Kikuk selalu Membuat ribut dalam perjalanan seperti sekarang ini.
Misalnya, saat ia ikut pulang Dengan aku dari sekolah bersuit-suit menirukan peluit kondektur, menyuruh para Penumpang membersihkan hidung dan kaki, serta menjerit dalam terowongan sampai semua Nyaris tuli dibuatnya.”
“Tapi Kikuk sebenarnya burung yang manis,” kata Jaki memuji..
Desi. Ia sama sekali tidak mengatakan bahwa tepat pada saat itu Kikuk sedang sibuk
Melepaskan tali sepatunya di bawah meja!
Perjalanan itu lama sekali. Mereka harus berganti kereta di sebuah stasiun yang sangat
Besar dan berisik. Kereta yang saat itu dinaiki tidak sepanjang kereta yang pertama.
Jalannya juga kalah laju. Dengan kereta itu mereka menuju ke suatu tempat di pesisir.
Anak-anak bergairah sekali ketika melihat laut yang biru nampak berupa garis yang
Terang di kejauhan. Sore! Semuanya sangat senang pada laut.
“Sekarang aku merasa liburan kita benar-benar sudah dimulai,” kata Desi. “Maksudku,
Anak-anak yang lain berperasaan sama seperti Desi. Bahkan Kikukk pun meloncat-loncat
Seperti Indian yang sedang melakukan tari perang di tempat barang yang terdapat di atas
Kepala anak-anak.
Akhirnya kereta mereka berhenti di stasiun sebuah kota besar di tepi
Laut. Dengan segera Kikukk terbang ke bahu Jaki ketika mereka turun dari kereta.
Angin laut terasa menghembus, membelai muka. Rambut Dinah dan Desi tergerai ke Belakang dipermainkan angin.
Janggut palsu Rill ikut terdorong ke belakang. Kikukk Langsung bertengger dengan paruh dihadapkan ke arah angin.
Ia paling tidak suka jika Bulu tubuhnya kusut.
Rombongan itu makan siang dengan nikmat di sebuah hotel. Sehabis makan Rill pergi ke Pelabuhan.
Ia hendak memeriksa apakah perahu klotok sudah ada. Ternyata baru saja
__ADS_1
Tiba saat itu. Laki-laki yang membawanya kenal baik dengan Rill. Ia sudah diberi tahu
Mengenai penyamaran sahabat keempat anak itu.
“Selamat pagi, Dr. Wolly,” sapa pembawa perahu Klotok itu dengan suara lantang.
“Cuaca Hari ini baik sekali cocok untuk mengawali ekspedisi Anda. Semua sudah dipersiapkan, Pak.”
“Bagaimana dengan perbekalan, Hendi?” tanya “Dr. Wolly” sambil mengejap-ngejapkan mata Di balik lensa tebal.
“Wah – bukan cukup lagi, Pak! Untuk dipakai bertahan terhadap pengepungan musuh pun Pasti cukup,” kata orang yang bernama Hendy.
“Saya ditugaskan menjadi pemandu Anda Keluar dari pelabuhan, Pak. Saya membawa sekoci. Saya ikatkan di samping perahu Klotok Ini.
Semua bergegas naik. Perahu Klotok itu bagus, dengan kabin kecil di sebelah haluannya.
Jaki bersinar gembira matanya ketika melihat persediaan makanan yang berkaleng-kaleng
Banyaknya! Lemari pendingin kecil yang ada di situ juga penuh dengan makanan
Persediaan. Bagus! Jadi soal makanan tidak perlu dicemaskan. Menurut Jaki, itu salah
Satu hal pokok yang perlu direncanakan dengan baik. Soalnya, waktu berlibur sudah biasa
Juga perut terasa lapar terus.
Hendi mengemudikan perahu klotok itu keluar dari perairan pelabuhan, sementara sekocinya
Yang ditambatkan samping perahu terangguk angguk kena ombak. Setelah keluar dari pelabuhan,
Hendi pindah ke sekocinya. Ia memberi hormat pada Rill.
“Selamat jalan, Pak,” katanya. “Pesawat pemancar beres! Kami menunggu kabar dari Anda.
Secara teratur, agar kami tahu bahwa Anda tidak kekurangan suatu apa pun. Baterai-baterai cadangan sudah disediakan, begitu pula perlengkapan untuk memperbaiki kalau ada
Kerusakan. Nah semoga semuanya berjalan dengan baik, Pak. Dua minggu lagi saya akan
Ke sini lagi untuk menjemput anak-anak pulang.”
Hendi meninggalkan mereka dengan sekocinya. Gerakan dayungnya teratur menimbulkan bunyi
Percikkan lembut di air. Tidak lama kemudian ia sudah nampak kecil di kejauhan,
__ADS_1
...Bersambung......