
“Tutup pintu,” ocehnya. “Panggil dokter!”
Terdengar lengkingan bunyi peluit ditiup. Kikuk bingung ketika “kamar tidur” dengan
Tiba-tiba terguncang sewaktu kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun. Nyaris saja Burung itu terjatuh dari tempat gantungan handuk.
“Kikuk yang malang, sayang, sayang!” ocehnya, lalu terbang ke bahu Jaki.
“Sudah waktunya kita semua tidur sekarang,” kata Rill sambil bangkit.
Tampangnya nampak Aneh sekali dengan janggut hitam serta kaca mata berlensa tebal. Untung saja topi
Berkotak-kotak hitam yang jelek itu sudah dilepaskannya dari kepala.
“Kami berdua yang tidur di sini, atau harus berempat?” tanya Desi dengan nada Santai.
Dipandangnya kedua ranjang sempit yang terpasang pada masing-masing sisi Ruangan itu.
“Tentu saja berdua, Konyol!” kata Rill sambil tertawa. “Aku mendapat kamar untuk satu Orang di sebelah kanan dan di sebelah kanannya lagi ada ruang tidur atau kamar lagi.
Yang itu untuk Jaki dan Dani. Jadi tempatku di tengah-tengah kalian! Kalian tinggal
Menggedor dinding kayu yang memisahkan kamar-kamar kita jika ada sesuatu dan dengan
Segera aku akan datang!”
__ADS_1
“Bagus!” kata Desi lega. “Untung Anda begitu dekat dengan kami. Tapi Anda nanti Tidur dengan janggut itu, Rill?”
“Janggut palsu ini kurekatkan ke dagu jadi terasa sakit kalau dicopot. Karenanya aku Terpaksa membiarkannya terpasang pada saat hendak tidur,” kata Rill menjelaskan.
“Nanti Baru akan kulepaskan apabila kita sudah sampai dengan selamat di tengah Pulau-Pulau Kecil kita.
Takkan ada orang melihat kita di sana. Tapi kenapa kau bertanya? Kau tidak Suka melihat janggutku yang bagus ini?”
“Tidak,” kata Desi berterus terang. “Aku merasa seperti bukan berhadapan dengan Anda setiap kali aku memandang Anda. Tapi kalau terdengar suara Anda, barulah aku tahu Dengan pasti.”
“Yah, kalau begitu pandang saja aku dengan mata terpejam, supaya kau tidak merasa Takut,” kata Rill sambil nyengir.
“Nah sekarang selamat tidur, Anak-anak. Ayo, Jaki Dan Dani kuantar kalian sebentar ke kamar kalian berdua. Besok pagi kalian akan Kubangunkan. Setelah berpakaian rapi, kita ke gerbong restorasi untuk sarapan pagi.”
“Aku agak lapar sekarang, walau tadi waktu makan malam sudah kuisi perutku penuh- Penuh,” kata Dani.
“Aku membawa bekal roti dan pisang,” kata Rill.
“Nanti kuambilkan. Tapi jangan terlalu
Lambat tidur, ya karena saat ini sudah larut malam.”
“Hilih, kan belum pukul sepuluh,” kata Dinah. Tapi sambil bicara, anak itu menguap Lebar-lebar.
Kikuk langsung menirukan, dan hal itu menyebabkan semuanya ikut menguap Pula.
__ADS_1
Rill pergi ke kamarnya untuk mengambilkan roti serta beberapa buah pisang yang sudah Ranum.
Ia mengucapkan selamat tidur pada Dinah dan Desi, lalu mengajak Jaki dan Dani ke Kamar mereka.
Anak-anak merasa asyik, tertidur dalam kereta yang sedang Berjalan.
Aneh rasanya berganti pakaian sementara gerbong terayun ayun ditarik Lokomotif yang melaju dengan kecepatan seratus kilometer per jam, menembus kegelapan
Malam. Nikmat rasanya merebahkan diri di Ranjang, mendengar irama putaran roda kereta diatas rel.
Desi memejamkan mata. Pikirannya mengembara. Bunyi roda-roda kereta yang berirama
Seakan-akan membuaikannya.
“Pergi jauh, pergi jauh,” seolah-olah begitulah bunyi lagu yang dinyanyikan roda-roda Itu ....
Walau malam itu mereka sibuk dan bergairah, tapi tidak lama kemudian keempat remaja itu
Sudah tidur pulas dan bermimpi. Mimpi tentang apakah mereka? Itu dapat ditebak dengan Mudah.
Air laut yang -biru kehijauan sejernih kaca, pulau-pulau kecil mempesona, awan-awan Putih berarak melintasi bentangan langit biru dan burung, burung, burung yang tak Terhitung banyaknya ....
Dan roda-roda kereta masih terus menyanyikan lagu yang sama. Pergi jauh, pergi jauh,
Jauh jauh....
__ADS_1
...Darimu..... Ku tak... Bisaaa
...