
Bagus!” kata Rill. Ia tersenyum melihat Jaki begitu bersemangat.
“Nanti kau harus menerbitkan buku foto-foto burung. Judulnya, Karya-karya Besar oleh Jaki Chen, harga tiga puluh Juta."
"Boleh juga," kata Jaki dengan mata bersinar-sinar.
"Bukan harga tiga puluh juta itu masalahnya, tapi menerbitkan buku mengenai burung dengan namaku sebagai penyusun lebih keren."
"Ayo, sudahlah cepat naik, kata Dani tidak sabar lagi, karena Jaki masih saja berdiri di tepi perahu.
"Kita harus cepat-cepat berangkat. Panas sekali hawa sekarang!
Aku kepingin cepat-cepat berada di tengah laut lagi, supaya bisa kurasakan hembusan angin di mukaku sementara perahu kita melaju terus".
Tidak lama kemudian semua bisa menarik napas lega, karena angin laut sudah terasa lagi membelai wajah.
Hawa hari itu memang panas sekali mengingat waktu itu masih musim semi.
Kapal meluncur laju di atas air terlambung-lambung sedikit saat
melanda ombak Desi merendamkan tangannya lagi ke dalam air. Sejuk sekali rasanya. Enak!
"Aku kepingin sekali bisa mandi sekarang," kata Dani.
Nampak keringat berbintik-bintik di sekeliling hidungnya.
"Bagaimana jika stop dulu perahunya, Rill supaya kita bisa berenang?"
"Tunggu saja dulu sampai kita sudah tiba di suatu pulau," kata Rill.
"Aku enggan menghentikan perahu kita ini di tengah laut. karena kelihatannya tidak lama lagi akan ada badai. Hawa begini panas kurasa pasti akan terjadi badai disertai kilat sambar-menyambar.
Sebelumnya, aku ingin sudah menemukan tempat berteduh. Nah di depan sana
__ADS_1
sudah nampak pulau-pulau lagi. Coba kita teliti, barangkali ada pulau yang didiami
burung-burung puffin. Itu yang kalian cari, kan?"
Desi masih membiarkan tangannya terjulur , ke dalam air. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu menyentuh jari-jarinya.
Dengan heran ia memandang ke air sementara tangannya cepat-cepat ditarik ke atas. Ia takut kalau-kalau yang tersentuh itu ubur-ubur.
Ia semakin heran ketika melihat bahwa benda itu kulit jeruk yang sementara itu sudah menjauh lagi dibawa air. Ia memanggil Rill,
"Lihat Rill itu ada sepotong kulit jeruk. Siapa yang memakan jeruk di pulau-pulau
sini? Tempat ini kan jauh dari mana-mana! Mungkinkah di sekitar sini ada lagi pengamat burung selain kita?"
Semua memandang potongan kulit jeruk yang sementara itu sudah hanyut semakin jauh ke belakang. Memang aneh sekali rasanya melihat ada kulit jeruk di tempat itu.
Rill memandang dengan kening berkerut. Katakanlah ada nelayan di pulau-pulau yang hendak mereka datangi tapi kecil sekali di tempat mereka ada jeruk.
Sedang pengamat alam, kecil sekali kemungkinannya membawa bekal jeruk.
Perairan situ jarang didatangi orang, karena selain letaknya yang terpencil, keadaannya juga sangat liar.
Sering dengan tiba-tiba terjadi badai di situ, yang menimbulkan ombak setinggi rumah.
"Ah, entahlah!" kata Rill setelah berpikir-pikir agak lama. "Mungkin saja sesudah ini kita akan melihat nenas terapung-apung di air juga! Tapi lihatlah itu ada sebuah pulau.
Kelihatannya agak datar jadi mungkin saja di situ ada burung puffin. Bagaimana jika kita ke sana saja kah?"
"Jangan dulu sebelumnya kita melihat-lihat pulau lain lainnya saja dulu," kata Jaki meminta.
"Lumayan juga banyaknya di perairan sini."
Mereka masih pesiar sebentar, melihat-lihat pulau demi pulau. Akhirnya mereka menghampiri sebuah pulau yang bertebing terjal sisi timurnya.
__ADS_1
Tanah menurun dari tempat itu sampai ke semacam lembah. Dari situ tanah menanjak lagi dan berakhir di tebing kembali.
Jaki mengamat-amati pulau itu dengan teropongnya. Ia berseru dengan bersemangat ketika Melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Burung puffin! Banyak sekali! Kau bisa melihat mereka, Dani? Kurasa pulau itu penuh Dengan sarang mereka di tanah.
Di sini saja kita mendarat, Rill. Di tebing banyak Burung-burung lain, sedang di pedalaman ada beratus-ratus burung puffin.
Pulau ini Lumayan besarnya. Mungkin di situ kita dapat menamukan tempat berteduh yang baik, dan
Juga air. Di sisi timur dan barat ada tebing yang melindungi kita dari serangan badai.
Hore, untuk Pulau Puffin!”
“Setuju,” kata Rill. Sambil mengemudikan perahu menuju pulau yang dipilih itu, ia
Memandang berkeliling dengan cermat. Tidak jauh dari situ ada pulau-pulau lain.
Tapi Dari hasil pengamatannya ia menarik kesimpulan bahwa penghuni pulau-pulau itu hanya Burung saja. Perairan di antara pulau-pulau berombak kecil.
Perahu klotok dikemudikan oleh Rill mengitari pulau yang oleh Jaki diberi nama Pulau Puffin.
“Ini ada tempat bagus untuk berlabuh, Rill,” seru Dani pada suatu saat. “Lihatlah
Lewat celah itu kita bisa masuk ke dalam sampai ke dekat tebing. Air di situ pasti
Dalam. Perahu bisa kita tambatkan ke batu.
Kita pasang saja bantalan supaya sisi perahu Tidak rusak kena batu.”
Perahu klotok diarahkan masuk ke celah yang dimaksudkan oleh Dani. Tempat itu ternyata Memang dalam. Suatu pelabuhan alam yang kecil.
Di situ juga ada bagian tebing yang datar dan rendah, di mana perahu bisa disandarkan.
__ADS_1
Apa lagi yang kurang? Hidup Pulau Puffin!
...Bersambung... ...