
"Aku tidak keberatan diperintah oleh orang-orang yang memang berhak memerintah," omelnya pada Dinah yang memperhatikan sambil cekikikan,
"tapi aku tidak sudi disuruh-suruh oleh burung edan itu! Tidak sudi Mudah-mudahan ia kalian bawa pergi juga nanti.
Aku tidak mau diserahi tugas mengurusnya selama kalian tidak ada. Bisa gila aku nanti dibuatnya!"
"Tentu saja ia akan kami ajak," kata Dinah. "Mana mau Jaki pergi tanpa Kikuk!"
Beberapa waktu kemudian Pak Dokter datang. Bu Tresno juga datang. Hilda mau, ketika diminta menginap selama anak-anak tidak ada dan Bu Am masih sakit.
Rill bersembunyi dalam kamar sempit yang dikunci dari dalam untuk berjaga-jaga jangan sampai Hilda secara tiba-tiba masuk.
Sambil bersembunyi, dengan cepat Rill mengatur rencana.
"Kemaskan barang-barang yang diperlukan. Pesan taksi untuk besok malam pukul delapan. Kita akan naik kereta malam yang berangkat melewati jembatan suramadu.
Malam ini aku akan menyelinap ke luar, lalu mengatur rencana selanjutnya untuk perjalanan dan liburan kita nanti.
Kita akan bertemu lagi di stasiun Pasarteri, tapi aku tidak akan datang sebagai Rill State.
Aku akan menyamar sebagai Dr. Wolly, ahli penyelidik alam. Begitu kalian datang, aku akan menyongsong sambil memperkenalkan diri dengan suara lantang.
Itu perlu, karena siapa tahu di sana ada orang yang mengenal kalian - atau mungkin juga kenal padaku!
Sudah itu kita berangkat."
Rencananya itu mengasyikkan sekali kedengarannya. Itu cara yang misterius untuk memulai liburan!
Kedengarannya seolah-olah mereka akan memasuki petualangan yang hebat.
Padahal tidak! Anak-anak sama sekali tidak keberatan mengalami petualangan tapi apalah yang mungkin terjadi di pulau-pulau terpencil, yang hanya dihuni burung-burung liar?
Tidak ada apa-apa di sana kecuali burung dan burung beribu-ribu burung.
__ADS_1
Malam itu Rill pergi dengan diam-diam. Tidak ada orang lain tahu bahwa selama itu ia ada dalam rumah.
Bahkan Bu Tresno saja pun tidak tahu. Ia mendapat kamar tempat berdandan yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur Bu Am.
Bu Am berjanji tidak akan mengatakan pada siapa-siapa bahwa Rill pernah ada di rumah itu,karena kalau ada yang tahu, mungkin hal itu akan berbahaya baginya,
Tapi hari itu Bu Am merasa pusing dan mengantuk terus, sampai akhirnya ia sendiri ragu apakah Rill benar-benar datang atau kesemuanya hanya merupakan impiannya belaka.
Anak-anak sibuk berkemas. Sama sekali tidak ada pakaian bagus yang dibawa, karena tidak diperlukan.
Untuk apa Baju Mewah dan macam-macam lagi di tempat yang tak dihuni manusia?
Celana pendek dan baju hangat, sepatu olahraga, pakaian renang dan jas hujan barang-barang seperti itulah yang diperlukan.
Lalu jaket tebal serta handuk bagaimana
dengan selimut tebal? Di manakah mereka tidur nanti? Dalam rumah, atau di dalam tenda?
Rill tidak mengatakan apa-apa mengenai hal itu. Mungkin saja mereka akan tidur dalam Tenda.
“Teropong buku catatan pensil kamera fotoku dan tali,” kata Jaki. Ia berusaha Agar jangan sampai melupakan sesuatu.
Desi melongo mendengar katanya yang terakhir.
“Tali?” katanya heran. “Untuk apa membawa-bawa tali?”
“Siapa tahu kita harus mendaki tebing apabila hendak meneliti tempat burung-burung Bersarang di sana, kata Jaki.
“Silakan memanjat-manjat tebing kalau kau memang kepingin. Pokoknya, aku tidak mau!” Kata Desi sambil bergidik ngeri.
Aku tidak mau memanjat-manjat pada tebing yang Curam hanya dengan seutas tali melilit pinggang dan nyaris tanpa tempat pijakan!”
“Kikuk mencopet pensilmu,” kata Dinah. “Ayo, jangan mengganggu terus, Kikuk! Kalau kau Tidak menghentikan keisenganmu, nanti kau takkan kami ajak melihat burung-burung Puffin!”
__ADS_1
“Pufin dan mufin, pufin dan hufin, mufin dan pufin, mulin pufin mufin,” oceh Kikuk. Ialu Mengatup-ngatupkan paruh dengan keras, bergembira karena mendapat permainan kata yang Baru.
“Pufiin dan huf “
“Sudah, jangan mengoceh terus,” kata Dinah.
“Hidup Ratu!” seru Kikuk sambil bertengger lurus-lurus.
“Aku ingin tahu, bagaimana pikiran burung-burung di sana nanti kalau melihatmu, Kikuk,” Kata Desi.
“Jaki bagaimana jika Kikuk kita masukkan saja ke dalam keranjang selama Kita berada di kereta api? Kau tahu kan kebiasaannya, berteriak-teriak memanggil-Manggil, ‘Penjaga, penjaga dan menirukan bunyi peluit, serta menyuruh semua orang Membersihkan kaki!”
“Biar saja ia nanti bertengger di bahuku,” kata Jaki. “Selama di kereta kita kan tidur, Jadi ia takkan terlalu mengganggu. Sudah, Kikuk jangan kauketuk-ketukkan terus Paruhmu. Tidak lucu kalau mengganggu orang yang sedang sibuk!”
“Meli nakal!” kata Kikuk.
Dani melemparkan bantal ke arah Kikuk. Burung itu dengan segera terbang ke batang Gantungan tirai, lalu bertengger sambil merajuk di situ.
Sedang anak-anak melanjutkan Pembicaraan mengenai liburan mereka yang akan datang.
“Kita benar-benar beruntung, akhirnya bisa juga bergabung bersama Rill!” kata Jaki.
“Begini malah lebih baik daripada ikut dengan Dr. Jono. Aku ingin tahu. Apakah Rill Akan punya perahu di sana sehingga kita bisa berkeliaran ke mana-mana. Wah aku pasti Akan menikmati masa dua minggu ini. Siapa tahu, mungkin pula kita nanti akan Melihat burung Azazel Raksasa di sana!”
“Kau ini bagaimana !” kata Dani.
“Kau kan tahu. Burung jenis itu sudah Punah. Sudahlah, jangan kau mulai lagi tentang itu, Jaki. Tapi ada kemungkinannya kita
Akan menjumpai burung azazel Kecil serta jenis-jenis azazel lainnya yang bersarang di Tebing!”
Keesokan hari tiba. Waktu rasanya berjalan seperti lebih lambat. Tapi akhirnya malam datang Juga. Selama itu Bu Am hampir terus-, menerus tidur.
Bu Tresno tidak Mengizinkan anak-anak masuk untuk pamitan.
__ADS_1
...Bersambung…...