
Malam itu anak-anak masih saja asyik mengobrolkan liburan mereka yang akan datang. Keesokan harinya Jaki dan Dani memeriksa dan membersihkan teropong mereka. Jaki mencari-cari kamera fotonya. Kameranya itu sangat baik.
"Aku akan membuat foto-foto menarik dari burung-burung puffin," kata Jaki pada Desi.
"Mudah-mudahan kita akan menemukan burung-burung itu sedang mengeram, walau menurut dugaanku saat ini masih agak dini. Besar kemungkinannya mereka belum bertelur."
"Apakah puffin bersarang di atas pohon, Jaki?" tanya Desi. "bisakah kau membuat foto sarang-sarang mereka, saat burung-burung itu sedang duduk di dalamnya?" Jaki tertawa terbahak-bahak
"Puffin tidak bersarang di atas pohon, Keules!" katanya sambil terkekeh. "Mereka bersarang dalam lubang di bawah tanah."
"Ya Ampun! Seperti kelinci dong!" kata Desi.
"Ya, dan kadang-kadang burung-burung itu bahkan memakai liang kelinci sebagai sarang," sambung Jaki.
"Pasti asyik, memperhatikan burung-burung puffin menyusup ke dalam sarang mereka di bawah tanah. Kuyakin mereka tentunya sangat jinak, karena belum pernah ada orang datang ke pulau-pulau tempat tinggal mereka.
Jadi puffin-puffin itu takkan merasa takut lalu terbang pergi jika ada orang datang."
"Kalau begitu burung itu bisa dengan mudah dijadikan piaraan, ya," kata Desi.
__ADS_1
"Kurasa Dani pasti akan mampu menjinakkan. Aku berani bertaruh, ia cukup bersuit sekali saja dan segala puffin yang ada di sana akan bergegas-gegas datang melapor terenggas-enggos."
Anak-anak tertawa mendengar ucapan lucu itu.
"Enggas-enggos," oceh Kikuk sambil menggaruk-garuk jambulnya.
"Enggas-enggos, babababi- babu."
"Ngomong Apa lagi kau itu, kuk!" kata Jaki.
"Pasti ia teringat pada salah satu lagu anak-anak, lalu menyambungnya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya dari desi," kata Dani.
"Kau ini memang hebat, Kikuk!"
He dengerin coba, itu kan bunyi telepon?"
"Betul," kata Jaki dengan gembira. "Tadi Bibi Am menelepon Dr. Jono untuk memberi tahu bahwa kita berempat ingin ikut dengan ekspedisinya. Tapi Dr. Jono sedang pergi.
Karenanya Bibi meminta agar Dokter itu segera meneleponnya apabila sudah kembali. Pasti itu Dr. Jono yang menelepon."
__ADS_1
Anak-anak bergegas ke serambi tengah, ke tempat telepon. Ternyata Bu Am sudah ada di situ lebih dulu.
Anak-anak berdesakan mendekat karena ingin ikut mendengar pembicaraan.
"Halo," kata Bu Am. "Bisa bicara dengan Dr. Jono?- Ohh, Bu Jono! Ini Bu Am, Bu.
Bagaimana? Ah...kasihan! Mudah-mudahan saja tidak tidak fatal ya, bu.
Ya, ya tentu saja, saya mengerti. Ia tentu terpaksa membatalkan semuanya mungkin sampai tahun depan.
Yah mudah-mudahan keadaannya tidak parah. Kalau sudah ada kabar baru, tolong beritahukan pada kami, ya? Baiklah jumpa lagi bu. Sampaikan salam kami padanya, mudah-mudahan lekas sembuh. Sudah ya, Bu."
Bu Am mengembalikan gagang telepon ke tempatnya, lalu memandang anak-anak dengan wajah serius.
"Kabar buruk, Anak-anak!" katanya. "Dr. Jono tadi mengalami kecelakaan mobil. Saat ini ia terbaring di rumah sakit.
Jadi tentu saja rencana ekspedisinya untuk sementara dibatalkan."
Batal! Mereka tidak bisa berkelana ke Pulau Burung! Tidak bisa bersenang-senang ditengah alam liar pesisir utara.
__ADS_1
Aduh benar-benar mengecewakan!
...Bersambung......