
"Bukankah ini sudah waktunya kita makan?" keluh Jaki sambil berjalan terhuyung-huyung membawa setumpuk kaleng makanan dalam pelukannya.
"Ngiler aku membaca nama-nama
makanan yang serba enak pada kaleng-kaleng ini."
Rill memandang arlojinya, lalu menengadah ke arah matahari.
"Astaga!" katanya kaget.
"Betul, memang sudah waktunya kita makan. Lihatlah, matahari sudah mulai terbenam. Bukan main cepat sekali waktu berlalu!"
Tidak lama kemudian mereka sudah duduk-duduk di atas rumput sambil makan biskuit dengan daging yang diawetkan.
Setelah itu masih ada pula buah persik dalam kaleng. Rill membawa beberapa botol limun jahe dari perahu.
Anak-anak lebih suka minum limun saja
daripada repot-repot memasak air untuk membuat teh atau coklat, Hal itu tidak
mengherankan, karena hawa saat itu sangat panas.
"Aku senang sekali di sini," kata Desi. Matanya menerawang, memandang ke arah laut yang berwarna biru tua di kejauhan.
"Aku merasa jauh sekali dari mana-mana sungguh, saat ini tak terbayang olehku bahwa sekolah itu ada. Dan daging ini enak sekali rasanya."
Tikus-tikus putih piaraan Dani sependapat dengan Desi. Begitu tercium bau
makanan, dengan segera mereka muncul dari balik baju anak laki-laki itu.
Seekor di antaranya duduk tegak sambil makan di atas lutut Dani. Seekor lagi membawa pergi makanan yang diberikan padanya, masuk ke dalam salah satu kantong yang gelap.
Sedang tikus yang ketiga duduk di atas bahu Dani.
"Kau menggelitik daun telingaku," kata Dani.
Dinah cepat-cepat menggeser duduknya, menjauhi abangnya.
Tapi seperti Desi, saat itu Dinah sedang bahagia sekali perasaannya. Karena itu ia sama sekali tidak mengomel seperti biasanya.
Anak-anak makan dengan lahap, seperti Rill. Sambil mengunyah, mereka memandang ke arah matahari yang akan terbenam di tengah laut yang berwarna keemasan bercampur merah.
Desi memandang sekilas ke arah Rill.
"Anda senang menghilang, Rill?" tanya anak itu.
"Asyik, kan?"
"Kalau untuk dua minggu saja, bolehlah," kata Rill.
"Tapi tidak senang perasaanku. membayangkan kehidupanku seorang diri di pulau-pulau terpencil ini nanti jika kalian berempat sudah pulang.
Bagiku, bersenang-senang bukan begitu macamnya. Aku lebih suka hidup menyerempet-nyerempet bahaya daripada hidup menyendiri seperti puffin-puffin itu."
"Rill yang malang," kata Dinah.
Dibayangkannya sahabat mereka itu tinggal di situ seorang diri, hanya ditemani buku-buku dan pesawat radio, tapi tanpa teman yang bisa diajak bicara.
"Kalau Anda mau, kutinggal tikus-tikusku di sini sebagai teman," kata Dani bermurah hati.
"Wah lebih baik jangan!" kata Rill dengan segera.
"Aku kan kenal tikus-tikusmu! Nanti mereka beranak-pinak, dan pada saat aku pergi lagi dari sini, tempat ini akan
sudah harus diganti namanya.
Pulau Tikus, dan tidak lagi Pulau Puffin. Di samping itu, aku juga tidak sebegitu senang pada bangsa tikus, tidak seperti kau, Dani!"
"Aduh coba lihat itu! Cepat lihatlah! kata Dinah tiba-tiba. Semua ikut memandang.
Seekor puffin pergi meninggalkan liangnya dan berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka.
__ADS_1
"Rupanya ia datang minta makan!"
"Kalau begitu kau harus bernyanyi, Puffin! " kata Jaki.
"Ayo nyanyi, kalau ingin minta Makanan!”
“Rrrrr!” Puffin itu memperdengarkan suaranya yang berat. Semua tertawa mendengarnya.
Burung nuri laut itu langsung menghampiri Dani, lalu berhenti ketika sudah sampai Dekat lutut anak itu.
Ditatapnya Dani tanpa berkedip.
“Nah daya penarik Dani sudah bekerja lagi,” kata Desi dengan nada iri.
“Apa Yang menyebabkan segala jenis binatang ingin berteman denganmu, Dani?
Coba lihat Puffin itu begitu kagum ia memandangmu.”
“Entahlah, aku juga tidak tahu sebabnya,” jawab Dani. Ia senang pada teman barunya Yang aneh itu.
Diusap-usapnya kepala burung itu, yang mengeluarkan suara-suara lembut Sebagai tanda senang. Kemudian Dani mengambilkan secuil roti berisi daging asap dan Menyodorkannya pada puffin itu, yang langsung menelannya lalu meminta tambahan.
“Sekarang kau pasti akan terus-menerus dibuntuti seekor puffin yang setia,” kata Dinah.
“Yah, puffin lebih mendingan daripada tiga ekor tikus putih, atau tikus rumah, atau Landak jelek berkutu yang pernah kau pelihara atau sepasang kumbang tanduk itu
Atau..
“Sudah, sudah, Dinah jangan kauteruskan lagi,” pinta Rill.
“Kita semua sudah tahu, Dani ini memang seperti kebun binatang berjalan. Aku sendiri sama sekali tidak Keberatan jika ia menyukai burung puffin gendeng seperti itu.
Sayang kita tidak membawa Kalung dan rantai untuk menuntunnya.
Puffin itu berbunyi “rrr” lagi, sekali ini sedikit lebih nyaring dari tadi, lalu pergi
Lagi dengan sikap tegak. Paruhnya yang berwarna-warni berkilat-kilat kena sinar Matahari sore.
Puffin itu masuk Ke dalam liangnya. Tapi langsung muncul lagi dengan seekor puffin lain.
Puffin yang Kedua agak lebih kecil ukuran tubuhnya. Tapi paruhnya lebih semarak warna-warnanya.
“romeo dan juliet!” kata Jaki sambil tertawa. Melihat kedua burung itu, ia langsung
Teringat pada tokoh suami istri dalam suatu kisah kuno, yang diceritakan hidup rukun dan mati bersama. Sementara itu kedua puffin tadi berjalan berdampingan mendatangi Dani.
Anak-anak memandang mereka dengan geli.
“Kita beri nama apa ya, kedua burung ini?” tanya Dinah. “Jika mereka hendak
Menggabungkan diri dengan kita, mereka harus diberi nama. Kocak sekali puffin-puffin Cilik ini!”
“Puffin cilik Enggas Enggos,” oceh Kikuk dengan tiba-tiba. Ia teringat lagi pada kata-kata yang pernah diucapkannya. “Enggas .
“Ya, tentu saja Enggas dan Enggos!” seru Desi dengan gembira. “Lihat saja cara
Mereka berjalan, terenggas-enggos seperti sepasang kakek-nenek! Kau ini burung pintar,
Kikuk! Sejak kita berangkat kau selalu menyebut-nyebutnya dan sekarang inilah mereka Enggas dan Enggos!” ‘
Semua tertawa. Enggas dan Enggos rasanya memang cocok sebagai nama kedua burung kocak Itu.
Sementara itu Enggas dan Enggos sudah dekat sekali ke tempat Dani duduk, lalu
Ikut duduk dengan sikap puas di situ. Dani memandang mereka dengan geli.
Tapi Kikuk sama sekali tidak senang. Ia menelengkan kepala, memandang kedua burung itu.
Mereka membalas tatapannya dengan dua pasang mata bertepi merah darah. Akhirnya Kikuk
Membuang muka sambil menguap.
__ADS_1
“Hah Kikuk kalah beradu tatapan mata!” kata Jaki.
“Padahal itu tidak gampang!” Ketiga tikus putih piaraan Dani beranggapan sebaiknya jangan dekat-dekat pada Enggas Dan Enggos.
Dari tempat yang aman dekat leher Dani, mereka memandang kedua burung.
“Itu itu, di sana!” seru Desi sambil menunjuk ke arah barat. “Masa kau belum Melihatnya? Wah, wah mau apa pesawat itu sekarang?”
Dinah masih juga belum berhasil melihat pesawat terbang itu. Matanya sudah dipicing-picingkan, tapi ia masih belum juga melihat pesawat yang hanya nampak berupa titik di Langit.
“Ada sesuatu jatuh dari pesawat itu,” kata Desi sambil memicingkan mata.
“Aduh,
Mana sih teropongnya? Cepat ambil, Dinah!”
Dinah mencari-cari, tapi teropong Jaki dan Dani tidak ditemukan olehnya.
Sementara Itu Desi masih saja tengadah, memandang langit.
“Ada sesuatu yang jatuh Lambat-Laun dari pesawat.” Katanya. “Warnanya putih.
Aku Melihatnya tadi. Barang apa itu, ya? Mudah-mudahan saja pesawat itu tidak dalam Kesulitan.”
“Rill pasti tahu,” kata Dinah. “Ia dan kedua abang kita tentu melihatnya pula.
Mungkin Kedua teropong itu mereka bawa, karena kucari-cari di sini tidak ada.”
Tidak lama kemudian pesawat itu lenyap dari penglihatan. Bunyinya juga tidak kedengaran Lagi.
Dinah dan Desi meneruskan pekerjaan, membereskan tenda. Hawa saat itu masih Tetap panas seperti tadi.
Karenanya Dinah menyingkapkan tutup tenda supaya ada angin Segar masuk ke dalam.
“Rupanya tidak jadi datang badai,” katanya sambil memandang ke langit sebelah barat,
Untuk melihat apakah dari arah sana datang awan bergulung-gulung. “Tapi hawa masih saja Pengap, seperti mau hujan.”
“Mereka sudah kembali,” kata Desi ketika ia melihat Rill bersama Jaki dan Dani Datang dari pantai.
“Dan Enggas serta Enggos masih saja ikut dengan mereka. Wah, asyik juga ya jika kita mempunyai piaraan dua ekor puffin!”
“Kalau puffin, aku tidak keberatan,” kata Dinah.
“Tikus yang tidak kusukai!
Halo, Rill! Anda tadi mendengar bunyi pesawat atau tidak?”
“Tidak! Ada pesawatkah tadi?” tanya Rill dengan penuh minat.
“Di mana kalian Melihatnya? Kenapa kami tidak mendengar apa-apa?
“Habis kita tadi berisik sekali sih,” kata Jaki sambil nyengir. “Biar seratus pesawat Lewat, kita masih tetap takkan mendengarnya.”
“Aneh,” kata Desi pada Rill. “Ketika aku sedang memperhatikan tadi, tahu-tahu ada Sesuatu jatuh dari pesawat itu. Sesuatu yang putih warnanya.”
Rill memandang dengan kening berkerut.
“Payung terjun barangkali?” tebaknya.
“Kau bisa melihatnya dengan jelas?”
“Tidak, karena jaraknya terlalu jauh,” kata Desi.
“Mungkin saja yang kulihat itu Payung terjun. Tapi bisa juga gumpalan asap! Pokoknya, tadi nampaknya seperti ada Sesuatu jatuh dengan lambat dari pesawat itu. Kenapa Anda kelihatan begitu serius, Rill?”
“Karena aku merasa ada sesuatu yah, sesuatu yang aneh dengan pesawat-pesawat itu,” Kata Rill.
“Kurasa sebaiknya aku pergi saja sebentar ke perahu kita, lalu mengirim Kabar lewat radio. Mungkin saja kejadian itu tidak ada artinya tapi mungkin juga Sangat penting!”
...Bersambung....
__ADS_1
...