
Bu Lali cepat-cepat pamit mengundurkan diri. Bu Am mengantarkannya ke pintu. Setelah calon Pendamping yang tidak jadi itu sudah pergi, Bu Am kembali ke ruang main anak-anak ia kelihatannya sangat jengkel.
"Sungguh! Kalian benar-benar keterlaluan tadi! Aku jengkel dan marah sekali sekarang.
Bagaimana kau sampai bisa membiarkan Kikuk bertingkah seperti tadi, Jaki! dan kau, Dani, untuk apa kau membuat tikus-tikusmu semua muncul secara serempak!"
"Tapi, Bu aku tidak mungkin bisa pergi kalau tikus-tikusku tidak ikut," bantah Dani.
"Karena itu kurasa sudah selayaknya Bu Lali diberi kesempatan untuk mengetahui apa yang akan dihadapinya nanti anu, maksudku, tadi aku hanya ingin bersikap jujur,
dan..."
"Kau tahu sendiri bahwa sikapmu tadi sangat mengganggu," tukas Bu Am. "Kalian semua sedikit pun tidak membantu mempermudah keadaan. Kalian kan tahu, kalian belum bisa kembali bersekolah kalian semua masih kelihatan kurus dan pucat, kalian perlu menjadi segar dulu dan aku sudah berusaha sebaik mungkin agar kalian dapat refreshing dengan baik di bawah asuhan seseorang yang dapat diandalkan."
"Maaf, Bibi Am," kata Jaki Ia melihat bahwa Bu Am saat itu benar-benar sedang kesal.
"Tapi justru refreshing macam itulah yang sama sekali tidak kami sukai. Kami sudah terlalu besar, jadi sudah tidak mau lagi dirongrong terus-menerus oleh Bu Lali. Kalau yang menemani kami Rill, nah..."
Rill! Dengan segera wajah setiap orang dalam ruangan itu berseri-seri begitu teringat pada Rill State. Nama asli orang itu sebenarnya Ahmad Asyril.
Tapi saat anak-anak pertama kali bertemu orang itu, ia memperkenalkan dirinya sebagai Rill State. Sejak itu ia tetap bernama Rill State. Hebat-hebat petualangan yang pernah dialami anak-anak bersamanya.
"Wah! Betul coba kita bisa bepergian dengan Rill," kata Dani. Ia mengusap-usap hidung Centil dengan penuh kasih sayang.
"Ya lalu langsung masuk ke tengah petualangan yang baru lagi," kata Bu Am. "Aku kan tahu, Rill itu bagaimana!"
"Bukan begitu, Bibi Am kamilah yang selalu mengalami petualangan, sedang Rill hanya ikut terseret ke dalamnya," kata Jaki membela Rill. "Sungguh! Tapi sudah lama tidak ada kabar dari Rill."
Katanya itu benar. Rill seolah-olah lenyap dengan begitu saja. Surat-surat dari anak-anak tidak pernah dijawab olehnya. Bu Am juga tidak menerima kabar apa apa darinya, Rill tidak ada di rumahnya. Sudah tiga minggu ia tidak pulang.
Tapi tidak ada yang merasa waswas karenanya. Rill selalu sibuk dengan tugas-tugas rahasia yang berbahaya, dan ia sudah biasa menghilang selama berminggu-minggu.
Tapi sekali ini ia sudah lama sekali pergi tanpa mengatakan apa-apa pada siapa pun juga. Ah, sudahlah pasti pada suatu saat nanti ia akan tiba-tiba muncul dengan senyum lebar menghias wajahnya yang periang, siap untuk berlibur.
Coba ia muncul saat itu, siang itu juga! Pasti asyik, pikir anak-anak. Mereka sama sekali tidak keberatan kehilangan satu atau dua minggu masa sekolah Semester ganjil yang menyenangkan, asal mereka bisa ikut bepergian dengan Rill State.
Tapi Rill tidak muncul sedang keputusan sudah harus diambil mengenai perjalanan keempat anak itu. Bu Am menatap anak-anak. Ia merasa putus asa menghadapi sikap mereka yang keras kepala.
"Bagaimana jika kalian pergi ke suatu tempat di tepi laut, di mana kalian bisa mengamati kehidupan burung laut, serta menyelidiki kebiasaan mereka bersarang?" kata Bu Am dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku tahu, Jaki sudah lama menginginkan hal ini tapi tidak mungkin, karena pada saat-saat covid menyebar itu kalian selalu sedang sibuk mengerjakan tugas online sekolah... dan..."
"Wah, Bibi Am!" seru Jaki bergembira. Ia menandak-nandak. "Itu ide yang paling hebat! Wah .... "
"Betul, Bu! Ide Ibu itu hebat sekali!" kata Dani sambil mengetuk-ngetuk meja untuk mempertegas luapan rasa gembiranya.
Dengan segera Kikuk ikut-ikutan mengetukkan paruhnya.
"Silakan masuk," ocehnya. Tapi tidak ada yang sempat memperhatikan dirinya. Semua sedang keasyikan dengan gagasan yang dikemukakan Bu Am.
Desi selalu suka berada di tempat dimana abangnya juga ada. Karena itu wajahnya berseri-seri.
Ia tahu, Jaki pasti akan sangat senang, karena bisa berada di tengah burung-burung yang digemarinya. Dani? pun penyayang makhluk hidup, termasuk burung.
Ia tak mengira ibunya akan mengajukan usul yang demikian menyenangkan.
Hanya Dinah saja yang suram tampangnya. Anak itu tidak suka pada binatang yang hidup di alam liar.
Ia takut sekali pada mereka, walau kini keadaannya sudah agak lumayan dibandingkan dengan dulu. Ia suka pada burung, tapi minat dan kesayangannya pada jenis margasatwa itu tidak sampai seperti Jaki dan Dani.
Walau demikian, bayangan akan bisa berempat saja di salah satu tempat yang terpencil dan liar di pesisir mengenakan pakaian usang, berbuat sekehendak hati, piknik setiap hari aduh, asyiknya! Akhirnya Dinah pun tersenyum, lalu ikut meramaikan suasana riang saat itu.
"Kapan? Ibu bilang dong kapan?"
"Besok, ya? Bagaimana kalau besok saja? Wah, membayangkannya saja, aku sudah langsung senang!" _
"Ibu ini ada-ada saja akalnya. Sungguh, hebat sekali, Bu!"
Kikuk bertengger di atas bahu Jaki sambil mendengarkan suara anak-anak yang, hingar-bingar.
Tikus-tikus putih dalam baju Dani mencari tempat bersembunyi karena takut pada suara ribut yang meledak secara tiba-tiba itu.
"Perhatian gaes, tenang! dengarkan ibu dulu semuanya" kata Bu Am. "Jadi begini, ada Suatu ekspedisi ilmiah, dua hari lagi akan berangkat menuju pesisir dan pulau pulau terpencil yang letaknya di lepas pantai utara Madura. Mereka terdiri dari beberapa penyelidik alam serta seorang anak laki-laki, putra Dr. Jono, lulusan sarjana omitologi."
Anak-anak mengenal arti kata asing itu. Seorang ahli- omitologi ialah sarjana yang pekerjaannya menyelidiki kehidupan burung-burung. Ayah Dani ketika masih hidup juga sangat menyayangi burung. Namun ia sudah meninggal dunia.
Dani sering merasa rindu pada ayahnya, karena ia pun penyayang segala jenis margasatwa.
"Dr. Jono? ltu kan salah seorang sahabat karib ayah dulu, ya Bu?" kata Dani.
__ADS_1
"Betul," kata ibunya. "Ibu kebetulan berjumpa dengan dia minggu lalu. Saat itulah ia
bercerita mengenai ekspedisi itu. Kata Dr. Jono, putranya ikut di dalamnya. Ia juga menanyakan kemungkinanmu ikut bersama Dinah, Dani. Tapi saat itu kau masih sakit.
Jadi aku langsung saja mengatakan tidak bisa. Tapi sekarang..."
"Tapi sekarang kami bisa!" seru Dani sambil merangkul ibunya. "Terus, kenapa ibu berniat menerima Bu Lali untuk menemani kami bepergian sebagai Pendamping. Padahal Ibu tahu tentang ajakan itu. Ibu keterlaluan, deh!"
"Yah aku menganggap perjalanan itu terlalu jauh bagi kalian," kata Bu Am.
"Lagi pula, bukan seperti itu liburan yang kubayangkan bermanfaat bagi kalian. Tapi jika kalian menghendakinya, aku bisa saja menelepon Dr. Jono untuk meminta Supaya bisa menerima empat anggota lagi untuk ekspedisinya."
Sambil minum teh sore itu, anak-anak sibuk memperbincangkan ekspedisi yang akan datang.
Mereka riang gembira. Bayangkan mereka akan mengadakan perjalanan penyelidikan ke pulau-pulau sebelah utara. Di antara pulau-pulau itu, ada beberapa yang penghuninya hanya burung-burung belaka!
Bayangkan mereka akan berenang-renang, berlayar dengan perahu, serta berjalan-jalan memperhatikan beratus ah, apa beratus, beribu! ya beribu-ribu burung yang hidup bebas di alam liar!
"Di sana pasti ada burung-burung puffin," kata Jaki dengan gembira. "Beribu-ribu burung pufin! Mereka pada masa mengeram selalu datang ke sana! Aku kepingin sekali bisa mengamat-amati kehidupan mereka. Burung itu kocak sekali kelihatannya."
"Puf-puf puflin," oceh Kikuk dengan segera. Dikiranya nama burung itu merupakan bagian dari bunyi kereta api yang sedang berjalan. Jaki buru-buru melarangnya,
karena tahu apa yang akan menyusul sebentar lagi yaitu bunyi peluit panjang melengking.
"Jangan, Kikuk! Nanti saja kau takut-takuti segala macam burung laut yang akan kita datangi tapi jangan menjerit di sini. Bibi Am tidak tahan mendengarnya."
"Sayang, sayang!" oceh Kikuk dengan nada sedih. "Juk-juk-jesss!"
"Burung konyol," kata Jaki sambil menggaruk-garuk bulu burung kakaktua itu. Kikuk beringsut di atas meja mendekati tuannya, lalu mengusap-usapkan paruhnya ke bahu Jaki.
Tapi beberapa detik kemudian ia sudah iseng lagi, menotok buah arbei yang besar dari botol selai.
Aduh, Jaki!" omel Bu Am. "Kau kan tahu, aku paling tidak suka melihat Kikuk bertengger di meja saat kita sedang makan! Keterlaluan sudah ketiga kalinya ia mencopet buah arbei dari botol selai."
"Ayo kembalikan, Kikuk!" suruh Jaki dengan segera.
Tapi itu pun tidak menyebabkan Bu Am merasa senang, Wanita itu mengeluh dalam hati. Alangkah senang dan tenangnya apabila keempat anak ini sudah berangkat berlibur bersama kakaktua nakal itu, pikir Bu Am.
...Bersambung......
__ADS_1