Travel Destination

Travel Destination
Berburu Burung


__ADS_3

“Kurasa jika Anda mengirim kabar setiap malam ke rumah, kami tidak perlu lagi berkirim


Surat pada Bibi Am,” kata Desi. Semua yang mendengar kata-katanya itu langsung Tertawa terbahak-bahak.


“Mengirim surat? Kau mau mengeposkannya di mana, he?” tanya Jaki. “Di sekitar sini aku Sama sekali tidak melihat kotak pos. Aduh, Desi kau ini benar-benar anak lugu!”


“Ya, memang,” kata Desi. Mukanya merah padam karena malu. “Tentu saja kita tidak Bisa berkirim surat di sini! Untung Anda dapat mengirim berita lewat pesawat radio Anda, Rill! Dengan begitu jika salah seorang dari kita memerlukan bantuan, Anda dapat Mengusahakannya.”


“Betul,” kata Rill. “Tapi jika ada di antara kalian yang perlu bantuan, mudah-mudahan Aku bisa mengantarkan dengan perahu klotok.


Pokoknya, aku takkan mau mengajak kalian Pergi ke tempat terasing seperti di sini jika aku tidak mendapat perlengkapan pemancar,


Supaya aku bisa mengirim kabar setiap malam. Aku mengirimkannya ke markas besar, dan Dari situ kabar itu diteruskan lewat telepon pada Bibi Am. Dengan begitu setiap Malam ia bisa mendengar berita terbaru tantang perjalanan dan pengalaman kita.”


Anak-anak memandang kesibukan Rill, lalu mendengarkan sebagian dari suatu acara siaran.


Tahu tahu Desi menguap, dan langsung ditirukan olah Kikuk.


“Sialan! Kau ini membuat aku ikut-ikutan mengantuk,” kata Dinah sambil mengusap-usap Matanya.

__ADS_1


“Wah hari sudah mulai gelap.”


Beramai-ramai mereka kembali ke tempat berkemah. Tidak lama kemudian semua sudah Berbaring di bawah selimut.


Dari arah tebing dan laut tak henti-hentinya terdengar Suara bising burung-burung.


“Kurasa sepanjang malam mereka tidak ada yang tidur,” pikir Dinah. Tapi dugaannya itu Meleset. Burung-burung itu diam ketika hari sudah benar-benar gelap. Rupanya mereka Tidur juga.


Keesokan harinya hawa terasa panas dan pengap.


“Kelihatannya tidak lama lagi akan datang hujan badai,” kata Rill. Ia memicingkan mata,


Menatap langit yang nampak masih cerah.


Badai nanti.


Liburan macam begini seharusnya disertai cuaca yang bagus. Badai sama Sekali tidak menyenangkan apabila tempat berteduh hanya berupa tenda. Pasti segalagalanya akan diterbangkan angin.”


“Aku masih ingin membuat beberapa foto dari tebing-tebing sini serta burung-burung yang Ada di situ,” kata Jaki.

__ADS_1


“Aku akan cepat-cepat membuatnya sementara kalian membongkar Tenda. Kalian tidak keberatan kan jika sekali ini aku tidak membantu?”


Tidak ada yang merasa keberatan. Karena itu bersama Kikuk, Jaki pergi ke atas tebing Yang terjal.


Rill berseru untuk memperingatkan agar jangan mencoba-coba menuruni Dinding tebing.


Sambil berjalan terus, Jaki menjawab bahwa hal itu takkan dilakukan Olehnya.


Dengan segera barang-barang sudah dikemaskan dan diangkut kembali ke perahu klotok yang Sementara itu sudah terapung apung di air.


Saat itu air laut sedang pasang. Selesai memuat barang-barang ke perahu, Rill serta anak-anak menunggu Jaki kembali.


Tidak lama kemudian anak itu muncul. Wajahnya berseri-seri.


“Aku berhasil membuat beberapa foto yang bagus,” katanya.


“Tadi Kikuk besar sekali perannya. Aku menyuruhnya mondar-mandir di depan burung-burung itu. Semua terdiam,


Karena heran melihat burung yang bagi mereka asing itu. Tepat pada saat itu aku Menjepretkan kameraku.

__ADS_1


Burung-burung itu kupotret dalam keadaan tidak bergerak sama Sekali. Pasti ada beberapa yang berhasil baik.”


......Bersambung... ......


__ADS_2