Travel Destination

Travel Destination
Kabar Bagus


__ADS_3

Semua merasa kecewa. Tentu saja mereka semua merasa kasihan pada Bu Jono dan prihatin mengenai keadaan Dr. Jono, suaminya.


Tapi karena mereka tidak mengenal keduanya secara pribadi dan hanya tahu bahwa suami istri itu sahabat lama Pak Am almarhum,


kesedihan anak-anak lebih banyak terarah pada nasib buruk yang menimpa diri mereka sendiri.


"Padahal sudah begitu banyak kita berbicara mengenainya dan mengatur rencana serta menyiapkan segala-galanya," keluh Dani. Ia memandang teropong yang sudah siap dibawa dengan perasaan lesu.


"Sekarang ibu pasti akan mencari pengasuh lagi untuk kita, yang orangnya seperti Bu Lali."


"Tidak," kata Bu Am. "Aku akan minta berhenti dari pekerjaanku yang baru, lalu pergi bersama kalian. Aku tak sampai hati melihat kalian kecewa begini."


"Aduh,jangan, Bibi Am!" kata Desi sambil merangkul Bu Am. "Jangan minta berhenti! Aduh apa yang bisa kita lakukan sekarang?"


Tidak ada yang tahu. Kekecewaan yang melanda secara tiba-tiba itu seakan-akan menyebabkan semua tidak mampu menyusun rencana lagi. Anak-anak hanya memikirkan dua kemungkinan saja:


Berlibur ke Pulau Burung, atau sama sekali tidak berlibur! Sepanjang hari mereka hanya mondar-mandir dengan perasaan sebal.


Sikap masing-masing semakin menjengkelkan anak-anak yang lain. Tiba-tiba terjadi pertengkaran antara Dani dengan Dinah. Diiringi pekik jerit, keduanya saling pukul-memukul. Sudah lama sekali mereka tidak berkelahi sesengit itu. Paling tidak, sudah setahun.


Desi menangis melihatnya.


"Jangan kaupukul Dinah, Dani!" teriak Jaki dengan marah. "Kau menyakitinya!"


Tapi Dinah bukan anak yang lemah. Tiba-tiba terdengar bunyi nyaring ketika pipi Dani ditampar olehnya. Dengan marah Dani mencengkeram lengan adiknya


Dinah langsung membalas dengan tendangan. Dani mengait kaki Dinah sehingga anak perempuan itu terjatuh. Kedua bersaudara itu berguling-guling di lantai sambil berkelahi terus.


Desi cepat-cepat menyingkir. Ia menangis ketakutan. Kikuk terbang ke kap lampu sambil terkekeh-kekeh. Disangkanya Dani dan Dinah sedang bercanda.


Suasana saat itu ribut sekali sehingga anak-anak tidak ada yang mendengar bunyi telepon berdering-dering. Bu Am bergegas ke tempat telepon itu.


Keningnya berkerut, bising mendengar bunyi berisik yang datang dari arah kamar anak-anak.

__ADS_1


Sesaat kemudian wanita itu muncul di sana, wajahnya sudah berseri-seri.


Tapi begitu dilihatnya Dinah dan Dani sedang bergumul di lantai, wajah Bu Am langsung keruh lagi.


"Dinah! Dani! Ayo, cepat berdiri! Tidak tahu malu, sudah begitu besar masih berkelahi juga! Kurasa lebih baik tidak kukatakan, siapa yang baru saja menelepon tadi!


Biar tahu rasa kalian!"


Dani duduk di lantai. Ia mengusap-usap pipinya yang terasa pedas. Dinah membebaskan diri dari pitingan abangnya sambil memegang lengannya. Desi mengusap air matanya,


sementara Jaki menatap kedua abang adik yang berada di lantai dengan wajah masam.


Bu Am sudah hendak menyemprot kedua anaknya. Tapi kemudian teringat olehnya bahwa anak-anak itu baru saja sembuh dari penyakit covid yang cukup parah.


Lagi pula, mungkin mereka bertengkar karena terdorong kesal dan mengalami kekecewaan besar pagi itu. Dengan segera marahnya mereda.


"Coba tebak, Hayo siapa yang baru saja menelepon tadi," kata Bu Am dengan nada agak lembut.


"Bukan, bukan dia," kata Bu Am sambil menggeleng. "Yang menelepon tadi Rill!"


"Rill? Rill! Hore! Akhirnya muncul juga orang itu!" seru Jaki "Ia akan kemari, Bibi Am?"


"Yah, aku tidak tahu karena ia tadi terdengar misterius sekali,"jawab Bu Am.


"Ia tidak mau menyebut namanya. Ia hanya mengatakan, bahwa ia mungkin akan muncul larut malam nanti jika tidak ada orang lain di sini.


Tentu saja aku tahu bahwa yang menelepon itu Rill. Aku kenal betul suaranya."


Seketika itu juga anak-anak melupakan perasaan sebal dan pertengkaran yang baru saja terjadi. Perasaan mereka terhibur, membayangkan akan berjumpa lagi dengan Rill.


"Ibu tadi ada bilangkah bahwa kami berempat saat ini masih di rumah karena baru saja sembuh dari penyakit Covid ini?" tanya Dani. "Tahukah Rill bahwa ia nanti juga akan berjumpa dengan kami di sini?"


"Tidak aku tidak sempat mengatakan apa apa tadi," kata Bu Am. "Sungguh, sikapnya sangat misterius tak sampai semenit ia menelepon. Tapi pokoknya, nanti malam ia akan kemari. Kenapa ya ia tidak mau datang jika ada orang lain di sini?"

__ADS_1


"Kurasa karena ia tidak ingin ada orang tahu di mana ia berada," kata Dani menduga.


"Mestinya saat ini ia kembali melakukan salah satu tugas rahasia lagi. Bu bolehkah kami menunggu sampai ia tiba nanti?"


"Boleh saja Asal kedatangannya tidak lebih dari setengah sepuluh," kata Bu Am.


Keempat anak itu berpandang-pandangan ketika Bu Am sudah meninggalkan kamar.


"Wah, sudah lama sekali kita tidak melihat Rill," kata Dani. "Mudah-mudahan ia nanti sudah muncul sebelum setengah sepuluh.


"Aku tidak mau tidur sebelum kudengar ia datang," kata Jaki. "Kenapa sikapnya begitu misterius, ya?"


Malam itu anak-anak menunggu kedatangan Rill dengan penuh harap. Tapi tidak terdengar bunyi mobil berhenti di depan rumah.


Tidak terdengar langkah orang menghampiri pintu depan. Pukul setengah sepuluh Rill masih juga belum muncul. Anak-anak kecewa sekali.


"Sayang sekarang kalian harus tidur," kata Bu Am. "Apa boleh buat tapi kalian nampak pucat dan capek sekali. Ini karena penyakit itu!


Aku benar-benar menyesal bahwa ekspedisi itu batal karena kalau jadi, pasti kesehatan kalian akan cepat -pulih."


Anak anak masuk ke kamar tidur sambil mengomel. Dinah dan Desi menempati kamar tidur di sebelah belakang, sedang Jaki dan Dani mendapat kamar depan. Jaki membuka jendela kamar tidur, lalu memandang ke luar.


Malam gelap sekali. Tak terdengar bunyi mobil datang, atau langkah orang mendekat.


"Aku akan duduk dekat jendela sini sampai Rill datang, kata Jaki pada Dani. "Kau tidur saja dulu. Nanti kubangunkan begitu Rill datang."


Kita bergantian menunggu," kata Dani sambil masuk ke tempat tidur, "Kau menjaga satu jam, lalu kau bangunkan aku."


Di kamar tidur sebelah belakang, Dinah dan Desi sudah berbaring di tempat tidur masing-masing.


Desi ingin sekali bisa berjumpa dengan Rill. la sangat sayang pada orang itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2