Travel Destination

Travel Destination
Menunggu Kedatangan Rill


__ADS_3

Rill State begitu kuat dan bijaksana. Desi merasa aman jika berada di dekatnya.


Anak itu sudah yatim piatu. Ia ingin Rill bisa menjadi ayahnya. Bibi Am sangat baik Hatinya sebagai pengganti ibu.


Desi merasa senang, karena bisa berbagi ibu dengan Dani dan Dinah. Kalau berbagi ayah tidak bisa, karena Pak Am juga sudah Meninggal dunia.


“Mudah-mudahan aku tidak tertidur sehingga aku bisa mendengar Rill saat ia datang Nanti,” kata Desi dalam hati. Tapi sesaat kemudian ia sudah tidur pulas, seperti Dinah.


Keduanya tidak mendengar lagi ketika jam dinding berbunyi saat pukul setengah Sepuluh.


Pukul sebelas Jaki membangunkan Dani.


“Tidak ada orang datang,” katanya. “Sekarang giliranmu menjaga, Jambul! Aneh kenapa Selarut ini ia belum datang juga, ya?”


Kedua anak itu bertukar tempat. Jaki masuk ke tempat tidur, sementara Dani duduk Dekat jendela. Dani menguap. Ia memasang telinga. Tapi ia tidak mendengar apa-apa.


Tiba-tiba dilihatnya sejalur sinar terang ketika ibunya yang masih di bawah Menyingkapkan tirai jendela dan cahaya lampu menerangi kebun.


Dani tentu saja tahu bahwa sinar terang itu berasal dari dalam Ruang Tamu.


Tapi Tiba-tiba ia kaget. Ia melihat cahaya terang menyinari sesuatu berwarna agak putih,


Yang tersembunyi dalam semak dekat gerbang depan. Barang yang dilihatnya itu dengan Cepat bergerak mundur ke tempat yang gelap. Tapi Dani langsung tahu, apa yang Dilihatnya walau sekilas itu.


“Itu tadi muka seseorang!” pikirnya. Ada orang bersembunyi dalam semak dekat pagar Depan. Tapi kenapa orang itu bersembunyi? Tidak mungkin itu Rill, karena Rill pasti Langsung datang ke rumah.


Kalau begitu, pasti itu seseorang yang hendak menyergap Rill.


Wah!


Dani bergegas membangunkan Jaki. Begitu terbangun, dengan berbisik-bisik Dani Menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Seketika itu juga Jaki pergi ke jendela, Lalu memandang ke luar.


Tapi ia tidak melihat apa-apa, karena tirai jendela sudah ditutup kembali oleh Bu Am.


Jadi tidak ada sinar terang memancar ke luar. Kebun gelap gulita kembali.


“Kita harus cepat-cepat berbuat sesuatu,” kata Jaki. “Jika Rill datang nanti, pasti ia Akan diringkus, jika memang itu yang diniatkan oleh orang yang bersembunyi di luar itu.

__ADS_1


Mungkinkah kita bisa memperingatkan Rill? Sudah jelas ia tahu bahwa dirinya dalam Bahaya, karena kalau tidak, mana mungkin ia bersikap begitu misterius sewaktu menelepon Tadi!


Dia kan mengatakan tidak akan datang, jika ada orang lain di sini. Pastikan Bibi Am sudah tidur sekarang, supaya kita bisa lebih bebas bertindak. Pukul berapa Sekarang? Tadi aku sempat mendengar jam berbunyi sebelas kali.”


Dari tingkat bawah terdengar bunyi sakelar lampu dimatikan satu-satu, disusul bunyi Pintu ditutup.


“Itu ibu,” kata Dani. “Rupanya ia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Ia hendak tidur Sekarang. Bagus! Sekarang rumah sudah gelap. Mungkin dengan begitu orang yang kulihat Tadi akan pergi lagi.”


“Kita harus mengusahakan agar orang itu pergi dari sini,” kata Jaki. “Bagaimana Pendapatmu, Dani mungkinkah Rill akan datang sekarang? Hari sudah larut malam.”


“Kalau ia mengatakan akan datang, ia pasti datang,” kata Dani. “Sssst itu ibu!”


Kedua anak laki-laki itu bergegas masuk ke tempat tidur masing-masing, berpura-pura Sudah tidur nyenyak. Terdengar bunyi pintu dibuka oleh Bu Am. Ia menyalakan Lampu sekejap.


Ketika melihat Jaki dan Dani nampak sudah pulas, dipadamkannya lampu Lagi.


Bu Am juga memeriksa keadaan dalam kamar tidur Dinah dan Desi. Setelah Itu ia masuk ke kamar tidurnya sendiri.


Sesaat kemudian Dani sudah kembali berada dekat jendela. Mata dan telinganya terbuka Lebar.


Ia berusaha mendengar dan melihat, apakah orang tadi masih tetap bersembunyi Dalam semak.


“Orang itu masih ada,” bisik Dani pada Jaki.


“Entah dengan cara bagaimana, tapi rupanya ia tahu Rill akan kemari malam ini.”


“Atau yang lebih mungkin, ia tahu Rill sahabat kita, dan ia ditugaskan gerombolannya


Untuk mengintip setiap malam dalam semak situ,” kata Jaki. “Ia berharap, lambat-laun Rill pasti datang ke sini. Rupanya Rill banyak sekali musuhnya, karena kerjanya melacak Jejak penjahat.”


“He aku punya akal,” kata Dani. “Aku akan menyelinap ke luar lewat pintu belakang,


Lalu menembus pagar semak dan masuk kebun rumah sebelah. Di situ aku akan keluar lewat Pintu kebun sebelah belakang supaya laki-laki yang bersembunyi itu tidak bisa mendengar Aku.


Aku hendak menunggu Rill di luar untuk memperingatkannya. Rill akan muncul dari Arah hulu, tidak dari hilir karena memang begitulah kebiasaannya.”


“Bagus idemu itu, Jambul! Aku ikut,” kata Jaki.

__ADS_1


“Jangan! Satu dari kita harus terus mengamat-amati orang yang di luar itu,” kata Dani. “Kita harus tahu, apakah ia sudah pergi atau belum.


Jadi, aku sendiri yang akan Menyongsong Rill. Kau berjaga dekat jendela sini. Jika Rill nanti datang, akan segera Kusongsong dan kuberi tahu supaya ia tidak jadi datang.”


“Baiklah,” kata Jaki. Dalam hati sebenarnya ia – lebih senang jika diserahi tugas Menyelinap dalam kebun yang gelap gulita untuk menyongsong Rill.


“Sampaikan salam kami padanya dan katakan padanya agar sedapat mungkin menghubungi Lewat telepon, supaya kita bisa mengadakan pertemuan di salah satu tempat yang aman.”


Dengan hati-hati Dani mengendap-endap ke luar. Dari kamar tidur ibu masih nampak Sinar lampu. Karenanya Dani semakin berhati-hati.


Ia berjingkat-jingkat menuruni Tangga, karena tidak ingin ketahuan ibunya. Pasti ibu akan ketakutan sekali apabila


Sampai tahu di luar ada orang mengintip-intip.


Dani membuka pintu belakang, lalu menutupnya kembali tanpa menimbulkan bunyi setelah Ia sendiri menyelinap ke luar.


Ia masuk ke dalam kebun yang gelap. Ia tidak membawa Senter, karena tidak ingin dilihat siapa pun juga.


Ia menyusup di sela lubang dalam pagar semak, masuk ke kebun rumah sebelah. Ia tahu Persis keadaan dalam kebun itu.


Ia menuju ke jalan setapak yang terdapat di situ, lalu Menyusurinya sambil berjalan di atas rumput yang tumbuh di tepi. Ia tidak mau berjalan Di atas kerikil, karena takut menimbulkan bunyi.


Tiba-tiba ia merasa seperti mendengar bunyi sesuatu. Dani berhenti berjalan, lalu Memasang telinga.


Jangan-jangan di dekat situ ada lagi orang bersembunyi! Jangan-jangan


Yang bersembunyi itu kawanan pencuri, dan bukan penjahat yang hendak menyergap Rill!


Dani agak ragu, apa yang sebaiknya dilakukan olehnya. Apakah sebaiknya ia kembali ke Rumah, lalu menelepon polisi?


Dani mendengarkan lagi. Ia merasa aneh seolah-olah di dekatnya ada orang yang juga Sedang menajamkan telinga.


Mungkin orang itu sedang memperhatikan dirinya. Hih seram Rasanya membayangkan kemungkinan itu apalagi di tempat yang begitu gelap.


Dani maju selangkah. Tahu-tahu ada orang muncul dan langsung menyergap dirinya.


Kedua Lengannya dipelintir ke belakang. Dani dipaksanya membungkuk, sampai muka anak itu Mencium tanah.

__ADS_1


Dani bergegap-gegap tidak dapat bernapas, karena mulutnya terbenam ke tanah tanah yang lunak sekitar semak bunga-bunga. Ia sama sekali tidak bisa berteriak minta tolong.


...Bersambung... ...


__ADS_2