
Tanpa diketahui oleh Bu Am, malam itu Rill menginap di situ. Ia tidur dalam kamar cadangan yang sempit.
Katanya, paginya ia akan bertemu dengan Bu Am. Rill merasa lega ketika diberi tahu bahwa hanya mereka sekeluarga saja yang ada dalam rumah malam itu,
Karena pembantu yang bekerja di situ selalu pulang.
“Kami berempat yang bertugas membenahi segalanya di tingkat atas setelah kami sembuh lagi,” kata Dinah.
“Jadi Anda bisa tetap di atas terus jika Anda mau sehingga tidak ada orang lain tahu Anda ada di sini. Sarapan akan kami antarkan.”
Tapi keesokan pagi keadaan menjadi kacau lagi. Bu Am mengetuk-ngetuk dinding
Yang memisahkan kamarnya dari kamar anak-anak perempuan. Dinah bergegas masuk ke kamar
Sebelah untuk melihat kenapa ibunya berbuat begitu.
“Aduh, Dinah ini benar-benar sudah keterlaluan,” kata Bu Am dengan sebal.
“Sekarang aku yang kejangkitan penyakit Covid.
Coba lihat, mukaku penuh bisul. Mungkin ini varian barunya, Kusangka aku sudah pernah kena kemarin tapi kok malah kena lagi sudah jelas, ini memang ketularan dari kalian pasti. Aduh coba Bu Lali kuterima bekerja kemarin,
Supaya kalian bisa diajaknya berlibur ke Mana gitu. Sekarang,
Bagaimana?”
“Aduh, gawat,” kata Dinah. Dengan segera .diputuskannya untuk mengatakan bahwa Rill
Sudah datang. Mungkin keterangan itu bisa membantu suasana.
“Kuambilkan saja baju rumah ibu, lalu kubereskan kamar ini,” kata Dinah bersemangat. “Soalnya, ada orang ingin bicara dengan ibu. Mungkin ia bisa memberikan bantuan. Orang itu Rill, Bu!”
“Rill?” seru Bu Am tercengang. “Kapan ia datang? Kemarin malam aku masih menunggu sampai pukul sebelas. Tapi akhirnya aku tidur, karena badanku terasa capek sekali. Nah mungkin Rill mau membebaskan aku selama beberapa waktu dari rongrongan
Kalian dan mengajak kalian bepergian, dan biarlah ibu tinggal seorang diri di sini diurus
Oleh Hilda, pembantu kita!”
“Pasti Rill mau,” kata Dinah dengan senang. “Kasihan, ibu! Dua tiga hari mendatang ini
Yang paling tidak enak rasanya, Bu tapi setelah itu agak lumayan. Nah bagaimana?
Sudah enak letak bantalnya sekarang? Kalau sudah, akan kupanggil Rill masuk.”
Dengan segera Dinah menyampaikan kabar itu pada anak-anak yang lain. Mereka langsung
Ikut merasa sedih dan kecewa. Eh jadi orang dewasa pun rupanya bisa kejangkitan penyakit Covid? Kasihan ibu! Kasihan Bibi Am! Pasti ia sekarang lebih senang
Apabila mereka tidak ada di rumah, sehingga tidak membisingkan.
“ibu sudah bisa Anda temui sekarang, Rill,” kata Dinah. “Tapi, nanti dulu Anda
Sudah pernah kena penyakit covid?”
“Wah, sudah belasan kali,” kata Rill dengan riang sambil melangkah masuk ke dalam kamar
Bu Am. “Bergembiralah, dalam waktu dekat segala-galanya akan beres!”
__ADS_1
“Tapi orang kan hanya sekali kena penyakit Covid,” kata Desi. Rill tidak menjawab.
Pintu kamar ditutupnya. Anak anak hanya mendengar gumam suaranya berbicara dengan Bu Am.
Keempat anak itu turun ke bawah untuk sarapan pagi. Jaki dan Dani sudah dapat
Dikatakan pulih selera makannya. Tapi Dinah dan Desi masih kurang bernafsu makan.
Dinah memandang Desi.
“Bintik-bintik di mukamu hampir-hampir tidak nampak lagi,” katanya. “Jaki juga sama saja. Sinar matahari akan bermanfaat bagi kita semua. Aku tidak begitu kepingin makan
Daging goreng ini. Kau bagaimana? Aduh kenapa Rill tidak cepat-cepat selesai ngobrol dengan ibu, lalu turun ke bawah Aku ingin sekali mengetahui hasil pembicaraan mereka.”
Rill tidak langsung turun. Anak-anak mendengar pintu kamar di atas terbuka, disusul
Bunyi siulan lirih. Rupanya Rill khawatir, jangan-jangan pembantu mereka ada di sekitar
Situ.
“Hilda sedang pergi berbelanja, Rill,” seru Dinah dari ruang makan. “Jadi Anda bisa
Turun, kalau mau. Kami menyisihkan makanan untuk Anda.”
Rill turun ke bawah.
“Ibu kalian tidak mau sarapan. Katanya, ia hanya minta teh dan roti bakar sepotong,” kata Rill.
“Kau yang memanggang roti, Dinah sementara aku memasak air. Nanti begitu rotimu sudah siap, kita buatkan teh untuk ibumu. Setelah itu aku akan menelepon Pak Dokter untuk memintanya datang, lalu akan kutelepon Bu Tresno, sahabat ibumu. Akan
Anak-anak mendengarkan keterangan Rill sambil membisu.
“Tapi bagaimana dengan kami?” tanya Jaki kemudian. “Anda sudah mengambil keputusan atau belum?”
“Sudah,” kata Rill. “Tadi bibimu meminta dengan sangat padaku agar aku mau mengajak
Kalian semua pergi selama dua minggu. Lalu kukatakan padanya, aku memang berniat hendak
Menghilang selama beberapa waktu. Jadi kalian akan kuajak pergi ke pesisir utara. Aku
Tidak mengatakan apa-apa padanya mengenai sebab-sebab aku harus menghilang karena ia kelihatannya lesu sekali pagi ini.
Ia nampak sangat lega, membayangkan kalian akan bisa
Pergi menghirup udara segar sampai ia nyaris tak bertanya-tanya lebih lanjut.”
“Jadi kita bisa pergi?” tanya Jaki. Ia tidak bisa menahan perasaan gembiranya, walau di
Pihak lain ia juga sangat kasihan pada Bibi Am.
“Hebat!!”
Wajah keempat anak itu berseri seri. Kikuk memanfaatkan kesempatan itu. Dicopetnya Sepotong kulit jeruk dari dalam selai.
Ketika tidak ada yang mengatakan apa apa, burung itu bertambah nekat. Kini ia mengambil gula sepotong dari tempat gula.
“Tapi ibu pasti beres, kan ditemani Bu Tresno?” tanya Dani serius. “Atau mungkin ia menginginkan ditemani salah seorang dari kami? Kalau benar begitu, biar aku saja yang tinggal.”
__ADS_1
“Keadaannya akan jauh lebih baik jika kalian semua tidak ada di sini,” kata Rill sambil
Mengambil sepotong daging goreng.
“Ia capek sekali saat ini, dan ingin bisa beristirahat. Penyakit Covid memang membuat orang merasa tidak enak badan, tapi
Setidak-tidaknya dengan demikian pasti ia akan berbaring di tempat tidur!”
“Yah kalau begitu kami bisa menyongsong keberangkatan kita dengan perasaan tenang,”
Kata Jaki dengan riang.
“Wah, Rill Anda memang selalu muncul pada saat yang benar-benar tepat!”
“He itu Hilda sudah datang,” kata Dani dengan tiba-tiba.
“Sebaiknya Anda bergegas ke atas lagi, Rill. Bawa saja piring sarapan Anda. Nanti sambil mengantarkan sarapan untuk ibu, akan kami bawakan roti dan teh pula untuk Anda. Bagaimana, Dinah? Belum
Selesai juga rotimu?”
“Selesai,” kata Dinah. Diletakkannya roti panggang yang terakhir di tempat yang khusus untuk itu.
“Jangan, Kikuk jangan diapa-apakan roti-roti ini. Aduh, Jaki coba kaulihat paruh Kikuk, bergelimang selai. Habis selai kita dikudapnya. Dasar burung
Rakus!”
Rill bergegas pergi ke atas. Sementara itu Hilda masuk ke dapur, lalu mulai sibuk
Memasukkan arang ke dalam tungku.
Dinah mendatanginya untuk mengatakan bahwa ibunya kena penyakit Covid. Hilda merasa kasihan mendengar kabar itu.
Tapi sekaligus ia juga ia juga kelihatan agak cemas
"Yah sebenarnya aku bisa saja mengurus segalanya," kata Hilda, "tapi karena kalian
semua juga masih ada di rumah..."
"Tidak," sela Dinah. "Kami sebentar lagi akan pergi, ikut dengan ekspedisi yang hendak mempelajari kehidupan burung-burung di alam bebas. Dan Bu Tresni akan datang untuk merawat Ibu jadi..."
"Hilda! Hiil da! Hil daaa!" Hilda terkejut mendengar namanya dipanggil panggil.
"Itu Nyonya memanggil-manggil!" katanya.
"Kau ini bagaimana mengatakan bahwa ibumu sakit dan sekarang berbaring di tempat tidur!
Ya saya datang, Madam!"
Tapi tentu saja yang memanggil-manggil itu Kikuk, yang sudah mulai iseng lagi menirukan suara orang.
Burung konyol itu terkekeh kekeh melihat Hilda muncul sambil berlari-lari.
"Bersihkan kakimu!" tukas Kikuk. "Jangan menyedot-nyedot ingus. Sudah berapa kali kukatakan..."
Sambil mengomel, Hilda keluar lagi. Pintu kamar dibantingnya keras-keras.
...Bersambung......
__ADS_1