
Orang yang meringkus Dani beraksi tanpa menimbulkan suara. Dani sama sekali tidak Sempat berteriak ketika disergap olehnya.
Karena itu tidak ada orang lain yang Mendengar apa-apa. Anak itu meronta-ronta.
Ia mengalami kesulitan bernapas, karena Mukanya terbenam dalam tanah yang lunak.
Dengan cepat orang yang meringkusnya tadi membalikkan tubuh Dani. Mulutnya disumpal Dengan sapu tangan.
Tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terikat. Apakah yang Sebetulnya terjadi? Mungkinkah Dani disangka Rill State? Tak mungkin karena
Penyergapnya itu pasti tahu bahwa Rill bertubuh tinggi besar!
Dani meronta dan menggeliat-geliat terus. Ia berusaha menyingkirkan gumpalan tanah
Yang masuk ke dalam mulut. Tapi sia-sia saja. Orang yang meringkusnya lebih kuat. Dan
Rupanya tidak kenal kasihan!
Dani dijunjung, lalu dibawa ke suatu pondok peranginan. Semuanya berlangsung tanpa Ribut-ribut
“Dan sekarang,” desis orang tak dikenal itu dekat telinga Dani,
“Ada berapa orang Kemari? Ayo katakan, jika tidak ingin menyesal nanti. Dengus dua kali jika kau tidak Sendiri.”
Dani tidak berbuat apa-apa. Ia bimbang, tidak tahu harus mendengus atau tidak.
Ia Mengerang karena mulutnya masih penuh dengan tanah. Dan tanah tidak enak rasanya!
Orang yang meringkusnya meraba-raba seluruh tubuhnya. Kemudian orang itu mengeluarkan
Sebuah senter berukuran kecil, lalu menyorotkannya sekilas ke muka Dani yang mulutnya
Terikat sapu tangan. Orang itu melihat jambul anak itu. Terdengar napasnya tersentak
“Dani! Rupanya Kau! Apa yang kaucari, malam-malam begini berkeliaran di luar?”
Dani kaget, tapi sekaligus juga merasa lega. Ia mengenali suara itu. Itu kan Rill!
Dilupakannya mulut yang penuh tanah. Ia berusaha hendak bicara.
“Jangan ribut,” bisik Rill sambil melepaskan sapu tangan yang menyumbat mulut Dani.
“Mungkin masih ada orang lain lagi di sekitar sini. Kalau ada yang hendak kaukatakan,
Bisikkan saja ke telingaku.”
Dani mendekatkan mulutnya ke telinga Rill State, lalu berbisik-bisik.
“Rill,” bisiknya, “tadi aku melihat ada orang bersembunyi dalam semak, dekat gerbang Depan pekarangan rumah kami.
Aku lantas menyelinap ke luar, karena hendak memberi tahu Pada Anda agar berhati-hati.”
Rill membuka tali yang mengikat pergelangan tangan Dani. Anak itu menggosok-gosoknya,
Karena terasa agak pedih. Ia tidak sangsi sedikit pun, Rill ternyata jago kalau disuruh
Mengikat orang. Untung saja ia tadi tidak dipukul sampai pingsan.
“Pintu belakang rumah tidak terkunci,” bisik Dani lagi. “ Semenjak aku keluar sih, Tidak ada orang mengintai di belakang. Yuk, kita berusaha menyelinap masuk ke dalam Rumah. Di sana kita bisa bicara dengan lebih leluasa.”
Dengan diam-diam keduanya menuju ke lubang di tengah pagar semak, tempat Dani tadi Menyusup untuk masuk ke kebun itu.
Keduanya tidak berjalan di atas kerikil. Mereka khawatir, jangan-jangan bunyi kerikil terpijak akan menarik perhatian pengintai yang bersembunyi jika di situ memang ada yang mengintai.
__ADS_1
Keduanya menyusup lewat lubang, masuk ke kebun rumah keluarga Am. Dani membimbing Rill,
menuntunnya berjalan dalam kebun yang gelap di bawah bayanganbpepohonan,
berjalan menuju ke rumah. Di situ sudah tidak kelihatan cahaya terang sama sekali.
Bu Am sudah tidur rupanya
Pintu belakang rumah masih tetap belum terkunci. Dengan hati-hati Dani membukanya.
Lalu keduanya masuk.
"Jangan nyalakan lampu," bisik Rill. "Jangan sampai ada yang tahu bahwa di sini ada orang yang belum tidur. Kukunci saja pintu ini."
Keduanya mengendap-endap menaiki tangga rumah, menuju ke tingkat atas. Tiba-tiba terdengar salah satu anak tangga berderak ketika diinjak.
Jaki yang menunggu dalam kamar tidur melesat ke pintu ketika mendengar bunyi itu.
Untung ia tidak menyalakan lampu!
"Tenang saja cuma aku yang datang," bisik Dani. "Dan Rill!"
"Hebat!" kata Jaki dengan gembira, lalu mengajak kedua orang yang datang masuk ke kamar.
Rill menyalami Jaki dengan hangat. Ia sangat suka pada seisi rumah itu.
"Aku perlu berkumur sebentar, karena mulutku masih penuh tanah," kata Dani. "Aku tadi tidak berani meludahkannya dalam kebun karena takut terdengar orang. Uhh rasanya pahit!"
"Kasihan," kata Rill dengan nada menyesal, "tapi aku tadi sama sekali tak mengira bahwa
kau yang kusergap, Dani. Kusangka seseorang yang sedang mengintai diriku. Aku tadi bertekad meringkusnya sebelum aku yang diringkus duluan"
"Dan ternyata Anda berhasil," kata Dani sambil berkumur. Mana pasta gigiku? Aku perlu menyikat gigi .... Ah, sialan!"
Gelas itu terguling, lalu jatuh ke dalam bak. Bunyinya ketika pecah berantakan terdengar nyaring di tengah malam sepi.
"Coba periksa, apakah Dinah dan Desi terbangun. Kalau ya, beri tahukan pada mereka agar jangan menyalakan lampu," kata Rill cepat-cepat pada Jaki.
"Cepat! Dan sekaligus
lihat pula, apakah Bibi Am juga terbangun. Ia juga perlu diberi tahu!"
Desi ternyata bangun mendengar bunyi gelas pecah. Nyaris saja Jaki terlambat
melarangnya menyalakan lampu. Bibi Am tidur terus.
Letak kamarnya agak jauh, dan rupanya ia tidak mendengar apa-apa. Desi heran mendengar Jaki berbisik-bisik.
"Ada apa?" tanya anak perempuan itu. "Kau sakit, ya? Atau Dani?"
"Tentu saja tidak," tukas Jaki dengan suara pelan. "Ayo, cepat berpakaian, dan
bangunkan Dinah. Rill sudah datang! Tapi kita tidak boleh menyalakan lampu. Mengerti?"
Tiba-tiba ada sesuatu menyambar dekat kepalanya sambil mengeluarkan bunyi parau tapi pelan.
Ah di sini kau rupanya, Kikuk! Aku mencarimu tadi," kata Jaki "Kenapa kau tidur di kamar anak-anak perempuan malam ini? Yuk, ikut aku Rill sudah datang!"
Desi bergegas membangunkan Dinah. Adik Dani itu mula-mula tidak mengerti.
Tapi kemudian ia pun bergegas-gegas berpakaian, lalu pergi ke kamar Jaki dan Dani.
Kikuk sudah lebih dulu ada di sana. Burung kakaktua itu mencubiti telinga Rill State sambil mengoceh dengan suara lirih.
__ADS_1
Rill langsung menyapa ketika Dinah dan Desi muncul sambil menyelinap.
"Aku hanya bisa merasa bahwa kalian datang," katanya. "Ah, ini pasti Desi, karena
tercium olehku batang hidungmu."
"Mana mungkin hidung bisa tercium," kata Desi. Ia tercekikik. "Tapi Anda benar, ini memang aku!
Ke mana saja Ente tidak muncul-muncul selama ini, Rill? Surat-surat kami tidak satu pun Anda balas."
"Aku tahu," kata Rill. "Soalnya begini beberapa waktu yang lalu aku mendapat tugas melacak jejak gerombolan penjahat. Tapi tahu-tahu mereka mencium aksi diam-diamku itu
dan sebelum aku sempat bertindak, Malahan akulah yang mereka kejar-kejar! Jadi sekarang aku terpaksa bersembunyi, jangan sampai mereka berhasil menemukan diriku!".
"Kenapa kalau mereka berhasil? Apakah Anda akan diculik, atau bagaimana?" tanya Desi ketakutan.
"Tidak dapat kukatakan apa yang akan mereka lakukan terhadapku jika aku sampai jatuh ke tangan mereka," kata Rill dengan santai.
"Kurasa, aku pasti akan disingkirkan
untuk selama-lamanya. Tapi kenyataannya aku sekarang ada di sini!"
"Jadi untuk itu rupanya orang tadi menunggu dekat gerbang depan ia berharap akan bisa
menyergap Anda di situ," kata Dani. "Tapi kenapa Anda sekarang datang kemari, Rill? Ada yang hendak Anda beri tahukan pada kami barangkali?" _
"Begini," kata Rill. "Untuk sementara aku harus menghilang, dan aku kemari terutama
karena ingin bertemu ibu kalian. Aku ingin minta tolong padanya agar menyimpankan beberapa barang milikku karena siapa tahu mungkin, yah mungkin aku nanti ternyata lenyap
untuk selama-lamanya. Saat ini aku sangat berbahaya bagi gerombolan yang sedang kuselidiki. Aku terlalu banyak mengetahui rahasia mereka."
"Aduh, Anda sekarang hendak menghilang ke mana, Rill?" keluh Desi. "Tidak enak rasanya membayangkan Anda menghilang tanpa bekas. Tidak bisakah Anda mengatakan ke mana tujuan perginya?"
"Yah, untuk sementara ini sebaiknya aku tinggal di salah satu tempat terpencil dan
hidup diam-diam di sana," kata Rill.
"Aku menunggu sampai gerombolan penjahat sudah tidak mencari aku lagi atau sampai mereka tertangkap! Jangan kalian sangka aku menghilang ini karena takut ya. Sama sekali tidak! Aku tidak takut pada kawanan
penjahat itu. Tapi para atasanku beranggapan risikonya terlalu besar jika aku sampai jatuh ke tangan para penjahat. Jadi aku diminta agar menghilang selama beberapa waktu.
Aku bahkan dilarang berhubungan dengan kalian, atau dengan keluargaku sendiri."
Sesaat lamanya tidak ada yang berbicara. Semua merasa tidak enak mendengar kata-kata Rill, yang diucapkan dengan lirih dalam kegelapan malam.
Desi menjamah tangan Rill.
"Kalian tidak perlu merasa sedih," kata Rill. "Suatu saat nanti kalian pasti mendengar
kabar lagi dari ku tahun depan, atau mungkin juga satu tahun sesudahnya.
Aku akan menyamarkan diri menjadi buruh tambang di daerah liar di Borneo bagian Timur atau menjadi pengamat burung yang hidup menyendiri di salah satu pulau terpencil atau..."
Terdengar napas Jaki tersentak. Rupanya anak itu baru saja mendapat gagasan hebat.
"Rill! Wah, Rill- baru saja terpikir sesuatu yang hebat olehku!"
"Ssst! Jangan keras-keras," kata Rill. "Dan tolong pindahkan Kikuk ke bahumu, sebelum habis daun telinga kiriku digigiti olehnya."
"Begini, Rill," kata Jaki bersemangat.
...Bersambung........
__ADS_1