Travel Destination

Travel Destination
Ayo kita Berangkat...


__ADS_3

Rill sudah mengatakan di mana mereka harus menunggunya di stasiun Pasarteri.


Karenanya begitu turun dari taksi, anak-anak dengan segara menuju ke tempat itu.


Masing-masing membawa tas serta mantel hujan. Sesampai di situ, mereka berdiri sambil menunggu.


"Bagaimana jika salah seorang anggota gerombolan yang sedang diselidiki olah Rill tahu bahwa Rill akan berjumpa dengan kita di sini?" kata Dani dengan nada misterius.


"Lalu orang itu mendatangi kita dan mengaku bahwa ialah Rill! Lalu kita semua dibawanya pergi


antah ke mana, dan tidak pernah ada kabar beritanya lagi!"


Kasihan Desi. Anak perampuan itu ketakutan. Matanya terbelalak karena ngeri.


"Aduh, Dani mungkinkah hal itu benar-benar terjadi?" katanya dengan suara lirih.


"Mudah-mudahan kita bisa mengenali Rill apabila ia menghampiri kita nanti. Kalau tidak,


aku ngeri ikut dengannya."


Saat itu seorang laki-laki bertubuh gendut datang menghampiri sambil tersenyum. Orang itu benar benar gendut. Kepalanya bulat, badannya bulat, kakinya besar bahkan giginya


pun besar-besar. Anak-anak melihatnya karena orang itu memandang mereka sambil tersenyum terus.


Desi merasa kecut. Tidak mungkin itu Rill - karena tidak mungkin ada orang bisa


membuat anggota tubuhnya menjadi mendadak begitu besar semua jika aslinya tidak gendut.


Desi memegang tangan Dani erat-erat. Mungkinkah orang itu termasuk gerombolan penjahat yang sedang mencari-cari Rill?


"Nak," kata orang itu padanya, "itu mantelmu terjatuh. Kalau tidak lekas lekas kau ambil, nanti hilang!"


Desi langsung pucat pasi mukanya ketika disapa. Tapi kemudian ia menoleh. Baru saat itu dilihatnya mantel hujannya tergeletak di tanah. Buru-buru diambilnya barang


itu. Dengan muka merah padam dan suara terbata-bata, ia mengucapkan terima kasih.


Laki-laki gendut itu tersenyum sekali lagi, memamerkan deretan giginya yang besar- besar. Kikuk mulai mengoceh, dengan suara biasa seperti orang yang sedang mengobrol.


"Pintar sekali burung kalian!" kata laki-laki gendut itu. Diulurkannya tangannya.


Maksudnya hendak mengelus elus Kikuk.


Tapi Kikuk tidak suka dielus orang yang tak dikenal. Dicotoknya tangan orang itu dengan paruhnya yang runcing, lalu bersuit seperti lokomotif.


Senyuman laki-laki gendut itu lenyap dengan seketika, digantikan wajah cemberut.


"Burung kalian jahat," gerutunya lalu menghilang di tengah orang banyak


Anak-anak merasa lega. Mereka sama sekali tidak curiga bahwa orang itu termasuk


gerombolan penjahat, karena mereka tahu bahwa itu hanya bikin-bikinan Dani saja.


Tapi walau demikian mereka khawatir jika orang itu tidak henti-hentinya mengobrol dengan


mereka sehingga Rill tidak bisa datang untuk menjemput.


Keempat anak itu berdiri terus di bawah jam besar. Mereka memandang sekeliling,


mencari-cari Rill. Tapi tak seorang pun nampak, yang agak mirip dengan orang yang mereka tunggu-tunggu.


Kemudian seorang laki-laki datang mendekat. Punggungnya membungkuk, sedang jalannya


agak terseok-seok. Ia memakai kaca mata tebal. Di balik kaca mata nampak sepasang mata


yang memandang tajam. Ia memakai mantel tebal yang panjang. Sebuah teropong

__ADS_1


terselempang di punggung. Kepalanya ditutupi topi yang terbuat dari bahan berkotak-kotak hitam. Janggutnya juga hitam, dan lebat. Tapi ketika ia berbicara,


suara Rill State yang terdengar,


"Selamat malam, Anak-anak. Aku senang melihat kalian datang tepat pada waktunya. Kini kita bisa memulai ekspedisi kita."


Wajah Desi berseri-seri. Ia mengenali suara Rill, walau- sahabat mereka itu


menyamar dengan janggut lebat serta penampilan aneh. Nyaris saja ia merangkul orang itu


sambil menyatakan kegembiraannya melihat Rill. Tapi Jaki merasa bahwa adiknya akan


berbuat demikian. Dengan cepat didorongnya Desi ke samping, lalu ia sendiri


menyodorkan tangan dengan sikap hormat.


"Selamat malam, Dr. Wolly. Apa kabar?"


Anak anak yang lain langsung mengerti, lalu berbuat sama. Orang yang kebetulan melihat


kejadian itu pasti akan menyangka bahwa keempat anak itu menyambut pembimbing atau


pengasuh mereka, yang akan mengajak bepergian ke suatu tempat.


"Yuk, kita pergi sekarang," kata "Dr. Wolly". "Aku sudah memesan seorang buruh angkat barang untuk membawa barang-barang kalian. Sini, Pak-! Tolong angkut barang-barang ini


dengan gerobak Anda, lalu bawa ke tempat yang telah kami pesan di kereta pukul sepuluh


malam. Terima kasih."


Tidak lama kemudian mereka sudah berada di atas kereta api. Anak-anak asyik melihat


"kamar tidur" -mereka yang berukuran kecil. Desi suka melihat segala galanya bisa


"Sekarang kalian harus tidur dulu," kata Rill. Matanya memandang dengan ramah dari


balik lensa kaca mata tebal. "Dr. Wolly akan menjamin bahwa kalian takkan terlambat bangun untuk sarapan besok pagi."


"Di mana letak tempat yang akan kita datangi?" tanya Jaki. "Dan bagaimana cara kita pergi ke sana?"


"Kita ke sana naik kereta ini, lalu naik kereta lain, dan kemudian disambut lewat air dengan kapal klotok," kata Rill. Anak-anak berseri-seri mendengar keterangannya.


Mereka sangat gemar mengadakan perjalanan.


"Aku membawa peta," kata Rill setelah memeriksa apakah pintu sudah tertutup.


"Ini peta semua pulau kecil yang bertebaran di depan pesisir barat laut Selat Madura. Jumlahnya sampai ratusan! Beberapa di antaranya begitu kecil sampai tidak bisa ikut dipetakan disini.


Kurasa belum pernah ada orang yang telah mendatangi semua pulau itu. Hanya


burung-burung saja yang tinggal di sana.


Menurut pendapatku, sebaiknya salah satu pulau kecil itu kita jadikan Persinggahan,


lalu dari situ kita berkeliaran sambil foto-foto, serta mengamat-amati kehidupan burung-burung di sana."


Mata Jaki dan Dani bersinar-sinar. Mereka membayangkan keasyikan hari-hari yang cerah di laut, mondar-mandir dari satu pulau kecil ke pulau kecil lainnya yang semua dihuni burung-burung yang setengah jinak,


berpiknik dan makan dengan lahap sambil menikmati tiupan angin.


Duduk-duduk di atas batu sambil merendamkan kaki dalam air yang jernih.


Hati keduanya seakan melonjak dengan gembira membayangkan kesemuanya itu.


"Yang paling kuinginkan adalah burung puffin yang jinak," kata Dani. "Selama ini yang kulihat hanya yang sudah diawetkan saja.

__ADS_1


Tapi kelihatannya burung-burung itu kocak."


"Kurasa kau pasti mampu mengajari mereka duduk lalu mengemis-ngemis minta makanan," kata Rill geli.


"Puflin enggas-enggos," oceh Kikuk. "Hidup Raja!"


Tidak ada yang mempedulikan ocehannya, karena semua sibuk membayangkan liburan mereka yang luar biasa itu.


"Nanti kalau kalian harus pulang, aku akan tinggal sendiri di sana," kata Rill.


"Suasananya pasti sepi tanpa kalian tapi kalian pasti akan meninggalkan burung-burung puffin kalian yang sudah jinak untuk menemani aku."


"Tak enak perasaanku harus meninggalkan Anda," kata Desi. "berapa lama Anda seorang diri di sana nanti, Rill?"


"Kurasa lumayan lama lah," kata Rill.


"Pokoknya cukup lama, sampai musuh-musuhku sudah lupa padaku, atau mengira aku sudah mati."


"Aduh," keluh Desi. "Aku lebih senang seandainya Anda tidak menjalani kehidupan yang begitu berbahaya, Rill. Tidak bisa kerja yang lain saja kah?"


"Lalu aku harus menjadi apa? Tukang kebun, Sopir taksi, atau pekerjaan lain yang


aman semacam begitu, maksudmu?" balas Rill.


Ia nyengir melihat tampang Desi yang begitu serius.


"Tidak, Desi aku suka kehidupan yang begini. Aku berada di pihak


hukum dan keadilan dan menurutku, risiko apa pun juga sudah selayaknya kupikul untuk


membelanya. Kejahatan itu kuat dan berkuasa tapi aku juga kuat, dan ada gunanya mengadu kekuatan melawan oknum-oknum jahat serta segala perbuatan mereka."


"Anda benar-benar hebat, Rill," kata Desi dengan nada bangga.


"Dan aku yakin, Anda akan selalu menang. Tapi tidakkah Anda marah karena kini terpaksa menyembunyikan diri?"


"Wah, bukan marah lagi," kata Rill. Tampangnya sama sekali tidak kelihatan marah.


Tapi dari nada suaranya anak-anak menarik kesimpulan mengenai perasaan sahabat mereka itu.


karena terpaksa "menghilang" sementara masih ada tugas yang harus diselesaikan. "Tapi apa boleh buat, aku harus mematuhi perintah atasan. Lagi pula, perintah untuk menghilang ini bagi kita semua berarti liburan yang sangat menyenangkan. Nah, Jaki dan Dani bagaimana, kalian sudah selesai mempelajari peta itu?"


Sejak tadi kedua anak laki-laki itu asyik menelaah peta pulau-pulau yang dibawa Rill.


Jaki menuding salah satu pulau yang tertera di atas peta.


"Lihatlah " katanya,


"yang ini kelihatannya cocok! Namanya Pulau Sayap jadi mestinya di situ banyak sekali burung."


"Kita coba saja pergi ke sana," kata Rill. "Ada kemungkinannya kita akan tersesat nanti tapi biarlah! Siapalah yang akan merasa keberatan, tersesat di tengah laut berwarna biru kehijauan pada saat musim yang indah ini, dengan sekian banyak pulau kecil mempesona terbentang di depan mata?"


"Wah kedengarannya indah sekali," kata Dinah. "Aduh, coba lihat si Kikuk.


Burung Gelo itu mencoba menarik sumbat bak cuci muka dari rantainya."


Selama mereka berlima asyik berbicara, ternyata Kikuk sibuk memeriksa seluruh ruang "kamar tidur". Ia sudah meneguk air dari salah satu keran air yang tersedia di situ.


Kini burung iseng itu bertengger di atas batang tempat menggantungkan handuk. Sambilmenguap seperti manusia, diselipkannya kepala ke bawah sayapnya.


Tepat pada saat itu terdengar pintu pintu kamar sepanjang gerbong tergoncang-goncang dengan keras.


Dengan cepat kepala Kikuk tersembul kembali dari bawah sayap.


...Bersambung…...

__ADS_1


__ADS_2