
Anak-anak mengamat-amati tingkah laku burung-burung di bawah mereka, yang tidak hentihentinya terbang pergi dan datang dari dan ke tonjolan-tonjolan sempit yang terdapat
Pada sisi tebing terjal. Pemandangan yang mereka saksikan benar-benar menyenangkan.
Sambil memperhatikan dengan teropong, Jaki tertawa geli melihat ulah burung-burung yang
Saling bertengkar dan mendorong pada tonjolan-tonjolan tebing yang sangat sempit.
“Persis anak-anak nakal,” katanya. “Saling menyuruh teman agar bergeser sedikit apabila
Tidak ingin didorong sampai jatuh dan kemudian benar-benar ada yang terdorong dari
Tempatnya. Tapi tak apa dengan segera yang terdorong itu mengembangkan sayap, dan
Meluncurlah ia dengan anggun dibawa angin. Wah aku mau menjadi burung laut. Kan enak,
Bisa berjalan menyusur pantai, atau terapung-apung di atas ombak, atau menyelam
Menangkap ikan, atau melayang jauh sekali di atas angin yang bertiup.
Aku mau menjadi...”
“Apa itu?” kata Dani dengan tiba-tiba. Ia mendengar bunyi yang bukan ditimbulkan oleh
Burung burung yang banyak itu. “Coba dengar! Itu kan suara pesawat terbang!”
Sambil memasang telinga, semua memicingkan mata berusaha melihat. Langit cerah
Menyilaukan. Tapi akhirnya mereka berhasil melihat sesuatu. Jauh sekali di angkasa
Nampak sebuah bintik kecil yang bergerak dengan kecepatan tetap. Mereka mendengar bunyi
Dengung mesin pesawat.
“Pesawat terbang! Aku sama sekali tak menduga akan ada yang melintas di sini, karena
Ini tidak termasuk jalur penerbangan tetap,” kata Rill.
Rill nampaknya heran melihat anak-anak memandangnya dengan tercengang. Apa anehnya
Melihat pesawat di situ, walau pulau-pulau burung itu terpencil letaknya?
Rill meminjam teropong Jaki. Tapi sudah terlambat ia tidak bisa mengenali apa-apa
Lagi, walau mengamat-amati dengan bantuan alat pembesar itu.
“Tadi itu pesawat amfibi atau pesawat biasa, ya?” katanya setengah pada diri sendiri.
“Aneh!”
__ADS_1
“Apanya yang aneh?” tanya Dinah. “Dewasa ini, pesawat terbang kan sudah biasa terbang
Ke mana saja.”
Rill tidak mengatakan apa-apa lagi. Dikembalikannya teropong yang dipinjamnya dari
Jaki.
“Kurasa sebaiknya kita makan saja dulu lalu setelah itu memasang tenda,” kata Rill.
“Bagaimana jika memasangnya dekat sungai kecil tadi yang kita lihat sewaktu berangkat
Kemari? Letaknya sekitar seperempat mil dari pantai. Jarak itu tidak terlalu jauh
Apabila kita semua. Gotong-royong mengangkut barang-barang kita.”
Akhirnya mereka memasang tenda-tenda dulu. Alas dihamparkan di tanah, dan setelah itu
Dilapisi dengan selimut-selimut tebal. Setelah pekerjaan itu selesai, mereka berlima makan sambil duduk-duduk di suatu lereng yang agak landai, menghadap ke laut biru.
"Aku selalu merasa," kata Desi sambil mengunyah makanan yang terdiri dari roti
"Sudah, tidak perlu kaukatakan lebih lanjut," kata Jack.
"Kami tahu apa yang hendak Kau katakan, dan kami memang sependapat denganmu.”
“Mana mungkin kau tahu apa yang hendak kukatakan,” kata Desi tersinggung.
Pada waktu berlibur.”
“Kau tadi hendak mengatakan, ‘Aku selalu merasa makanan rasanya lebih enak jika dimakan
Di luar rumah,` ya, kan?” kata Dinah.
“Ya, betul,” kata Desi mengaku. “Masa sih aku selalu berkata begitu? Tapi kataku itu
Benar, kan? Aku memang merasa...”
“Ya, ya – kita semua sudah tahu,” kata Jaki. “Kau ini gemar sekali mengulang-ulang,
Desi. Selalu yang itu-itu saja kaukatakan pada kami. Tapi tidak apa, kami pun
Berpendapat begitu walau tidak mengatakannya berulang kali. Heh, Kikuk! Jangan kau makan keju lunak itu! Lihatlah, paruhmu berlumur keju.”
“Kikuk memang keterlaluan,” tukas Dinah. “Sudah tiga potong biskuit dicopetnya. Kau Kurang banyak memberinya biji bunga matahari, Jaki!”
“Siapa bilang?!” balas Jaki.
“Tapi kalau ada hidangan seperti begini, mana mau Kikuk
__ADS_1
Makan biji bunga matahari. Bahkan melihatnya saja pun sudah enggan! Tapi tikus-tikus
Putihmu masih ada, Dani. Biar mereka saja yang memakan. Tadi aku menemukan Centil
Dalam kantongku sedang asyik memakan sebuah biji bunga matahari.”
“Asal ia jangan sakit saja karenanya,” kata Dani dengan agak cemas.
“Ha! Lihatlah
Ada burung camar datang. Wah, jinak sekali! Kurasa ia juga ingin diberi biskuit.”
Ternyata memang demikian. Burung itu melihat Kikuk mematuk-matuk sekeping biskuit.
Kelihatannya enak sekali. Karena itu ia pun minta bagian. Kikuk melihat camar itu datang
Dari sudut matanya, lalu beringsut menjauh. Tapi dengan sekali sambar saja camarbBerhasil merebut biskuit.
Burung nakal itu langsung terbang membubung sambil Memperdengarkan suara seperti tertawa. Kedengarannya seperti mengejek.
Kikuk marah lalu terbang mengejar sambil mengata-ngatai camar yang menyambar biskuitnya.
Kata-kata yang dilontarkannya kasar sekali. Tapi sial baginya, camar yang dikata-katai
Tidak memahami bahasa manusia. Kikuk tidak berhasil mengejar camar yang bersayap kuat Itu.
Akhirnya ia kembali dengan lesu ke tempat anak-anak duduk.
“Jangan mengomel, Kikuk!” kata Jaki. “Kau tadi Kan mencuri biskuit dari
Kaleng – nah sekarang camar itu merampasnya dari mu. Tulah balasan orang suka mencuri!”
“Sayang, sayang!” oceh Kikuk. Tapi sementara itu ia sudah beringsut-ingsut lagi Menghampiri kaleng biskuit.
“Kikuk ini benar-benar badut,” kata Rill sambil mengibas-ngibaskan baju hangatnya yang
Kotor karena remah-remah makanan. “Nah sekarang siapa mau ikut kembali ke perahu
Klotok untuk mendengarkan kabar terbaru lewat radio? Lagian aku juga harus mengirim
Kabar terutama untuk ibu kalian, Dani. Ia pasti ingin tahu, apakah kita sudah
Sampai dengan selamat di sini.”
Anak-anak semuanya ingin jalan-jalan sebentar setelah makan. Karenanya mereka
beramai-ramai berjalan ke pantai, melalui hamparan rumput pantai yang empuk seperti
permadani, dengan bunga-bunganya yang merah muda terangguk-angguk ditiup angin.
__ADS_1
Sesampai di perahu mereka memperhatikan Rill menegakkan antena pesawat radionya lalu
memutar-mutar tombol. Pesawat itu di samping menerima siaran juga bekerja sebagai pemancar.