Travel Destination

Travel Destination
Pesawat...


__ADS_3

Anak-anak mengamat-amati tingkah laku burung-burung di bawah mereka, yang tidak hentihentinya terbang pergi dan datang dari dan ke tonjolan-tonjolan sempit yang terdapat


Pada sisi tebing terjal. Pemandangan yang mereka saksikan benar-benar menyenangkan.


Sambil memperhatikan dengan teropong, Jaki tertawa geli melihat ulah burung-burung yang


Saling bertengkar dan mendorong pada tonjolan-tonjolan tebing yang sangat sempit.


“Persis anak-anak nakal,” katanya. “Saling menyuruh teman agar bergeser sedikit apabila


Tidak ingin didorong sampai jatuh dan kemudian benar-benar ada yang terdorong dari


Tempatnya. Tapi tak apa dengan segera yang terdorong itu mengembangkan sayap, dan


Meluncurlah ia dengan anggun dibawa angin. Wah aku mau menjadi burung laut. Kan enak,


Bisa berjalan menyusur pantai, atau terapung-apung di atas ombak, atau menyelam


Menangkap ikan, atau melayang jauh sekali di atas angin yang bertiup.


Aku mau menjadi...”


“Apa itu?” kata Dani dengan tiba-tiba. Ia mendengar bunyi yang bukan ditimbulkan oleh


Burung burung yang banyak itu. “Coba dengar! Itu kan suara pesawat terbang!”


Sambil memasang telinga, semua memicingkan mata berusaha melihat. Langit cerah


Menyilaukan. Tapi akhirnya mereka berhasil melihat sesuatu. Jauh sekali di angkasa


Nampak sebuah bintik kecil yang bergerak dengan kecepatan tetap. Mereka mendengar bunyi


Dengung mesin pesawat.


“Pesawat terbang! Aku sama sekali tak menduga akan ada yang melintas di sini, karena


Ini tidak termasuk jalur penerbangan tetap,” kata Rill.


Rill nampaknya heran melihat anak-anak memandangnya dengan tercengang. Apa anehnya


Melihat pesawat di situ, walau pulau-pulau burung itu terpencil letaknya?


Rill meminjam teropong Jaki. Tapi sudah terlambat ia tidak bisa mengenali apa-apa


Lagi, walau mengamat-amati dengan bantuan alat pembesar itu.


“Tadi itu pesawat amfibi atau pesawat biasa, ya?” katanya setengah pada diri sendiri.


“Aneh!”

__ADS_1


“Apanya yang aneh?” tanya Dinah. “Dewasa ini, pesawat terbang kan sudah biasa terbang


Ke mana saja.”


Rill tidak mengatakan apa-apa lagi. Dikembalikannya teropong yang dipinjamnya dari


Jaki.


“Kurasa sebaiknya kita makan saja dulu lalu setelah itu memasang tenda,” kata Rill.


“Bagaimana jika memasangnya dekat sungai kecil tadi yang kita lihat sewaktu berangkat


Kemari? Letaknya sekitar seperempat mil dari pantai. Jarak itu tidak terlalu jauh


Apabila kita semua. Gotong-royong mengangkut barang-barang kita.”


Akhirnya mereka memasang tenda-tenda dulu. Alas dihamparkan di tanah, dan setelah itu


Dilapisi dengan selimut-selimut tebal. Setelah pekerjaan itu selesai, mereka berlima makan sambil duduk-duduk di suatu lereng yang agak landai, menghadap ke laut biru.


"Aku selalu merasa," kata Desi sambil mengunyah makanan yang terdiri dari roti


"Sudah, tidak perlu kaukatakan lebih lanjut," kata Jack.


"Kami tahu apa yang hendak Kau katakan, dan kami memang sependapat denganmu.”


“Mana mungkin kau tahu apa yang hendak kukatakan,” kata Desi tersinggung.


Pada waktu berlibur.”


“Kau tadi hendak mengatakan, ‘Aku selalu merasa makanan rasanya lebih enak jika dimakan


Di luar rumah,` ya, kan?” kata Dinah.


“Ya, betul,” kata Desi mengaku. “Masa sih aku selalu berkata begitu? Tapi kataku itu


Benar, kan? Aku memang merasa...”


“Ya, ya – kita semua sudah tahu,” kata Jaki. “Kau ini gemar sekali mengulang-ulang,


Desi. Selalu yang itu-itu saja kaukatakan pada kami. Tapi tidak apa, kami pun


Berpendapat begitu walau tidak mengatakannya berulang kali. Heh, Kikuk! Jangan kau makan keju lunak itu! Lihatlah, paruhmu berlumur keju.”


“Kikuk memang keterlaluan,” tukas Dinah. “Sudah tiga potong biskuit dicopetnya. Kau Kurang banyak memberinya biji bunga matahari, Jaki!”


“Siapa bilang?!” balas Jaki.


“Tapi kalau ada hidangan seperti begini, mana mau Kikuk

__ADS_1


Makan biji bunga matahari. Bahkan melihatnya saja pun sudah enggan! Tapi tikus-tikus


Putihmu masih ada, Dani. Biar mereka saja yang memakan. Tadi aku menemukan Centil


Dalam kantongku sedang asyik memakan sebuah biji bunga matahari.”


“Asal ia jangan sakit saja karenanya,” kata Dani dengan agak cemas.


“Ha! Lihatlah


Ada burung camar datang. Wah, jinak sekali! Kurasa ia juga ingin diberi biskuit.”


Ternyata memang demikian. Burung itu melihat Kikuk mematuk-matuk sekeping biskuit.


Kelihatannya enak sekali. Karena itu ia pun minta bagian. Kikuk melihat camar itu datang


Dari sudut matanya, lalu beringsut menjauh. Tapi dengan sekali sambar saja camarbBerhasil merebut biskuit.


Burung nakal itu langsung terbang membubung sambil Memperdengarkan suara seperti tertawa. Kedengarannya seperti mengejek.


Kikuk marah lalu terbang mengejar sambil mengata-ngatai camar yang menyambar biskuitnya.


Kata-kata yang dilontarkannya kasar sekali. Tapi sial baginya, camar yang dikata-katai


Tidak memahami bahasa manusia. Kikuk tidak berhasil mengejar camar yang bersayap kuat Itu.


Akhirnya ia kembali dengan lesu ke tempat anak-anak duduk.


“Jangan mengomel, Kikuk!” kata Jaki. “Kau tadi Kan mencuri biskuit dari


Kaleng – nah sekarang camar itu merampasnya dari mu. Tulah balasan orang suka mencuri!”


“Sayang, sayang!” oceh Kikuk. Tapi sementara itu ia sudah beringsut-ingsut lagi Menghampiri kaleng biskuit.


“Kikuk ini benar-benar badut,” kata Rill sambil mengibas-ngibaskan baju hangatnya yang


Kotor karena remah-remah makanan. “Nah sekarang siapa mau ikut kembali ke perahu


Klotok untuk mendengarkan kabar terbaru lewat radio? Lagian aku juga harus mengirim


Kabar terutama untuk ibu kalian, Dani. Ia pasti ingin tahu, apakah kita sudah


Sampai dengan selamat di sini.”


Anak-anak semuanya ingin jalan-jalan sebentar setelah makan. Karenanya mereka


beramai-ramai berjalan ke pantai, melalui hamparan rumput pantai yang empuk seperti


permadani, dengan bunga-bunganya yang merah muda terangguk-angguk ditiup angin.

__ADS_1


Sesampai di perahu mereka memperhatikan Rill menegakkan antena pesawat radionya lalu


memutar-mutar tombol. Pesawat itu di samping menerima siaran juga bekerja sebagai pemancar.


__ADS_2