Travel Destination

Travel Destination
Slamet...


__ADS_3

"Mereka itu sinting," kata nelayan pada istrinya.


"Sayang perahu sebagus itu dipakai untuk mencari burung. Bayangkan mencari burung-burung, padahal di sini banyak sekali ikan yang tinggal ditangkap saja. Yah tak lama lagi mereka akan bisa melihat burung-burung.


Huhh mereka itu memang edan!"


Keesokan harinya, setelah sarapan bubur manado dengan ikan bakar, mereka bersiap-siap Untuk melanjutkan pelayaran.


Kedua tenda dikemaskan, lalu berlima mereka naik ke atas Perahu klotok. Perahu itu diberi nama Slamet.


Menurut anak-anak, nama itu bagus Sekali. Artinya Semoga Selamat terus in shaa Allah.


Kikuk tidak disukai nelayan tua yang menjadi tuan rumah mereka malam itu, begitu pula Istrinya.


Keduanya seumur hidup belum pernah melihat burung kakaktua. Mereka tidak Habis pikir, melihat ada burung bisa berbicara.


Keduanya memperhatikan Kikuk dengan Perasaan kagum bercampur takut.


Kelihatannya mereka takut melihat paruh Kikuk yang Bangkok dan runcing itu.


“Hidup Raja,” oceh Kikuk, yang biasanya kebanyakan orang senang Mendengar kata-kata itu.


Tapi ia langsung menambahkan dengan, “Tus raja meletus, tus- Tus tus!”


Kini burung iseng itu sudah berada kembali di atas perahu klotok yang saat itu meluncur Di atas permukaan air yang biru.


Hari itu langit kembali nampak biru cerah, sementara Matahari memancarkan Sinarnya yang panas.


Cuaca saat itu benar-benar merupakan cuaca Bulan Juli cuaca yang membuat laut nampak biru bening dan berkilau-kilauan.


“Aku masih selalu berperasaan indah seperti kemarin,” kata Desi senang. Ia Menjulurkan tangannya ke sisi perahu, masuk ke dalam laut.


Dirasakannya air yang sejuk Dan lembut seperti sutra membelai jari-jarinya dan menarik ke belakang.

__ADS_1


“Sekarang kita Mencari pulau-pulau tempat kediaman burung. Hari ini kita akan menjumpai beberapa di


Antaranya ya kan, Rill?”


“Pasti,” kata Rill. Ia menambah laju perahu klotok itu sedikit. Ombak memercik, Membasahi semua yang ada di atas perahu.


“Uuuh, sedap!” seru Dinah. “Aku memang sedang kepanasan. Percikkan tadi menyegarkan Tubuhku. Ayo, Rill kencangkan lagi lari perahu ini! Aku tidak keberatan tersiram Percikkan air seperti tadi.”


Selama lima jam mereka meluncur di atas air. Tiba-tiba Jaki berseru dengan girang.


“Itu dia – pulau-pulaunya!” seru Jaki. “Lihatlah! Itu nampak jauh di garis horizon Kelihatannya seperti gumpalan gumpalan kecil! Pasti itu dia pulau-pulau yang kita Cari!”


Saat itu anak-anak mulai melihat burung-burung yang beraneka ragam jenisnya, terbang di Udara dan sebagian mengapung-apung di permukaan air.


Jaki menyerukan nama jenis-jenis Burung itu dengan bersemangat. Dani tidak mau ketinggalan.


Begitu senang mereka Melihat burung-burung laut yang hidup di alam liar itu sehingga nyaris saja terjatuh ke Air karena tidak hati-hati.


Mereka tetap saja terapung-apung di air Seolah-olah hanya dengan segan saja agak menyingkir saat perahu lewat di tempat Mereka.


“Itu ada burung pelikan sedang menyelam,” seru Jaki. “Lihatlah nampak dari sini, Bagaimana ia berenang dalam air. Nah ia berhasil menangkap ikan.


Ya sekarang ia Timbul lagi ke permukaan. Kikuk sekali kelihatannya bergerak hendak terbang. Aduh


Sayang kamera fotoku belum kusiapkan Kikuk memperhatikan burung-burung sebanyak itu dengan pandangan marah.


Burung kakaktua Itu tidak senang melihat Jaki tiba-tiba begitu tertarik perhatiannya pada burung burung Lain.


Ketika seekor burung camar yang besar melayang dengan santai tepat di atas perahu Klotok, dengan cepat Kikuk melesat terbang ke bawah burung itu.


Kikuk menjerit keras-keras, lalu berjungkir balik di udara. Camar besar itu kaget. Ia mengepakkan sayapnya yang kuat sehingga tubuhnya membubung tegak lurus ke atas.


Ia berteriak untuk Menyatakan kekagetannya. Kikuk menirukan teriakan camar itu. Bunyinya persis sama.

__ADS_1


Camar yang menyangka Kikuk Pasti masih kerabatnya walau dari jenis yang tak dikenal terbang memutar. Setelah Itu ia menghunjam, hendak menyambar Kikuk.


Tapi burung kakaktua itu tidak kalah gesit. Ia memutar tubuh, lalu turun dan hinggap di atas bahu Jaki. Dari tempat yang aman itu


Ia berteriak, seolah-olah menantang, sambil menirukan bunyi camar tadi.


Camar yang diejek melirik dengan sikap sangsi. Setelah itu ia terbang menjauh. Pasti ia Merasa heran camar jenis apa itu, yang tingkah lakunya begitu aneh.


“Kau ini memang burung Gelo, Kikuk,” tukas Jaki. “Awas, kapan-kapan kau akan disambar Camar dan dimakan habis olehnya.”


“Kikuk malang,” kata kakaktua itu, lalu menirukan suara orang mengerang. Rill tertawa.


“Tak bisa kubayangkan apa yang akan dilakukan Kikuk nanti apabila kita melihat burungburung puffin yang berkeliaran dengan langkah sempoyongan di antara semak-semak dan Rerumputan pantai,” katanya.


“Kurasa, mereka pasti akan kerepotan dirongrong terus 0Ieh Burung konyol ini.


Semakin banyak burung-burung nampak di sekeliling, sementara perahu semakin mendekati Pulau yang paling dekat.


Ada yang melayang dengan anggun mengikuti arus angin, ada yang Menukik untuk menyambar ikan, dan ada pula yang terangguk-angguk di atas permukaan air


Seperti bebek mainan. Bermacam ragam suara terdengar, campur aduk. Ada yang melengking,


Ada yang parau, ada yang seperti sedih dan pilu. Semuanya menimbulkan perasaan nMenggelora dalam sanubari anak-anak.


Tapi kemudian mereka terdiam ketika pulau itu dihampiri. Suatu tebing yang tinggi dan


Terjal menjulang di depan mata. Tebing itu penuh dengan burung burung, dari dasar Sampai ke puncaknya! Anak-anak memandang dengan asyik.


Burung ke mana saja mereka memandang, hanya burung saja yang nampak. Di setiap bagian Yang agak menonjol pasti ada burung hinggap.


Begitu banyak jenisnya sampai anak-anak Tidak mampu membedakan satu dari yang lainnya, walau sampai bermenit-menit mereka Memperhatikan dengan teropong.


...Bersambung …...

__ADS_1


__ADS_2