
“Bukan main sibuknya mereka, pergi dan datang!” kata Rill yang ikut memandang dengan Kagum.
Memang, suasana di tebing itu luar biasa sibuknya. Di samping burung-burung yang
Berdiri di bagian-bagian yang menonjol, selalu ada saja lain-lainnya yang datang dan Pergi. Semua serba sibuk sambil berteriak hingar-bingar.
“Mereka kelihatannya tidak terlalu hati-hati dengan telur-telur mereka,” kata Desi
Dengan cemas ketika ia mendapat giliran memperhatikan dengan teropong milik Jaki.
Burung-burung sembrono itu terbang dan pergi dengan seenaknya saja, sehingga kadang-kadang ada telur yang tersenggol lalu jatuh terbanting di atas karang yang terdapat di Dasar tebing.
“Tidak apa, karena mereka masih bisa bertelur lagi,” kata Jaki.
“Ayo, Desi Kembalikan teropongku itu!
Aduh, bukan main hebatnya pemandangan ini! Nanti malam akan Kutuliskan segala-galanya dalam buku catatanku.”
Perahu klotok itu bergerak dengan hati-hati mengitari tebing berbatu-batu.
Rill tidak Lagi memperhatikan burung-burung. Perhatiannya beralih pada batu-batu karang yang
Runcing-runcing itu. Setelah tebing terjal dilewati, nampak garis pantai lebih Melandai. Rill melihat suatu tempat yang kelihatannya cocok untuk berlabuh
Tempat itu sebuah teluk kecil yang terlindung dan berpantai pasir. Rill mengarahkan Haluan perahu ke tepi lalu mencecahkannya dengan pelan ke pasir.
__ADS_1
Lalu melompat turun Bersama Jaki dan Dani lalu mengamankan perahu dengan jalan menarik tali jangkar ke Atas pantai lalu menancapkan jangkar ke dalam pasir.
“Inikah tempat yang akan kita jadikan pangkalan kita?” tanya Dinah sambil memandang Sekeliling.
“Wah, jangan,” kata Jaki dengan segera.
“Kita kan masih hendak menjelajah perairan sini Dulu untuk mencari pulau tempat kediaman burung-burung puffin. Ya kan, Rill?
Aku Kepingin berada di tengah-tengah kepulauan burung ini supaya bisa dengan seenaknya Pergi dari pulau yang satu ke pulau berikutnya. Tapi kita bisa saja tinggal malam ini
Di sini. Ya, kan?”
Bagi Jaki, Dani, Dinah, dan Desi hari itu sangat menyenangkan. Begitu pula halnya Bagi Rill.
Diiringi beribu-ribu burung yang beterbangan sambil berteriak-teriak di atas Kepala, tapi kelihatannya tanpa rasa takut sama sekali, anak-anak pergi mendaki tebing Terjal yang mereka lihat dari sisi lain pulau itu.
Kadang-kadang sulit sekali Rasanya melangkah tanpa mengganggu burung yang sedang duduk atau menginjak telur yang Terletak di tanah.
Beberapa ekor burung melakukan gerakan seolah-olah hendak mematuk Kaki anak-anak. Tapi tidak seorang pun benar-benar kena patukan. Burung-burung itu Ternyata hanya menggertak elaka.
Kikuk tidak terdengar ocehannya. Burung itu bertengger di bahu Jaki dengan kepala Tertarik ke bawah. Burung sebanyak itu rupanya membingungkan dirinya.
Tapi Jaki tahu, Kikuk pasti sebentar lagi sudah pulih dari kebingungannya, lalu mengejutkan burung-burung di sekitarnya dengan suruhan agar membersihkan kaki dan menutup pintu.
Akhirnya anak-anak sampai di puncak tebing. Nyaris tuli mereka rasanya, karena bising Mendengar jerit dan teriakan yang membahana di sekeliling mereka.
__ADS_1
Burung-burung terbang Membubung dan hinggap di tanah, melayang-layang membuat berbagai pola yang tak kenal Habis di langit yang biru.
“Ajaib tak sekali pun terjadi benturan sesama mereka,” kata Desi kagum. “Sedari Tadi kuperhatikan, tapi belum kulihat ada dua ekor burung bertubrukan.”
“Mungkin di antara mereka ada polisi lalu lintas,” kata Dani dengan serius.
“Siapa Tahu, mungkin di antara burung-burung itu ada yang memiliki surat izin terbang di bawah Sayap.”
“Tidak lucu, ah,” tukas Desi. “Tapi walau begitu mereka hebat tidak pernah saling Bertubrukan, walau jumlahnya di sini pasti ribuan ekor.
Huhh bisingnya! Aku nyaris Tidak bisa mendengar kata-kataku sendiri.”
Mereka sampai di tepi tebing. Rill memegang lengan Desi.
“Jangan terlalu dekat ke tepi,” kata Rill memperingatkan. “Sisi tebing di sini nyaris Tegak lurus ke bawah.”
Memang begitulah keadaannya. Anak-anak merebahkan diri, berbaring menelungkup. Setelah Itu dengan hati-hati mereka memandang ke bawah tebing.
Hihh seram rasanya melihat Laut berada begitu jauh di bawah, melihat ombak bergerak pelan ke tepi lalu mundur lagi Ke tengah.
Ombak memecah diiringi bunyi gemuruh yang hanya terdengar samar-samar saja.
Tanpa sadar, Desi mencengkeram gumpalan rumput pantai yang tumbuh di dekatnya.
“Aku rasanya seperti goyah,” katanya sambil tertawa. “Aku merasa harus berpegangan Kuat-kuat. Aku seperti terjungkir balik saat ini.”
__ADS_1
Mendengar kata-katanya itu, Rill cepat-cepat memegangnya erat-erat. Ia tahu bahwa Desi merasa oleng. Bill tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak itu. Anak-anak semua
Disayangi olehnya, tapi Anak kesayangannya adalah Desi.