Travel Destination

Travel Destination
Tempat pangkalan..


__ADS_3

“Bagus kan tempat ini?” kata Jaki, sementara perahu dengan perlahan-lahan memasuki Pelabuhan kecil buatan alam itu.


Tidak banyak ruang tersisa antara sisi perahu dan Dinding tebing yang membatasi terusan yang dilalui.


“Seakan akan ini tempat berlabuh Khusus untuk Slamet.”


Rill meloncat dari perahu ke batu datar yang ternyata cocok sekali dijadikan tempat Pendaratan.


Tebing batu menjulang lurus di atas kepala, pada kedua tepi air.


Pada Tonjolan-tonjolan sempit yang terdapat pada permukaan kedua tebing nampak banyak sekali


Burung-burung bertengger berjejer-jejer. Setiap kali ada saja telur jatuh, terdorong Burung-burung sembrono itu. Sebutir telur jatuh dekat Rill. Kakinya kena kuning telur.


“Bidikan kalian hebat!” seru Rill pada burung-burung yang terbang berputar-putar di Atas.


Anak anak tertawa mendengar kelakarnya itu.


Perahu ditambatkan ke sebuah batu besar yang ada di dekat situ. Ombak bergerak keluar Masuk celah sempit, menyebabkan perahu terangguk-angguk.


“Saat ini laut sedang pasang naik,” kata Rill.


“Nanti kalau surut lagi, dalam celah ini Air masih akan cukup dalam. Tapi letak perahu akan sangat menurun. Nah adakah jalan


Naik ke atas tebing dari sini? Jangan sampai kita harus menyusur kakinya dan memanjat-manjat untuk melewati beratus-ratus batu besar sebelum bisa benar-benar sampai di Pulau.”


Semuanya memandang berkeliling. Jaki lari ke bagian yang tinggi dari batu besar tempat Mereka berada saat itu. Sesampai di situ ia langsung berpaling.


“He!” serunya.


“Kita bisa naik lewat sini! Di sebelah sini permukaan tebing lebih Kasar, ada bagian-bagian menonjol membentuk anak tangga menuju ke atas.


Sedang di atas Sana tebing bercelah. Kurasa kita bisa memanjat sampai ke atas!”


“Kalian berempat sajalah yang pergi dulu,” kata Rill.


“Aku tinggal di sini. Sisi perahu Perlu diberi bantaian supaya jangan sampai rusak terbentur ke batu. Kalian periksa saja


Keadaan pulau. Cari kalau ada teluk yang terlindung tempatnya. Nanti kubawa perahu Kita sana.”


Dani, Dinah, dan Desi turun dari perahu lalu menyusul Jaki, Kikuk terbang mendului Sambil berteriak-teriak seperti burung camar.


Sementara itu Jaki mendaki paling depan, Bergerak naik dari tonjolan batu yang satu ke tonjolan berikut. Tonjolan-tonjolan itu


Kelihatannya seperti jenjang raksasa yang ditatah oleh ombak laut yang mengganas saat Musim Penghujan dari abad ke abad.


Dugaan Jaki tadi ternyata benar. Di sebelah atas, pada permukaan tebing ada celah yang


Ditimbulkan oleh bagian tebing yang gugur. Celah itu seperti lembah, walau masih cukup Terjal.


Dengan susah payah anak-anak berjalan melewati bagian itu. Mereka kehabisan napas etika sampai di puncak tebing.


Tapi pemandangan yang nampak dari situ menyebabkan Mereka lupa akan segala jerih payah.


Di sekeliling pulau nampak laut terbentang biru cerah. Langit di atas kepala kelihatan


Tak berbatas. Ke mana pun mata memandang, selalu nampak pulau-pulau samar kebiruan


Karena jauhnya. Kelihatannya di situ terdapat semacam kepulauan dan pulau mereka


Terletak di tengah-tengahnya.


Tiba-tiba anak-anak dikejutkan teriakan Jaki.


“Burung-burung puffin!” serunya. “Lihatlah beratus-ratus!” Anak-anak yang lain Memandang ke arah seruan Jaki.


Benarlah di sela rerumputan pantai nampak burung- Burung yang aneh sekali tampangnya.


Burung-burung itu berbulu belang hitam dan putih. Sedang kaki mereka berwarna oranye.


Tapi paruh mereka yang luar biasalah yang menarik perhatian anak-anak.


“Coba lihat warna paruh mereka!” kata Dinah sambil tertawa. “Pangkalnya biru lalu Bersetrip-setrip merah dan kuning!”


“Dan besarnya bukan main!” seru Desi.

__ADS_1


“Aku jadi teringat pada paruh Kikuk.”


“Burung-burung puffin juga dinamakan nuri laut,” kata Jaki.


Ia geli melihat gerombolan Puffin yang bersikap seperti serius sekali.


“Cocok kalau begitu, karena kakaktua pun termasuk keluarga nuri,” kata Desi lagi.


“Mata mereka jenaka sekali,” kata Dani. “Lihatlah mereka menatap kita tanpa Berkedip! Dan lihat cara mereka berjalan begitu tegak!”


Memperhatikan burung-burung puffin sama asyiknya seperti menonton pertunjukan pantomim.


Ada beratus-ratus, bahkan beribu-ribu burung di situ. Beberapa di antaranya hanya Berdiri saja, sambil memperhatikan burung yang bersebelahan dengan serius.


Ada pula Yang berkeliaran, berjalan terhuyung-huyung seperti pelaut. Ada pula yang terbang


Kelihatannya seperti pesawat terbang mini, bergegas hendak turun ke laut.


“Lihat! – burung yang satu itu, apa yang sedang dikerjakannya?” tanya Desi.


Ia Melihat seekor puffin sibuk mengais-ngais tanah.


“Kurasa sedang menggali lubang untuk dijadikan sarang,” kata Dinah. “Burung-burung ini


Bersarang dalam tanah kan, Jaki?”


“Betul! Pulau ini pasti sudah penuh dengan liang sarang burung puffin, “ kata Jaki.


Ia menghampiri gerombolan burung yang sedang sibuk.


"Yuk, kita dekati mereka. Kikuk, kau


tetap di bahuku, ya! Aku tidak mau kau nanti menjerit-jerit seperti lokomotif. Nanti burung-burung itu takut, lalu lari."


Kikuk tertarik sekali melihat burung-burung puffin yang nampak jenaka itu. Dengan segera ia sudah dapat menirukan bunyi mereka dengan tepat.


"Rrrrr!" bunyi suara burung-burung itu. Dan, "rrrr," oceh Kikuk menirukan mereka.


Beberapa ekor puffin menoleh ke arahnya dengan pandangan seolah-olah hendak bertanya.


Mereka bahkan tidak menyingkir ketika anak-anak datang mendekat. Mereka biarkan saja keempat anak itu berjalan di antara mereka.


Memang, seekor di antara mereka berlagak hendak mematuk kaki Dani ketika anak itu tersandung dan hampir saja terjatuh menimpanya.


Tapi sama sekali tidak ada yang benar-benar menyerang dengan paruh mereka yang nampak kokoh.


"Asyik!" kata Desi sambil mengamat-amati burung-burung aneh itu dari dekat.


"Benar-benar asyik. Tak kusangka burung-burung yang hidup di alam bebas bisa begini jinak."


"Mereka tidak jinak," kata Jaki.


"Burung-burung ini liar. Tapi karena tidak biasa melihat manusia, mereka sama sekali tidak takut pada kita."


Anak anak meneruskan langkah. Sambil berjalan, sekali-sekali kaki mereka terbenam ke dalam tanah.


Rupanya di bawah ada liang sarang, dan injakan kaki mereka menyebabkan


tanah gugur ke dalam lubang itu.


"Tempat ini benar benar penuh dengan liang sarang mereka," kata Dani. "Baunya di sini tidak enak, ya?"


Memang tempat itu tidak enak baunya. Jaki dan Dani dengan cepat sudah terbiasa dengannya. Tapi Dinah dan Desi tidak.


"Huh!" kata Desi sambil memencet hidung.


"Baunya makin lama makin payah. Lebih


baik tenda kita nanti tidak kita pasang terlalu dekat pada burung burung ini- bau di sini sama tidak enaknya seperti di kandang babi!"


"Jangan rewel," tukas Jaki.


"He, Kikuk! Ayo ke sini!"


Tapi Kikuk sudah terbang dari bahunya. Ia hinggap di tanah, dekat burung-burung puffin.

__ADS_1


Burung-burung itu menatapnya dengan serius.


"Rrrrr!" sapa Kikuk dengan hormat. "Rrrrr! Hidup Raja!"


"Rrrr!" jawab seekor puffin. Burung itu berjalan terhuyung-huyung menghampiri Kikuk.


Kedua burung itu saling berpandang-pandangan.


"Kurasa sebentar lagi Kikuk pasti mengatakan, Apa kabar?` pada teman barunya," kata Dinah sambil terceKikikk geli.


"Keduanya kelihatan begitu serius."


"Siram air!" kata Kikuk.


"Rrrr," sahut burung puffin lalu terhuyung-huyung kembali ke liangnya.


Kikuk mengikutinya. Tapi ternyata dalam liang itu ada puffin lain yang tidak menghendaki kedatangan Kikuk. Sesaat kemudian terdengar Kikuk menjerit kesakitan.


Detik itu juga burung kakaktua iseng itu melesat ke luar lubang, jauh lebih cepat dari pada masuknya tadi.


Dengan segera ia terbang kembali ke bahu Jaki.


“Kasihan Kikuk, sayang, sayang!” keluhnya.


“Salahmu sendiri siapa yang menyuruhmu terlalu ingin tahu!” tukas Jaki sambil Melangkah maju.


Ia menginjak segumpal rumput pantai. Rumput itu langsung amblas, dan Tahu-tahu kaki Jaki terperosok ke dalam lubang yang dalam.


Puffin yang tinggal di situ Rupanya tidak suka pada kaki Jaki. Kaki itu dipatuknya keras-keras.


“Aduh!” Jaki terduduk, lalu menggosok-gosok kakinya yang sakit.


“Lihatlah nyaris saja Daging betisku sobek dipatuknya!”


Anak-anak berjalan lagi di tengah-tengah kawanan puffin yang menakjubkan. Di mana-mana Nampak burung-burung itu; di tanah, di udara dan bahkan juga di atas air! Di mana-Mana terdengar saruan mereka, “rrrrr”, “rrrrr”.


“Wah aku akan bisa membuat foto-foto yang indah nanti,” kata Jaki senang.


“Sayang Saat ini belum masanya telur-telur ditetaskan. Bahkan kurasa telur puffin pun saat ini Belum banyak.”


Kebanyakan burung nuri laut itu tinggal di lembah kecil yang hijau di sela kedua


Tebing yang menjulang tinggi. Dani mencari-cari tempat yang baik di mana mereka bisa Memasang tenda.


“Kita semua kan ingin membuat pangkalan kita di Pulau Puffin ini?” katanya.


“Kurasa Jaki takkan bisa lagi kita ajak pindah dari sini. Di tebing ada beraneka ragam burung Laut yang lain, sedang di lembah sini terdapat ribuan burung puffin jadi pasti ia sudah Puas sekarang.”


“Memang,” kata Jaki.


“Di sini saja kita berkemah. Pulau ini kita jadikan pulau kita Bersama sama dengan puffin-puffin ini.”


“Yah kalau begitu kita cari saja tempat yang baik untuk perkemahan,” kata Dani.


“Tapi sebaiknya dipilih tempat yang di dekatnya ada air yang mengalir itu kalau di Sini ada air mengalir.


Kita memerlukan air bersih untuk minum. Oh ya, kita juga masih Harus mencari teluk kecil di mana perahu klotok kita dapat berlabuh,


Kita tidak bisa Meninggalkannya dalam celah tebing yang sempit tadi.”


“Lihatlah di bawah sana ada teluk kecil yang bagus!” kata Dinah dengan tiba-tiba Sambil menunjuk ke arah laut.


“Di situ kita bisa mandi dan perahu kita pun akan aman Di tempat itu. Yuk, kita bilang pada Rill.”


“Biar aku sendiri saja yang pergi.” Kata Dani. “Jaki pasti masih ingin memperhatikan Burung-burung ini.


Jadi biar aku saja yang menemani Rill membawa perahu klotok kita ke Teluk kecil itu, Dinah kau dan Desi sementara itu mencari tempat yang baik untuk


Tenda-tenda kita. Kalau sudah kalian temukan, kemudian kita bersama-sama mengangkut Barang-barang dari perahu ke tempat itu.”`


Dani bergegas untuk memberitahukan pada Rill bahwa tempat yang baik untuk perahu. Mereka sudah ditemukan.


Jaki duduk di tanah bersama Kikuk, memperhatikan tingkah laku Burung-burung puffin.


Sedang Dinah dan Desi pergi mencari tempat yang baik untuk Perkemahan.

__ADS_1


__ADS_2