Travel Destination

Travel Destination
IDE BRILLIANT


__ADS_3

"Dan, bisakah kau berbuat sesuatu dengan tikus tikusmu yang menjijikkan itu nanti, saat calon pendamping kita masuk?


Jika ia tahu kau tergolong, anak-anak yang suka menyimpan tikus, kumbang, dan apalah itu dalam baju dan kantong, ada kemungkinannya ia akan langsung lari terbirit-birit!, ya kan"


"itu ide yang bagus, Dinah!" kata anak-anak yang lain dengan segera.


"Tumben otak mu encer kayak susu, biasa lola," kata Dani sambil menatap adiknya dengan tampang berseri-seri. "He, Centil ayo, keluar! Di mana kau, Miki? Meli


ayo, keluar dari kantongku!"


Dinah cepat-cepat lari ke sudut kamar yang paling jauh. Matanya menatap ketiga ekor tikus putih yang bermunculan itu dengan ngeri.


Berapa ekor si yang sebenarnya ada pada Dani? Dinah bersumpah dalam hati, kalau tidak benar-benar perlu takkan mau lagi dekat-dekat dengan Dani.


"Kurasa Kikuk juga perlu beraksi nih," kata Jaki sambil nyengir.


"Ayo, Kikuk!


Juk-juk juk!"


Itu merupakan isyarat bagi Kiki untuk menirukan bunyi peluit lokomotif atau seperti klakson kereta api dari dalam terowongan. Burung konyol itu mengangakan paruh, sementara kerongkongannya menggembung.


Ia senang sekali, karena jarang diminta untuk memperdengarkan bunyi berisik itu.


Desi cepat-cepat mendekapkan kedua tangannya, menutupi telinga.


Saat itu pintu dibuka dari luar. Bu Am masuk bersama seorang wanita. Wanita itu jangkung, potongannya nampak galak. Anak-anak langsung sadar, selama wanita itu ada di dekat mereka, takkan mungkin akan terjadi sesuatu yang luar biasa.

__ADS_1


Mereka takkan bisa mengalami petualangan mengasyikkan. Sikap wanita itu memberi jaminan, "seratus persen aman!"


"Ini Bu Lali, Anak-anak," kata Bu Am. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya,


karena dikalahkan bunyi peluit yang membuat mereka seperti berada dalam terowongan kereta. Tiruan burung itu lebih baik dari biasanya, dan panjaaang sekali. Kikuk menjerit sepuas-puasnya.


Mumpung ada yang menyuruh, begitu rupanya pikiran burung edan itu.


Napas Bu Lali tersentak. Ia mundur selangkah. Mula-mula ia masih belum melihat Kikuk.


Ditatapnya keempat anak yang berada dalam kamar. Ia menyangka pasti salah seorang dari mereka itulah yang menjerit.


"Kikuk!" bentak Bu Am. Ia marah sekali. "Kenapa kalian biarkan saja ia berteriak seenaknya, Anak anak? Kalian ini membuat malu saja!"


Kikuk berhenti menirukan peluit lokomotif. Sambil menelengkan kepala, dipandangnya Bu Lali dengan sikap kurang ajar.


"Jaki, cepat Bawa Kikuk ke luar," kata Bu Am. Mukanya merah padam karena jengkel.


"Maaf, Bu Lali. Kikuk itu burung piaraan Jaki. Biasanya ia lebih tahu aturan!"


"Begitu," kata Bu Lali. Dari mimik mukanya nampak jelas bahwa ia menyangsikan ucapan Bu Am.


"Saya tidak begitu biasa bergaul dengan burung kakaktua, Bu Am. Burung itu kan tidak ikut dengan anak-anak? Saya tidak bisa disuruh ikut bertanggung jawab atas binatang piaraan seperti itu dan rasanya takkan ada losmen..."


"Itu bisa kita bicarakan nanti," kata Bu Am buru-buru. "Kau tidak mendengar kataku tadi, Jaki? Ajak Kikuk ke luar!."


"Masak aer, blub blub," kata Kikuk lagi pada Bu Lali. Wanita itu tidak mengacuhkannya sama sekali.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba ia kaget ketika tahu-tahu Kikuk menggeram, menirukan suara anjing galak. Jaki cepat-cepat menangkap kakaktua itu.


Sambil mengedipkan mata ke arah anak-anak yang lain, diajaknya Kikuk ke luar.


"Sayang, sayang," kata Kikuk dengan sedih. Pintu kamar ditutup kembali. Bu Am menarik napas lega.


"Anak yang keluar itu bernama Jaki. Jaki Chen . Anak perempuan ini adiknya, Desi Nutrisari. Mereka bukan anak saya," kata Bu Am menjelaskan duduk perkara pada Bu Lali.


"Ayo, beri salam pada Bu Lali, Desi. Jaki dan Desi ini kawan baik anak-anak saya. Mereka tinggal di sini bersama kami. Mereka juga bersama-sama bersekolah di international Junior School."


Bu Lali memandang gadis cilik berambut merah dan berbola mata hijau itu. Ia langsung menyukai Desi. Tampangnya mirip sekali dengan abangnya, kata Bu Lali dalam hati.


Setelah itu ia memperhatikan Dani dan Dinah. Keduanya berambut coklat tua dengan jambul aneh mencuat di atas dahi.


Nanti kalau aku sudah mengasuh mereka, akan kusuruh keduanya mengikat rambut- mereka agar rapi, pikir Bu Lali lagi.


Dinah datang mendekat dengan sikap sopan, lalu bersalaman dengan Bu Lali. Menurut perasaannya, calon pengasuh itu pasti sangat tertib, sangat rapi, dan juga sangat membosankan. Pokoknya seratus persen aman!


Setelah itu Dani maju untuk bersalaman. Tapi belum apa-apa, tahu-tahu ia menjamah lehernya. Lalu pindah, memegang tepi bawah celana pendeknya. Kemudian ia mendekapkan tangan ke perut. Bu Lali memandangnya sambil melongo.


"Maaf ini cuma tikus-tikusku saja," kata Dani menjelaskan gerak-geriknya yang aneh itu.


Mata Bu Lali semakin membundar karena ngeri ketika dilihatnya Si Centil lari mengelilingi kerah baju Dani, sedang Meli bergerak gerak menyusuri perut anak itu sehingga bajunya pada bagian itu nampak bergerak-gerak.


Dan Miki, anak tikus putih yang satu lagi, tersembul dari balik lengan baju Dani. Aduhaduhaduh, masih ada berapa ekor tikus Iagi yang tinggal dalam baju anak itu?


"Maaf," kata Bu Lali dengan suara lemah. "Maaf sekali tapi saya tidak mampu melakukan tugas ini, Bu Am. Sungguh, saya tidak bisa."

__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2