
Tak terasa hari telah berganti menjadi Senin, memang bagi para pelajar hari libur yang selalu dinantikan terkesan lewat begitu cepat. Di hari Senin yang cerah ini, pelajaran di SMA Langit Biru sudah memasuki jam pelajaran terakhir.
Ricky yang telah menyelesaikan tugasnya, yaitu tugas palsu berkedok mengajar para siswa, sekarang Ricky sedang buru-buru mendatangi ruangan kepala sekolah. Sesampainya di sana, Ricky mendapatkan sambutan hangat dari kepala sekolah meskipun beliau belum mengetahui apa maksud kedatangan Ricky.
"Ada perlu apa? Apa kamu kesusahan menangani subjek mu?" tanya kepala sekolah.
"Benar Pak kepsek, aku kesusahan! Jadi aku minta sebuah ruangan khusus untuk membimbingnya secara pribadi!" pinta Ricky penuh penekanan.
"Ruangan khusus? Bukan untuk yang aneh-aneh, kan?" tanya kepala sekolah dengan tatapan curiga.
"Tentu bukan! Memangnya aku terlihat seperti orang yang seperti itu? Aku hanya akan membimbingnya dalam pelajaran. Aku mau ruang lingkup yang khusus cuma digunakan dua orang."
"Kenapa harus begitu? Kan kalian bisa belajar di perpustakaan, malahan kalian juga bisa belajar bersama dengan kandidat yang lain. Bukannya semakin banyak yang belajar semakin menyenangkan?" tanya kepala sekolah dengan alis terangkat sebelah.
"Justru itu, Pak! Tujuanku meminta ruangan lain karena untuk menghindari keributan. Nisa itu sulit disatukan dengan kandidat lain." jelas Ricky.
"Emm ... apa yang kamu maksud adalah ketua OSIS?"
"Iya," jawab Ricky.
"Oh pantas, ya sudah kalau begitu. Aku sediakan ruangan lain untukmu. Kalau aku ingat-ingat ... sepertinya masih ada satu ruangan tak terpakai. Ruang musik!"
"Ruang musik? Bukannya kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah ini masih berjalan, kenapa bisa tak terpakai?" tanya Ricky.
"Hah ... itu karena para orang tua siswa kurang puas, mereka lebih suka les privat mandiri daripada anak-anaknya diajari oleh guru dari sekolah. Intinya begitu, apa ada yang kamu perlukan lagi?"
"Itu saja, Pak." jawab Ricky.
"Jangan sungkan kalau ada apa-apa, aku ingin penelitian Profesor Arman berjalan lancar. Dan itu semua tergantung padamu, jika misalnya Nisa melakukan sesuatu yang merugikanmu, kamu catat saja. Semua biaya ganti rugi akan ditanggung oleh pihak sponsor."
"Baik, lain kali jika ada apa-apa akan aku beritahu. Permisi," Ricky kemudian pergi.
Setelah dari ruangan sekolah, ketika dia berjalan di koridor, secara tidak sengaja dia berpapasan dengan Amira yang terlihat seperti habis dari ruang guru.
"Halo Kak Ricky!" sapa Amira dengan senyuman.
"Iya, eum ... Amira tunggu sebentar!" ucap Ricky yang seketika membuat Amira membalikkan badannya.
"Ya?"
"Kamu mau ke kelas, kan? Kalau iya, nanti tolong beritahu Nisa kalau sepulang sekolah aku menunggunya di ruang musik!"
"Oke, Kak! Itu saja?"
"Iya cuma itu, terima kasih ya." Ricky tersenyum kecil yang seketika membuat pipi Amira merona.
"I-iya ... sama-sama!" Amira langsung berlari dengan kegirangan.
__ADS_1
Meleyot aku, Kak Ricky kalau senyum ganteng banget!
"..." seketika raut wajah Ricky kembali datar.
Kenapa reaksinya begitu? Aslan bilang kalau aku senyum bakal gampang buat komunikasi sama orang lain. Burung beo itu pasti menipuku!
TRING TRING TRING TRING ....
Bel sekolah berbunyi 4 kali yang menandakan saatnya untuk pulang. Namun tak semua murid langsung pulang, murid-murid yang ikut organisasi sekolah ataupun yang berkepentingan belum pulang.
Ricky sudah menyiapkan bahan materi di ruang musik, dia duduk sendirian sambil menatap buku-buku yang bertumpuk di meja yang berada di depannya. Dirinya juga mendengar bel sekolah, lalu segera membuka salah satu buku yang jika Nisa datang nanti maka belajarnya bisa langsung dimulai.
Menit demi menit telah berlalu, tetapi Nisa belum datang juga. Karena mulai jenuh Nisa tak kunjung datang, mendadak Ricky mendekat ke arah sebuah piano yang berada di sana.
Dia membuka penutup piano lalu duduk di hadapan piano tersebut dan terus memandanginya cukup lama. Dia termenung dan tangannya mengusap piano tersebut sambil bergumam, "Ibu ..."
Dulu, saat umurku baru 6 tahun, aku selalu bermain piano dengan ibu. Ibu adalah seorang musisi, ibu mengajariku banyak sekali partitur lagu. Aku masih ingat, aku juga duduk di pangkuan ibu ketika ibu sedang bermain, terkadang aku mendengarkannya sampai aku tertidur.
Lagu-lagu yang dibawakan ibu indah sekali, ibu membuat orang lain tersenyum dengan nada-nada ajaib yang dihasilkan dari tangan ibu. Aku juga ingin menghibur orang dengan cara yang sama, dengan tampil di sebuah panggung yang dilihat oleh banyak orang, aku ingin jadi seorang pianis.
Tetapi itu seakan sirna ketika ayah semakin berjaya. Ayah mendirikan perusahaan farmasi, ayah sering bertemu dengan para peneliti farmasi dan dokter-dokter spesialis dari berbagai bidang. Ayah dengan lantang menyebutkanku di hadapan mereka kalau aku juga ingin menjadi dokter.
Aku enggan membuat ayah kecewa, jadi aku menuruti apa keinginan ayah. Aku melepaskan mimpiku yang belum pernah aku beritahukan ke siapa pun soal aku yang ingin menjadi pianis. Aku memutuskan untuk fokus belajar, bahkan setiap kali ibu memainkan piano lagi, aku langsung ke kamar dan menutup telingaku rapat-rapat.
Dan sekarang, sampai saat ini aku belum goyah. Bahkan sebentar lagi aku akan menjalani ujian sertifikasi kedokteran. Hanya tinggal selangkah lagi, aku terlibat dalam proyek penelitian. Setelah semua ini berakhir, aku akan dapat memenuhi harapan yang selalu dibanggakan oleh ayah.
Kedua tangan Ricky maju, tangan tersebut mulai menekan tuts piano dan menghasilkan sebuah nada.
TING!
"Haha ..." seketika senyuman Ricky berubah semringah, dia kemudian menekan tuts piano lagi dan memainkan sebuah tulisan partitur lagu yang terlintas di pikirannya.
Beberapa saat setelahnya, Ricky masih bermain piano dengan bersemangat. Tanpa disadari seseorang telah tiba yang tidak lain adalah Nisa. Nisa yang menenteng tas nya dengan lesu mendadak kaget karena mendengar suara alunan musik piano yang indah. Dia pun segera menempelkan telinganya pada pintu ruang musik yang tertutup.
"Hmm ... katanya ruangan buat belajar. Kok ada yang main piano?" gumam Nisa.
Nisa kemudian mendekat ke arah jendela, dia berjinjit semampunya dan berusaha melihat siapa yang berada di dalam.
"Senpai?!" mata Nisa membelalak. Nisa sedikit tak percaya bahwa Ricky bisa bermain piano dengan bagus.
Nisa kemudian berhenti mengintip dan bersandar pada tembok. "Aku gangguin ahh! Eh tapi ... permainannya bagus juga. Hem, kali ini aku biarkan, itung-itung dengar konser piano tunggal secara gratis." ucap Nisa dengan nada meremehkan.
Semakin lama Nisa mendengarkan alunan melodi piano yang dibawakan oleh Ricky, semakin tercenganglah dirinya. Intuisinya mengatakan bahwa dia tahu lagu apa itu. Bahkan tanpa sadar dia mulai bersenandung menyanyikan lagu yang dibawakan oleh Ricky.
Saat tiba di bagian reff lagu yang bernada tinggi, secara spontan Nisa mengeluarkan suara yang keras, "My love for you ...!! Upss?!" Seketika Nisa membungkam mulutnya sendiri. Dan seketika saat itu juga Ricky menghentikan permainan piano nya.
Sialan! Kok berhenti? Apa dia pikir suaraku jelek sampai mengganggu permainannya!?
__ADS_1
Nisa yang merasa tersinggung tiba-tiba masuk ke ruangan. Dia segera mendekati Ricky lalu menudingnya dengan ekspresi kesal. "Kenapa berhenti?! Padahal aku sedang mendengarkan! Kurang ajar, ayo main lagi!"
"Kamu yang kurang ajar!" teriak Ricky yang kemudian bangkit dari kursi.
"Aku??"
"Iya, jelas-jelas kamu! Kenapa baru datang sekarang? Bel pulang sudah bunyi dari tadi, sengaja mau buat aku menunggu lama?!"
"Huh, nggak kok!" ucap Nisa sambil memalingkan pandangannya.
Aku tadi memang sempat merokok dulu sih.
Mendadak Nisa kembali berkata, "Ya sudah kalau nggak suka menunggu, sekalian besok saja belajarnya!" Nisa hendak melangkah pergi namun tas ranselnya ditahan oleh Ricky dari belakang.
"Nggak bisa! Nggak boleh pergi! Belajar dulu baru boleh pergi!"
"Aku sudah pintar, buat apa belajar?! Belajar sehari sebelum lomba juga masih sempat!" teriak Nisa sambil berusaha untuk kabur.
"Mana boleh begitu?! Pokoknya harus belajar! Mau jadi apa hah kalau nggak belajar?!" teriak Ricky yang masih sekuat tenaga menahan tas Nisa.
"Aku mau jadi apa ya terserah aku, toh kamu bukan orang tuaku!! Lepas brengsek!"
"Nggak akan! Dasar cewek barbar!"
Nisa membalikkan badannya, tali tas ranselnya yang sebelah sudah terlepas dari tangan. Kini dia saling tarik-menarik beradu tenaga dengan Ricky.
"Menyerahlah! Ayo belajar!" teriak Ricky.
"Nggak mau! Aku pelajar yang benci belajar!" teriak Nisa tak mau kalah.
Kaki kanan Nisa maju sebagai tumpuan, dia semakin kuat menarik tas miliknya yang membuat Ricky kewalahan. Akibat tarikan yang kuat, tiba-tiba saja tali tas Nisa yang dipegang oleh Ricky terputus. Keduanya kaget dan kehilangan keseimbangan, karena Nisa lebih dominan mereka berdua sama-sama terjatuh ke arah Nisa.
BRUGHH!
Keduanya sama-sama kesakitan, tetapi rasa sakit itu seperti tak terasa karena tertutupi oleh posisi mereka. Sekarang posisi mereka adalah Ricky yang berada di atas, dia menindih Nisa yang posisinya berada di bawah.
Mata keduanya bertemu, mereka tak bicara sepatah kata pun dalam beberapa selang waktu.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Ricky.
"Minggir!" ucap Nisa sambil melotot. Setelah ditanya oleh Ricky entah kenapa rasa sakitnya terasa, sedikit sakit di kepala bagian belakang, tapi lebih sakit lagi pantatnya karena di bagian itu yang terantuk ke lantai lebih dulu.
Belum sempat Ricky bangkit, mendadak ada seseorang yang mengetuk pintu walaupun pintu tersebut telah terbuka lebar.
TOK TOK TOK!!
"Wah wah ... sebenarnya aku datang di saat yang tepat atau yang salah?" tanya orang tersebut.
__ADS_1
Seketika Ricky yang posisinya di atas mengalihkan pandangannya dari Nisa ke orang tersebut. "Pak kepsek ...?!"