
TRING ... TRING ... TRING ...
Bel sekolah berbunyi 3 kali yang menandakan masuk kelas, gerbang depan sekolah telah ditutup oleh satpam. Namun saat ini Nisa masih berada di luar sekolah, tepatnya di dalam mobil. Hari ini Nisa diantar oleh ayahnya sendiri yang sekalian ingin berangkat ke kantor.
Gilang yang menyadari bahwa gerbang sudah ditutup lalu menatap Nisa yang duduk di kursi belakang dengan tatapan sinis. "Kau terlambat, kapan kau akan berubah hah?!"
"Ini kan gara-gara ibu yang ceramah terlalu lama!" jawab Nisa dengan nada tinggi.
"Malah menyalahkan ibumu, ibumu marah gara-gara kau yang anak gadis ini pulang pagi! Semalam kau izin keluar rumah katanya mau ke toko buku, tapi kau tidak pulang. Sepanjang malam ibumu juga tidak tidur karena mengkhawatirkanmu!"
"Hah ... untuk apa khawatir? Toh ini bukan yang pertama kalinya aku pulang pagi. Dan sekarang ayah juga menceramahiku, aku bisa makin terlambat tau!"
"Ck, bocah ini ... Ayah bilang belajarlah dengan benar! Kau fokuslah pada sekolahmu, jangan berbuat hal yang tidak perlu seperti gonta-ganti warna rambut! Turun sana! Bicara yang sopan ke satpam!"
"Iya ..." Nisa membuka pintu mobil lalu turun, baru beberapa langkah yang dia ambil tiba-tiba ayahnya berteriak lagi.
"Hei! Kau lupa tas mu!"
Nisa berdecak kesal lalu berbalik untuk mengambil tas ranselnya. Dia lalu berjalan ke arah gerbang sekolah. Di sisi dalam sudah ada satpam yang sedari tadi mengawasi Nisa.
"Buka gerbangnya!" bentak Nisa yang kemudian melirik ke arah mobil ayahnya yang belum pergi.
"Tumben mau masuk, biasanya cuma lewat lalu bolos." ucap satpam itu sambil tersenyum miring.
"Cepat buka!" pinta Nisa sambil melotot.
Sialan, ayah belum pergi juga karena mau memastikan aku nggak bolos.
"..." Satpam tersebut terdiam, karena telah hafal dengan sikap Nisa yang kerap membuat masalah, dia kemudian mengalah dan membukakan pintu gerbang.
Gilang yang menyadari dari kejauhan bahwa putri nakalnya telah masuk ke sekolah lalu memutar balik mobilnya untuk pergi ke kantor. Sedangkan Nisa yang baru saja masuk, dia melihat ada beberapa murid yang juga terlambat.
Murid-murid itu sedang mendapat hukuman push up dari Waka Kesiswaan. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sudah biasa mendisiplinkan murid-murid yang terlambat, namun berbeda dengan Nisa. Lagi-lagi Nisa lolos dari hukuman meskipun dia terlambat. Akhirnya Nisa melanjutkan perjalanannya ke ruang kelas.
Di sisi lain di sebuah ruangan yang ada di sekolah, lebih tepatnya ruangan kepala sekolah. Saat ini Ricky sedang memenuhi panggilan penting dari kepala sekolah.
"Pak kepsek ingin membahas apa?" tanya Ricky.
"Tentang Olimpiade Sains Nasional, kamu tidak asing dengan hal ini kan?" tanya kepala sekolah yang kemudian mendapat respons anggukan kepala dari Ricky.
"Dinas Pendidikan Pusat sudah memberikan pemberitahuan mengenai OSN. Kurang lebih masih ada waktu 2 bulan, untuk tanggal pastinya belum tentu, masih bisa berubah-ubah sesuai kebijakan pemerintah pusat. Nah, di sini aku butuh bantuan darimu."
"Bantuan seperti apa?" tanya Ricky dengan tatapan ragu.
"Haha, jangan menatapku begitu. Lagi pula ini justru akan semakin memudahkan mencapai tujuan utamamu. Aku ingin kamu jadi pembimbing khusus!" ucap kepala sekolah dengan antusias.
"Maaf, tapi tolong jelaskan secara rinci dulu!" pinta Ricky.
"Bidang lomba OSN tingkat SMA ada 9. Matematika, fisika, biologi, kimia, astronomi, kebumian, geografi, ekonomi dan informatika atau komputer. Peserta diperbolehkan mengikuti kompetisi lebih dari 1 bidang. Dan Nisa Sania Siwidharwa sudah ditetapkan untuk mengikuti 3 di antaranya."
"3?! Bukankah itu ..." ucap Ricky seakan tidak percaya.
"Haha, jangan bingung. Meskipun dia urakan tapi kepintarannya di atas rata-rata. Bidang yang akan dia ikuti adalah fisika, biologi dan astronomi. Sejak kelas 10 dia sudah mewakili sekolah untuk lomba OSN. Uniknya lagi, dulu dia sendiri yang mendatangi kantorku untuk menawarkan dirinya yang mau maju lomba. Dia bilang dia mau ikut karena ingin mendapatkan sertifikat demi memenuhi keinginan ayahnya."
"Dia percaya diri sekali," gumam Ricky yang terdengar oleh kepala sekolah.
"Benar! Dia bukan cuma percaya diri, tapi juga angkuh! Dia bahkan berani menantang calon kandidat dari kelas 11 dan 12 untuk beradu soal dengannya. Tapi di luar dugaan ternyata dia menang dengan waktu mengerjakan yang lebih singkat. Saat mewakili sekolah dia juga mendapatkan juara. Oleh karena itu selama dia masih bersekolah di sini, selama itu juga dia akan mewakili sekolah."
__ADS_1
"Jadi Nak Ricky, aku akan berterus terang. Guru pengampu mapel yang biasanya membimbing sudah kewalahan dengan perilakunya. Sementara kamu sendiri juga genius yang sedang dalam misi dari profesor Arman. Ini simbiosis mutualisme, saling menguntungkan kedua belah pihak. Kamu jadi pembimbingnya Nisa, buat dia jadi lebih pintar dan kamu sendiri bisa terus mengamatinya!"
Sejenak Ricky tertegun, dia berpikir bahwa yang dikatakan oleh kepala sekolah ada benarnya juga. Kemudian dia berkata, "Baiklah, jika aku jadi pembimbing khusus untuk satu orang kurasa itu bukan masalah. Tapi, aku harus mengajarinya dengan metodeku sendiri!"
"Baiklah, mohon kerja samanya! Dan ya, untuk hari ini pada jam pelajaran ke-2. Aku sudah memberi instruksi untuk semua calon kandidat dan pembimbing untuk berkumpul di perpustakaan. Jika ada yang bertanya kenapa kamu di sana, bilang saja kalau kamu diberi kepercayaan oleh kepala sekolah untuk jadi pembimbingnya Nisa. Kamu bisa mengajarinya materi apa pun, Nisa milikmu!"
"Jika semuanya sudah disampaikan, aku undur diri. Permisi pak kepsek." Ricky kemudian beranjak dari kursi dan segera menuju ke perpustakaan sekolah.
***
Ruang kelas XII F. Saat ini di ruangan tersebut tidak ada guru, karena guru mapel yang mengajar belum datang setelah bel pergantian jam pelajaran.
Saat ini Nisa tengah asyik bermain game online di ponselnya, tetapi dia tidak sendiri, dia bermain bersama teman semeja nya yaitu Amin. Dan tiba-tiba saja sang ketua kelas, yaitu Amira mendekati mereka.
Amira tampak gugup. "Ehmm ... Nisa Sania, k-kamu disuruh ke perpustakaan sekarang!"
"Buta, ya?" tanya Nisa yang pandangannya tak lepas dari layar ponsel.
"Nggak kok, mataku nggak buta." jawab Amira sambil menggeleng.
"Kalau nggak buta lihat dulu dong! Aku sibuk! Aku ke sana setelah aku selesai main!" tiba-tiba Nisa memukul bahu Amin. "Woi ikan! Main yang bener!"
"I-iya Nyonya ..." jawab Amin dengan pasrah sambil menatap ke arah Amira dengan tatapan berharap.
Hiks, tolong cepat panggil pak guru. Aku sekolah karena mau belajar, tapi malah dipaksa main game, kalau kalah aku bisa dipukul.
Pada saat yang sama di perpustakaan sekolah. Ricky yang datang lebih awal dibanding yang lain sudah memilih beberapa buku untuk materi. Namun dia masih merasa kurang, dia memutuskan untuk mencari buku lagi di rak.
Setelah menemukan buku yang dia cari-cari, ketika ingin meraihnya tiba-tiba tangannya secara tak sengaja bersentuhan dengan tangan orang lain.
Begitu Ricky menoleh ke arah orang tersebut, dia lebih terkejut lagi karena melihat seorang siswi berambut panjang berwarna pirang. Ciri-cirinya persis seperti gadis yang dia cari-cari selama ini, Ricky akhirnya menemukan harapan untuk meminta maaf kepada orang yang dia serempet.
Di satu sisi, siswi berambut pirang tersebut juga terkejut sekaligus terpana. Dia tidak berkedip sekali pun saat memandang Ricky. Gadis itu juga berparas cantik, postur tubuhnya tinggi dan ramping.
"M-maaf! Bukunya buat Kakak saja!" gadis itu langsung berbalik dan berjalan pergi.
Astaga, aku cuma dengar kabar kalau mahasiswa yang PPL di sini ganteng nya nggak manusiawi. Ternyata itu benar! Tadi aku nggak sengaja pegangan tangan! Eh, kok aku salting?! Malu-maluin astagaaa!
Sejenak Ricky tertegun, kemudian dia mengikuti jalannya gadis itu setelah lewat beberapa saat. Dia lalu melihat gadis itu masih duduk di bangku perpustakaan yang di sebelahnya ada seorang guru.
Kemudian Ricky melihat ke arah lain. Dia melihat 3 orang siswa lain yang juga sedang duduk bersebelahan dengan guru.
"Oh, ternyata juga calon kandidat lomba. Pasangan pembimbing dan para calon kelihatannya sudah lengkap. Sepertinya tinggal aku seorang yang belum lengkap, di mana cewek itu?" gumam Ricky penuh kekesalan.
Tapi lumayan juga hari ini, sepertinya orang yang aku cari-cari sudah ketemu. Nanti tinggal tanya bagaimana keadaannya lalu minta maaf.
Ricky lalu mengambil buku yang tadinya ingin dia ambil, kemudian dia kembali ke tempat duduknya yang semula sembari menunggu kedatangan Nisa.
Menit demi menit telah berlalu, para pembimbing lain juga sudah selesai berdiskusi dengan para calon kandidat, tetapi Nisa belum datang juga.
Suasana perpustakaan sekarang cukup sepi karena saat ini berbarengan dengan jam pelajaran. Siswi berambut pirang tadi berjalan ke arah Ricky sambil membawa beberapa buku.
Ricky yang menyadari hal itu langsung berkata, "Ada apa?" tanyanya dengan nada hangat.
Wajah siswi itu merona. "Kak, soal buku yang tadi ... Apa boleh aku pinjam jika Kakak sudah selesai baca?"
"Boleh, sekarang pun boleh!" ucap Ricky sambil mengulurkan buku yang dimaksud.
__ADS_1
"Wah ... serius?! Makasih Kak!" siswi itu menerima buku tersebut, lalu mendadak meletakkan semua buku yang dia bawa dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ricky.
"Kak, bukannya Kakak yang katanya mahasiswa yang PPL di sini? Kok sendirian?" tanyanya penasaran.
"Aku keponakannya kepala sekolah." jawab Ricky singkat yang bisa menjelaskan segalanya.
"Ohh ... pantas. Ngomong-ngomong, nama Kakak siapa?" tanyanya lagi.
"Ricky. Kalau kamu?"
"Alina Villian, nama panggilanku Alina, salam kenal Kak Ricky!" ucap Alina, sang ketua umum OSIS SMA Langit Biru dari kelas XII A yang berumur 17 tahun. Siswi teladan, pintar, disiplin, taat, sopan terhadap guru, jauh dari keburukan, sosok tipe ideal idaman sekolah.
"Salam kenal juga Alina. Ngomong-ngomong kapan kamu mewarnai rambut?"
"Eh, rambut? I-itu ... sudah lama kok. Biar aku jelaskan supaya Kak Ricky nggak salah paham. Sekolah ini membebaskan soal warna rambut, jadi aku nggak melanggar tata tertib!" jawab Alina dengan tatapan heran.
Apa sih? Baru kenal sudah tanya soal rambut, apa di matanya aku jelek dengan rambut pirang?
"Lalu, apa kamu baik-baik saja? Semua sehat?" tanya Ricky.
"Sehat, aku sangat sehat. Aku juga makan makanan 4 sehat 5 tidak sempurna, aku alergi susu sapi jadi aku minum susu kedelai." Alina tersenyum canggung.
Kak Ricky ini kenapa sih? Kok pertanyaannya begitu?
"Syukurlah kalau sehat." ucap Ricky bernada hangat.
Aku nggak mau dituntut biaya ganti rugi. Untunglah sehat tanpa lecet apa-apa, jadi lupakan saja soal minta maaf. Toh dia juga salah karena menyeberang nggak lihat-lihat.
"Kamu nggak ke kelas?" tanya Ricky.
"Enggak, Kak. Soalnya kelasku jam kosong, pak guru ada keperluan, jadi dikasih tugas."
"Kamu nggak ngerjain tugas?"
"Sudah kok, tugasnya ada di buku LKS, aku sudah mengerjakan sebelum diminta hehe ... Daripada di kelas menganggur, lebih baik aku baca buku di perpustakaan!"
"Bagus itu, kamu rajin ya." ucap Ricky yang membuat Alina tersipu.
Andai saja yang aku bimbing dan subjek penelitian profesor adalah Alina, pasti akan jauh lebih mudah. Alina belum disuruh sudah mengerjakan, tapi kalau Nisa si cewek gila itu disuruh belum tentu mau mengerjakan.
"Oh iya, kalau Kak Ricky sendiri, kenapa Kakak ke perpustakaan?" tanya Alina.
"Keperluanku juga sama, bedanya aku yang jadi pembimbing."
"Pembimbing? Yang Kak Ricky bimbing siapa?"
"Yang aku bimbing ..." Ricky melihat ke arah lain lalu menyadari kedatangan Nisa yang baru saja masuk ke perpustakaan. "Dia!" teriak Ricky sambil menunjuk ke arah Nisa.
"Hah?!" Alina terkesiap.
Nisa mendengar teriakan Ricky dan sadar bahwa sedang ditunjuk, kemudian dia dengan cepat mendekat ke arah Ricky dan berkacak pinggang.
"Ngapain hah?! Nunjuk-nunjuk orang seenaknya! Mau cari masalah!" teriak Nisa seakan tersinggung.
Seketika Alina berdiri. "Jangan berisik, ini perpustakaan!"
"Ohh ... baru kelihatan manusia yang satu ini, merasa terganggu ya gara-gara aku datang saat kalian berduaan!!" teriak Nisa lebih keras lagi.
__ADS_1