Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 26. Belum Cukup Dekat


__ADS_3

11 pasang peserta yang tersingkir di babak ini langsung diminta untuk meninggalkan lantai dansa. Sedangkan mereka yang tersisa, mereka dilanda kebingungan. Mereka bingung karena memikirkan cara bagaimana mereka akan berdansa jika hanya dengan panjang persegi 30 sentimeter. Ukuran yang sangat sempit, persis seperti ukuran sebuah ubin keramik.


Ricky masih berekspresi santai, karena kedua kakinya telah berada di dalam persegi warna merah. Tetapi berbeda halnya dengan Nisa, Nisa lalu menatap Ricky dengan tatapan sinis.


"Bagus, tempati saja untuk kakimu sendiri. Kakiku mau ikut masuk juga mustahil. Kita kalah," ucap Nisa.


"Belum tentu," ucap Ricky dengan percaya diri.


"Caranya? Apa aku harus lepas sepatu lalu berdiri di atas kakimu?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


"Salah, akan aku beritahu nanti!"


Kedua MC kompak berkata, "Babak ketiga dimulai! Mainkan musiknya!"


Semua peserta yang tersisa langsung panik, terkecuali Ricky. Mendadak Ricky berkata kepada Nisa yang masih merangkul lehernya. "Pegangan!"


"Eh, apa?!" Nisa semakin terkejut lagi saat Ricky tiba-tiba membopong dirinya. Dia hanya bisa melongo karena tak percaya bahwa sekarang dirinya sedang digendong oleh seseorang.


Suara musik terdengar lagi, pasangan lain yang sempat mengikuti cara Ricky adalah pasangan nomor 8. Sedangkan pasangan nomor 6 dan 19 dinyatakan tereliminasi karena masih berada di luar persegi ketika musik sudah dimainkan.


Para tamu lain dan juga MC acara pun terpukau oleh caranya Ricky memperlakukan Nisa sebagai pasangan dansanya. "Masih tersisa 2 pasangan! Nomor 8 dan 13! Kira-kira siapa yang akan bertahan sampai lagu berakhir?!" ucap Charlie dengan antusias.


"Pasangan yang sesuai untuk tema valentine! Ah, Charlie! Ayo minggir, kita jangan ganggu pasangan super romantis ini!" ajak Violet sambil menarik tangan Charlie untuk mengajaknya menjauh dari 2 pasang peserta yang tersisa.


Di sisi lain Nisa yang telah memahami keadaan mulai gugup saat menyaksikan tatapan orang-orang kepadanya. "Senpai ... turunkan aku!" pinta Nisa dengan wajah yang memerah.


"Nggak mau, tuh!" ucap Ricky dengan enteng.


"T-tapi ... aku ini berat!" ucap Nisa dengan suara lirih.


"Ringan kok, kamu diet ya?" Ricky terkekeh.


"Iihhh ... Aku serius! Memangnya kamu nggak malu kita begini dilihat sama banyak orang?"


"Nggak, buat apa malu? Aku nggak melanggar peraturan dan nggak curang selama kompetisi." Ricky lalu menatap Nisa lekat-lekat. "Kalau kamu malu, jangan lihat mereka, tapi lihat aku!"


"..." Nisa tak berkata sepatah kata pun, pupil matanya melebar saat menatap Ricky seorang. Entah mengapa kata-kata yang diucapkan oleh Ricky benar-benar membuatnya jadi penurut. Dia tersipu dan kedua pipinya yang chubby itu merona.


Aku pasti sudah sakit, jantungku berdebar lebih cepat dibandingkan saat mengikuti lomba lari. Padahal berdansa tak terlalu mengurus tenaga. Tapi ini aneh, meskipun jantungku berdebar tapi rasanya menyenangkan.


Ah, aku baru sadar kalau dia setampan ini saat dilihat dari dekat. Pantas saja dia dipuja-puja oleh para cewek cupu di sekolah. Aneh, padahal aku tahu kalau sikapnya menyebalkan, tapi sekarang aku malah senang menghabiskan waktu dengannya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ricky yang seketika membuat Nisa sadar dari lamunannya.


"Eh, i-itu ... aku senyum karena membayangkan kemenangan, bukan senyum karena membayangkanmu!" jawab Nisa secara spontan.


"Kamu bilang apa?"


"B-bukan apa-apa!" Nisa lalu mengalihkan pandangan matanya dari Ricky.


"..." Ricky membisu, lalu juga memalingkan pandangannya.


Ini pertama kalinya aku menggendong seseorang, tapi begitu melihatnya dari dekat entah kenapa dia terkesan berbeda. Biasanya selalu bersikap sombong, waspada dan sulit didekati, tapi sekarang dia menunjukkan wajah malu yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Ricky kemudian berputar di tempat agar terlihat dan tetap dinilai sebagai dansa. Saat Ricky memutar tubuhnya, dia melihat pasangan nomor 8 yang telah gugur. Pasangan itu gugur karena laki-laki yang menggendong sudah tidak kuat lagi untuk menggendong sampai lagi habis. Jika ingin menang maka sekarang hanya tinggal membuat Ricky bertahan sampai lagu berakhir.


Nisa yang menyadari bahwa sudah tidak ada pesaing lagi langsung tersenyum bahagia dan mengeratkan pegangan tangannya pada bahu Ricky. "Terima kasih, aku mohon bertahanlah sampai lagunya selesai!"


"Jangan remehkan aku, menggendongmu lebih lama lagi aku juga masih sanggup. Lalu untuk ucapan terima kasihmu ... Sama-sama, ini bukan hal besar."


Tak lama kemudian lagu habis yang merupakan tanda bahwa dansa telah usai. Namun Ricky belum juga menurunkan Nisa karena terbawa suasana. Nisa sendiri pun sama, dia tidak sadar bahwa lagu telah habis karena sedari tadi terus-terusan menatap Ricky.

__ADS_1


"Ehem! Dansanya sudah selesai ..." ucap Violet.


"Kalian sudah menang," ucap Charlie.


Sontak saja kedua orang itu tersadar karena ucapan MC yang mengagetkan mereka, Ricky lalu menurunkan Nisa secara perlahan. Wajah keduanya sama-sama memerah, mereka saling memalingkan wajah karena tersipu.


PROK PROK PROK!!


Semua tamu dan kedua MC acara memberikan tepuk tangan yang meriah. Kemudian Violet pun menyodorkan sebuah mic kepada Nisa. "Bagaimana perasaanmu menjadi pemenang?"


"Tentu saja senang, kapan aku bisa mendapatkan hadiahku?!" tanya Nisa dengan antusias.


"Haha, tenang ... pasti dapat." ucap Violet yang kemudian mengarahkan mic kepada Ricky. "Kalian romantis sekali, kalau boleh tahu berapa lama kalian sudah menjalin hubungan?"


"Sehari," jawab Ricky dengan tatapan dingin.


"Wah ... Jadi kalian baru jadian hari ini, apakah kalian memutuskan untuk berpacaran saat game bertukar bunga tadi?!" tanya Charlie.


"Hubungan kami bukan pacar, tapi ..." belum sempat Ricky selesai bicara tetapi mic yang berada di dekatnya tiba-tiba direbut oleh Nisa.


"Haha, abaikan soal hubungan kami!" ucap Nisa dengan senyum canggung sambil melotot kepada Ricky.


"..." sejenak Ricky tertegun, kemudian dia memalingkan wajahnya.


Memangnya aku salah? Kan memang benar kalau mulai hari ini hubunganku dengan Nisa adalah teman, aku kan mau bilang itu. Tapi terserah, toh aku cuma plus one, aku menurut saja pada orang yang mengajakku.


"Baiklah, kalau begitu kita langsung saja ke penyerahan hadiah! Hadiah utama adalah dapat berbincang dengan idola, tapi ada juga hadiah tambahan sebagai hadiah kejutan." Violet lalu memberi isyarat mata kepada Charlie.


Charlie merespons dengan anggukan kepala, kemudian dia mendekati seorang panitia dan kembali dengan membawa sebuah box berukuran kecil. Violet kemudian membuka kotak tersebut sambil berkata, "Tadaaa! Hadiah kejutan untuk kalian!"


"Gelang??" Nisa dan Ricky kebingungan saat melihat 2 buah gelang berwarna hitam yang berada di dalam box itu.


Violet kemudian mengambil gelang itu dan menyerahkannya masing-masing satu kepada Nisa dan Ricky. "Sekarang pakai! Tapi jangan pakai sendiri ya, dipakaikan dong ke tangan pasangannya~"


Nisa dan Ricky kembali bertatapan, tampak jelas bahwa mereka masih merasa canggung satu sama lain. "Sini!" ucap Ricky yang tiba-tiba menarik tangan kiri Nisa.


"..." Nisa tak berkata apa pun saat Ricky memasangkan gelang di tangannya. Ketika gelang telah terpasang sempurna, dia menatap tangannya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Sekarang giliranku!" ucap Ricky sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Eh, iya ..." Nisa memegang tangan Ricky tersebut dan juga memasangkan gelang di tangannya.


"Nah, bila sudah silakan coba bergandengan!" ucap Violet dengan antusias.


Nisa mengepalkan tangannya sekuat mungkin hingga terlihat gemetar. Dia gemetar bukan karena gugup, melainkan karena menahan amarah. Dia marah karena merasa disuruh-suruh terus oleh sang MC acara.


Ricky yang menyadari hal itu langsung menggenggam tangan Nisa. Tetapi sesuatu tiba-tiba terjadi, hiasan liontin dari kedua gelang tersebut mendadak menempel.


Violet tersenyum, "Bagus, kan? Liontin itu terbuat dari magnet, akan menyatu saat kedua tangan kalian berdekatan. Gelang ini bisa dianggap sebagai simbol yang mengikat kalian! Romantis ya, aku bahkan sampai iri haha ..."


Seketika Nisa membebaskan tangannya dari genggaman Ricky. Dengan wajah yang memerah dia kemudian berkata, "Mana hadiah utamaku?"


"Ahaha sepertinya tidak sabaran sekali ingin bicara dengan idola, kalau begitu baiklah, ikuti aku!" ucap Charlie seakan tersinggung karena Nisa berulang kali menanyakan hadiah.


"Bagi para tamu yang lain, silakan kembali menikmati pestanya! Game untuk hari ini berakhir di sini!" ucap Violet.


Nisa lalu mengikuti MC itu, namun tidak dengan Ricky. Meskipun dibujuk oleh MC untuk ikut, tetapi Ricky bersikeras tidak mau karena tidak tertarik untuk berbincang dengan tokoh terkenal mana pun.


Pesta kembali berlanjut, kali ini Ricky sendirian di pesta tanpa ditemani oleh Nisa. Seakan memanfaatkan momen ini, beberapa gadis yang sedari tadi menaruh perhatian kepada Ricky sekarang mencoba untuk mendekatinya dan bicara dengannya. Sifat anti sosial Ricky tak terelakkan, dia bersikap dingin kepada semua yang mendekatinya.


TING!

__ADS_1


Suara pesan notifikasi khusus mendadak terdengar dari ponsel Ricky, dia kemudian memeriksa pesan di ponselnya itu. Ricky terlihat sangat terkejut saat membaca pesan itu. "Profesor Arman ada di sini dan sedang menungguku di lantai atas," gumamnya.


Ricky kemudian mendongak dan memperhatikan sekitar, dia melihat Profesor Arman yang berdiri di samping pagar pembatas lantai 2. Dia tampak membawa secangkir cocktail dan menatap tajam ke arah Ricky yang berada di lantai bawah. Ricky yang menyadari hal itu pun langsung menuju ke tangga dan menghampirinya Profesor Arman.


Lantai 2 bukanlah tempat yang sembarangan, karena diperuntukkan bagi tamu VIP. Di mana isinya para tokoh penting seperti pejabat dari dinas pendidikan, pengusaha yang berpengaruh, politikus, pengacara, dosen dari universitas ternama, dokter dan sebagainya.


Dari kejauhan Ricky melihat Profesor Arman yang tengah berbicara dengan seseorang, dia baru menghampirinya setelah orang tersebut telah pergi.


"Pertunjukan dansa yang bagus," ucap Profesor Arman dengan nada menyindir.


"Jangan bahas soal itu Profesor! Belakangan ini saat aku ingin bertemu, Profesor pasti sedang sibuk atau ada keperluan lain. Profesor seperti menghindariku, padahal aku ingin membahas tentang kelanjutan proyek penelitian ini!" ucap Ricky dengan suara pelan.


"Bicaralah seperti biasa, di sini ada beberapa pihak sponsor yang juga terlibat dalam proyek, kamu bisa lebih leluasa. Jadi bagaimana perkembangannya? Apa kamu menjumpai kesulitan?"


"Soal kesulitan pasti ada, tapi aku masih bisa mengatasinya. Lalu soal perkembangan ... aku sudah melakukan seperti yang Profesor minta. Sekarang tahap kedua telah selesai, aku sudah jadi dekat dengan subjek. Profesor bisa beritahu apa tahap ketiganya sekarang!"


"Tidak, tahap kedua belum selesai, ini baru permulaan." ucapnya sambil memandang ke arah segelas cocktail di tangannya.


"Permulaan bagaimana? Aku sekarang sudah menjadi temannya, bahkan kami juga sudah berdansa bersama. Apa menjadi teman masih belum cukup dekat?" tanya Ricky kebingungan.


"Kamu salah mengerti Ricky, dekat yang aku maksud bukan dekat secara status, tapi kedekatan yang berhubungan dengan rasa kenyamanan. Meskipun sudah berdansa, bermain ataupun bercanda bersama, tapi itu masih belum cukup dekat!"


"Lalu bagaimana caraku agar memastikan sudah cukup dekat atau belum?"


"Dapatkan kepercayaannya! Buat dia seutuhnya percaya padamu, baru setelah itu kita bisa masuk ke tahap ketiga, tahap terakhir! Tahap ini hanya akan terlaksana jika dia sudah menaruh kepercayaan padamu, karena tahap ketiga adalah tahap di mana aku yang akan turun tangan secara langsung. Dengan cara buatlah dia percaya untuk mau bertemu denganku secara suka rela!"


"Profesor sungguh ingin turun tangan secara langsung?" tanya Ricky memastikan sekali lagi.


"Tentu saja, tujuan dari proyek ini adalah menghapus perasaan manusia. Dan aku sudah membuat kesimpulan tentang beberapa metode. Terlebih lagi bidang yang kamu tekuni adalah pembedahan, bukan psikologis. Jadi harus aku sendiri yang menyelesaikannya."


"Tahap kedua memang sulit, bahkan kadang kala ada orang yang tak menaruh kepercayaan pada keluarganya sendiri. Tugasmu adalah itu, aku sangat berharap padamu. Waktumu masih banyak, gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk menjadi lebih dekat lagi dengannya." lanjut Arman lagi.


"..." Ricky membisu, dia tahu betul bahwa tugasnya benar-benar sulit. Dia kemudian mengambil napas panjang dan berkata, "Akan aku usahakan Profesor. Sekarang aku harus segera kembali, akan mencurigakan jika Nisa tahu bahwa aku menghilang. Permisi," Ricky lalu bergegas kembali untuk turun.


Tak lama kemudian Nisa telah kembali, dia sudah selesai berbicara dengan idolanya. Tampak senyum puas dan bahagia yang terukir di wajahnya, bahkan dia juga menceritakan hal-hal tersebut pada Ricky.


Di sisi lain masih ada Profesor Arman yang mengamati tingkah laku kedua orang itu, dia menyeringai sambil menggoyangkan gelas cocktailnya.


"Hai, Profesor!" sapa seseorang.


Seketika Arman menoleh ke arah orang tersebut, dia lalu memasang senyum ramah begitu melihat siapa yang menyapanya. "Oh, ternyata Tuan Muda Kartawijaya. Derajat pesta ini naik karena kedatanganmu."


"Haha, Profesor terlalu melebih-lebihkan." Tuan Muda itu melangkah mendekati Arman, lalu ikut melihat ke bawah karena penasaran dengan yang sejak tadi Arman perhatikan. "Ternyata gadis itu," ucapnya sambil menyeringai.


"Anda mengenalnya?!" tanya Arman seakan tidak percaya.


"Tidak juga, tapi dia gadis yang cukup menarik. Dia orang yang berani memberikan mawar merah padaku tanpa tahu siapa aku. Apakah Profesor sendiri mengenalnya?"


"Ya ... sangat mengenalnya, aku cukup akrab dengan orang tuanya. Tapi dia sudah punya seseorang, orang yang saat ini berada  di sampingnya. Jadi mohon agar Tuan Muda jangan tertarik padanya." ucap Arman dengan tatapan sinis.


Proyek yang telah aku susun sejak lama bisa jadi berantakan jika Nisa punya hubungan dengan seseorang yang berpengaruh sepertinya. Pokoknya aku harus mencegahnya agar tak ikut campur.


"Cih, siapa juga yang tertarik pada gadis tak tahu aturan sepertinya. Oh iya, aku cuma mau menyampaikan pesan dari ayahku. Dia bilang sangat berterima kasih atas bantuan Profesor yang terakhir kali. Aku sudah menyampaikan apa maksudku, aku permisi."


Tuan Muda itu pergi, tetapi Arman masih saja mengawasi Nisa dengan senyuman sinis. "Rika, kau punya putri yang manis ..." gumamnya.


Kau punya putri yang sangat mirip denganmu, tapi aku membenci matanya itu! Mata yang sama dengan milik seorang bajing*n yang telah merebutmu dariku! Dulu kau berjanji akan terus menemaniku, tapi kau ternyata seorang pengkhianat.


Nisa Sania Siwidharma, alasanku menjadikanmu subjek bukan karena sakit hati yang telah ibumu berikan, bukan karena ingin balas dendam ataupun membalas pengkhianatan. Melainkan demi memuaskan obsesiku.


Sekarang aku telah mempelajari berbagai kondisi emosi dan ekspresi manusia. Tapi aku belum bisa menemukan arti yang sebenarnya dari emosi putus asa. Aku ingin melihat seperti apa yang namanya emosi putus asa! Dan lewat dirimulah tujuan itu akan tercapai.

__ADS_1


__ADS_2