
Acara makan malam sepenuhnya telah berakhir, Nisa yang diantar pulang oleh Ricky lagi-lagi merasa kesal begitu sampai rumah. Karena ayah, ibu beserta adik-adiknya telah menunggu Nisa di rumah. Bahkan mereka semua sangat penasaran tentang kencan pertama Nisa.
Nisa bersikeras bahwa dirinya tidak berkencan, tetapi tak ada satu pun yang percaya, alhasil dia masuk ke kamarnya dengan keadaan kesal karena semua keluarganya mengejeknya.
***
Hari pun berganti, di hari minggu ini adalah hari di mana diadakannya pesta cocktail. Pesta cocktail tersebut diadakan di sebuah hotel, bernama Hotel Royal yang akan berlangsung mulai dari jam 9 malam.
Sesuai perjanjian kemarin, Ricky adalah plus one yang akan Nisa ajak ke pesta. Kali ini Ricky berpenampilan menawan seperti biasanya, dengan setelan berwarna abu-abu. Sedangkan Nisa, kali ini dia mengenakan sebuah dress yang memperlihatkan bahunya sedangkan bagian punggung tertutup rapat, warnanya biru muda dan bagian rok yang mengembang.
Nisa yang sudah siap lalu masuk ke dalam mobil Ricky sambil berkata, "Maaf membuatmu menunggu lama."
"Eh? Nggak, nggak apa-apa ..." Ricky sejenak melongo, dia menatap leher dan bahu putih mulus milik Nisa. Lehernya terlihat jenjang dan menggoda karena kali ini Nisa menguncir rambutnya.
"Lihat apa?!" tanya Nisa yang seketika membuat Ricky memalingkan wajahnya.
"Emm ... cuma heran. Baru kali ini aku dengar kamu minta maaf, padahal kemarin-kemarin waktu aku antar kamu pulang, ucapan terima kasih saja nggak ada. Bagus juga, sekarang kamu ada perkembangan dalam menghargai orang." jawab Ricky dengan wajah sedikit tersipu.
"..." Nisa membisu, dia memalingkan wajahnya menatap ke kaca mobil dengan ekspresi yang cemberut.
Apa sih? Padahal aku cuma begitu saja, tapi reaksinya berlebihan.
"Nisa, undangannya nggak lupa, kan?" tanya Ricky.
"Sudah aku bawa, ayo cepat jalan!" jawab Nisa tanpa menoleh ke arah Ricky.
Ricky lalu menginjak gas dan segera melaju ke hotel yang dituju. Hotel itu berjarak cukup jauh dari rumah Nisa, setidaknya memakan waktu lebih dari 30 menit.
Begitu sampai di sana, tampak juga mobil-mobil mewah dari tamu-tamu lain yang juga diundang. Ketika Nisa akan turun dari mobil, mendadak dia berkata, "Nanti gandeng tanganku!"
"Eh, buat apa aku gandeng tanganmu? Aku bukan anak kecil, aku nggak takut hilang."
"Bukan begitu Senpai ... lihatlah tamu-tamu yang lain, mereka semua bergandengan tangan dengan plus one mereka! Aku sebenarnya juga enggan gandengan, tapi aku cuma ikut-ikutan tamu yang lain!"
"Oh, begitu ya." Ricky tersenyum canggung. "Ngomong-ngomong ... apa sebelumnya kamu pernah ke acara pesta?"
"Sering, tapi baru kali ini aku menghadiri pesta cocktail untuk anak muda seperti kita. Biasanya pesta yang aku datangi adalah pesta bisnis, ayahku memaksaku ikut untuk sekedar dikenalkan pada rekan bisnisnya dan mempelajari soal bisnis. Lalu saat ada perbincangan penting, aku ditinggal dan disuruh main sendiri. Aku sama sekali nggak kenal orang-orang di sana, aku bingung dan nggak tahu harus apa selain makan dan minum. Aku benci pesta semacam itu, tapi untungnya aku bisa merasakan wine yang nikmat sepuasnya! Yahh ... meskipun aku akan dimarahi oleh ayah kalau sudah sampai rumah."
"..." Sejenak Ricky tertegun.
Nisa mirip denganku, terkadang ayah juga memaksaku ikut ke acara pesta untuk dikenalkan pada teman-temannya. Mereka berbincang tentang omong kosong, hal seperti itu sangat menyita waktuku. Lebih baik aku dirumah dan belajar.
__ADS_1
"Ehm ... Nisa, apa kamu serius sesuka itu dengan wine? Nggak takut mabuk?" tanya Ricky.
"Heh, mabuk? Asal kamu tahu ya, toleransiku pada alkohol sangat bagus! Minum beberapa botol juga masih kuat! Pokoknya tenang saja, aku nggak akan mabuk ataupun muntah, aku nggak akan membebanimu saat pulang nanti!"
"Baguslah, tapi kebanyakan minum minuman beralkohol juga nggak baik bagi kesehatan! Aku akan mengawasimu agar minum dalam jumlah wajar!"
"Ya-yaa ... terserah! Ayo cepat turun!"
Nisa dan Ricky lalu turun dari mobil, mereka berdua juga bergandengan tangan sambil memasuki hotel meskipun keduanya merasa canggung. Setelah undangan pesta diverifikasi, pelayan hotel pun mengantar Ricky dan Nisa juga dengan para tamu lain ke ruangan khusus tempat pesta diadakan.
Suasana pesta tampak begitu meriah, warna ornamen didominasi oleh warna merah muda. Untuk dekorasi, terdapat balon-balon pesta berbentuk hati, lilin yang ditata rapi sedemikian rupa dan juga bunga-bunga yang cantik. Serta iringan musik yang lembut yang semakin menghidupi suasana.
Minuman utama dalam pesta ini adalah cocktail, lalu di sudut ruangan terdapat meja bar yang di sebelahnya ada meja untuk makanan ringan. Makanan ringan yang disediakan juga cukup menggugah selera. Makanan-makanan berukuran mini yang cantik, seperti cokelat, canape, sandwich, volovan, tartlet, keju, kebab dan lain-lain.
Para tamu yang hadir semuanya masih muda, sesuai seperti apa yang kepala sekolah SMA Langit Biru katakan bahwa ini adalah pesta cocktail mewah yang dihadiri oleh siswa pilihan dari sekolah-sekolah elite. Ada yang membawa pacar mereka, saudara, keluarga, tetapi hanya Nisa yang membawa pembimbingnya.
"Uuhhh ..." Nisa dan Ricky sama-sama mengernyit. Mereka merasa aneh saat memasuki pesta, karena melihat kebanyakan para tamu terlihat begitu mesra dengan masing-masing plus one mereka.
"Nisa, apa kita harus meniru mereka?" tanya Ricky dengan senyum canggung.
"Nggak! Ngapain kita ikut-ikutan begitu?!" Nisa terkesiap.
"Katamu kemarin mau mengajariku jadi orang yang menyenangkan lewat pesta ini. Tapi aku lihat orang lain kelihatannya senang-senang saja, jadi aku pikir mungkin kita harus meniru mereka."
"Wah wah ... siapa ini?" tanya seseorang dengan nada menghina. Sontak saja Nisa dan Ricky menoleh ke arah orang tersebut, ternyata orang itu ada Abimana, rival abadi Nisa yang terakhir kali bertemu di perpustakaan umum.
"Heh, cewek barbar sepertimu nggak ada di pesta semacam ini!" ucap Abimana.
"Apa hakmu bilang begitu hah?! Memangnya pesta ini pestamu?! Memangnya kamu yang buat?!" tanya Nisa dengan nada tinggi.
"Ssttt ... nggak usah ditanggapi," bisik Ricky pada Nisa.
"Tapi dia yang cari masalah duluan!" Nisa kemudian melotot ke arah Abimana. "Yang nggak cocok siapa hah?! Ngaca dong! Anak cupu sepertimu yang nggak cocok datang ke pesta! Kalau aku mau, aku bisa sabotase pesta ini dan melemparkan semua kesalahan padamu! Setelah itu anak orang kaya yang sok berkuasa sepertimu akan diusir dari pesta!"
"Ckck, memang cewek nggak punya etika. Perkataanmu tadi sudah mencerminkan seperti apa dirimu, kamu yang punya kelakuan begini memang paling cocok berada di jalanan, dasar cewek preman!"
"Apa katamu?!" Emosi Nisa tersulut, dia hendak melangkah maju mendekati Abimana namun tangannya ditahan oleh Ricky.
"Ayo pergi, jangan ladeni dia!" ucap Ricky penuh penekanan.
"Diajak pergi tuh sama pacarmu!" ucap Abimana dengan alis terangkat sebelah.
__ADS_1
Nisa sangat kesal dengan sikap Abimana, tapi di sisi lain Ricky semakin erat mencengkeram tangannya. Nisa lalu mengambil napas panjang dan berkata, "Oke, ayo pergi!"
Cih, andai saja Ivan juga datang ke pesta maka sudah mampuss kau anak cupu! Sayangnya dia sedang ada pelatihan khusus di markas, ini hari keberuntunganmu anak cupu.
Nisa kemudian pasrah untuk menurut pada Ricky yang mengajaknya meninggalkan Abimana dan beralih menuju ke sisi tempat lain dari pesta tersebut, yang jelas tempat di mana Nisa tidak melihat wajah rivalnya itu lagi. Bahkan sebelum pergi, Nisa juga melotot kepada Abimana dan berjalan pergi dengan gaya yang angkuh.
Ricky mengajak Nisa untuk menyingkir, mereka juga mencicipi makanan dan minuman yang disediakan di pesta. Dan tak lama setelah itu tiba-tiba musik yang mengiringi mendadak berhenti. Lalu 2 orang perempuan dan laki-laki yang berperan sebagai MC acara menunjukkan suaranya.
"Halo semuanya, apa kabar malam ini? Apakah kalian senang berada di pesta cocktail ini? Pasti kalian senang, karena nantinya acara utama pesta ini adalah bersenang-senang dengan bermain game bersama! Oh iya, ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Perkenalkan nama saya Violet, berasal dari SMA Wisteria! Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menjadi MC acara ini!"
"Saya Charlie, dari SMA Cakra Mandala! Sebelum kita masuk ke acara utama, mari kita ucapkan terima kasih kepada pihak sponsor dan panitia yang telah bekerja keras untuk membuat pesta cocktail ini! Seperti yang kita tahu, pesta ini dihadiri oleh para generasi muda yang istimewa seperti kita! Hanya yang terpilih yang dapat hadir di pesta ini, dan kita juga tidak boleh mennyia-nyiakan kesempatan ini!"
"Hm, benar apa kata Charlie! Dalam kesempatan ini kita yang terpilih yang juga berasal dari berbagai SMA favorit bisa berkumpul, kita bisa memperluas pertemanan dan membangun hubungan baik dengan orang lain! Lalu pasti kalian sudah tahu apa tema dari pesta ini ... Apa ituuuu?"
"Valentine!" seru para tamu secara bersamaan.
Namun ada 2 orang yang malah bingung, yang tidak lain adalah Ricky dan Nisa. Kedua orang itu saling menatap dan tersenyum canggung. Mereka bingung bukan karena salah kostum atau apa, tapi di antara mereka sama sekali tidak ada yang menyadari soal valentine. Valentine merupakan hari kasih sayang, identik dengan kasih sayang antar sepasang kekasih. Namun jelas-jelas itu merupakan kebalikan dari hubungan Nisa dan Ricky.
"Ehem! Saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun, tapi yang pasti plus one yang kalian ajak pastilah bukan orang yang sembarangan! Pasti punya tempat di hati kalian!" ucap Violet.
"Untuk itu maka dibuatlah sebuah acara istimewa, untuk kalian yang pemalu ataupun yang memendam rasa, kali ini kalian dapat mengungkapkan perasaan kalian lewat game! Setiap orang masing-masing akan diberi 2 buah mawar, mawar merah dan putih! Mawar merah untuk mengungkapkan rasa cinta, lalu mawar putih diungkapkan sebagai teman. Kalian bebas ingin memberikan bunga itu kepada siapa pun!" ucap Charlie.
"Ingat ya, hanya cinta dan pertemanan. Karena hari ini adalah hari kasih sayang maka tidak boleh untuk mencari musuh! Jadi tidak ada mawar hitam! Peraturan permainan sederhana, 2 buah bunga di tangan kalian pokoknya harus diberikan ke orang lain! Tidak boleh disimpan sendiri ataupun dibuang!"
"Permainan dimulai!!" ucap Violet dan Charlie bersamaan.
Beberapa pelayan hotel lalu membagikan setangkai mawar merah dan putih kepada masing-masing tamu. Kebanyakan dari mereka memberikan mawar merah kepada plus one mereka.
Namun Ricky dan Nisa yang statusnya berlainan itu sangat bingung. Kedua bunga itu sangat tidak cocok untuk menggambarkan status mereka.
"Ck, permainan konyol!" gumam Nisa sambil melirik ke arah Ricky.
Bunga mana yang harus aku kasih? Merah jelas nggak mungkin! Tapi masa putih? Aku juga nggak mau mengakui dia sebagai teman!
Di satu sisi Ricky juga bingung, dia kemudian membalikkan badannya membelakangi Nisa. Dia menatap kedua mawar yang berada di tangannya. "Hmm ... jadi dekat," gumam Ricky.
Profesor bilang aku harus jadi dekat dengan Nisa, tapi dekat itu sedekat apa? Bukannya jadi teman saja sudah cukup? Kalau begitu berarti mawar putih!
Ricky tersenyum semringah dan mengangkat bunga mawar putih miliknya. Namun tanpa disangka-sangka mendadak seseorang menyenggolnya dari samping hingga bunga itu terjatuh, bahkan bunga itu juga diinjak oleh orang lain yang berada di dekat Ricky.
"What ...?!" Ricky melongo saat melihat bunga mawar putih itu telah rusak. Dia lalu menoleh ke arah samping, namun dia tidak menemukan siapa yang menyenggolnya barusan.
__ADS_1
Ricky lalu menggenggam erat satu-satunya bunga yang tersisa. "Mawar merah artinya cinta, cinta, cinta ..." gumamnya dengan nada yang masih sulit mempercayai keadaan.
Tinggal merah! Aahhh! Apa artinya bunga ini harus aku berikan pada Nisa! Bagaimana kalau Nisa nanti salah paham?! Bagaimana kalau nanti Nisa pikir kalau aku suka sama dia?! Habislah aku ...