
"Minggir! Berat tau!" ucap Nisa sambil melotot.
"O-oke ..." Ricky langsung bangkit, dia mengulurkan tangannya untuk membantu Nisa berdiri, tetapi Nisa menepis tangannya dan berdiri sendiri.
Kepala sekolah yang masih di luar pun melangkah masuk, dia bersedekap seakan telah memergoki perbuatan yang tidak baik. "Aku ingin kalian belajar, tapi yang barusan tadi itu apa?"
"Cuma salah paham!" bantah Ricky.
Nisa melirik ke arah Ricky dan menyeringai, dia membawa tas ranselnya yang talinya putus sebelah lalu berlari dan bersembunyi di belakang kepala sekolah.
"Pak, suruh dia pergi! Dia mau melakukan yang aneh-aneh ke aku, lihat nih! Tas edisi terbatas punyaku jadi putus!" rengek Nisa seakan menjadi korban.
"Hei, jangan sembarangan! Mana ada aku melakukan yang aneh-aneh?! Aku minta kamu belajar terus kamu nggak mau! Tas mu putus karena kamu mau kabur!" teriak Ricky yang mencari pembelaan.
"Jadi yang benar yang mana?" tanya kepala sekolah.
"Tentu saja aku! Pak kepsek nggak lihat aku ini cewek lemah lembut, elegan, berbudi luhur, teladan dan panutan bagi masyarakat! Jelas aku yang jadi korban."
Seketika Pak kepala sekolah bergeser, dia dan Ricky sama-sama menatap Nisa dengan tatapan remeh.
"Hantu baru percaya," gumam Ricky.
"Kamu ini mau membodohi siapa?" tanya kepala sekolah.
"Jadi Pak kepsek lebih belain dia?!" tanya Nisa sambil menuding ke arah Ricky.
"Bukan begitu, tapi berkacalah dulu! Kamu kan juara beladiri, kalau buat alasan tolong yang lebih masuk akal!" bentak kepala sekolah.
"Cih, nggak seru ah!" ucap Nisa sambil memalingkan wajahnya.
"Ngomong-ngomong ... kenapa Pak kepsek ke sini?" tanya Ricky.
"Tentu saja mau memantau kalian belajar!" Kepala sekolah lalu menatap tajam ke arah Nisa. "Nisa Sania! Bapak minta kamu menurutlah, dia ini pembimbing yang dipilihkan untukmu! Guru-guru lain sudah angkat tangan denganmu! Jadi belajarlah darinya, jika tidak maka terpaksa kamu akan digantikan oleh kandidat lain!"
"Iya ..." jawab Nisa dengan nada malas.
Kepala sekolah lalu keluar dari ruang musik, bahkan juga menutup pintu dengan keras. Nisa yang gagal kabur langsung duduk di kursi yang sudah disediakan, Ricky lalu mengikuti Nisa untuk duduk tepat di sebelahnya.
"Mana yang harus aku pelajari?!" tanya Nisa seakan tidak sabar.
"Tunggu dulu, sebelum itu berapa harga tas mu?" tanya Ricky sambil menunjuk ke arah tas milik Nisa.
...[TAHAP KEDUA, MENJADI LEBIH DEKAT DENGAN SUBJEK]...
"Ngapain? Mau ganti rugi?"
"Iya, jadi berapa harganya?" tanya Ricky penasaran.
"Nggak tau," jawab Nisa secara spontan.
__ADS_1
"Kok gitu? Kamu curi ya!" ucap Ricky dengan mata yang membelalak.
"Sembarangan! Ini itu tas hadiah, kakak sepupuku yang kasih. Dia itu model, katanya tas yang diberikan ke aku ini cuma dibuat 1 di perusahaan yang jadi sponsor. Kakakku nggak suka modelnya, jadi di kasih ke aku. Sekarang masih mau nuduh aku jadi pencuri?!"
"Nggak kok, tapi kalau begitu ... Gimana kalau aku belikan yang baru? Nanti kamu tinggal pilih mana yang kamu suka!"
"Nggak usah," Nisa lalu menendang tasnya. "Lagi pula tasku isinya cuma buat satu buku, semuanya aku campur. Kadang aku sekolah nggak bawa tas, buku-ku aku simpan di loker."
Terlebih lagi keluargaku punya perusahaan department store, aku bisa ambil sendiri terserah yang aku mau.
"Oke, kalau nggak mau aku ganti gapapa." ucap Ricky yang kemudian membuka sebuah buku, dia lalu menunjuk ke salah satu judul bab pada buku tersebut. "Hari ini kita belajar tentang ini!"
"Biologi sel molekuler? Yang kita pelajari ini dulu?" tanya Nisa.
"Iya, materi tentang biologi sel molekuler itu termasuk ke bidang studi biologi. Sedangkan bidang studi yang akan kamu ikuti adalah fisika, biologi dan astronomi. Untuk bidang biologi dan astronomi akan ada praktik. Dan materi biologi sel molekuler itu masuk ke praktik dan teori, jadi kamu harus paham betul materi ini!"
"Ehmm ... Senpai! Lalu materi lain yang akan dipraktikkan selain ini apa?" tanya Nisa lagi.
"Selain itu masih ada biosistematik komparatif dan fungsional, fisiologi dan ekologi tumbuhan, lalu etologi evolusioner. Itu akan kita bahas di lain pertemuan, sekarang kamu pahami betul-betul dulu materi biologi sel molekuler!"
"Aku sudah paham! Aku sudah mencapai target pembelajaran hari ini, jadi aku boleh pulang!" Nisa hendak berdiri tetapi kedua pundaknya dipegang oleh Ricky.
"Belum boleh! Ayo duduk, kalau memang sudah paham ayo jelaskan padaku!" Ricky menatap Nisa dengan sinis, kali ini kesabaran Ricky sudah mencapai batasnya.
Nisa yang baru pertama kali melihat tatapan mata Ricky yang seperti itu merasa aneh, dia bukannya takut, tetapi intuisinya mengatakan bahwa jika dia membantah Ricky sekali lagi, maka akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Oke," Nisa menjawab dengan pasrah dan kembali duduk. Dia menatap buku tersebut lalu membacanya, "Biologi molekuler merupakan cabang biologi yang mengkaji tentang kehidupan pada skala molekul. Termasuk penyelidikan tentang interaksi molekul dalam benda hidup dan kesannya, terutama tentang interaksi berbagai sistem dalam sel, termasuk interaksi DNA, RNA, dan sintesis protein, dan bagaimana interaksi tersebut diatur. Bidang ini ..."
Pintu mendadak dibuka oleh seseorang, orang tersebut adalah sang ketua OSIS yaitu Alina.
"Nisa Sania! Aku keluar! Kita bahas masalah penting!" teriak Alina penuh kemarahan.
"..." Nisa membisu, dia melirik ke arah Ricky yang kemudian mendapat respons anggukan kepala dari Ricky. Nisa pun segera keluar sesuai permintaan Alina, tetapi Ricky diam-diam mengikutinya dari belakang dan masih berada di dalam.
Setelah Nisa di luar, dia melihat Alina juga membawa seseorang bersamanya, siswa laki-laki yang badge di bajunya bertuliskan kelas 10. Adik kelas itu terlihat mendapatkan luka memar di wajah dan tangan.
"Cepat tanggung jawab! Ini gara-gara ulahmu!" teriak Alina sambil menuding ke arah Nisa.
"Ulahku?" Nisa menatap sinis ke arah adik kelas itu. "Apa aku yang memukulmu?"
"B-bukan ..." ucapnya dengan nada gemetar, dia menunduk dan menggeleng secepat mungkin karena takut kepada Nisa.
"Nah, dengar sendiri kan! Jadi ini bukan salahku!" seru Nisa pada Alina.
"Pokoknya ini salahmu! Kamu sering buat masalah sama sekolah lain, lalu sekarang siswa lain yang kena imbasnya!" Alina bersikeras.
"Heh, kalau mereka ada dendam ke aku ya perhitungannya sama aku! Kenapa malah perhitungan ke orang lain yang nggak punya hubungan denganku?! Mikir dong setan!" teriak Nisa.
"Kamu pikir aku nggak tahu soal kelompok sesat yang kamu buat?! Budak Nyonya N! Kelompok perundungan yang ketuanya adalah kamu! Anggotanya siswa sekolah ini juga sekolah lain, kamu perlakukan mereka selayaknya budak yang bisa kamu suruh seenaknya! Lalu mereka juga bebas melakukan perundungan ke siswa lain yang bukan anggota. Jika menyinggung mereka artinya juga menyinggungmu!"
__ADS_1
Nisa lalu menyeringai dan mencondongkan badannya ke adik kelas itu. "Nah, dengar yang barusan itu, kan? Jadilah budakku, aku jamin nggak ada yang berani mengganggumu lagi~ Karena asal sekolah kita sama, kalau bergabung maka pangkatmu bisa jadi budak level 5!"
"Apa?!" Alina terkesiap. "Pokoknya nggak boleh! Potong 3 poin buat Nisa Sania karena kasih saran yang salah!"
"Ckck, hobi anehmu itu kambuh lagi!" ejek Nisa.
"Hobi aneh apanya?! Pokoknya ini salahmu yang buat kelompok perundungan itu! Dia dipalak dan dipukuli orang dari sekolah lain, ini pasti gara-gara ulahmu yang suka cari masalah di mana-mana!" seru Alina yang tak mau kalah.
"Bisa mikir nggak sih? Dia dipukul bukan sama aku kok yang salah aku?! Itu salahnya sendiri karena dia lemah, kalau dia melawan mana mungkin bisa kena pukul! Itu salahnya sendiri karena dia anak payah, anak cupu! Mirip anak OSIS sepertimu yang jadi babu sekolah!"
"Berani-beraninya menghina OSIS di depanku!" wajah Alina memerah karena marah. "Sudah jadi tugas OSIS untuk membantu semua yang berhubungan tentang sekolah! Kami membantu agar memajukan nama baik sekolah! Beda denganmu yang sering membuat masalah! Kamu ini aib sekolah!"
"Apa katamu?! Dasar bangs ...?!" Nisa terkejut, tangannya yang semula ingin menampar Alina mendadak ditahan oleh Ricky.
"Sudah cukup! Hentikan sekarang!" ucap Ricky penuh penekanan, dia semakin erat mencengkeram tangan Nisa.
"Kak Ricky ...?" ucap Alina yang terpesona karena Ricky menggagalkan tamparan dari Nisa.
"Lepas!" pinta Nisa sambil melotot.
Sejenak Ricky tertegun, dia menatap mata Nisa lekat-lekat. Kemudian dia melepaskan cengkeraman tangannya dan mendadak menghampiri siswa kelas 10 tadi.
"Di bagian mana saja kamu dipukul?" tanya Ricky.
"W-wajah, tangan, perut dan kaki ..." jawab siswa laki-laki itu dengan nada gemetar.
Ricky menghela napas lalu menatap Nisa. "Kamu masuklah, baca lagi materi yang belum selesai tadi. Aku ada urusan sebentar, nanti akan aku cek apa kamu sudah paham atau belum!"
"Ck, iya ..." jawab Nisa dengan nada malas yang kemudian kembali masuk ke ruang musik. Dia juga membanting pintu karena masih kesal terhadap Alina.
"Ehmm ... Kak Ricky, yang tadi itu makasih ya!" ucap Alina dengan tatapan mata berbinar.
"Itu bukan apa-apa. Sekarang kamu kembalilah, pembimbingmu pasti sudah menunggu."
"Eh, tapi bagaimana dengan dia?" tanya Alina sambil menunjuk ke arah siswa laki-laki itu.
"Aku yang akan mengajaknya ke ruang kesehatan."
"Apa Kak Ricky sudah tahu di mana UKS nya? Kalau belum tahu, aku bisa antar Kak Ricky ke sana!" ucap Alina dengan antusias.
"Aku sudah tahu, aku masih ingat saat wali kelas 12 F mengajakku berkeliling."
"Oh ... oke Kak," ucap Alina yang menyembunyikan ekspresi kecewanya.
"Ayo ke UKS! Masih bisa jalan sendiri atau perlu dibantu?"
"M-masih bisa sendiri kok ... M-makasih banyak ya, Kak!"
"Iya, sama-sama."
__ADS_1
Naluri alami Ricky sebagai calon dokter tidak terelakkan. Dia kemudian mengajak siswa yang terluka tersebut ke ruang kesehatan untuk mengobatinya.
Alina yang menyadari Ricky telah pergi kemudian juga pergi ke arah yang berlainan, di perjalanannya dia bergumam, "Hah ... andai saja Kak Ricky yang jadi pembimbingku, pasti aku akan belajar lebih semangat lagi!"