Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 17. Aku Peduli


__ADS_3

Karena rencana pekan olahraga, akibatnya waktu Ricky untuk membimbing Nisa belajar semasa mendekati pekan olahraga menjadi berkurang. Hari ini pun begitu, sepulang sekolah mereka berdua hanya melakukan sesi belajar tak lebih dari 30 menit.


Begitu sesi belajar selesai, Nisa tak menunggu lebih lama lagi dan memilih untuk cepat-cepat pulang. Waktu sudah sore, saat ini cuma Nisa seorang diri menunggu bus di halte yang berada di dekat sekolah.


Langit tak menampakkan cahaya oranye karena matahari tertutup oleh awan mendung yang berwarna gelap, hawa sekitar tiba-tiba terasa menjadi dingin dan lembap. Titik-titik air hujan juga mulai turun deras dari langit.


"Sial! Kenapa harus hujan segala?!" keluh Nisa dengan ekspresi kesal.


Bus yang ditunggu-tunggu oleh Nisa tak kunjung datang juga. Tetapi mendadak sebuah mobil yang tidak asing berhenti di depannya. Orang yang berada di dalam mobil tiba-tiba menurunkan kaca jendela, lalu tampaklah bahwa orang tersebut adalah Ricky.


"Ayo naik, aku antar pulang!" ucap Ricky.


"Nggak mau! Pergi sana!" tolak Nisa secara spontan.


"Ck, cewek ini ..." Ricky kembali menaikkan kaca mobil lalu menginjak gas. Tapi bukannya pergi, dia justru menepi untuk memarkirkan mobilnya di dekat sana. Dia keluar dari mobil membawa payung dan ikut berteduh dengan Nisa di halte.


Nisa yang melihat tingkah Ricky tak berkata apa pun, dia menganggap Ricky selayaknya angin lalu. Hujan semakin deras, kilat petir dan angin bertiup kencang.


"Hachuuu ...!!" mendadak Nisa bersin karena kedinginan.


"Ayo masuk ke mobilku!" ucap Ricky.


"Hah?! Buat apa?" Nisa terkesiap.


"Kamu kedinginan, kan? Ayo masuk ke mobilku biar lebih hangat, daripada menunggu bus yang sampainya entah kapan. Kamu kalau begini terus bisa sakit loh."


"Huh, aku nggak takut sakit! Memangnya kamu peduli kalau aku sakit?"


"Peduli," jawab Ricky secara spontan.


"..." Nisa ternganga.


"J-jangan salah paham! Aku peduli cuma sebatas peduli! Toh hubungan kita cuma sebatas pada bimbingan belajar, b-bukan berarti kalau kamu sakit aku jadi sedih! Pokoknya ayo masuk, katanya sebentar lagi ada pekan olahraga, kalau kamu sakit yang rugi kamu sendiri!"


"Iya, terserah!" Nisa menurut lalu berdiri dan menghampiri Ricky.


Ricky juga berdiri, kemudian dia membentangkan payung yang sebelumnya telah dia gunakan. "Kemari!" ucap Ricky sambil melambai.


Nisa kemudian melangkah lebih dekat lagi untuk berada di bawah payung yang sama dengan Ricky.


"Geser sedikit lagi, kalau kamu jauh dariku kamu bisa basah!" pinta Ricky.


Nisa mengambil napas panjang lalu bergeser hingga bersentuhan dengan Ricky. "Sudah cukup dekat, kan?" tanya Nisa dengan wajah yang memerah.


"Sudah." wajah Ricky ikut memerah.


Mereka berdua pun melangkah dan melewati derasnya hujan di bawah payung bersama menuju ke tempat mobil Ricky diparkirkan. Nisa hendak membuka pintu belakang mobil, tetapi justru Ricky menahan tangannya.


"Kenapa? Bukannya tadi minta aku agar naik?" tanya Nisa.


"Iya, tapi jangan naik di belakang. Kamu pikir aku sopirmu? Naik di depan!"


Nisa pasrah untuk duduk di depan, begitu Ricky juga naik tiba-tiba saja Nisa berkata. "Ayo jalan!"


"Nggak! Sekarang masih hujan deras, kita tunggu kalau sudah agak reda! Bahaya tahu, berkendara saat hujan deras dapat meningkatkan peluang kecelakaan!"


"Terserah ..." ucap Nisa yang kemudian memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.


Tak lama kemudian hujan sudah tampak reda, Ricky kemudian menjalankan mobilnya dan mengikuti instruksi Nisa yang memandu jalan pulang ke rumahnya.


Perjalanan menuju ke rumah Nisa setidaknya memakan waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan yang sedang. Sesampainya di rumah Nisa, Ricky meninggalkan mobilnya di halaman rumah Nisa lalu mengantar Nisa sampai di teras rumahnya menggunakan payung.

__ADS_1


Rumah Nisa tergolong rumah yang mewah, ukuran yang besar, bertingkat 2 lantai dan bergaya ala Eropa dengan perpaduan warna putih dan krem.


"Nah, aku sudah sampai. Cepat pergi sana!" pinta Nisa sambil melambaikan tangannya selayaknya sedang mengusir anjing.


"Hahah ..." Ricky tersenyum sinis.


Jangankan ucapan terima kasih, bahkan dia langsung mengusirku. Aku agak menyesal setelah menawarinya tumpangan.


KLAKK!


Mendadak pintu utama dibuka dari dalam, lalu keluarlah ibunya Nisa, yaitu Rika.


"Oh, sudah pulang. Baru saja ibu mau minta sopir untuk menjemputmu." ucap Rika yang kemudian menyadari keberadaan Ricky. Dia kaget karena putrinya diantar pulang oleh seorang lelaki, terlebih lagi penampilan lelaki itu di matanya tampak sangat baik.


"Kamu yang antar anak Tante pulang?" tanya Rika seakan tidak percaya.


"Iya, Tante." jawab Ricky sambil tersenyum.


"Wah ... terima kasih ya, ayo masuk dulu. Jarang sekali loh Nisa membawa temannya main ke rumah."


"Dia bukan temanku!" bantah Nisa.


"Astaga, jadi pacarmu?!"


"Bukan!!" bantah Nisa lebih keras lagi. Tapi setelahnya dia malah melotot ke arah Ricky. "Pergi sana!"


"Nisaaa ... tidak boleh begitu! Ibu harus bilang berapa kali agar kau menjaga sopan santun?!" Rika lalu menarik sebelah tangan Ricky. "Ayo masuk, minum-minum teh anget dulu!"


"Nggak usah Tante, terima kasih tawarannya," ucap Ricky yang mencoba melepaskan tangannya dari ibunya Nisa.


"Haiss ... jangan sungkan, Tante pernah muda kok. Tante tahu kalau kalian pacaran dan sekarang sedang bertengkar." Rika bersikeras.


"Aku bilang dia bukan pacarku, ibu! Tapi dia seniorku! Lepaskan dia, biarkan dia pergi!" teriak Nisa sambil memisahkan tangan ibunya dari tangan Ricky.


"Ck, pokoknya intinya begitu! Dia ini mahasiswa yang PPL di sekolah, jadi ibu berhentilah bilang kalau dia pacarku!"


"Oh begitu, tapi kan gapapa juga kalau dia mampir."


"Nggak usah Tante, sekali lagi terima kasih atas tawarannya. Permisi," baru selangkah Ricky melangkah dari teras, mendadak hujan turun jauh lebih deras dibanding sebelumnya.


"Nah kan, deras sekali loh hujan nya. Bahaya kalau menyetir dalam keadaan seperti sekarang. Ayo masuk dulu, nanti kalau sudah reda kamu boleh pulang." Rika tersenyum puas karena semesta berpihak kepadanya.


"Emm ... maaf merepotkan," ucap Ricky dengan senyum canggung.


"Haha, santai saja~"


Mereka bertiga pun memasuki rumah, Ricky yang masih merasa sedikit tidak nyaman kemudian diminta Rika untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan Nisa, dia langsung menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.


Tanpa disangka saat Nisa menaiki tangga, dia berpapasan dengan adiknya, yaitu Reihan. "Kakak sudah pulang?"


"Matamu buta, ya?! Aku sudah di rumah artinya aku sudah pulang!" bentak Nisa yang kemudian berjalan melewati Reihan.


"Aku kan cuma basa-basi biar akrab, tapi malah dibentak." gumam Reihan.


Tiba-tiba saja Dimas datang dari arah lain. "Kak Rei! Ayo ke ruang tamu, gawat pokoknya!"


"Gawat kenapa?"


"Kak Nisa bawa cowok main ke rumah!"


"Apa?!" Reihan terkesiap dan segera berlari menuruni tangga.

__ADS_1


Begitu Reihan dan Dimas sampai di ruang tamu, mereka melihat Ricky yang sedang meminum teh. Mereka berdua kemudian duduk di sofa lain dan kemudian saling berbisik.


"Gila, kok Kak Nisa bisa dapat cowok ganteng?!" bisik Reihan.


"Iya, penampilannya juga badass!" bisik Dimas.


"Apa Kak Nisa pakai pelet, ya?"


"Nggak lah, dia mana percaya yang begituan. Mungkin dia udah dicuci otak sama Kakak!"


"Bisa jadi, tapi lebih mungkin lagi kalau dia dipaksa sama Kakak! Kalau nggak mau bakal dibunuh!"


"..." Ricky berpura-pura memandang ke arah lain.


Apa mereka bodoh? Aku bisa dengar semuanya tahu! Mereka pasti adik-adiknya Nisa, pantas saja sama konyolnya.


"Nama Kakak siapa?" tanya Reihan tiba-tiba.


"Eh, emm ... Ricky." jawab Ricky dengan senyum canggung.


"Ohh Kak Ricky, ngomong-ngomong ... Kak Ricky sama Kak Nisa sudah ngapain aja? Pegang-pegangan apa?" tanya Dimas.


"Pegang?" seketika wajah Ricky memerah.


Aku harus jawab apa? Kalau aku jujur, aku bahkan pernah pegang dada, meskipun itu bukan sengaja. Kalau aku jawab begitu pasti bakal kelihatan bejat. Nggak tahu ah, mending nggak usah dijawab.


"Owhh ... atau jangan-jangan sudah pernah ciuman ya!" ucap Reihan dengan antusias.


"Siapa yang ciuman, bangs*t?!" tanya Nisa yang mendadak muncul, kini dia telah berganti baju.


Seketika mulut Reihan dan Dimas tertutup, nyali mereka menciut di depan kakaknya yang bagaikan iblis itu. Namun seseorang yang sedang berada di ruang makan yang letaknya tidak jauh dari sana mendengar Nisa mengumpat, dia tidak lain adalah ayahnya Nisa.


"Nisa! Jangan bicara buruk apalagi berteriak kepada adikmu! Bersikaplah lembut dan elegan selayaknya gadis yang berpendidikan! Ayah sudah jenuh menasihatimu, jika kau terus begitu maka tidak akan ada yang mau menikahimu! Atau begini saja, kalau kau sudah lulus, ayah akan menjodohkanmu dengan pengusaha agar kau belajar tata krama!" teriak Gilang.


"Ayah bilang apa?! Terserah kalau ayah mau menjodohkanku! Tapi camkan ini, di malam pertama maka aku akan membunuhnya!" teriak Nisa tak mau kalah.


Mendadak Reihan beranjak dari sofa dan berlari menuju ke ruang makan untuk menghampiri ayahnya. Sesampainya di sana, di pun berbisik. "Ayah ini bagaimana sih? Lihat situasi dong, Kak Nisa bawa cowok main ke rumah. Masa ayah malah terang-terangan mau menjodohkan Kakak dengan orang lain?"


"Serius?" Gilang tak percaya.


"Iya ayah, lihatlah sendiri!"


Gilang sangat terkejut sekaligus tertarik, dia meninggalkan kopi hitamnya yang nikmat dan segera menuju ke ruang tamu. Setelah di sana justru dia lebih terkejut lagi karena memang benar ada seorang lelaki. Yang bahkan jika dilihat melalui penampilan, Ricky masuk ke dalam kriteria idamannya.


"Nisa, cepat pergi ke dapur!" pinta Gilang.


"Nggak mau!" bantah Nisa.


"Cepat pergi! Bantu ibumu siapkan makanan!" pinta Gilang sambil melotot dan penuh penekanan.


Nisa tak ingin melawan ayahnya lagi, kali ini dia pergi ke dapur meskipun terpaksa. Setelah kepergian Nisa, Gilang lalu duduk di sebelah Ricky.


"Siapa namamu?" tanya Gilang tanpa basa-basi.


"Ricky, Om ..." jawab Ricky dengan gugup.


"Sudah kerja atau pengangguran?" tanya Gilang lagi.


"Kuliah, Om ... saya rencananya sudah mau wisuda. Sekarang saya masih PPL di sekolahnya Nisa, sebenarnya saya bukan pacarnya anak Om, saya cuma pembimbing yang ditunjuk oleh kepala sekolah untuk membimbing Nisa belajar."


Sejenak Gilang termenung setelah mendengar penjelasan dari Ricky. Kemudian tiba-tiba saja dia berkata, "Baguslah, kalau begitu Om percayakan putri Om kepadamu! Bimbing Nisa agar jadi gadis yang lebih baik, kalau kamu bisa maka Nisa buatmu!"

__ADS_1


"Hah?!" Ricky ternganga karena syok dengan apa yang barusan dia dengar.


Aku ini sebenarnya di mana? Baru pertama kali aku menghadapi situasi seperti ini. Aku mau pulang, aku kapok bertamu ke rumah keluarga aneh seperti keluarnya Nisa.


__ADS_2