
Nisa langsung berdiri dan menghampiri Ricky, dia menatapnya dengan tatapan bingung. "Ngapain di sini? Perasaan tadi siang aku janjian bukan sama kamu!"
"Aku tahu, tapi sama Aslan, kan?" tanya Ricky dengan alis terangkat sebelah.
"Tunggu sebentar, kamu kenal Aslan?!" Nisa lebih terkejut lagi.
"Tentu saja kenal, aku lebih dulu kenal Aslan dibanding kamu. Sudah tahunan malah. Aku datang ke sini karena menggantikan dia, dia bilang kalau dia ada acara keluarga penting yang mendadak. Karena dia sudah buat janji denganmu dia merasa kurang enak kalau membatalkan janjinya dan membiarkanmu pergi sendirian, dia memintaku menggantikannya untuk menemanimu."
"Tapi kenapa Aslan nggak bilang ke aku?! Ini nggak sama dengan kesepakatan awal!"
"Masa? Coba kamu cek hp mu!"
Nisa langsung mengambil ponselnya dari dalam tas, dia kemudian mengecek apakah ada pesan masuk dari Aslan. Setelahnya dia melotot memandang layar ponselnya.
°°°
Hai Nisa, maaf aku tiba-tiba ada kepentingan mendadak. Maaf aku nggak bisa tepati janjiku soal makan malam bersamamu. Kamu bisa ajak orang lain [18:10]
Nisa, kamu nggak marah, kan? Kalau kamu belum dapat penggantiku, aku punya teman namanya Ricky, aku sudah bilang padanya untuk menggantikan aku. Kamu gapapa kan kalau dia yang makan malam bersamamu? [18:54]
Kamu kok nggak balas sih? Jadi aku anggap setuju ya! Aku jamin Ricky nggak akan malu-maluin kamu! [19:33]
°°°
"Nah, buktinya ada, kan?" tanya Ricky dengan nada menyindir.
"Huhh ... iya deh," jawab Nisa dengan nada pasrah.
Nisa dan Ricky lalu masuk ke mobil dan bergegas ke restoran yang dituju, yaitu Shangri-La Restaurant. Selama di perjalanan, Ricky sesekali melirik ke arah Nisa. Dia merasa bahwa gadis yang bersamanya saat ini jauh berbeda dengan gadis barbar yang dia kenal.
Wajah yang dipoles dengan make up yang cantik natural, dress warna merah yang elegan, serta rambut hitam berkilau yang bagian atas dikepang sedangkan bagian bawah tergerai indah bergelombang.
Ternyata kalau dandan Nisa aslinya lebih cantik, tapi aku heran kenapa rambutnya jadi hitam, padahal kemarin masih perak. Nisa sampai seperti ini karena mau makan malam dengan Aslan, jangan-jangan ...
"Nisa, apa kamu suka sama Aslan?" tanya Ricky.
"Eh, apa?!" seketika Nisa menoleh ke arah Ricky dan menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku suka Aslan? Ya nggak mungkin lah! Kenal juga belum lama, kenapa bisa kepikiran begitu?"
"Karena ... kamu rela berpenampilan berbeda seperti ini, terlebih lagi kamu juga mengembalikan warna rambutmu. Bukannya kamu begini karena mau makan malam sama Aslan?"
"Hei, aku berpenampilan itu menyesuaikan tempat. Dan soal warna rambutku, itu kan karena kamu!"
"Aku?" Ricky kebingungan.
"Waktu itu bilang kalau cat rambut bahaya! Katanya bisa kena kanker! Lebih baik warna rambutku jadi hitam lagi ketimbang botak karena kanker!"
"Oh iya, tumben kamu dibilangin nurut. Tapi ngomong-ngomong ... ternyata kamu berhasil memenangkan pekan olahraga, lalu bagaimana soal taruhan kita?"
"Ya harus dipenuhi dong! Tapi, aku belum kepikiran soal apa yang mau aku minta. Aku akan bilang kalau aku sudah punya ide. Kalau dihitung, pertama kamu masih harus ganti rugi soal masalah penyerempetan, lalu sekarang ditambah taruhan pekan olahraga. Jadi totalnya ada 2 hutang yang masih harus kamu bayar!"
"Kenapa 2? Harusnya sekarang tinggal 1. Aku kan menemanimu makan malam, itu sudah terhitung ganti rugi, suatu kehormatan bagimu karena makan malam denganku!" ucap Ricky dengan percaya diri.
"Itu terbalik! Makan malam ini karena voucher milikku! Harusnya kamu itu yang bersyukur karena aku ajak makan gratis di restoran mewah! Pokoknya hutangmu masih 2, titik!"
"Iya-iya ..." jawab Ricky dengan nada malas lalu lanjut fokus menatap jalanan.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di Restoran mewah yang tertera di voucher tersebut. Kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh para pelayan di restoran. Teknik pelayanan hotel tersebut menggunakan French Service, dimana kemampuan pramusaji sangat baik.
Bukan cuma dituntut untuk bisa menghidangkan makanan, tetapi harus mampu mengolah dan meracik makanan di depan tamu. Makanan tersebut akan dipersiapkan, dimasak, diracik dan di porsi di atas sebuah troli di depan tamu secara langsung.
Masih ada hiburan lain yang berada di restoran tersebut, yakni sebuah pertunjukan orkestra. Sedangkan untuk hari ini orkestra tidak bisa bermain dan diganti dengan pertunjukan permainan piano. Tetapi sejak tadi piano masih belum dimainkan karena sang pianis belum datang.
__ADS_1
TIING TINNG TINGG ...
Mendadak terdengar suara nada piano yang tak beraturan, seluruh tamu seketika melihat ke arah orang yang memainkan piano tersebut. Ternyata yang sedang bermain piano ada 2 orang anak kecil, kembar laki-laki dan perempuan. Tak ada seorang pun yang menegur mereka, karena dilihat secara langsung bisa disimpulkan bahwa orang tua dari anak kecil itu adalah orang kaya yang tidak bisa sembarangan untuk diganggu.
"Huh, telingaku nggak tahan lagi," gumam Nisa yang kemudian mendadak berdiri dari kursinya.
"Tunggu, kamu mau ke mana? Aku ingatkan jangan buat masalah! Jangan membuatku malu karena makan malam bersamamu!" ucap Ricky yang mencoba memperingatkan Nisa, tetapi setelahnya Nisa malah langsung melangkah pergi dari sana.
"Haha, lihat saja nanti~"
Nisa mendekati kedua anak kecil yang masih menekan tuts piano dengan sembarang itu. Dia menahan salah satu tangan anak laki-laki tersebut, yang seketika membuat suasana menjadi hening.
"Lepas!" anak laki-laki itu meronta.
"Eitss~ tidak boleh~" ucap Nisa dengan senyuman, Nisa memang suka dengan anak kecil, apa lagi menggoda anak kecil. Anak kecil yang imut merupakan kelemahannya.
"Kakak cantik tolong lepaskan tangan adikku!" pinta anak perempuan yang satunya.
"Baik~" Nisa langsung menurutinya. "Emm ... nama kalian berdua siapa?"
"Aku Fiona, dan adikku Felix." jawab Fiona dengan tatapan berbinar.
"Hai Fiona dan Felix! Kakak beritahu ya, kalian tidak boleh bermain di sini, takut mengganggu orang lain." ucap Nisa dengan senyuman.
Orang tua kalian itu sebenarnya ke mana sih? Punya anak kok dibiarkan begitu saja, pasang rantai kek!
"Mengganggu? Apa kami akan dimarahi?" tanya Felix.
"Haha, tidak ada yang akan memarahi kalian kok. Ngomong-ngomong kenapa kalian bermain di sini?"
"Tadi di sekolah, kami mendengar bu guru bercerita tentang seorang peri baik hati yang selalu menghibur temannya di kala sedih, temannya itu seorang pengrajin sepatu, dia sering mengeluh lalu peri itu menghiburnya dengan memainkan piano, dari piano itu keluar suara ajaib yang membuat pekerjaan pengrajin sepatu cepat selesai. Si pengrajin pun jadi bahagia dan tidak sedih lagi. Kami juga ingin semua orang yang makan di sini bahagia seperti pengrajin sepatu!" jelas Felix.
Para tamu akan bahagia kalau permainan kalian bagus, tapi kalian cuma membuat telinga orang jadi sakit.
"Kakak! Kakak cantik seperti peri! Bisakah mainkan piano untuk kami!" pinta Fiona dengan tatapan berharap.
"Aku seperti peri?" Nisa ternganga.
Biasanya aku disebut iblis, baru kali ini aku disebut peri.
"Benar! Kakak peri ayo mainkan sebuah lagu ajaib!" pinta Fiona dan Felix bersamaan.
Ini berbeda dari rencana awal Nisa, dia semula cuma ingin membuat anak-anak itu pergi tapi sekarang malah diminta main piano. Nisa merasa canggung, apalagi ketika dia sadar bahwa tidak sedikit orang yang sedang memperhatikannya.
"Emm ... baiklah, tapi cuma 1 lagu ya!"
"Yeyy! Terima kasih kakak peri!" Fiona dan Felix lalu sedikit menjauh dari piano, memberikan Nisa jalan untuk duduk di bangku yang berada di depan piano itu.
Nisa mengambil napas dalam-dalam, seumur hidup ini pertama kalinya dia akan memainkan piano di depan banyak orang. Dia mulai menekan tuts piano dan memainkan partitur lagu yang sekarang ini berada di otaknya.
TING TING ... TING TING ...
Nisa memainkan lagu dengan baik, tetapi lagu tersebut dengan cepat berakhir. Lagu yang dia mainkan adalah Twinkle-Twinkle Little Star, karena yang dia bisa dan kuasai cuma itu.
PROK PROK PROK!!
Fiona dan Felix bertepuk tangan meriah. "Lagi! Lagi! Kakak peri ayo mainkan lagu lain!"
"Ehmm ..." Nisa mengalihkan pandangan matanya, dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan memainkan lagu yang sama. Dia saat ini sangat gugup, sampai-sampai tak kuasa untuk meninggalkan bangku.
Di sisi lain di sebuah meja makan, Ricky yang sedari tadi memperhatikan Nisa diam-diam sekarang sedang tersenyum kecil. Mendadak dia berdiri, berjalan menghampiri Nisa lalu duduk di bangku yang sama dengannya.
__ADS_1
"Kenapa ke sini?" tanya Nisa kebingungan.
"Untuk membantumu." jawab Ricky dengan senyuman.
"Kakak siapa?" tanya Fiona dan Felix pada Ricky.
"Pengrajin sepatu!" Ricky terkekeh.
"Wahh ... cerita bu guru jadi nyata! Felix, ayo besok kita pamerkan hal ini ke teman-teman kita!"
"Iya, mari kita buat mereka semua iri!"
"Senpai, mau main lagu apa?" bisik Nisa.
"Lagu yang saat itu kamu dengar di ruang musik sekolah."
"Oh, sebentar!" Mendadak Nisa berdiri lalu mengambil sebuah mikrofon dari stand mic yang berada di dekat sana. Nisa tersenyum kepada Ricky lalu mengedipkan mata, "Ayo mulai!"
"Serius mau menyanyi?" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Iya, aku jamin suaraku bagus, aku sudah libur makan gorengan selama 3 bulan!"
Ricky mengangguk, kemudian menekan tuts piano dan mulai memainkan intro dari lagu. Sedangkan Nisa, ketika saatnya sudah tepat dia pun mulai bernyanyi.
🎤🎶
If I had to live my life without you near me .. The days would all be empty .. The nights would seem so long .. With you I see forever, oh, so clearly .. I might have been in love before ..But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know .. They'll .. take us where we want to go .. Hold me now, touch me now .. I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you .. You oughta know by now how much I love you .. One thing you can be sure of .. I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you .. You oughta know by now how much I love you .. The world may change my whole life through .. But nothing's gonna change my love for you
If the road ahead is not so easy .. Our love will lead the way for us .. Like a guiding star .. I'll be there for you if you should need me .. You don't have to change a thing .. I love you just the way you are
So come with me and share the view .. I'll help you see forever too .. Hold me now, touch me now .. I don't want to live without you ...
🎤🎶
Lagu yang dibawakan oleh Ricky adalah lagu legendaris, yaitu Nothing's Gonna Change My Love For You. Mungkin Nisa tak terlalu ahli dalam bermain alat musik, namun dia memiliki suara yang bagus. Saat lagu berakhir, semua orang merasa kagum dan bertepuk tangan yang meriah.
Bahkan manager restoran juga datang dan menghampiri mereka berdua. "Saya selaku manager restoran ini mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menghibur para tamu. Permainan Tuan dan Nona sungguh luar biasa."
"Emm ... bukan apa-apa, saya cuma main-main saja." ucap Ricky dengan senyum canggung, sedangkan Nisa malah bersikap masa bodoh.
"Tapi pihak restoran sangat berterima kasih, pianis yang kami undang mengalami keterlambatan. Kami juga merasa tidak nyaman dengan para tamu, Tuan dan Nona sudah berperan besar. Sebagai bentuk ucapan terima kasih dari kami, mohon ikuti saya untuk mengambil hadiah."
"Hadiah?!" Nisa langsung semringah tapi seketika ditatap tajam oleh Ricky. "Kenapa sih ..."
"Tidak perlu, terima kasih atas kebaikan manager. Bukan maksud kami tidak menghargai manager, tapi kami masih harus melanjutkan menyantap hidangan kami dulu."
"Oh, tidak apa-apa! Silakan nikmati dulu hidangannya, kami bisa menunggu!"
Ricky dan Nisa lalu kembali ke meja makan mereka dan melanjutkan menyantap hidangan. Tak lama kemudian manager datang beserta beberapa pramusaji yang juga membawa troli makanan.
"Eh, perasaan aku tidak pesan makanan lagi." ucap Nisa dengan ekspresi bingung.
Manager itu tersenyum. "Memang bukan pesanan, Nona. Tapi ini adalah hidangan cuma-cuma untuk kalian. Ini adalah hidangan spesial khusus untuk pasangan! Supaya kencan kalian lebih romantis!"
"Uhuk uhuk!" Ricky dan Nisa bersamaan tersedak.
__ADS_1