Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 16. Persyaratan Konyol


__ADS_3

Di lain hari, di kala suasana kelas 12 F sedang jam kosong karena guru pengampu tidak dapat hadir. Suasana di kelas itu berisik, kebanyakan bermain ponsel menyibukkan diri masing-masing.


Tetapi berbeda halnya dengan para pengurus kelas. Ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris dan bendahara, mereka semua saat ini sedang mengelilingi meja Amira. Mereka semua terlihat seperti sedang membahas sesuatu.


"Ehem, aku jelaskan sekali ya! Sekolah kita akan mengadakan pekan olahraga yang wajib diikuti setiap kelas. Lalu setiap kelas harus mengajukan seorang murid yang ikut serta di semua cabang olahraga, boleh cewek boleh cowok. Kalau cewek, nanti pemenangnya akan mendapat predikat sebagai Ratu Langit Biru. Kalau cowok, maka dapat predikat Raja Langit Biru. Nah, teman-teman sekalian, apa kalian punya saran siapa yang akan mewakili kelas kita?" tanya Amira.


"Bagaimana kalau Juan? Dia ketua ekskul karate." ucap bendahara.


"Jangan, lebih baik Sean, dia kapten tim basket di sekolah kita, terlebih lagi dia populer!" ucap sekretaris.


"Aku punya saran yang lebih baik, kita tunjuk saja Zeeyan. Dia sudah pernah memenangkan lomba renang tingkat nasional." ucap wakil ketua kelas.


"Hmm ..." Amira mengernyit, dia bingung karena saran yang berbeda dari teman-temannya. Setelah termenung beberapa saat, kemudian dia berkata, "Aku punya pemikiran lain. Di kelas kita ada yang jago di semua cabang beladiri, Nisa Sania!"


"Hah?!" semuanya ternganga.


"Kamu serius Mira?! Nanti kalau dia malah buat masalah gimana?!" tanya sekretaris.


"Mira, pertimbangan sekali lagi! Pekan olahraga tahun lalu saja dia membolos, gimana nanti kalau dia ditunjuk tapi malah nggak datang?!" tanya wakil ketua kelas.


"Iya Mira, wajar kalau kamu kepikiran dia, memang benar jika dia yang maju maka peluang kelas kita menang akan lebih besar. Tapi, memangnya kamu berani minta dia buat mewakili kelas kita?" tanya bendahara.


"Ehmm ... soal itu," Amira lalu mengalihkan pandangannya. "Kita minta sama-sama ... hehe."


"Nggak mau, dia nggak pernah bayar uang kas! Waktu aku bilang ke dia buat bayar, dia malah menamparku juga mengancam kalau dia akan menggunduli rambutku. Padahal ada agensi yang melirikku untuk debut jadi model, jadi sampai sekarang jatahnya kas yang bayar selalu aku! Mau aku laporkan ke guru juga percuma." ucap bendahara dengan tatapan kebencian.


"Tapi, kelas yang mendapat peringkat 3 besar dari total keseluruhan akan mendapatkan hadiah misteri! Tolonglah, ini buat kebaikan kita semua. Kalian juga mau kan dapat hadiah? Sekali-kali kita juga harus manfaatkan dia," ucap Amira yang mencoba meyakinkan teman-temannya.


"Benar juga, tahun lalu saja hadiah misterinya tiket konser dan backstage pass! Huwaa ... sayangnya kelas kita tahun lalu nggak menang, aku gagal bertemu langsung dengan idolaku. Tapi sekarang ada kesempatan, aku setuju Nisa Sania yang maju!" ucap wakil ketua kelas.


"Aku juga setuju kalau begitu!" ucap sekretaris.


"Nah, hasilnya 3 banding 1. Nisa Sania yang akan maju!" Amira beranjak dari tempat duduknya dan beralih maju ke depan kelas. Untuk menarik perhatian teman-teman sekelas yang lain, Amira pun bertepuk tangan.


PROK PROK PROK!!


"Minta perhatiannya sebentar teman-teman! Aku ada pengumuman penting!"


Seketika murid-murid yang tadinya sibuk sendiri-sendiri menjadi tenang dan memperhatikan Amira.


"Tadi ada pemberitahuan jika ketua kelas setiap angkatan harus berkumpul di auditorium sekolah! Hasil dari pertemuan itu adalah kepala sekolah mengumumkan bahwa sekolah kita tercinta ini akan mengadakan pekan olahraga!"


Sontak saja semuanya heboh, pasalnya acara pekan olahraga adalah acara yang sangat dinanti-nanti oleh kebanyakan dari mereka. Mereka sudah merencanakan untuk andil di cabang olahraga yang mereka suka.


"Mohon tenang! Aku tahu kita semua sangat antusias, untuk kalian yang berminat mewakili kelas kita di cabang olahraga tertentu, mohon nanti daftarkan diri ke sekretaris, yaitu Vanya!"


"Dan aku juga ingin menyampaikan pesan dari wali kelas kita. Harusnya sekarang beliau ada di sini bersama dengan kita dalam menentukan perwakilan kelas, tetapi beliau ada kepentingan dan telah menyerahkan pertanggungjawaban penuh kepadaku. Lalu untuk hal yang terpenting, yaitu menentukan perwakilan kelas!"


"Kita semua tahu kalau kelas yang memperoleh peringkat 3 besar akan mendapatkan hadiah misteri yang setiap tahun hadiahnya semakin mengagumkan! Aku ingin tanya pada kalian semua, apakah kalian berniat untuk menang?" tanya Amira.


"Iya! Tahun ini adalah kesempatan terakhir kita! Sejak kelas 10 kita semua belum pernah merasakan peringkat 3 besar!" seru seluruh murid dengan kompak.


Mendadak salah seorang murid laki-laki mengangkat tangan, dia adalah Sean. "Aku mengajukan diri sebagai calon Raja Langit Biru!"


"Emm ... maaf Sean, tapi para pengurus kelas sudah sepakat untuk menunjuk yang lain." ucap Amira dengan nada menyesal.


"Apa?! Kalian mana boleh egois begini?! Memangnya siapa yang lebih pantas dibanding aku?!" tanya Sean seakan tidak terima.


"Mungkin yang dimaksud adalah aku, aku kan juara renang nasional." sahut Zeeyan penuh percaya diri.


"Dasar sombong, ayo tanding dan buktikan siapa yang lebih pantas!" teriak Sean yang kemudian berdiri menantang Zeeyan.


"Siapa takut?!" Zeeyan kemudian juga berdiri.


"Kalian tenang, kali ini kelas kita bukan mengajukan Raja Langit Biru, tapi Ratu Langit Biru!" bentak Amira yang tak tahan dengan keributan.

__ADS_1


"Ratu? Jadi yang kalian tunjuk adalah cewek?" tanya Zeeyan.


"Siapa? Cewek-cewek di sini kan semuanya lembek, yang ganas cuma satu." gumam Sean.


"Tunggu sebentar!" Sean dan Zeeyan mendadak tersadar lalu bersamaan menoleh ke arah Nisa. Mereka berdua lalu menunjuk ke arah Nisa yang sejak tadi sibuk bermain ponsel, bahkan telinganya dipasangi dengan earphone.


Amira memberikan respons anggukan kepala yang sontak saja menimbulkan kegaduhan dalam kelas. Namun semua murid-murid yang tidak setuju cuma bisa protes di dalam hati, karena mereka tidak mau membuat keributan yang jika didengar Nisa maka bisa saja menimbulkan kemarahan bagi Nisa.


Sesuai kesepakatan, Amira, wakil ketua dan sekretaris lalu berjalan mendekati tempat duduk Nisa. Nisa yang asyik bermain ponsel menyadari kehadiran ketiga orang itu, kemudian dia melirik dengan sorot mata yang tajam. "Mau apa kalian?"


Amira menelan ludah lalu memberanikan diri berkata, "Anu ... kelas kita kali ini sangat antusias untuk menang dalam acara pekan olahraga."


"Memangnya itu urusanku?" tanya Nisa yang seketika membuat dua orang selain Amira tangannya gemetaran.


"Mohon bantuanmu! Tolong wakili kelas kita dalam semua cabang olahraga, tolong jadilah Ratu Langit Biru untuk kami!" pinta Amira yang tanpa sadar membungkukkan badan karena ketakutan.


"Ratu?" gumam Nisa yang kemudian menyeringai. "Baiklah, tapi aku punya syarat!"


"Serius?! Syarat apa? Kamu mau aku pijat? Atau mau aku belikan susu cokelat dan sandwich setiap pagi?"


"Berlutut!" pinta Nisa sambil melotot.


"A-apa?!" Amira terkesiap, namun dia lebih tercengang lagi karena wakil ketua kelas tiba-tiba sudah berlutut.


"Mohon ... jadilah Ratu bagi kami!" pintanya.


Aku mohon hadiah kali ini backstage pass lagi. Aku ingin bertemu idolaku, berlutut seharian pun aku rela.


"Pintar~ ini baru namanya memohon, tapi sepertinya yang tulus cuma satu orang, aku nggak mau ah!" ucap Nisa dengan senyuman iblisnya.


"Kalian semua cepat berlutut pada Ratu!!" teriak wakil ketua kelas sekencang mungkin.


Amira pun juga berlutut diikuti oleh para murid yang lainnya, ada yang takut ada juga yang membenci. Bahkan Amien sendiri yang di sebelah Nisa juga hendak berlutut, tetapi Amien gagal karena kerah bajunya dipegang oleh Nisa dari belakang.


"Eitss, ikan mau ke mana?" tanya Nisa yang seketika membuat Amien merinding.


"Haha, karena kau budak yang setia maka aku angkat posisimu sebagai ajudan!" Tiba-tiba Nisa mengambil sebuah penggaris di mejanya lalu memberikan penggaris itu kepada Amien. "Periksa mereka satu per satu! Yang posisi berlututnya belum benar, pukul mereka pakai penggaris ini sampai posisinya benar!"


"B-baik," Amien beranjak dari tempat duduknya dan mulai memeriksa teman-teman sekelasnya.


Sedangkan mereka yang posisinya sedang berlutut sangat ketakutan sekaligus tercengang, mereka tak pernah membayangkan bahwa Amien yang merupakan anak cupu, yang selalu mereka ejek baik penampilannya maupun segalanya tiba-tiba punya kewenangan di atas mereka.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa, kali ini Ricky sudah menunggu Nisa untuk belajar di ruang musik. Tetapi kali ini Nisa tak kunjung datang, Ricky yang sudah muak menunggu akhirnya memutuskan untuk mencari Nisa.


Setelah pencarian yang cukup melelahkan, akhirnya Ricky menemukan Nisa di lapangan basket yang berada di dalam sekolah. Nisa terlihat sedang bermain bola basket, dia mendribble dan menembak bola ke ring sendirian. Ricky lalu menghampiri Nisa dan masuk ke dalam lapangan.


"Di sini ternyata, kamu lupa kalau kamu harus belajar?" tanya Ricky.


"Nggak lupa, aku memang sengaja. Sebentar lagi akan ada pekan olahraga, aku ditunjuk untuk mewakili semua cabang. Aku harus berlatih, kalau Senpai di sini cuma mau mengganggu lebih baik pergi sana!"


"Hmm ... basket itu permainan beregu, tapi kamu main sendirian. Jangan-jangan kamu nggak punya teman! Pasti benar, siapa juga yang mau berteman denganmu?" (orang yang lupa kalau sendirinya cuma punya 1 teman)


"Cih, aku yang nggak mau berteman sama anak-anak cupu macam mereka! Kenapa belum pergi? Mau menantangku main basket? Ohh ... jangan-jangan nggak bisa main basket ya!" ejek Nisa yang tak mau kalah.


"Aku bisa! Apa mau aku tunjukkan kehebatanku? Tapi nanti kalau kalah jangan nangis!"


"Heh, nggak akan!" ucap Nisa dengan senyum remeh.


Di luar dugaan dari Nisa, ternyata Ricky juga jago dalam bidang olahraga. Poin pertama dicetak oleh Ricky, sedangkan Nisa yang awalnya sudah meremehkan kini menjadi lebih serius bermain. Permainan mereka sangat sengit, tiap kali Ricky menambah poin selanjutnya giliran Nisa yang menambah poin.


Karena Ricky lebih unggul dalam tinggal badan, dia mencetak poin lebih banyak dibanding dengan Nisa. Nisa merasa tidak terima, emosinya mulai tersulut yang menjadikannya cara bermainnya menjadi kasar dan agresif.


"..." Ricky mengernyit.

__ADS_1


Ah, aku lupa kalau Nisa mudah tersulut emosi. Aku malas meladeni orang yang kekanakan.


Mendadak Ricky menghentikan mendribble bola dan berdiam diri di tengah. "Cukup, kita akhiri di sini saja!"


"Kenapa?! Apa karena selisih poinmu denganku cuma sedikit? Takut kalau aku menyusul poinmu?!" tanya Nisa dengan nada kasar.


"Bukan begitu, tapi kita masih harus belajar!"


"Ck, belajar sendiri sana!" Nisa yang merasa kesal kemudian berbalik dan meninggalkan lapangan basket.


Ricky yang menyadari hal itu langsung menaruh bola di lantai dan mengikuti ke mana Nisa pergi. Ternyata tempat yang Nisa tuju adalah kolam renang, begitu dia sampai di sana, dia langsung melepas sepatu dan mencelupkan kedua kakinya ke kolam renang tersebut.


"Kenapa ke sini?" tanya Ricky.


"Suka-suka aku, toh aku juga nggak minta kamu buat mengikutiku!" jawab Nisa dengan ekspresi kesal.


"Tadi cerita kalau kamu ditunjuk buat mewakili semua cabang olahraga, kamu mau latihan renang, kan? Saranku kalau mau berenang ganti baju dulu."


"Aku nggak bisa berenang," ucap Nisa secara spontan.


"..." Ricky membisu, dia sama sekali tidak mempercayai apa yang barusan Nisa katakan. Namun untuk pertama kalinya dia memiliki niat untuk memberi pelajaran, dia perlahan mendekati Nisa dari belakang lalu mendorongnya hingga terjatuh ke kolam renang.


BYURRR!!


"Haha, kamu pasti bisa berenang!"


Meskipun tercebur ke kolam tetapi Nisa tidak berteriak meminta tolong. Kedua tangannya melakukan gerakan seperti meraih sesuatu secara berulang-ulang dan berusaha memosisikan kepalanya untuk menengadah dengan mulut terbuka. Tetapi kian lama Nisa terlihat seperti lemas dan tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam air.


"Sial, nggak bohong ternyata!" Ricky panik dan segera menceburkan diri untuk menolong Nisa.


Ketika Nisa sudah ditolong dan berada di tepi kolam, posisinya saat ini Nisa sudah tidak sadarkan diri. Ricky semakin panik dan melakukan pertolongan pertama, yaitu CPR. Kedua tangan Ricky melakukan penekanan pada dada Nisa untuk melakukan kompresi dengan cepat.


"Bangunlah Nisa!" teriak Ricky yang masih melakukan penekanan. Tetapi setelahnya masih tak ada tanda-tanda bahwa Nisa akan bangun.


"Apa aku coba napas buatan? Bodo amat, yang penting Nisa selamat!"


Ricky lalu memiringkan kepala Nisa dan mengangkat dagunya. Lalu menekan lubang hidungnya hingga menutup juga membuka mulutnya. Ricky menarik napas dalam-dalam, dia menunduk dan mulutnya perlahan mendekat pada mulut Nisa.


"Uhuk uhuk ..." belum sempat Ricky menempel mulutnya, tiba-tiba saja Nisa tersadar dan memuntahkan air yang tertelan.


Nisa lalu mencoba untuk duduk dengan tubuhnya yang masih lemas, dia lalu menyadari bahwa Ricky juga basah kuyup selayaknya dirinya. Tetapi Ricky justru malah menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Nisa.


"Wajahku kena air dan ludahmu."


"Kurang ajar, salahmu sendiri karena mendorongku! Pertama aku terserempet, lalu pelecehan, sekarang terang-terangan mau membunuhku!"


"Aku bukan mau membunuhmu, aku cuma nggak percaya kalau kamu nggak bisa berenang. Eh ternyata betulan nggak bisa."


"Awas saja kalau aku mati gara-gara kelakuan konyolmu! Jadi hantu sekali pun aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku!"


"Wortel," gumam Ricky tanpa sadar.


"Eh, apa?" Nisa menunduk, dia baru sadar bahwa seragam sekolahnya yang berwarna putih kini telah menjadi transparan karena basah, akibatnya bh bermotif kelinci dan wortel yang dia pakai jadi kelihatan.


"Kyaaa! Mesum!" teriak Nisa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Ricky mendadak melepas almamaternya yang juga telah basah lalu menyodorkannya kepada Nisa dengan wajah yang memerah. "Pakai ini! Kainnya lebih tebal."


Nisa lalu menerima almamater itu meskipun terpaksa, wajahnya juga ikut memerah karena malu.


"Kolam ini ternyata dalamnya lebih dari 4 meter, pantas kamu tenggelam."


"Ini kolam buat praktik loncat indah! Aku kan sudah bilang kalau aku nggak bisa berenang, malah nggak percaya!"

__ADS_1


"Iya maaf, kan sudah aku tolong ..."


__ADS_2